Kemarin tanggal 2 oktober pagi, tak terasa pada malam harinya ternyata ada pesan masuk di HP  yang tak sempat terbaca olehku. Mungkin badan kecilku terlalu lelah menjajali jalanan kota tempat tinggal baruku ini.
Pesan ini disampaikan oleh PPI sedunia, besok diharapkan semua anggota Mahasiswa Adana, Turki memakai Batik ………..” begitu isi pesannya.
Pertranyaanpun mulai memenuhi isi memoriku. Apakah gerangan yang mengharuskan hari ini memakai batik ? tanyaku dalam hati. Kucoba mencawab sebisaku. Berbagai alasan-alasan yang tak masuk akal pun keluar dalam pikiranku.
Apakah mungkin hari ini batik sedang masuk World Record sebagai karya terindah. Atau mungkin hari ini batik sedang dikontrak sama designer ternama dari dunia barat sehingga patut untuk dirayakan. Semua pertanyaan itupun sempat nongkrong dibenakku.

Hingga akhirnya siang harinya ketika saya pergi ke kampus untuk beberapa urusan setelahnya mampir kesalah satu orang Indonesia yang telah kami anggap sebagai orang tua kami.
Lalu iapun menanyai saya dengan pertanyaan : “Mana batik kamu”
“emang hari ini hari apa sih pak” tanyaku penasaran.
“Hari ini hari batik nasional semua warga Indonesia yang diluar negeri makai batik hari ini” jawabnya lengkap. “Punya kamu mana kok nggak di pakai. Kalau ngga ada ini ada punya saya. Pakai aja” timpalnya.
“Ada ko pak ini dalam tas” jawabku diselah oh-ohan ku tanda ku mengerti.
Beginilah adanya setiap anak negeri yang melanglang buana. Rasa nasionalismenya bangkit melalui semua hal yang berbau Negara. Ntah itu dalam bidang seni, pendidikan bahkan hal yang terburuk sekalipun. Didalam benak mereka Indonesia tetap Mother Land bagi mereka. Merka mencoba untuk menngenalkan semua budaya Indonesia termasuk yang satu ini, Batik. Meskipun banyak orang yang tahu Indonesia dari hal yang buruknya. Tapi kami mecoba untuk menghilangkan pandangan buruk itu.
Kadang kala disela-sela kehidupan sehari-hari ada warga lokal yang penasan tentang asal usul manusia aneh yang notabene berbadan lebih kecil dari mereka. Merekapun kerap kali memberikan pertanyaan bak repoter berita.
“Asal kamu dari mana ?” itulah kata yang tak pernah absen ditanya oleh seseorang yang baru kenal setelah nama dan bla, bla, bla.
Mungkin dibeberapa Negara Muslim nama Indonesia tak lagi sulit untuk dijelaskan ini itu. Pertanyaan yang mengesalkan seperti “Negara dibagian mana ya ?” atau “itu masuk benua mana, Afrika ya ?” pertanyaan itu sudah tak terlalu sering kami dengar disini. Namun penderitaan kami belum berakhir, ada  respon yang paling ampuh membuat kuping panas atau bahkan berasap seperti yang ada di film-film cartoon ketika mengatakan Negara yang kita sangat cintai itu, Indonesia.
“Kamu di Indonesia di daerah mana, Indonesia, Negara yang Populasinya paling banyak di dunia
kan ?” kami hanya senyam senyum ketika mendapat respon itu.
ada yang lebih parah lagi. Ketika saya mejawab bahwa saya dari Aceh. “Aceh ? itu yang kena gempa dan Tsunami dulu kan ?” respon balik mereka. Terkadang pertanyaan tentang Negara menjadi Phobia tersendiri bagi masayarakat Indonesia yang merantau keluar negeri.
Tak sepenuhnya begitu. Ada juga yang tahu Indonesia karena Bali. Kita patut berbangga dengan pulau yang satu itu. Kesuksesannya dibidang pariwisata patut diacungkan jempol. Ia mampu mebuat image yang lebih baik tentang Indonesia, setidaknya di mata para pelancoong atau para tourist yang haus akan pantai dan panas matahari,
“Bali bagus ya !” katanya tanpa ditanya.
Ada perasaan yang ntah bagaiman mengungkapkanya, atau mengatakannya, ada secuil keinginan untuk hal yang sepele tapi cukup membuat geram itu. Ada keinginan atau kerinduan akan adanya sebuah prestasi dari sebuah bangsa yang dapat dibanggakan ntah itu dibidang olahraga seperti bulu tangkis, pada masa Susi Susanti atau dari segi Negara mungkin, Indonesia bisa dapat julukan lagi seperti dulu sebagai Negara Pangan, pada masa pak Suharto. Ntahlah, itu hanya secercah harapan.
Wah lupa, ada satu hal dari bidang karya yang dapat membuat kita bisa sedikit tersenyum lebar dinegara satu ini, Turki. Ada salah satu karya anak bangsa yang buming disini. Mereka menyebut judulnya “Ayat-Ayat Jinta” yang di Indonesia sebenarnya adalah “Ayat-Ayat Cinta” karya novelis ternama di Indonesia dengan novel-novelnya yang bebau Islam., Habiburahman Al . Novel tersebut disini tersedia dalam terjemahan.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak Habib. Karena  memperkenalkan Indonesia dengan kelihaian jemari tangannya untuk menulis. Juga sutradara film tersebut. Karena disini juga mereka tahu tentang keberadaan film itu.

Selamat Hari Batik Nasional !!!!
Mari lestarikan budaya Indonesia jangan sampai di Claim oleh Negara tetangga lagi!
Miss you Indoensia.
Disela-sela kerinduanku terhadap semua yang ada di Indonesia. Nasi Goreng. Sambel Pedas. Ikan. Bakso. Mie Ayam. Pecal. Sayur-mayur. Rendang. Dan murahnya hidup di Indonesia. Ternyata kita salah juga ya! Demo pas harga naik. Disini yang semua harga mahal saja mereka biasa saja. Yang penting Negara maju. Daripada harga murah karena disubsidi, terus rencana mau buat Indonesia maju terbengkalai karena dananya udah dipakai buat subsidi ini itu.  Mending mana coba ??  hehehe… maaf  ya kalau salah.. ini Cuma pemikiran sekilas saya aja kok !! :D