11 mei 2011
Di sela-sela kebosanaan akibat banyak tugas.

Hahaha….
Tawaan yang keluar dari setiap mulut teman seperantauanku. Hari ini adalah hari minggu. Bagi mereka yang berduit mereka akan pergi kemana saja yang mereka anggap dapat menghilangkan stress. Namun  bagaimana dengan mereka yang berdompet tipis ? mereka akan terdiam di rumah, bahkan mereka mengabaikan stress yang mereka punya. Memilih di rumah untuk tidur-tiduran atau sekedar bersih-bersih, mencuci pakaian atau pergi berlari pagi.
†††††

Tak ada keinginan keluar minggu hari ini. Ku hanya tertidur bermalas-malasan. Tiba-tiba phonsel busuk ku bordering. Ternyata ada pesan singkat : “ d mn ri ? ada rencana ke mana hari ni ?” begitulah isi pesan singkan dari seseorang yang tertera namanya Riza di phonselku. Ku balas pesan singkatnya : “ hanya di rumah saja, gak mau k mn2 lg bokek”. Pesan singkat berlanjut hingga berujung dengan ajakan untuk nongkrong di sebuah caffe yang menyediakan fasilitas Wi-Fi. Aku pun  mengiakan ajakan itu setelah ia berjanji akan membayar semua biaya makan di caffe.
Oya, Aku belum ceritakan siapa itu Riza. Riza adalah seoarang yang ku kenal di tempat perantauanku yang dulu yaitu pada saat di Ponpes Niboards. Kini dia melanjutkan sekolah menengahnya di sebuah sekolah berasrama di Banda Aceh. Dan kala hari minggu tiba dia akan keluar. Tentunya untuk melepaskan kejenuhan selama seminggu yang penuh dengan tugas-tugas yang serba membuat stress.
†††††
Sudah 2 jam kami duduk sambil menikmati fasilitas Wi-Fi. Ngomong ngaur-ngidul tak bermanfaat. Hingga berakhir dengan pulang. Tak puas hanya begitu, kami berencana akan mengunjungi seorang kakak kelas kami dulu yang bernama Lia. Tampa bertanya terlebih dahulu kami langsung menuju rumahnya.
Belum lagi sampai, lalu kami menghubunginya lewat phonsel. Kakak lagi di HLKM dek, katanya. Teleponan pun berakhir dengan harapan agar kami menghampirinya ke situ. Sepakat demi sepakat akhirnya kami setuju melaju ke HLKM dengan motor merah berpamplet Supra milik ayahku, tentunya telah di berikan kepada kami. Aku dan abangku.
Sampai di HLKM. Ngomong ngaur ngidul. Di sela-sela ngomong yang tak bermanfaat itu akupun teringat dengan seorang kakak kelas yang juga seperantauan denganku. Namun, beberapa bulan ini tak ada kabar darinya. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi nihil akutak menemukannya. Semua temannya mengetahui rumahnya namun tak seorang pun yang tahu no phonselnya. Aku pun mencoba minta nomor phonselnya ke kak Lia da ternyata dia punya nomor phonselnya.

Singkat cerita, aku pun menghubunginya. Namanya kak Ilham. Ia kakak kelasku saat Mts.
3 tahun lebih tua dariku namun karena sekolah kami tersedia untuk Mts dan Ma.
Aku pun berencana akan datang kerumahnya sore ini. Namun, karena suatu dan lain hal aku pun sempat menunda beberapa kali. Sampai akhirnya aku benar-benar pergi ke tempat tinggal abang itu. Setelah berkeliling mencari rumahnya. Akhirnya sampai juga.
Rumahnya tepat di belakang mesjid yang paling terkenal di provinsi kami bahkan di seluruh Indonesia. Mesjid Baiturrahman. Namun dia tak tinggal di situ, meskipu dia memang tinggal di mushola. Dia tinggal di sebuah menasah atau mushola yang berada tepat di belakang mesjid raya.
Sungguh orang yang berhati mulia. Ia tak hanya tinggal saja di situ namun, ia juga bertugas untuk membersihkan mushola itu. Dikala setiap adzan berkumandang ia harus siap siaga jika tak ada yang mengkumandangkan adzan maka ia yang berkewajiban untuk menggantikannya.
Begitu juga dengan membersihkan mushola, setiap sebelum waktu shalat ia berkewajiban membersihkan mushala. Sungguh mulia bukan ? seorang mahasiswa yang berjiwa besar. Ia menghidupi dirinya sendiri dengan jalan yang benar.
Meskipun kondisi kamarnya tak sebagus penjaga mesjid lainnya. Kamarnya luas. Namun penuh dengan barang-barang mesjid seperti barang pecah belah bahkan kerangga pengangkat mayat satu kamar dengannya. Keinginan kuat yang di milikinya telah menghapus rasa takutnya.
Keluarganya memang bukan keluarga yang tergolonh kaya. Namun karena tekadnya yang kuat sehingga ia mampu bertahan di atas kejamnya hidup di Banda Aceh. Aku yang hanya menunggu kiriman setiap bulan bisa-bisanya mengeluh. Ternyata seberat atau setertekannya aku masih ada orang yang lebih tertekan dan merasakan pederitaan yang lebih berat.

Jangan suka mengeluh………………!!!!!





Banda Aceh, 
12-mei-2011
Menghisap darah orangtua
Baru saja ayam berkokok. Bahkan adzan belum meneriakkan waktu subuh.  Mobil L300 yang ku tumpangi baru saja sampai di kota dingin, Takengen. Dinginnya takengen tertusuk sampai ke tulangku. Satu persatu penumpang diantar ke rumahnya masing-masing.
Setelah beberapa penumpang di antar kini saatnya aku yang diantar. Ku bimbing sang supir dengan menunjukkan tanganku kearah jalan menuju rumahku. Rumahku memang tak terlalu jauh dari kota kabupatenku hanya saja perumahan di sana di kerumuni oleh kebun yang berserakan dengan pohon kopi. Setelah melalui kebun kopi yang panjang akhirnya sampai juga di rumahku.
 Ku ketuk pintu sambil mengucapkan : “Assalamu’alaikum”. Seperti biasa nenek akan membukakan pintu untukku. Nenek memang selalu bangun lebih awal. Untuk melakukan ibadah-ibadah sunat, shalat malam. Kalau semua sudah ia lakukan dan waktu subuh belum sampai maka dia akan meniru (bermain api). Begitulah kegiatanya sehari-hari.
Seperti biasa, ketika perpulangan aku selalu menyalami seisi rumah terutama ibu-bapakku dan tetangga-tetanggaku yang kebanyakan adalah saudaraku.
†††††


Sudah beberapa hari ku lalui di kampung halamanku yang asri dan terkenal dingin itu. Setiap hari berjalan dengan normal. Hanya saja terkadang aku tak sanggup menahan dinginnya kota kelahiranku itu. Bukan karena aku telah bersekolah di kota lantas tak kerasan di kampong, namun tubuhku seperti tak seia dengan hatiku yang ingin berlama-lama di kampong. Telihat dari kulitku yang bersisik dan tubuhku yang selalu di landa flue dan pilek. Di tambah lagi dengan keluarnya cairan-cairan dari hidung yang sungguh membuatku tak nyaman.
Meskipun begitu, aku tetap tak ingin melewatkan liburan ini. Apapun yang terjadi aku harus bertemu dengan Ayah, Ibu, Nenek, abang-abangku dan satu lagi keponakanku, Adel. Toh walaupun dingin aku bisa mengenakan sweater atau jacket. Apalagi nenekku suka muniru(maen api).
Keluargaku cukup ramai. Ada ayah, ibu, nenek, dan 3 abangku serta di tambah dengan kakak iparku dan keponakanku. Setiap waktu makan kami lahap bersama-sama.
Suatu hari saat makan malam, layaknya orangtua aku di nasihati ini-itu. Mendengar nasehat itu abangku yang paling besar ikut menasihatiku. Aku hanyak terdiam dan sesekali mengiakan nasehat mereka.
Tiba-tiba abangku yang paling besar bilang : “itu bilang juga sama bang Andy mu kalau kuliah yang bener, jangan ngerokok ! kemarin itu pas abang ke situ lihat ada rokok di lemarinya”. aku berusaha menyanggah kata-kata abangku itu dengan bilang kalau itu rokok temennya yang satu rumah.
Kebetulan aku dan abangku yang satu lagi satu perantauan dan satu kontrakan. Kami tinggal 4 orang di kontrakan aku, abangku, dan 2 tmennya yang lain.
†††††

Teringat dengan kata-kata ustadz ku di Ponpes: “menghisap rokok = menghisap darah orang tua”. Ponpes memang sangat melarang kami menghisap bahkan menyentuh rokok. Itu masih ku pegang sampai sekarang. Meskipun sekarang aku adalah siswa sekolah umum tapi aku tak tertarik dengan namanya rokok.
Tak mendengar apa kata orang. Katanya, gak merokok bencong lah atau apa lah yang terpenting aku tak menembah beban orangtuaku. Biaya tampa rokok saja sudah membuat mereka terbeban apalagi ditambah kalau aku merokok.
Abangku sudah merokok, aku jangan lagi.
Melihat dari pengalaman sehari-hari, abangku selalu lebih cepat habih uang sebelum sampai waktu pengiriman dan itu di sebabkan oleh rokok. Contoh lagi, teman abangku yang satu kontrakan sudah bekerja sebagai polisi. Sehari dia bisa menghabiskan dua sampai tiga bungkus rokok. Gajinya yang lumayan besar untuk orang yang masih muda sepertinya tidak cukup untuk sebulan. Itu juga di sebabkan oleh rokok.

Jadi, setiap kali akan merokok ingatlah : “merokok = menghisap darah orangtua”. Bayangkan saja orangtua kita mencari duit pontang panting, banting tulang mencari biaya untuk kita. Malah kita enak-enakan ngabisin duit buat yang tak bermanfaat. Bukalah mata dan batin kita sedikit agar kita bisa melihat dan merasakan betapa sedihnya orangtua kita.

Gubuk reotku, di perantauan.


Tanggal, 06 maret 2011

Gak ada yang luar biasa, semua biasa-biasa saja.
·        Ketika kita tinggal di kampong kita menganggap bahwa tinggal di kota itu luar biasa, atau kita menganggap bahwa orang kota itu luar biasa. Ternyata setelah kita mencoba tinggal di kota semuanya biasa-biasa saja.
·        Ketika kita tak memiliki barang yang orang miliki pasti kita menganggap bahwa barang itu luar biasa. Contohnya : blackberry itu luar biasa ya, Biasa ini-itu. Namun setelah kita memilikinya, tenyata biasa saja.
·        Ketika kita belum pernah menaiki pesawat pasti kita menganggap bahwa pesawat itu luar biasa. Namun setelah kita menaikinya ternyata biasa saja.
·        Ketika kita miskin kita menganggap bahwa orang kaya itu luar biasa,ternyata semua salah malah kaya belum tentu bisa membuat seseorang bahagia.
·        Pandangan pertama begitu menggoda tapi lama-lama biasa aja..
Ahggh………………
Semua biasa saja tak ada yang luar biasa, jadi tak perlu bepikir berlebihan !! anggap aja semuanya biasa-biasa saja.. hilangkan rasa takjub yang bisa menyilaukan mata, yang bisa membuat hati terluka, yang bisa membuat iri hati membara.

Ingat !!!!!
Tak ada barang yang luar biasa yang bisa menggugah selera.
Tak ada yang bisa memandang hina bila kita memiliki pribadi yang luar bisa.
Jadi, berusahalah menjadi orang yang luaar biasa……!!!!