Showing posts with label Catatan Kepulangan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Kepulangan. Show all posts

Danau Lut Tawar, Gayo High Land
Disamping fakta bahwa saya belum 100% sadar apakah hidup ini benar-benar realita atau hanya bagian dari mimpi1, saya harus menanggapi satu pertanyaan "how was home?" dari kolega saya di kampus. Sebuah pertanyaan yang sangat wajar karena akhirnya, saya ulangi sekali lagi AKHIRNYA, saya bisa menginjakkan kaki di tanah kelahiran saya setelah 4 tahun berturut-turut tidak pulang. Saya yang nyatanya sedang dalam situasi, meminjam terminologi T.S Eliot, drunk in fatigue, akhirnya mencoba meresapi pertanyaan ini. "How was home, really?" 

Dalam meresapi pertanyaan ini saya bukan hanya mencoba untuk memanggil kembali ingatan saya tentang kampung halaman tapi juga mencoba untuk menganalisa makna dari pertanyaan itu sendiri. Pertama, pertanyaan itu bisa bermakna kondisi rumah. Kedua, pertanyaan itu bisa bermakna bagaimana keadaan keluarga karena home adalah sebuah metonymy untuk keluarga. Semua hal ini muncul satu persatu bagai foto yang bemunculan di laman google saat dibuka dari komputer dengan jaringan super lelet.

Setelah semua pikiran ini bermunculan saya pun mempertanyakan kembali ketololan saya. Kenapa saya harus mengabil pusing pertanyan yang bisa dijawab dengan kalimat basa-basi klasik seperti, "home was fine. I have a great summer, and my family was fine too. Everybody was so happy and bla.. Bla.. Bla..". Lagian, mungkin saja pertanyaan tersebut keluar dalam rangka basa-basi, kenapa saya harus pusing?

Terlanjur basah, saya pun melanjutkan resapan paska kepulangan saya dengan khusuk. Dengan sangat menyesal saya harus jujur pada diri sendiri bahwa ekspektasi saya tidak terbayarkan. Keadaan kampung halaman masih saja sama seperti saya tinggalkan empat tahun lalu. Ada satu dua hal yang berubah, dan itu pun sangat tidak signifikan.

Di kabupaten Bener Meriah, misalnya, perubahan yang sangat terlihat jelas adalah adanya landasan terbang yang lebih baik. Saya menekankan kata lebih baik karena sebenarnya landasan terbang ini sudah ada sejak pertengahan tahun 2000-an. Saya ingat betul hari pembukaan landasan terbang ini, saya beserta keluarga berduyun-duyun hanya untuk merayakan hari peresmiannya. Cukup senang bahwa landasan terbang ini diperbaiki, artinya ada opsi tambahan bagi saya ketika akan pulang selanjutnya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, opsi yang saya punya hanya  menaiki kendaraan darat yang memaksa saya harus menempuh belasan jam untuk sampai di rumah.

Meskipun demikian, ada satu hal yang saya sangat harapkan, permainan harga. Semoga di masa yang akan datang harga tiket pesawat bisa sedikit lebih rasional. Saat ini dikarenakan oleh kondisi dimana satu-satunya maskapi penerbangan yang beroperasi mengakat penumpang dari dari ke bandara Rembele (TXE) adalah Wingsair, anak dari perusahaan penerbangan Lionair, masyarakat tidak bisa komplain melainkan mengambil opsi yang ada. Adapun perkiraan harganya adalah IDR 275-300K untung tiket promo dan IDR 400-500K untuk tiket normal. Dibandingkan dengan tiket bus antar kota? Dua kali lipat. Harga normal tiket bus antar kota Bener Meriah - Banda Aceh adalah IDR 120K, sedangkan Bener Meriah Medan adalah IDR 140K.

Selebihnya, perkembangan apa yang sedang terjadi di kampung halaman? Secara politik, permasalahan pilitik klasik masih mendominasi instansi pemerintahan lokal seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.

Permasalahan moral juga semakin menjadi konsern banyak masyarakat, salah satunya adalah permasalah free sex, tren yang sedang naik daun di kalangan anak muda di daerah terpencil. Efek dari pergaulan bebas ini adalah banyaknya pernikahan dini. Sebuah peraturan adat di Aceh bahwa ketika ada pemuda dan pemudi yang kepergok melakukan hubungan diluar nikah, maka mereka harus dinikahkan SEGERA, tidak perduli apakah mereka sampai umur atau tidak. Sebuah peraturan yang memerlukan banyak perdebatan dan analisa terutama secara agama, sosial, budaya dan kemaslahatan si individu. Efek dari pernikahan dini ini adalah bertambahnya populasi, tentu. Tapi dalam waktu bersamaan juga bertambahnya para pekerja non-profesional. Hal terakhir yang mereka bisa geluti, dalam hal profesi, adalah menjadi petani, dan petani. Jika ini terjadi maka siklus keluarga mereka tidak akan berubah. Jika hal ini terjadi maka kehidupan masyarakat perkampungan bisa ditebak bahwa keturunan dari pernikahan dini ini juga memungkinkan untuk jatuh pada lubang yang sama. Dan siklus ini akan berulang lagi, berulang lagi, sampai saat ketika masyarakat sadar bahwa pendidikan sangat penting. Bahwa mengetahui perkembangan teknologi penting. Jangan ikuti kemauan anak anda untuk membeli telepon genggam saat dia masih SD. Dan berikan pemahaman pada anak-anak bahwa hidup ini keras!

Kedua, efek yang paling tragis dari pernikahan dini ini adalah angka perceraian yang semakin meningkat. Mari hadapi bersama, bahwa mereka masih sangat belia. Pernikahan bukanlah hal yang bisa mereka hadapi. Dengan umur yang masih relatif muda, ego masing-masing masih sangat tinggi. Belum lagi permsalahan sifat kekanak-kanakan. Ujung-ujungnya adalah perceraian. Salah seorang wartwan asalah kota Takengon bahkan dengan lancang mengatakan bahwa faktor mengapa angka perceraian di Aceh Tengah tinggi beberapa tahun kebelakangan ini bukan semata-mata karena dalam lapangan begitu adanya, tapi karena dalam jangka waktu itu Bener Meriah masih menumpang di Pengadilan Agama Aceh Tengah. Dengan kata lian, dia mengatakan bahwa sebenarnya angka perceraian tersebut adalah milik Bener Meriah. J

(what the heck, saya bukan seorang ahli dalam keluarga, saya hanya ahli dalam mengetahui bahwa hidup dalam garis kemiskinan itu sangat sulit. Bayangkan jika anda memiliki anak yang sangat berpotensi tapi anda tidak mampu secara finansial, apakah anda tidak merasa bersalah?)

Permasalahan selanjutnya adalah lapangan pekerjaan yang sangat minim dan sistem tenaga kerja yang membunuh. Dalam momen kepulangan saya kemarin, saya juga berkesempatan untuk berkumpul dengan teman SMP saya. Topik perbincangan kami saat berkumpul adalah tentang lapangan pekerjaan di Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Mereka yang dominannya berkuliah di jurusan kesehatan (dokter, bidan, perawat dll), frustrasi dengan keadaan. Bayangkan saja gaji bidan honor di desa hanya sebesar IDR200k, dan itu pun dibayar tiga bulan sekali. Apakah ini manusiawi? Pertama mereka  terpaksa masuk dalam sistem (menjadi bidan honor,) karena tidak ada pilihan lain. Kedua setelah masuk dalam sistem mereka harus masih disiksa dengan birokrasi yang rumit. Saya jadi bertanya-tanya apakah sistem tenaga honorer yang disediakan pemerintah layak untuk dilanjutkan? Mengingat karena sistem-nya yang sangat PHP, meminjam terminologi anak muda kekinian.

Dalam observasi saya selama di kampung halaman saya menemukan fakta di lapangan bahwa ada banyak sekali pegawai honorer di kantor pemerintahan (guru, pegawai kantor pemda dll) yang sudah mengabdi selama 10 tahun lebih tanpa ada kepastian bakal di angkat menjadi pegawai negeri atau tidak. Ini sangat tidak manusiawi. Bagaimana mereka akan menghidupi keluarganya dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar uang transportasi mereka ke kantor saja. Ironisnya, kondisi kantor pemerintahan juga jauh dari memuaskan. Dikarenakan kondisi pada era modern ini semua pekerjaan menggunakan komputer dan internet, banyak karyawan generasi tua yang tidak bisa beradaptasi. Dilapangan, yang paling banyak mengerjakan pekerjaan adalah tenaga honorer. Para pegawai negeri? Mereka hanya duduk santai dan sesekali menandatangani dokumen. "Apakah mereka tahu proker mereka?" Sebuah pertanyaan besar yang mengaung di kepala saya.

Saya semakin bertanya-tanya, apakah korupsi di Indonesia semata-semata salah dari para koruptor atau korupsi di Indonesia hanya buah yang harus dipetik oleh Indonesia karena sistem birokrasi yang ia tanam. Para pegawai negeri itu mengalami masa kepegawaian yang sulit selama bertahun-tahun, sebelum akhirnya mereka di angkat menjadi pegawai negeri. Lalu apakah korupsi menjadi bentuk balas dendam mereka? Tidak ada yang tahu. Saran pribadi saya hapuskan sistem tenaga honorer kalau hanyak untuk mengeksploitasi para tenaga kerja honorer. Jadi pegawai negeri atau tidak usah buka lowongan sama sekali. TITIK.

Saya juga menyarankan untuk kita semua untuk tidak berharap menjadi pegawai negeri. Mari kita mencoba untuk menyediakan lapangan pekerjaan agar menjadi pegawai negeri bukan satu-satunya opsi yang dimili oleh para sarjanawan muda.

Kembali ke pertanyaan awal "how was home?", akhirnya setelah berpikir panjang saya pun memilih untuk menjawab pertanyaan dengan cara basa-basi. "Everything was great, except it ends so fast. I wish I could stay at home longer."





"Ladies and gentlemen, we have just been cleared to land at the Hamad International airport Doha. Please make sure one last time your seat belt is securely fastened. The flight attendants are currently passing around the cabin to make a final compliance check and pick up any remaining cups and glasses. Thank you."

Hari baru saja terbangun dari tidur ayamnya ketika sang awak kabin memberikan pengumuman bahwa sebentar lagi pesawat akan landing di Bandara Internasional Hamad Doha.

Didalam remang-remangnya mata yang baru saja terbuka, Hari seolah dihadapkan pada situasi luar biasa yang bahkan naluri pun tidak mampu untuk menghapinya. Monitor yang ada di hadapan penumpang yang duduk di depan Hari memutar berita tentang meledaknya bom di bandara internasional Atuturk Turki. Awalnya Hari merasa lega karena telah berhasil melewati musibah besar itu. Namun dalam keadaan yang sama Hari juga merasa emosi karena memikirkan bahwa, bagaimana kalau dia yang berada di bandara Ataturk saat bom itu meledak? Hari pun bertambah emosi karena membayangkan betapa banyaknya orang yang bernasib sama sepertinya yang sedang berada di bandara itu - mereka adalah para mahasiswa yang sedang dalam perjalanan pulang untuk bertemu dengan keluarganya. Bahkan beberapa dari mereka adalah para mahasiswa yang sudah 4, bahkan 5 tahun, tidak bertemu dengan keluarganya. Tidakkah skema seperti itu membuat kita semua menjadi emosi?

Hari tidak habis pikir apa jadinya jika dia menjadi salah satu korban dalam kejadian keji itu. Hari telah 4 tahun merantau di Turki. Sudah 4 tahun tidak bertemu dengan keluarganya. Sungguh tidak terpikirkan apa jadinya jika langkah Hari untuk menuju rumah tiba-tiba terhenti karena perbuatan orang yang tidak bertanggung jawab.

Pesawat sudah siap-siap untuk landing, dan pemikiran Hari masih saja berkutat tentang betapa kejinya para manusia yang mengaku dirinya jihadist atau apapun itu. Betapa Hari, meskipun dia adalah seorang muslim, tapi tidak menaruh simpati sedikit pun pada mereka yang melakukan kekerasan dengan mengatasnamakan agama. Bagi Hari, agama tidak pernah mengajarkan kekerasan. Agama, selalu bisa menerima perbedaan. Agama tidak mengatakan bahwa berbeda sama dengan perperangan, malah sebaliknya berbeda harus menciptakan persatuan yang lebih erat.

Dalam akun sosialnya Hari langsung menumpahkan amarahnya, "I personally condemn those who did the killing (bombing etc) in the name of religion."

Pesawat telah sampai di bandara Doha, Qatar. Hari harus keluar dan menuju ke ruang tunggu. Pesawat Hari selanjutnya jam 2.00 menuju Kuala Lumpur. Hari duduk di ruang tunggu dengan kaki yang sudah lemas. Dan terus begitu hingga jam penerbangan selanjutnya tiba. 
Foto Keberangkatan ke Turki di Tahun 2012
Kudengar kabar dari teman-teman seperantauan, kata mereka sedang ada promo besar-besaran dari maskapai Qatar. Aku pun penasaran dan langsung menuju website resmi

Qatarairways.com. Benar saja, promo yang disebut-sebut memang ada. Sejauh pengetahuanku harga yang ditampilkan memang jauh berbeda dari tahun sebelumnya. Atau mungkin itu hanya persaaanku saja. Aku tidak pernah pulang, oleh karenanya pendapatku mungkin tidak seakurat yang aku claim.
Dadaku semakin tidak karuan. Aku sedang kesal kepada ayah yang tidak mengambil serius tentang permasalahan pulangku ini. Aku jadi berfikir ulang, mengabarkan ayah tentang harga tiket yang murah ini atau diam saja menunggu ayah yang memberi kabar terlebih dahulu.

Aku mencoba berekting dingin. Tidak menelpon beberapa hari. Tapi aku dapati diri ini gemas membayangkan tiket yang sejatinya bisa membantu kepulanganku malah hangus karena aku menyia-nyiakannya. Aku kempali kepada pokok argumentasiku, "kalau ada tawaran yang murah kenapa kita harus menunggu sampai harganya kembali ke harga awal?". Kata-kata itu mendominasi isi kepalaku. Aku tidak bisa berdiam diri lagi. Ku ambil tablet, mengecek sisa pulsa skype yang ternyata sisa sedikit. Tidak lebih dari satu euro. Aku mencoba mengatur strategi, bagaikan seorang pelamar pekerjaaan yang dituntut membuat calon bos-nya tergakum-kagum dalam waktu interview yang terbatas, aku pun dengan seksama menggunakan sisa pulsa 1€ ku untuk meyakinkan Bapak. Dan aku menambah satu catatatan pada diriku sendiri JANGAN SAMPAI TERBAWA EMOSI. TETAP TENANG

"Pak, Assalamualaikum"

"Ada apa Hari"

Seperti biasa Bapak selalu memberi jawaban yang membuatku merasa bahwa setiap kali aku menelpon hanya karena aku menginginkan sesuatu darinya. Iya, kali ini aku benar-benar menginginkan sesuatu.

"Sekarang ini lagi ada tiket promo pak dari Maskapi Qatar. Kalau bapak benar-benar ingin aku pulang, ini adalah saatnya pak.

"Oya pak, saya cuma ingin bilang bahwa saya tidak masalah sekalipun tidak jadi pulang tahun ini. Tapi saya cuma ingin keputusan. Kalau jadi pulang, kita beli tiketnya sekarang juga. Selagi ada promo. Kalau pun tidak kita putuskan sekarang"

"Jadi.. Jadi... Tapi kita tidak bisa beli tiketnya sekarang. Tenang lah, nanti kalau sudah ada uangnya langsung saya kirim."

"Tapi nanti masa promonya habis pak? Harganya bisa lebih mahal"

"Tidak apa-apa walaupun mahal, yang penting kamu pulang tahun ini?"

Aku mendapati diriku mengatakan, "kalau yang promo begini saja kita tidak sanggup beli, bagaimana mungkin kita bisa beli tiket yang harga normal Pak?

"Menurut saya, keputusannya adalah kita beli tiket promo ini atau tidak pulang sama sekali. Saya tidak mau merasa bersalah karena mengabiskan terlalu banyak uang demi kepulangan ini."
Bapak mencoba menenangkanku tapi tidak juga sampai pada titik tertentu dimana pulang atau tidak diputuskan dengan tegas. Kami pun menututup telpon tanpa ada keputusan.

Hari-hari berlalu lagi tanpa ada keputusan. Sebentar lagi ujian akhir semester dimulai. Suasana hati saya jadi tidak bersemangat untuk belajar. Dalam kekesalan yang bergemuruh aku mencoba melewati hari-hari.

Kalian boleh saja menghakimiku, tapi kalian tidak tahu betapa menderitanya hidup tidak bisa bertemu dengan keluarga sebegitu lamanya. Empat tahun bukanlah waktu yang sedikit. Banyak hal yang telah berubah. Banyak berita kematian yang terdengar dan banyak pula berita kelahiran yang mewarnai. Yang paling menyedihkan dari semua peristiwa itu, kau hanyalah pendengar berita dari kejauhan. Kau tidak termasuk dalam bingkai kebahagiaan ataupun duka. Kau hanyalah orang yang terdampar.

Seberapa besar pun ego ku untuk tidak menelpon Bapak lagi, aku tetap mengingkarinya. Dalam hatiku terbesit keinginan besar untuk bisa pulang tahun ini, untul bisa bertemu ibu dan bapak, keponakan yang entah bagaimana sudah berjumlah empat saja. Bahkan keponakan pertama pun baru beberapa kali ku lihat wajahnya, dan ternyata jumlah berekan telah bertambah empat kali lipat.

Saat itu aku sedang berada di İzmir menghadiri konferensi Sastra. Dan Bapak akhirnya menelpon mengabarkan bahwa beliau telah mengirim jumlah uang yang saya sebutkan. Tidak seluruhnya tapi 80% dari jumlah yang saya sebutkan. Saya rasa itu sudah cukup. Toh saya juga punya beberapa limit dalam kartu kredit yang bisa menanggung kekurangan harga tiket.
Hari itu juga aku membeli tiket tanpa bertanya kanan-kiri. Hal yang dikemudian hari aku sesali. Seharusnya aku bisa berada disatu pesawat dengan beberapa teman, namun karena antusiasmeku yang meledak-ledak, aku tidak sanggup lagi untuk menunggu barang sedetik untuk membeli tiket kepulangan.
Ku tulis di google "Qatar Promo to Malaysia," dan satu laman terbuka. Ku tulis tujuan keberangkatan dan kepulanganku. Kutemukan harga tiket yang sama masih bertengger disana. Dengan cepat aku mengecek tanggal dan hari kepulangan yang pas.

Menurut kalender akademik (tahun lalu) ujian akhir semester dimulai akhir Mei. Dan seperti biasa ujian berlangsung dua minggu, di tambah dua minggu lagi untuk remedial. Sebelumnya belum pernah ada kasus remedial tapi mengingat perubahan suasana hati yang tidak menentu segalanya bisa saja terjadi.
Dan begitulah rencana kepulanganku terususn. Aku akan pulang ke Indonesia setelah minggu remedial. Tidak perduli apakah aku masuk remedial atau tidak, aku hanya ingin berlaku aman. Ketika aku pulang, puasa hanya tinggal beberapa hari saja. Tidak mengapa, beberapa hari sangat cukup untuk membayar empat tahun berpuasa tidak bersama keluarga. Aku hanya ingin menyicipi pecel buatan ibu.

Dalam detak jantungku yang tidak karuan, ku tulis satu pesatu nomer kartu kredit. Selanjutnya aku mengisi kolom nama, tanggal penutupan kartu kredit, dan kode. Sebelum mengklik lanjutkan, aku kembali berfikir tidak karuan. Ada perasaan bahwa suatu kesalahan telah aku lakukan saat pemilihan tanggal, nama, no paspor dan lain-lain. Aku pun mengulang lagi seluruh proses dari awal. Tidak hanya sekali. Ku lakukan kegiatan aneh ini sampai berkali-kali, sampai hatiku telah yakin bahwa aku telah melakukan segalanya dengan benar.

Di kali yang kesepuluh, aku pun akhirnya menekan pilihan "lanjutkan" dan ponselku pun langsung berdering. Sebuah sms masuk dari Iş bankası yang berisi kode keamanan. Ku tulis satu persatu sambil menarik nafas pelan-pelan. Dan transaksi pun sukses. Aku akan pulang beberapa hari sebelum lebaran idul fitri, momen yang sangat tepat karena dalam waktu bersamaan aku bisa bertemu dnegan sanak saudaraku. Dan aku akan kembali ke Turki beberapa minggu setelah Idul Adha, suatu keputusan yang sangat aku senangi. Sampai jumpa Indonesia, sampai jumpa Kota Dingin Bener Meriah, sampai jumpa Ibu, sampai jumpa keluarga...


courtesy of https://akubunda.wordpress.com/2012/01/24/tentang-gugur/
Satu hal yang Hari sangat benci - Hari benci ketika digantung dan dihianati. Bagi Hari janji tetaplah janji. Dan itu harus ditepati. Namun ketika ada satu hal lain yang membuat janji itu terancam batal, Hari tetap saja tidak bisa di ajak kompromi. Dia akan secara otomatis kesal dan mendumel.

Saat itu sudah memasuki bulan Maret. Sebuah hukum perjalanan bahwa untuk mendapatkan tiket pesawat yang murah meriah, tiket harus dibeli beberapa bulan lebih awal. Hari, yang sejak awal tahun 2016 telah membayangkan hari kepulangannya, sudah sangat siap menghadapi hari-hari pembelian tiket. "Ini saatnya nih mengabari Bapak," ujar Hari. Dan hari pun menelpon Bapak mengabari hukup perjalanan yang ia pelajari dari pengalamannya melakukan perjalanan selama empat tahun terakhir ini.

Namun nihil, bapak memberikan nada-nada yang tidak meyakinkan. Apakah ini pertanda bahwa kepulangan kali ini juga akan gagal? Hari langsung berfikir negatif. Dan dia pun mengancam Bapak "kalau begitu putuskan saja pak "pulang atau tidak"? Saya tidak masalah kalau tidak pulang sama sekali. Tapi satu hal yang pasti, kalau saya tidak pulang tahun ini, saya tidak akan pulang tahun depan!  Dan satu hal lagi, saya mau keputusannya secepatnya, agar saya bisa mencari kegiatan lain untuk mengisi liburan musim panas yang akan berlangsung selama empat bulan itu."

Bapak tentu berusaha menenangkan Hari dengan mengatakan bahwa "Ia tahun ini kamu sudah pasti pulang, tapi untuk masalah biaya transportasinya kami belum bisa kirim sekarang." Lalu Hari kembali menjelaskan tentang hukum perjalanan. Dan jawaban bapak atas penjelasan itu sangat membuat Hari kesal. "Tidak apa. Sekalipun mahal yang penting kamu pulang." Jawaban itu sangat mengecewakan bagi Hari, karena dari awal permasalahan yang menyebabkan  Hari tidak bisa pulang selama empat tahun adalah masalah keuangan. Dan tiba-tiba sekarang Bapak berbicara begitu. Ini sungguh tidak logis menurut Hari. Hari menawarkan tiket pesawat promo yang harganya jauh dibawah harga normal dan Bapak malah menawarkan membeli harga biasa saja. Hari kembali berargumen "kalau kita bisa dapat harga murah, kenapa harus mengeluarkan uang banyak pak?," dengan pasrah.

Hari sangat cepat naik pitam. Kejadian seperti ini dengan cepat bisa membuat dia meluap-luap. Luapan terbesar yang bisa keluar dari kejadian seperti ini adalah ucapan seperti "ya sudah pak. Sekarang kita buat saja keputusan antara pulang atau tidak? Bagi saya cara berbicara bapak telah menunjukkan tanda-tanda bahwa kemungkinan untuk pulang tahun ini sangatlah minim. Dari pada saya berharap banyak lalu akhirnya gagal, menurut saya lebih baik kita putuskan saja." Hari menutup telepon dan berhenti menghubungi bapak selama berminggu-minggu. Bagi Hari aksi yang dia ambil sangatlah beralasan. Walaupun sebenarnya hal yang dia lakukan tidak sepenuhnya adil. Tapi Hari merasa bahwa jauh selama empat tahun dari kedua orangtuanya telah merusak psikologinya "yang saya harapkan hanyalah bertemu dengan mereka. Apakah itu salah?"

Ada alasan mengapa Bapak berlaku demikian. Ternyata ada hal lain yang sedang terjadi didalam keluarga. Kakak ketiga Hari tiba-tiba meminta izin untuk menikah. Bapak tidak melarang keputusan itu sedikitpun. Dan tidak pernah pula Bapak mendikte keputusan hidup anak-anaknya. Mulai dari masalah sekolah bahkan hingga permasalah menikah seperti ini sekalipun. Tetapi dia ingin diberikan waktu. Setidaknya hingga akhir tahun, karena anak kesayangannya akan pulang tahun ini. Ayah juga sudah tidak sabar bertemu dengan anak kesayangannya. Betapa ayah sudah menunggu hari-hari ketika Yusuf akhirnya bertemu dengan Ya'quf setelah terpisahkan sangat lama. Hari sudah menyusun secara rapih cerita apa yang ia akan sampaikan kepada ayah, tentang hari ketika ia ditenggelamkan kedalam sumur. Tentang hari ketika ia mendekam di penjara karena fitnah. Dan hari itu terancam gagal karena Randi. Betapa Hari akhirnya membayangkan bahwa Randi tak ubahnya seperti kakak-kakak lelakinya nabi Yusuf yang telah membuatnya merasakan banyak tantangan dalam hidup.

Randi sudah tidak sabar ingin menikahi wanita pujaannya. Tidak perduli hal lain yang sedang berlangsung dalam keluarga. Tiba-tiba Randi langsung melamar ke keluarga si mempelai wanita tanpa sepengetahuan keluarga. Sehingga pernikahanpun tak terelakkan. Ayah dengan terpaksa masuk kedalam panggung sandiwara yang diciptakan oleh Randi. Dan melupakan keadaan Yusuf yang sedang merindukan kebersamaan bersama keluarganya.

Diminggu-minggu saat Hari menolak menelpon Bapak, ternyata Bapak juga tidak berusaha untuk menelpon Hari. Kemungkinan besar Bapak sedang disibukkan oleh rencana pernikahan Randi. Hari semakin kesal. Karena sebenarnya keputusannya mogok nelpon hanyalah sebuah luapan kekesalan. Dalam lubuk hatinya Hari sangat ingin menelpon dan beharap kondisi sudah membaik, dan bapak sudah mengantongi uang untuk membeli tiket kepulangan Hari.

Dari saudaranya Hari mendapatkan kabar bahwa Randi jadi menikah. Beberapa pihak keluarga pergi menghantarkan Randi sebagai mempelai laki-laki ke rumah mempelai wanita. Dan mereka pun resmi dinikahkan di bulan Maret itu.

Kekesalan Hari bertambah. Pertama karena kepulangannya terancam gagal, dan kedua karena ia merasa keberadaannya terhapus dari keluarga. Kenapa dalam acara sesakral ini Hari tidak mendapatkan kabar sedikitpun. Setidaknya Hari bisa menguncapkan beberapa doa. Doa agar mereka salalu dimabukkan oleh asramara cinta, sama seperti ketika Zulaikha tergoda oleh ketampanan Yusuf.

Hari hanya bisa terdiam. Dan menunggu akhir dari semua drama ini. Dan berharap semoga April, bulan yang sengaja dipilih oleh Allah sebagai penanda musim semi, dapat menyemaikan harapannya untuk pulang ke tanah air dan bertemu dengan keluarga tercinta. Kepulangan ini bagi Hari bukan hanya sekeadar pulang, tapi jauh lebih besar dari itu. Kepulangan ini adalah untuk menyemaikan rasa kekeluargaan yang sepertinya pupus oleh empat tahun yang telah berlalu
Keluargaku di kota Adana dalam perayaan hari batik

"Empat tahun berlalu bukan tanpa ada wacana kepulangan sama sekali. Malah sebaliknya, setiap awal tahun aku dan bapak selalu berpikiran positif bahwa kami akan melewati libur musim panas bersama. Namun, sepertinya Allah selalu punya rencana lain.

Di tahun pertama, misalnya, aku tidak bisa pulang karena aku merasa bahwa aku belum sattle secara penuh baik dari segi universitas maupun ketika ditinjau dari sisi "kerasan atau tidak kerasan." Karenanya, pulang sepertinya bukanlah jawaban yang baik untuk situasiku saat itu. Seandainya saat itu aku nekad pulang, rasanya liburanku akan penuh dengan ketidaknyamanan. Aku akan menghabiskan waktuku memikirkan apa yang akan terjadi saat aku kembali ke Turki nanti. Untuk itu aku rasa keputusanku untuk tidak pulang kala itu adalah keputusan yang bijak. Bijak karena aku menemukan sisi positif ketidakpulanganku, aku menemukan keluarga baru. Adalah teman-teman Indonesia di kota Adana yang membuat ketidakpulangan terasa biasa saja.

Keluargaku di kota Izmir

Tahun kedua memberikan cerita yang berbeda kenapa aku akhirnya tidak pulang. Sepertinya waktu itu orangtuaku sedang dalam kondisi perekonomian yang tidak stabil. Dalam tingkatan itu aku merasa bahwa aku tidak punya hak lagi untuk memaksa. Tak perduli bagaimana pun kerasnya keinginanku untuk pulanh, ketika memang hal yang paling terpenting dari keselurhan diskusi ini (uang) tidak ada, semuanya berubah menjadi sia-sia. Aku pun akhinya memutuskan untuk menikawati waktuku dengan keluarga keduaku - teman-teman Indonesia di Izmir. Saat itu aku sudah tidak lagi berdomisili di Adana. Aku memutuskan untuk mendaftar universitas baru dengan jurusan baru, yaitu universitas dan jurusanku saat ini, CBÜ - Bahasa dan Sastra Inggris. Kami melewati liburan musim panas bersama, tinggal bersama, masak bersama dan juga jalan-jalan. Ketika melihat kebelakang saat ini, aku merasa bahwa hari-hari itu merupakan salah satu hari yang paling indah didalam hidupku.

Tahun ketiga ketika Bapak sudah menyanggupi kepulanganku secara materi, aku yang malah tidak siap pulang. Saat itu aku sedang dihadapkan pada situasi dilematis. Disatu sisi kalau aku pulang urusan visa, dokumen erasmus dan lain-lain akan terlantar. Namun disisi lain juga, hari kepulangan yang aku tunggu kini hadir. Aku tidak tahu apakah kesempatan ini akan hadir lagi. Setelah berdiakusi dengan bapak akhirnya kami sepakat bahwa fokus ke erasmus saja dulu. Tahun berikutnya baru pulang. Setelah membuat bapak berjanji, akhirnya aku pun tekad bahwa tidak ada pulang di musim panas 2015.
Baru lah sekarang, di summer 2016, keputusan pulang itu final. Tak ada lagi kendala. Pun ada kendala, kendala itu berhasil ditepis jauh-jauh. Tak akan ku biarkan seekor nyamuk pun menghalangi kepulanganku kali ini. Aku yakin Allah sangat ikut andil dalam suksesnya rencana kepulangan ini. Tanpanya semuanya sangatlah mustahil. Terimakasih Allah"

Foto yang saya abadikan saat pertama kali mendarat di bandara Ataturk Istanbul
"Akhirnya" adalah sebuah ungkapan yang kerap digunakan sebagai penanda perasaan lega. "Akhirnya" terucap karena hal yang di tunggu-tunggu akhirnya muncul ke permukaan. "Akhirnya" hadir membawa berika gembira.

April hadir membawa berita gembira. Layaknya hari ketika Chaucer dan teman seperjalanannya bersenang-senang menyambut April untuk berkunjung ke Katedral Canterbury, Hari pun merasarakan perasaan yang sama. Ia bahagia dan berucap "akhirnya". "Akhirnya" bagi Hari adalah sebuah pencapayan. Bagaimana tidak, hampir empat tahun Hari menunggu saat-saat seperti ini, dan baru kali ini terealisasi.

Empat tahun yang lalu Hari memutuskan untuk menjadi perantau. Bagian yang ia sukai dari merantau adalah hari ketika ia kembali ke kampung halamannya. Ia merasa bahwa ada sensasi magis mucul saat hari kepulangan itu. Hari mengatakan bahwa (saya petik) ada sebuah kebahagiaan batin yang tak terjelaskan menyerbak saat hari-hari seperti itu.

Dan Hari harus kecewa menyadari bahwa bagian terfavoritnya dari kegiatan merantau ternyata tidak terlaksanakan selama empat tahun. Betapa setiap menit ia menyesali keputusannya untuk merantau. Betapa ia berharap agar ia berada di rumah saja, bersama ibu, ayah dan kakak-kakaknya. Pernah ada seorang nenek, tapi kegiatan merantau telah menjauhkan Hari dengan nenek terkasihnya. Dan ia pun menyesal untuk hal itu. Hari menyesal.

"Akhirnya," ucap Hari dengan lega "aku bisa pulang."

Satu permasalahan kembali mendominasi pikiran Hari. Ia bertanya-tanya apakah ia masih ingat perasaan magis yang ia sempat agung-agungkan. Seperti apa perasaan itu? Empat tahun telah merenggut ingatan Hari akan perasaan magis itu.

Kini Hari bersedih. Karena ia tidak tahu lagi seperti apa perasaan magis itu. Tapi Hari juga lega karena penungguannya akhirnya usai. Setelah berkontemplasi panjang, akhirnya Hari memutuskan bahwa sedih bukanlah jawaban. Ia memutuskan bahwa bahagia adalah hal yang layak hadir didalam situasi ini.
"Ia, aku harus berbahagia. Tak penting tahu atau tidak seperti apa perasaan itu lagi. Yang jelas AKU PULANG"


********

Qatar dari udara. Foto yang saya abadikan di tahun 2012, kali pertama saya berangkat menuju Turki

Dalam rangka kepulanganku ke Indonesia setelah empat tahun merantau di tanah Ottoman, Turki, aku menutuskan untuk membuat sebuah tulisan bersambung. Agar semua perasaan, agar semua yang saya lewati selama momen bahagia ini bisa terekam secara utuh dalam bentuk tulisan. Tentu dalam penulisannya saya lebih memilih menggunakan sistem penulisan yang berbeda. Daripada menulis seadanya, aku memutuskan untuk membuatnya dalam bentuk narasi. Dan juga menambah dan mengurangi detail dari setiap momen demi mempuitisasi setiap keadaan.

Untuk mengikuti kelanjutan tulisan berseri ini, silahkan klik label yang ada dibagian bawah postingan ini (Tulisan Berseri, Catatan Kepulangan)