Beberapa hari yang lalu aku di ajak oleh seorang bapak berlebaran dirumahnya disebuah pedesaan di daerah Akdenis, Turkey atau pantai laut tengah bahasa Indonesianya. Nama desa tersebut desa Aidenler. Kebetulan dia adalah seorang pengusaha di bisang agrari bisnis.
Perjalanan menuju kesana tak terlalu lama, sekitar satu jam. Disepanjang perjalanan aku disuguhi pemandangan ladang-ladang petani. Tapi tenang, aku tak lagi melihat desa Edensor yang indah seperti yang ada dalam cerita Andrea Hirata kok. Hehehe
Aku terengah ketika melihat sistem pertanian di Negara ini. Sungguh sangat ironis jika di bandingkan dengan system pertanian di Indonesia. Disini sistem pertanian sudah sangat baik. Tak lagi memporsir tenaga manusia habis-habisan.
Semua ladang baik itu ladang kacang, tomat, atau apapun itu dikerjakan dengan mesin dan itu tak memakan waktu yang lama. Juga sistem pengairannya. Mungkin bagi yang pernah tinggal dipedesaan pasti tahu bagaimana sulitnya bertani. Terlebih jika berbicara tentang air yang berfungsi sebagai penyiram atau pemupuk.
Beberapa tempat perkebunan yang kebetulan berada di lembah gunung atau berada diantara sungai dan bukit seperti di  dataran tinggi Gayo, daerah yang berada disalah satu kota di Aceh, Indonesia, pasti bisa merasakan bagaimana sulitnya bertani. Mengangkut air dari sungai untuk menyiram tanaman adalah hal biasa yang bisa di lihat di daerah ini.
Namun dinegara yang sebagian kecil daerahnya berada didaratan eropa ini, system pengairan sudah tak perlu menjadi hal yang diributkan lagi karena disini sudah ditata dengan sangat baik. Setiap ladang telah tersedia alat yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya air. Alatnya itu seperti pipa besar yang tak sempurna (setengah lingkaran) tapi dalam bentuk aluminium. Disitulah air akan dialirkan. Tanpa perlu mengangkut-angkut, air akan mengalir dengan baik.
Ada satu lagi yang mencengangkan yaitu menyiram. Kalau di Indonesia kita masih menyiram dengan ember, kalaupun ada penyiram maka kita masih menggunakan penyiram yang manual. Tapi disini petani tak perlu banting tulang hanya untuk menyiram setiap pagi dan sore hari. Mereka telah menyediakan selang yang hanya perlu di hidupkan setiap kali akan menyiram. Setelahnya mereka bisa duduk tenang sambil menyeruput cay (teh dalam bahasa turki).

Sedangkan di Indonesia ? setelah mengankut air dengan nafas yang terengah-engah eh para petani masih di tunggu oleh tugas menyiram. Dan itu sungguh tidak manusiawi. Mungkin kita bisa memberi alasan bahwa pekerjaan seperti yang kita lakukan diindonesia itu bisa menunjukkan bahwa kita bukanlah bangsa yang pemalas. Namun permasalahnnya adalah ketika ada satu hal yang bisa meringankan beban pekerjaan kita, kenapa tidak ? kenapa kita harus memporsir tenaga yang seharusnya bisa kita simpan untuk melakukan pekerjaan yang lain. 
Ketika sampai di perkampungan si bapak aku lebih tercengang lagi ketika melihat hampir setiap rumah warga yang mayoritas petani memiliki traktor yang beraneka rupa. Melihat aku tercengang si bapak langsung bertanya :
“Indonesia’da traktor var mı ?” (Apakah di Indonesia ada traktor)
Dengan bahasa turki yang sangat kacau akupun mencoba menjawab:
Ada, tapi cuma perusahaan tertentu saja yang ada dan kalaupun petani punya, itupun hanya petani yang sangat kaya.
Bisa dibilang bahwa system pertanian yang ada dinegara ini telah mengikuti system pertanian yang ada di Eropa. Ketika mengintip merk alat pertaniannya aku bisa melihat tulisan “made in Holland” disana. Dan kalau kita masih ingat, Negara yang satu itu adalah Negara yang pernah menjajah Indonesia.
Satu hal yang sangat menginspirasiku disini, yaitu ketika berbicara tentang keuntungan yang diperoleh. Tentu sistem yang dipakai dinegara ini lebih menguntungkan dari segi waktu ataupun hasil panen yang akan diperoleh.
Sedangkan di Indonesia terutama di Gayo aku telah mengalami sendiri bagaiman hasil panen kebun kopi yang kami miliki yang hasilnya hanya bisa untuk menopang kehidupan untuk (tak sanggup setahun) dan selebihnya para petani berhutang kepada si Agen kopi.
Belum lagi berbicara tentang harga di Indonesia, di Gayo khususnya aku bisa merasakan bagaiman nasib para petani yang kebetulan bercocok tanam bersamaan. Ketika musim panen tiba dan hasil panen berlimpah ruah, bukannya si petani meraup untung malah rugi karena harga yang tiba-tiba morosot turun. Hasil yang didapat tak sesuai dengan modal dikeluarkan. Kalau berbicara tentang kualitas cabe ataupun hasil panen cocok tanam lainnya yang ada didaerah ini boleh adu. Terutama kopinya.
Namun miris, kualitas tak didukung oleh harga. Seberapa baguspun kualitas kopi, cabe dan hasil tani lainnya. Para petani tetaplah petani. Tak banyak yang bisa naik kasta. Satu-satunya hal yang bisa petani harapkan hanyalah bisa menyambung hidup dan meyekolahkan anak agar bisa menaikkan kasta.


ADHARI
Anak Seorang Petani dari Gayo, Indonesia