Menidurkan bayi adalah sebuah budaya yang ada hampir di seluruh belahan dunia manapun. Meskipun di setiap tempat berbeda-beda cara menidurkannya. Seperti halnya di Indonesia yang paling terkenal atau yang paling sering di sebut-sebut adalah Nina Bobo atau Menina Bobokan bayi.
Seperti yang saya katakan tadi, cara Menina Bobokan atau Menidurkan Bayi berbeda-beda di setiap wilayah. Begitu halnya dengan di Takengen. Sebuah nama tempat yang bersuku-kan suku Gayo.
Di Gayo, begitu orang sering menyebut daerah yang terdiri dari Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, cara menidurkan anak biasanya dengan Bejangin atau menyanyikan sebuah lagu yang liriknya terdiri dari bahasa Gayo dan Bahasa Arab.
Berikut petikan liriknya :
ﻻاﻟﻪاﻻاﻟﻠﻪ  ﻣﺤﻤﺪ رﺳﻮلﷲ
Anakku ni jema mutuah
Omore gelah lanyut
Rejekie gelah mudah.
Yang berarti :
Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah
Buah hatiku yang bertuah
semoga di panjangkan umur
dan di mudahkan rezeki
begitulah isi dari petikan lagu yang berfungsi untuk menina bobokan bayi di dataran tinggi Gayo. Mungkin cara menina bobokan bayi memang berbeda di seluruh tempat, namun satu hal yang perlu kita ketahui bahwa masa bayi adalah massa yang paling menentukan watak sang bayi. Apabila kita menunjukkan atau mendengarkan sesuatu hal yang baik di mata dan di pendengarannya maka semua itu akan secara langsung di respon oleh otaknya. Dan kesemua itu sungguh sangat menentukan watak sang bayi di waktu besar nanti.
Sekian, semoga dapat menjadi renungan !!!!!!!!!!!!!

“Hantu Semester”
Rasanya baru saja mataku terlelap, tiba-tiba jam yang ku cantumkan di alarm ponselku berdering. Kring-kring, kring-kring. Suara itu berulang-ulang menyanyikan lagu cempreng hingga membuat telingaku seperti di tendang bola. Sakit sekali. Akhirnya ku kuatkan hati untuk bangun dari tempat tidur indah tiada tara yang mampu menggoda mata untuk terlelap di dalam mimpi indah.
Dibalik suara cempreng alarm, ada alunan indah suara azan yang mengingatkanku untuk bergegas menuju kamar mandi untuk berwudhu. Satu persatu rukun berwudhu ku lakukan, mulai dari mencuci tangan hingga mencuci kaki.
Selesai shalat aku bergegas untuk mandi. Pagi ini aku harus cepat. Karena hari ini adalah hari yang paling ku benci. Bukan hanya hari ini, semua hari juga ku benci selain hari minggu dan hari libur.
Hari ini adalah hari senin. Seperti biasa setiap hari senin sekolah mengadakan upacara bendera dan seperti biasa juga setiap upacara bendera pasti ada pengumuman atau sekedar ceramah yang bisa membuat upacara menjadi lebih lama dan semakin menambah rasa bosan para peserta upacara.
“senin ini adalah senin terakhir untuk semester ini. Senin ini juga senin terakhir  untuk kelas I yang akan naik ke kelas II, dan kelas II yang akan naik ke kelas III.”  Begitulah kata pertama yang keluar dari mulut Pembina upacara.
 Di sambut dengan tepuk tangan dan sorakkan gembira peserta upacara yang aku tak terlalu mengerti apa yang mereka gembirakan. Ujian kenaikan kelaskah atau apa ? karena aku  sama sekali belum siap menghadapi ujian. Meskipun aku sudah berusaha belajar dari sebulan sebelum ujian.
Lalu di lanjutkan dengan: “ bagi yang belum ikut ujian semester satu, harap menjumpai guru yang bersangkutan. Dan bagi kelas I dan kelas II yang belum siap hafalan harap di selesaikan atau kalian tidak akan di perbolehkan ikut ujian semester genap”
Tiba-tiba muka peserta upacara menjadi ciut bagaikan kerupuk terkena air. Mungkin karena banyak beban tugas yang belum diselesesaikan.
“Upacara selesai. Dan barisan di bubarkan”, begitulah aba-aba yang keluar dari mulut MC upacara.
؏؏؏؏؏
Satu persatu peserta upacara meninggalkan lapangan upacara hingga sepi, yang menyisakan debu yang berterbangan di musim kemarau ini. Suara riuh menghiasi seisi kelas. Ocehan-ocehan pun keluar menambah semaraknya keributan kelas. Banyak yang mengeluhkan syarat-syarat ujian, tapi itu hanya berakhir begitu saja tanpa bisa terselesaikan.
Suasana kelas kembali tenang ketika guru masuk. Buk Astra adalah guru bahasa india. Dia terkenal sebagai guru yang sangat galak dan suka memberi tugas macem-macem. Kebetulan jam pertama ini adalah jam bahasa India.
Setelah mengucapkan salam dan ngomong ngalur-ngidul akhirnya pertanyaan yang amat di wanti-wanti para siswa terdengar juga. “Hajar, kamu sudah ujian semester satu?”. Dengan muka kusyut bagaikan pakaian belum di setrika si Hajar menjawab :” bbbelum buk”.
Hajar merupakan teman sekelasku. Memang dia tegolong anak yang malas juga nakal. Beberapa penghargaan sempat di raihnya yaitu penghargaan The Laziest Student of the year dan pembolos terajin sepanjang tahun. Ups.. kok aku jadi nyeritain si Hasan ? Kembali ke permasalahan awal
Belum lagi Hasan menarik nafas, tiba-tiba buk Astra menamparnya dengan satu pertanyaan lagi : “Hafalan semester II udah ?”. Dengan ragu-ragu Hajar menjawab : “ belum juga buk”.
“kamu ini ya, sudah di kasih hati minta jantung. Kamu punya otak gak sih ? udah semester I gak bisa ikut ujian belum nyadar juga.seharusnya kamu bisa belajar dari semester satu.. brrrbrrbrbrbrbrbrbrbrbrbrb……. Ocehan itupun berlanjut hingga tettt…. Tettttttt….. tettttttt  bel berbunyi. Waktunya istirahat.

Akhirnya Hajar bisa menarik nafas. Meskipun setelah istirahat ada pelajaran yang sangat ia takuti. Pelajran Budi Pekerti. Pengajarnya termasuk guru yang sangat ia segani.
Segera saja ia menggoda teman sekelas dengan harapan agar mau mengiakan keinginannya untuk berpura-pura mengatakan kalau dia sedang sakit di UKS. Itu adalah satu dari berpuluh-puluh alasan yang telah ia buat.
Tettttt…. Tetttttt…. Tetttttttt…… bel berbunyi. Semua siswa memasuki kelas kecuali Hajar si anak malas. Tampaknya guru-guru sudah hafal dengan tingkahnya sampai-sampai setelah melihat kekanan kekiri ketika absen guru tak lagi menyebut namanya, apalagi menanyakan kemana dia, atau atas alasan apa ia tidak ada di kelas. Mungkin guru-guru sudah capek menanyakannya.
؏؏؏؏؏
Tak terasa hari ini ternyata hari minggu. Ujian hanya tinggal menunggu jam saja, begitu kata guruku pada saat SMP. Tapi sepertinya tak ada sedikitpun inisiatif dariku untuk belajar. Malah aku berencana untuk pergi ke Water Park bersama teman-temanku.
Tak sedikitpun ada rasa takut yang terlihat di raut wajahku. Aku hanya menikmati setiap permainan yang ada di Water Park itu. Hingga sore menyapa baru ada terhentak di benakku untuk pulang.
Rasanya badanku terlalu lelah kalau aku harus belajar lagi setelah perjalanan yang ku tempuh cukup jauh untuk pergi ke Water Park itu. Akhirnya ku putuskan untuk tidur.
Tidak.. tidak… tidak….
Huh… huh… huhh….
Dengan terengah-engah bagaikan di kejar setan aku terbangun dari tidurku. Ternyata aku sedang mimpi buruk. Setelah merasa tenang, aku kembali melanjutkan tidurku. Meskipun aku tahu mata ku sulit terpejam setelah kejadian tadi. Setelah memejamkan mataku dengan terpaksa akhirnya aku terlelap juga.
؏؏؏؏؏
Kring-kring….. kring-kring….
Bekali-kali alarm membangunkanku. Namun sepertinya aku terlalu sulit untuk di bangunkan oleh si penyanyi organ tunggal yang bersuara cempreng itu. Mungkin perjalanku kemarin sangat menguras energiku.
Kring-kring…. Kring-kring…..
Akhirnya dengan malas-malas aku menarik phonselku untuk melihat jam sekaligus mematikan alarm.
Ha…….. aku terkejut. Ternyata sudah jam 07.25. dengan terburu-buru aku lari dari tempat tidurku. Hanya bermodalkan cuci muka dan gosok gigi langsung ku kenakan seragam sekolahku. Tampa menunggu motor panas langsung saja ku masukkan gigi dan melaju ke sekolah dengan kecepatan 80.

Baru saja aku mendekat dengan gerbang sekolah, tiba-tiba tettt…. Tetttt…. Tet…..  (bel masuk berbunyi) dan bang Satpam bergegas menarik gerbang sekolah. Dengan memasang muka melas aku memohon agar di izinkan masuk. Ternyata bang Satpam tertipu dengan muka memelasku dan memperbolehkanku masuk.
Segera saja ku parkirkan motorku dengan tidak memperhatikan lagi sudah benar atau salah cara memarkirnya. Dengan bergegas aku berlari, ku lihat dena ujian di madding sekolah. Ternyata aku ruang 011.
Baru saja aku mau berlari mencari ruanganku, terdengar ada seseorang yang memanggilku. Afra… penggilan itu terdengar beberapa kali tapi aku tak tahu dari mana asal panggilan itu.
Ku lihat kiri kanan ternyata ada di ruangan atas. Hey.. ku lambaikan tangan. Ternyata si Jufri,teman sekelasku  “ruangan kita di sini !”, teriaknya. “ia”, ku balas teriakannnya. Ku langkahkan kaki dan ku ayunkan tangan dengan kecepatan maksimum menuju ruang ujianku.

Ternyata aku kalah cepat dengan pengawas ujian. Untung saja pengawasnya buk Erna, guru muda, cantik dan guru yang paling baik sedunia. “kenapa kamu telat Afra ? ayo cepat masuk !”, katanya. “ia buk” jawabku sambil memasuki ruangan ujian dan langsung menuju tempat duduk ku yang tak kunjung berubah setiap tahun (di bagian depan).
Ku tarik kertas jawaban yang terjepit dengan kertas soal. Ku isi nama serta biodata lainnya. Selanjutnya ku baca kiat-kiat mengisi soal. Eik…. Ku teguk ludah ketika melihat “kartu ujian harus selalu di bawa pada waktu ujian”. Aduh aku lupa bawa kartu ujian. Tapi aku masih bisa tenang kalau buk Erna yang mengawas. Tapi entahlah jam ujian ke 2 apa aku masih bisa tenang.
Ku lihat soal nomor satu. Ha…. Teriakku dalam hati. Aku mulai risih dengan soal-soal yang termuat dalam kertas buram itu. Aduh sepertinya ujian hari ini aku hanya bisa menggigit jari (kataku dalm hati).
Ku lanjutkan ke soal berikutnya hingga selesai. Ternyata dari ke semua soal aku hanya bisa jawab 10 dan itupun belum tentu benar. Aggghhh… aku berpikir untuk  pakai cara lama. Mencoba melirik ke riri, ke kanan, dan ke belakang sambil bertanya dengan menggunakan sandi-sandi dan gerakan mulut tampa mengeluarkan suara.
Hanya beberapa soal saja mereka iakan untuk berbagi denganku. Selebihnya aku harus siap-siap untuk berpusing-pusing lagi.
Waktunya 15 menit lagi.
 “Afra kamu sudah siap ?” katanya setelah melihatku hanya terdiam sambil memangku tangan kiri dan tangan kanan memainkan pulpen.
“belum buk”, kataku sambil cengar cengir.
Aku mulai gelisah mendengar  kata 15 menit. Ku silang saja soal-soal yang belum terjawab dengan asal. Namun essay tak mampu ku isi satu pun.
Tettt…. Tettt…. Bel kembali berbunyi tanda waktunya istirahat. Semua teman-teman yang satu ruangan denganku mulai meninggalkan kelas satu persatu. Bertambah galaulah hatiku ini. Aaaa… aku hanya bisa pasrah. Ku kumpulkan kertas jawaban.
Waktu istirahat tak lagi ku hiraukan meskipun aku belum sarapan. Ku pergunakan waktu istirahat untuk belajar yang tentunya tak ampuh  lagi menolongku saat ujian jam ke 2 nanti. “Tapi tak apa lah yang penting aku sudah usaha”, kata ku dalam hati.

؏؏؏؏؏
Hari berganti demi hari. Satu persatu ujian telah terlewati meskipun banyak  accident-accident yang menerpaku pada waktu ujian.
Seluruh siswa berhamburan datang memadati lapangan upacara. Setelah semua embel-embel upacara terlewati akhirnya waktu yang di nanti-nanti datang juga. Pengumuman sang juara yang tak seharusnya di umumkan lagi karena semua siswa sudah hafal list nama-nama orang yang tergolong kedalam grup sang juara itu.
Satu persatu rentetan nama-nama itu di sebutkan oleh seorang guru yang di tugaskan untuk mengumumkannya. Mulai dari kelas XII satu persatu di urutkan. Sorakan-sorakan penipupun mulai menyemarakkan kebahagiaan para sang juara. Semua kelas telah di umumkan. Namun sepertinya tak satupun dari kesemua nama itu tertera namaku.
Semua siswa kembali memasuku kelas untuk mengambil rapor. Nama yang pertama kali di panggil adalah namaku. Setelah menerima rapor dengan beberapa harapan dan masukan dari guru, aku kembali kebangkuku.
Ku buka perlahan secarik demi secarik kertas yang terdapat dalam rapor. Sampai akhirnya…. Aku terdiam… “aaaaa….” Teriakku dalam hati. Nilaiku anjlok. Meskipun tak satupun tertera nilai merah dalam rapor. Tapi ini sungguh membuatku harap-harap cemas.
Ku tinggalkan sekolah dengan muka kusyut seperti pakaian yang belum di setrika. “Ooo.. inikah arti dari mimpi burukku bertemu hantu semester?” kataku dalam hati
Sampai di rumah masih dengan bentuk mukaku semula. Tetap kusyut. Tiba-tiba ayah membuka pintu, yang sangat ampuh mengagetkanku bagaikan tangan basah terkena setrum. “gimana hasil rapornya ?” kata ayah. Tampa menjawab pertanyaan ayah ku ulurkan tangan yang memegang rapor dan langsung  pergi meninggalkan ayah.
Ayah datang menghampiriku yang cemberut bagaikan bunga kuncup yang tak kunjung mekar sambil mengatakan “gak apa, orang pintar kan gak harus juara”. Aku mulai tenang dan tersenyum karena menyadari bahwa semua yang terjadi ya sudahlah. Kalaupun aku menyesal tak ada gunanya lagi. Karena semua telah terjadi.

Selesai………