Austria, sebuah Negara yang terletak di benua Eropa. Disanalah seorang perempuan yang bernama Hanum, begitu ia di sapa, berhijrah untuk tiga tahun lamanya menemani sang suami yang sedang melanjutkan study S3.

Mempelajari bahasa adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh Hanum untuk bisa bersosialisai di Negara tersebut. Niat awal hanya untuk menghilangkan kebosanan (karena ia tidak bekerja dan hanya tinggal di apartemen menunggu sang suami,) namun tuhan mempertemukannya dengan Fatma, seorang imigran Turki. Ia telihat begitu berbeda dengan orang-orang yang ada di Negara itu. Satu hal yang membuatnya berbeda ialah penutup kepala yang ia kenakan. 

Awal perkenalannya sangat unique. Hanum yang saat itu sedang makan cokelat mecoba untuk menyodorkan ke Fatma namun Fatma menolak secara halus karena ia sedang berpuasa sunah. Mendengar Hanum bisa menebak (red: mengetahui) ibadah yang ia lakukan, iapun “menanyak apakah kamu muslim?” Itulah awal pertemuan yang menciptakan seluruh isi cerita didalam novel ini.

Hari berganti, Hanum dan Fatma semakin akrab. Banyak pelajaran yang Hanum petik dari keramahan hati dan keseharian Fatma. Terutama menjadi seorang muslimah yang manjadi minoritas di Negara Atheis. Setiap kali melakukan sesuatu, moto yang di pegang erat oleh Fatma ialah “menjadi agen muslim di Eropa,” sehingga ia pun menjadi sangat hati-hati dalam bertindak. Karena image islam tergantung padanya. Kalau ia melakukan kebaikan makan image islam akan telihat baik namun sebaliknya kalu ia memilih membalas kekerasan dengan kekerasan artinya semua stereotype tentang Islam (T) itu benar adanya.  

Satu hal menarik yang dilakukan oleh tokoh Fatma dalam novel ini yaitu perlakuannya terhadap turis asal Amerika yang jelas-jelas telah melukai hatinya melalui roti cruisant.
“kalau kamu mau menghina orang Muslim atau Turki begini caranya, kata seorang tourist ketika hendak melahap roti cruisant. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat (terlepas dari benar atau tidak) roti cruisant adalah simbul kekalahan Turki atau tentara muslim yang sedang berinvansi ke Eropa Barat, Austria. 

Ceritanya semakin dramatis ketika ternyata Fatma adalah keturunan Kara Mustafa Pasha, salah satu tokoh muslim terpenting dalam usaha penaklukan Austria. Lukisan wajahnya ada di salah satu museum di Viena. Penggambaran tentang sosoknya didalam lukisan itu sangat menyedihkan, seolah-olah sang pelukis ingin menyampaikan suatu pesan “kamu adalah pengecut.” 

Hal itu diketahui Hanum ketika mereka bersama-sama mengunjungi museum itu. Fatma yang menangis secara tiba-tiba menyimpan tanda tanya dibenak Hamum. Akhirnya Fatma menceritakan bahwa orang yang ada dalam lukisan itu adalah tokoh yang telah mencoreng sejarah islam dan dia adalah kakek buyutnya. “Ayo kita keluar dari tempat ini! Biarkan Kara Mustafa menikmati apa yang telah ia lakukan,” ucap Fatma penuh emosional.

Keberadaan tokoh Fatma didalam novel ini juga adalah sebagai contrast atas jalan yang dipilih oleh Kara Mustafa Pasha. Menurut Fatma “otot” bukanlah cara yang tepat untuk menyebarkan islam. Cara yang terbaik ia dengan menunjukkan perbuatan baik.

Ini terbukti ketika ia lebih memilih untuk membayarkan makanan si bule Amerika ketimbang melabraknya. Padahal Hanum sudah siap dengan kata-kata dikepalanya untuk melabrak di bule itu. Fatma juga tak lupa menuliskan alamat emailnya disana. Tak berapa lama dari kejadian itu sibule ternyata meng-emailnya dan menyatakan betapa senangnya ia  memiliki teman muslim.

Sejatinya seseorang yang di hina agamanya juga negaranya tentu akan marah besar, kecuali orang tersebut bukan orang Nasionalis atau bukan yang agamis (Islam KTP.) Namun, kedua hal itu bukanlah alasan yang benar dalam kasus Fatma ini. Satu hal yang menjadi alasan Fatma ketika memutuskan untuk melakukan tindakan itu, yaitu “Kita harus menjadi duta islam yang baik di Negara Eropa,” ucapnya dengan tulus. Dengan kata lain Fatma ingin menunjukkan bahwa islam itu bukanlah agama yang keras seperti layaknya islam tercitra saat ini. Ingin membunuh stereotype buruk tentang Islam di mata barat.

Banyak hal menarik dalam Novel ini, bagi anda penyuka sejarah dan petualangan novel ini sangat tepat untuk dibaca. Terutama yang suka mengaitkan sesuatu dengan Islam. Contohnya apa alasan Napoleon Bonaparte untuk membuat bangunan di Paris yang sangat simetris dan adanaya spekulasi bahwa arahnya lurus ke Timur yaitu ke Mekkah. Ada juga yang katanya si Napoleon di prediksi telah memeluk Islam sekembalinya dari Mesir, yang juga menjadi inspirasi dalam membuat bangunan-bangunan yang simetris itu. 

Hal lainnya adalah lukisan bunda maria di Musem di Paris yang katanya terdapat kaligrafi Laa Illa ha Illa Allah disisi kerudungnya. Ini menunjukkan bahwa muslim pernah menjadi trend di masa lalu. Sama seperti demam K-pop di tanah air. Kemajuan Islam pun pernah membuat deman seantero dunia termasuk Eropa. Ini juga dibuktikan oleh lukisan salah satu raja di museum di Austria yang juga terdapat tulisan arab, bahkan isi tulisannya adalah Syahadah.

Pemaparan sejarah dengan cara seperti ini sangatlah baik bagi image sejarah itu sendiri. Ini membangkitkan kembali keinginan untuk mengulas sejarah. Kalau di Indonesia sejarah adalah hal yang paling akrab dengan kata “bosan,” disini Hanum mengemas sejarah menjadi hal yang sangat menarik untuk diketahui. Terlepas dari benar tau tidaknya sejarah yang ia ceritakan toh ini hanyalah buku fiktif. Jadi angap saja buku ini sebagai motifasi keislaman kita terutama bagi mereka yang sedang hidup di Eropa. Harus bersitegang dengan keyakinan dalam diri. Apalagi ketika berurusan dengan masalah ibadah dan dalam waktu bersamaan harus mengejar pelajaran atau pekerjaan, dilemma.

Terlepas dari semua itu, ucapan selamat dan jempol layak disematkan untuk novel ini, walaupun ada berberapa hal yang mengganggu ketika hendak membaca buku ini, yaitu adanya beberapa kesalahan dalam pengetikan dan pilihan sisi paragraph yang acak (sisi sudutnya) sedikit mengganggu. Alangkah indahnya kalau itu dibuat (dipilih) simetri mungkin bisa membuat pembaca lebih enjoy untuk menikmati buku ini.

Lain lagi dengan sederetan testimony atau endorsement yang terpampang di cover novel ini, terlihat jelas bahwa penulis sangat menggunakan keberadaannya sebagai anak petinggi, yang memiliki banyak teman orang-orang ternama. Sehingga sempat terpikir di benak saya “Enak ya, jadi anak orang besar. Kalau butuh testimony tinggal minta saja.” (upss.. itu hanya pemikiran kotor yang ada dalam benak saya) hehehe :D

Selebihnya novel ini adalah novel bagus yang layak and dibaca. Good luck !!! (y)


Adhari
Mahasiswa Sastra Inggris (SI) di Turki



NB:
(1) Saya telah menulis resensi novel ini di tahun 2012. (2) Alasan saya merevisi tulisan ini  karena baru-baru ini saya menambah gadget di blog saya, yang menujukkan tulisan apa yg pembaca buka. Dan yang muncul adalah tulisan ini. Ketika membaca kembali tulisan ini saya jadi tertawa sendiri. Tulisannya masih seperti tulisan anak kecil. (3) Saya tahu blog ini minim pengunjung. Ketika ada yang mungunjungi saya ingin memberikan kesan baik untuk mereka. (4) Dengan mengunjungi blog ini saya merasa telah disetrum energi positif untuk lebih giat menulis lagi (5) Trimakasih telah mengunjungi blog ini, trimakasih setruman positifnya dan mohon komentarnya agar saya bisa menulis lebih baik lagi


Semua Butuh Proses, begitulah kata-kata yang selalu mengaung di telingaku ketika hati kecilku bertanya mengapa ? mengapa? Mengapa ?

Sudah sebulan lamanya kami menyangkar di JABODETABEK. Entah berapa kota yang telah kami lalui, entah berapa duit yang telah kami keluarkan. Entah mengapa ini semua harus terjadi ? itulah pertanmyaan yang kerap menghantui kami.
Upss…
Saya belum memperkenalakan siapa itu kami..
Ceritanya berawal saat 3 bulan yang lalu saat kami akan lulus dari bangku SMA, dengan sangat bahagia kami menerima informasi bahwa ada Beasiswa ke luar negeri. Tanpa pikir panjang saya dan beberapa teman saya mendaftarkan diri untuk mengikuti kesempatan emas ini. Dari 60 siswa yang mendaftar hanya 6 orang yang diterima. Dengan sangat gembira saya berada dalam 6 orang tersebut.
Setelah terpilih sebagai perwakilan sekolah kini saatnya kami mengikuti segala proses yang telah menjadi program si pemberi beasiswa. Belajar bahasa. Ya, itulah hal pertama yang menjadi agenda wjib dalam program mereka.
Kami mengikuti program belajar bahasa, meskipun kepastian untuk mendapat beasiswa belum kami kantongi. 2 bulan lamanya kami telah belajar bahasa. Itupun hanya sehari dalam seminggu. Bahasa sehari-hari Negara yang menjadi tujuan kami untuk kuliahpun telah ada di tangan kami. Meskipun hanya secuil. 
“Melakukan sesuatu tanpa kepastian itu sia-sia” kata-kata itu kerap menyurutkan niat kami untuk melanjutkan program ini. Namun keinginan kami ternyata lebih kuat daripada hantu yang menggonggongi niat baik kami.
Ujian Nasiaonal telah berlalu, pengumuman kelulusan telah terpampang. 100 % lulus. Tulisan itu membuat sorak gembira menggema halaman sekolah. Tak terkecuali diriku. Aku sangat bahagia menerima berita baik itu. Terlebih LULUS adalah syarat utama untuk mendapatkan beasiswa.
Kami kembali menanyakan kejelasan beasiswa tersebut. Namun, pengajar bahsa kami tidak tahu-menahu tentang beasiswa tersebut yang ia tahu hanyalah mengajarkan bahsa kepada kami. Rasa gundahpun kembali menghantui kami.
Beberapa opsi telah tertata rapi dalam otak kami. Mengikuti SNM-PTN adalah salah satunya. Namun keinginan untuk tetap bisa keluar negeri lebih dominan. harapan yang begitu besar itu membuat hari-hari terasa begitu hambar.
******
Sore hari, tiba-tiba phonsel ku berdering, ternyata ada SMS masuk. “Ary apakah kamu bisa ke Rumah saya sekarang ??” isi SMS itu. Rasa malas mendekamku. Terlebih sore itu hari terlihat mendung dan hujan telah terlebih dahulu menguasai tanah. Jalan-jalan berlubang di penuhi oleh air hujan yang sedari tadi telah membooking tempat.
Ku layangkan satu pertnayaan SMS, “ada apa ?? apakah saya sendiri ? atau saya ajak teman yang lain ?” namun SMS itu tidak ada balasan. Dengan berat hati akupun menyambangi rumah pengajar bahsa kami itu.
Sesampai dirumahnya ternyata dia baru saja keluar. Rasa kecewapun bercengkrama di hati. Akhirnya aku menelphon guru belajar bahasa tersebut. “Saya akan segera pulang” kata-kata itu membuat hatigu sedikit lega.
Sesampainya di Rumah…..
“Ada apa ??” pertanyaaan yang paling utama kulayangkan.
“jadi begini, kamu dapat beasiswa itu. Dengan syarat uang keberangkatan di tanggung oleh individu. Itu sekitar 150 US$”
What ?? pernyataanitu membuat nyaliku ciut, bagaikan kerupuk yang nyemplung di air.
“bagaimana ?? kamu bersedia ??, tolong cepat kabarkan ?? dan tolong tanyakan kepada orang tua !! tolong beritahu orang tua anda. Besok  pertemuan dengan orang tua jam 10”
Kata-kata itu kembali membuatku mengernyitkan dahi. Dekarenakan aku adalah anak rantau. Dan orangtuaku berada didaerah berbeda dengantempatku merantau.
Kebetulan saat itu masih jam 6 sore. “Mengkin ayahku bisa menaiki mini bus yang biasanya berangkat pada jam 20.00” kataku dalam hati. Ayahku dengan terkejut mengiyakan keinginanku.
********
Rapat telah selesai.  Dengan tatapan mata yang bertanya-tanya ku pandang wajah ayahku. “bagaimana yah ??” pertanayaan itu ku keluarkan dengan harap-harap cemas.
“Udah kamu ambil saja beasiswa ini” jawaban yang membuatku sedikit tenang.
“tapi 15 jutanya ??” kataku dengan tatapan tidak enak hati.
“sudah tenang saja itu bisa di usahakan”
Dengan begitu saya dan ayah berencana untuk langsung pulang ke kampung halamanan untuk sekaligus berpamitan. Karena pihak pemberi beasiswa hanya memberi waktu seminggu. Belum lagi saya harus cepat kembail ke tempat perantauanku untuk mengurus segala persyaratan ke sekolah. Minggu depan harus sudah berangkat ke Semarang. Di sana akan di adakan karantina dan belajar bahasa seara intense.
Hari yang telah ditentukan tiba, kamipun sudah siap untuk berangkat. Namun, tiba-tiba masalah tiket menghambat karena tiket ekonomi jurusan semarang habis. Kami lebih memilih ekonomi, toh ekonomi tidak terlalu buruk dan lebih ekonomis. :D pernyataan itu kembali membuat geram.
Akhirnya keberangkatan di tunda ke 3 hari selanjutnya. Beberapa saudara yang berniat untuk mengantarku, memilih untuk pulang di karenakan kebanayakan dari mereka adalah pekerja kantor yang mengharuskan mereka untuk tidak libur untuk waktu lama.
Hari keberangkatan tiba. Berita mengejutkan kembali terdengar. “kalaian tidak jadi ke Semarang, kalaian ke Jakarta saja” berita itu tentu tidak baik karena system pembookingan tiket pesawat yang di cancel pada hari H tentu merugikan. Namun, apa yang bisa kami perbuat.
Kamipun terbang ke jakarata.
********
Sebualan di Jakarta tanpa kepastian keberangkatan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kini kami hanaya menunggu keberangkatan. Yang katanya akan berangkat akhir Agustus. Kami menunggu saat itu.

BERSAMBUNG……