Showing posts with label OPINI. Show all posts
Showing posts with label OPINI. Show all posts
60 Peserta YAP 2018 Bersama Kang Yoto
Pada tanggal 28 sampai dengan tanggal 31 Oktober yang lalu saya berkesempatan untuk ikut serta dalam kegiatan Youth Action Forum batch 2018 yang diselenggarakan oleh United in Diversity sebagai salah satu SDSN Networks untuk Indonesia dan juga merupakan regional skretariat SDSN untuk Asia Tenggara.  Apa itu SDSN? SDSN atau Sustainable Development Solution Networks adalah sebuah inisiatif yang dibentuk oleh Skretaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dalam rangka mengimplementasikan Sustainable Development Goals dan Paris Climate Agreement.

Dipercayai bahwa dalam pengimplemtasian SDGs dan Paris Climate Agreement, ada tiga komponen masyarakat yang harus bekerja sama yaitu Pekerja Publik atau Pemerintah, Penggiat Bisnis / Bisnis Sosial dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Karenanya, dalam acara Youth Action Forum ini, setiap peserta yang hadir adalah permawakilan dari ketiga komponen tersebut. 

Pemberian Souvenir Kepada Ibu Tri Mumpuni
Saya kebetulan hadir mewakili organisasi yang berbasis di Kabupaten Bener Meriah, Aceh yang kami beri nama Education Forum (FCA). Organisasi ini dibentuk atas inisiatif sekumpulan akademisi dan profesional muda yang berasal dari Kabupaten Bener Meriah yang kemudian memiliki kesempatan untuk belajar maupun bekerja di kota-kota besar di Indonesia maupun luar negeri seperti Banda Aceh, Medan, Bandung, Jogja, Thailand, Turki dan Australia. Pembentukan organisasi ini bermaksud untuk memberikan sumbangsih terhadap kota dimana kami lahir dan tumbuh besar dengan cara memberikan capacity bulding terhadap sumber daya manusia-nya. Kami memusatkan kegiatan kami dibidang Pendidikan dengan alasan bahwa, walaupun presentase penduduk Bener Meriah yang melanjutkan sekolah hingga Sekolah Menengah Atas ataupun Sekolah Tinggi sudah banyak, tetapi jarang sekali yang memiliki mental berkompetisi yang tinggi. Oleh karena itu, kami berniat untuk meningkatkan kapasitas diri SDM di Bener Meriah terutama anak-anak yang sedang berada di bangku Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas.

Dalam perjalanan Education Forum, tentu banyak sekali mimpi yang tidak sejalan dengan ouput, salah satu penyebabnya adalah logistik. Mayoritas pengurus FCA berdomisili di tempat yang berbeda-beda, sehingga realisasi kegiatan cukup sulit dipenuhi. Namun kami tetap optimis dalam menjalankan misi kami. Salah satu cara yang kami anggap mampu menjembatani pemasalahan logistik ini adalah dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Karenanya kami membuat website dimana kami tetap bisa berbagi informasi dengan anak-anak muda yang ada di Kabupaten Bener Meriah. Selain itu, kami juga mencoba untuk terus mengembangkan kapastis berorganisasi kami, salah satunya adalah dengan mengirimkan wakil kami di Youth Action Forum ini.

Acara Youth Action Forum 2018 berlangsung selama 4 hari yang umumnya membahas tentang pengimplemetasian SDGs dimana United In Diversity percaya mampu meningkatkan standar kebahagiaan hidup. Bagi UID, ada tiga tingkatan piramida SDGs: Pertama, dibagian bawah piramida ada hubungan antar manusia, dilevel kedua piramida ada hubungan manusia dengan alam, dan dibagian puncak piramida adalah hubungan manusia dengan spiritualismenya. Dipercayai bahwa kebahagian hidup dapat dirasakan ketika ketiga komponen ini menjalankan fungsi masing-masing dengan baik. Sejatinya konsep ini tidak jauh berbeda dengan ajaran yang ada disetiap agama. Di Islam, misalkan, ada ayat habluminannas wa habluminaAllah, didalam agama Hindu ada Tri Hita Karana dan lain sebagainya.


Lalu untuk menjalankan piramida tersebut dibutuhkan pernah ketiga komponen masyakat yang telah disebutkan sebelumnya. Namun bagaimana memastikan bahwa ketiga komponen masyarat benar-benar menjalankan fungsinya dengan baik? Salah satunya adalah mengadvokasikan misi ini kepada pihak terkait.

UID sangat erat menjalankan advokasinya dengan menggunakan dua konsep yaitu Theory U oleh Otto Scharmer dan juga pengenalan terhapat Systems Thinking. UID percaya bahwa untuk memastikan setiap individu mampu menjalankan fungsinya didalam masyarakat, perlu belajar memahami diri sendiri dan cara untuk memimpin yang ramah terhadap kemaslahatan bersama yang berdasar pada pelindungan alam sekitar. Tentu saja kegiatan Youth Action Forum ini adalah salah satu usaha yang diambil untuk proaktif mengadvokasikan misi ini.

Selama 4 hari Youth Action Forum di-design sedemikian rupa untuk memenuhi target yang telah dibuat. Berikut adalah susunan acara selama 4 hari tersebut.

Hari 1:     - Learning Journey Overview
    - How is World Today and in the Future (Ibu Mari Elka Pangestu)
    - Crystallizing Insights on the Current Challenges and Opportunity
    - Leadership Challenges in the 21st Century
    - Youth Perspectives and Actions (Goris Mustaqim, Alwin Aditya, Alissa Wahid, Ayu            Kartika Dewi, Azelea Ayuningtyas)

Hari 2:     - Mindfulness and check in
    - Inspirational Session (Mantan Bupati Brojonegoro Sutoyo)
    - Leading in the 21st Century Complexity
    - 20 Minutes Dance
    - Social Presencing Theatre
    - The Power of Intention
    - Mindfulness and Check in

Hari 3:   - Inspirational Session (Ibu Tri Mumpuni dan Bapak Inskandar Kuntoadji)
    - Innovator's Compass
    - Everyday Creativity

Hari 4:    - Mindfulness and Check in
    - Socialpreneur for Sustainable Development (Bang Jalal dan Bang Silverius Oscar            Unggul)
    - Crystallizing Prototyping Ideas
    - Inspirational Session with Pak Eko Putro Sandjojo
    - Cultural Night

Seperti yang bisa diamati, kegiatan ini memang disusun sedemikian rupa untuk mendalami konsep SDGs yang sangat umum dibicarakan namun jarang sekali kita bisa memahami secara mendalam. Terkadang pemaparan konsep berdasarkan textbook juga tidak banyak membantu. Oleh karenanya didalam workshop ini peserta bukan hanya dibekali dengan konsep yang disampaikan oleh para mentor hebat seperti Kak Shobi Lawalata, Ibu Cokorda Dewi, Bang Isra dan lain-lain, tetapi juga dilengkapi dengan contoh nyata dari para penggiat aktif SDGs.

Azelya Ayunigtyas, Ayu Kartika Dewi, Alissa Wahid, Alwin Aditya dan Goris Mustaqim.
Dari sisi LSM ada Alwin Aditya, Goris Mustaqim, Alissa Wahid, Ayu Kartika Dewi yang bergerak dibidang yang berbeda-beda. Alwin Aditya mewakili Aparatur Muda Indonesia mengungkapkan bahwa, beliau dan teman-teman aparatur muda membentuk komunitas ini dengan niat untuk membangkitkan semangat aparatur muda untuk proaktif dalam menjalankan tugas mereka didalam badan-badan pemerintahan. Begitu juga dengan Goris Mustaqim yang mewakili Yayasan Asgar Muda mengungkapkan bahwa yayasan ini dibentuk karena dasar rasa prihatin terhadap kondisi sosial di masyarakat. Yayasan ini bertekad untuk membantu memberdayakan masyarakat kurang beruntung dengan cara-cara yang baik. Berbeda dengan Ayu Kartika Dewi dengan Sabang Merauke-nya, beliau membentuk lembaga ini sebagai usaha untuk memerangi polarisasi dan intoleransi yang semakin marak di Indonesia. Dengan program Pertukaran Pelajarnya, Mba Ayu mencoba untuk meningkatkan dialog antar suku dan agama sehingga harapannya prasangka terhadap suku atau agama yang berbeda bisa lebih diminimalisir. Ketika saya bertanya apakah ada oposisi dari pihak orangtua, beliau menjawab, "tentu saja ada." Namun beliau sangat bangga dengan angka partisipasi kegiatan Pertukaran Pelajar yang digarapnya. Selanjutnya, Wahid Institute, sebagai lembaga yang mewakili salah satu organisasi agama paling besar di Indonesia, mencoba merangkul isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat. Mba Alissa Wahid mengaku saat ini salah satu konsentrasi beliau adalah pendidikan pranikah bekerja sama dengan Kementrian Agama. Program ini dibentuk untuk meminimalisir terjadi perceraian dimasyarakat yang dipercayai menjadi akar dari permasalahan-permasalahan lainnya. Selain program Pendidikan Pra-nikah ini, Wahid Institute juga membantuk komunitasnya berdasarkan dinamika yang ada didalam masyarakat, mulai dari isu intoleransi, ekonomi dan juga keagamaan.

Selain Perwakilan dari LSM, peserta juga diberikan pembelajaran mengenai Bisnis Sosial. Adalah sebuah pengetahuan umum bahwa perekonomian dunia dikuasai oleh segelintir orang atau perusahaan saja. Ini terjadi karena bisnis model yang umum dipelajari adalah menghasilkan untung sebesar-besarnya dengan menekan cost seminim mungkin. Cara berpikir ini yang saat ini sedang dirubah dengan kosep bisnis sosial. Berbeda dengan bisnis pada umumnya yang menganut sistem kapitalisme (mementingkan keuntungan sendiri), bisnis sosial menggunakan bisnis model yang mengukur keberhasilan dari seberapa banyak masyarakat yang terbantu dari bisnis tersebut dan seminim apa kerusakan terhadap alam yang disebabkan oleh bisnis tersebut. Bahkan bila memungkinkan, bisnis tersebut harus membantu mengkombat permasalahan kesusakan alam yang sudah terjadi. Bisnis model seperti ini mungkin sangat sulit untuk dimengerti, namun buktinya ada saja orang-orang yang menggelutinya. Ambil Bang Silverius Oscar Unggul, misalnya, dengan bisnisnya Telapak, beliau mengajak masyarakat petani untuk melakukan bisnis kayu tanpa merusak alam. Dalam penebangan satu pohon, petani diwajibkan untuk menanam 10 pohon pengganti. Selain itu, kayu yang dihasilkan harus memiliki sertifikat bahwa kayu tersebut tidak diperoleh dengan cara merusak alam. Beruntunglah, ternyata negara-negara di Eropa sudah mulai menerapkan kebijakan bahwa mereka hanya menerima kayu yang bersertifikat. Akhirnya masyarakat yang tadinya melakukan penebangan pohon secara illegal dengan dibayar murah, kini dirangkul oleh Telapak. Ditambah lagi, karena Telapak adalah satu-satunya perusahaan yang bersertifikat di Indonesia, petani akhirnya mendapatkan penghasilan dan kesejahteraan hidup yang lebih baik. Contoh lain lagi, Azelya Ayuningtyas, dengan bisnisnya du'Anyam, membangun bisnis ini dengan dasar ingin memberdayakan perempuan di Timur Indonesia dengan kemampuan yang sudah mereka punya, menganyam. Dengan bantuan Ayuningtyas dan tim, perempuan di Timur yang awalnya bergantung dari penghasilan suami, kini bisa membantu perekonomian keluarga dengan keterampilan menganyam mereka. Dan yang paling mengagumkan adalah Ibu Tri Mumpuni dan suami Pak Iskandar, membuat pembangkit listrik tenaga hidro di daerah-daerah terpencil tanpa ada implikasi untuk mengambil untung sama sekali. Mereka mejalankan bisnis sosial mereka murni atas dasar hati nurani. Selama sesi, Buk Tri dan Pak Iskandar berulangkali mengajarkan kamir terhadap konsep niat. Ketika melakukan pekerjaan hanya mengandalakan akal, kata beliau, maka yang akan dihasilkan adalah uang semata. Namun ketika bekerja didasari oleh hati dan pikiran, maka yang dihasilkan adalah cinta dan kemaslahatan sesama.

Bisnis model yang digunakan oleh para penggiat bisnis sosial ini memiliki kemiripan dengan cara kerja yang dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sukses di Indonesia. Kang Suyoto, misalnya, sebagai Bupati Kabupaten Bojonegoro periode 2008 - 2018, beliau menggunakan sistem kepemimpinan yang disebut sebagai open government, dimana kebijakan beliau dibuat berdasarkan laporan dan keluhan publik. Untuk menjalankan sistem kepemimpinan ini beliau mengadakan pertemuan setiap hari Jumat untuk mendengarkan keluhan publik. Salah satu kesuksesan beliau selama menjadi Bupati Bojonegoro adalah mentranspormasi jalan yang selalu rusak karena kontur tanah dan kondisi alam yang tidak stabil. Setelah melakukan studi, akhirnya Kang Yoto merubah jalan yang awalnya berbentuk aspal menjadi jalan yang memakai bahan paving block. Hal ini terbukti lebih efektif dan lebih ekonomis karena jika kondisi tanah berubah, paving block tidak ikut rusak.

Begitu juga dengan Pak Eko Putro Sandjojo, sebagai Mentri Desa, beliau merubah konsep pembangunan yang awalnya bergerak dari kota ke desa. Kini dengan program Dana Desa, Indonesia ingin merubah mentalitas ini, sekarang pembangunan di desa harus dikedepankan sehingga urbanisasi bisa diminimalisir. Tugas selanjutnya adalah memberikan pelatihan kepara aparatur desa agar dana yang diberikan dapat dimaksimalkan untuk membangun perekonomian dan infrastruktur dikawasan pedesaan.

Dengan semua pengenggerak-penggerak diatas, akan menjadi sebuah understatement jika saya mengatakan bahwa program Youth Action Forum ini adalah program yang luar biasa. Kami sebagai peserta belajar secara mendalam tentang konsep SDGs dan cara realistis untuk memulainya, sadar bahwa konsep hanya akan menjadi konsep ketika diambil dari textbook, kami juga diberikan contoh nyata penggiat SDGs seperti yang sudah saya paparkan diatas. Terakhir, program ini bukan hanya program kepempinian 4 hari saja dan selesai. UID sudah menyiapkan program lanjutan untuk memastikan bahwa pembelajaran ini sustains dengan menantang para peserta untuk membuat program pembangunan masyarakat. Untuk 3 program yang terpilih, UID akan memberikan dana sebesar 25 juta untuk masing-masing kelompok terpilih. Dana ini nantinya akan digunakan untuk membantu perealisasian kegiatan. Akhir kata, saya sangat merekomendasikan teman-teman yang aktif di organisasi untuk mengikut Youth Action Forum selanjutnya.
coutesy of vanadiumblog.files.wordpress.com
Selama ini sistem pendidikan Indonesia sering di asosiasikan dengan hal-hal negatif seperti standar pendidikan yang tidak merata, infrastruktur yang tidak memadai, dan lain-lainnya. Dan semua statement ini memang terbukti dilapangan. Sebagai seorang anak yang berasal dari kota kecil (Desa Suku Wih Ilang, Bener Meriah, Aceh) dan memiliki kesempatan untuk juga bersekolah dikota besar (Banda Aceh), saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kesenjangan ini. Di kota kecil dimana saya menamatkan Sekolah Dasar saya, saya menyaksikan dimana kami sebagai murid kekurangan buku. Saya ingat waktu itu buku yang digunakan dikelas masih buku-buku dari kurikulum sebelumnya. Sedangkan dalam waktu bersamaan pemerintah sudah menyatakan secara resmi bahwa kurikulum baru resmi diberlakukan. Gambarannya seperti ini: kurikulum yang resmi diberlakukan adalah kurikulum 2004 dan di SD kami masih menggunakan kurikulum 1999.

Secara infrastruktur juga begitu. Walaupun tidak separah bangaun SD Muhammadiyah di novel Laskar Pelangi, bangunan sekolah kami masih seadanya. Tidak ada gedung perpustakaan. Buku-buku ditempatkan dilemari kecil yang disediakan disetiap kelas.

Begitu juga dengan tenaga pengajar. Kalau di kota besar mungkin guru-guru yang mengajar adalah lulusan atau D3, D4 atau S1 dari universitas negeri, di SD kami mayoritas guru-gurunya adalah lulusan SPG, yang menurut saya pahami adalah Sekolah Menengah Atas Kejuruan dalam bidang pendidikan. Namun jujur, ini tidak serta mereta berarti bahwa guru-guru kami tidak kompeten. Malah sebaliknya, saya merasa bahwa mereka sangat kompeten dibidangnya. Buktinya ada banyak sekali alumni SD saya yang sukses dijenjang sekolah berikutnya dan bahkan jadi bintang kelas.

Salah satu hal lain yang juga saya sadari di kemudian hari adalah pilihan mata pelajaran yang diajarkan; yang sangat jauh berbeda dengan dikota besar. Di SD-SD di kota besar ada pelajaran-pelajaran seperti Bahasa Inggris dan Kesenian, yang tidak kami dapatkan. Di SD kami salah satu mata pelajaran yang dekat ke bidang kesenian mungkin cuma pelajaran Muatan Lokal, dan yang diajarkan dikelas ini hanyalah bahasa lokal atau bahasa Arab.  

Saya pribadi baru mulai mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di MTs Nurul Islam, Bener Meriah. Kebetulan saya melanjutkan Sekolah Menengah di Pondok Pesantren Terpadu tersebut dimana bahasa Inggris dan bahasa Arab adalah bahasa yang di ajarakan; bahkan wajib digunakan sehari-sehari. Di pondok inilah pertama kalinya saya belajar bahasa Inggris dan langsung jatuh cinta. Setiap hari setelah shalat subuh kami diberikan 3 kosa-kata, yang nantinya sepanjang hari itu harus disetor (istilah yang kami gunakan untuk melafalkan kosa-kata yang sudah diberikan dihadapan pengurus bahasa). Hari ini terkadang teman-teman Turki saya bertanya: nasil Inglizce ogrenebildin? Saya nggak tau mau jawab apa. Ia saya diajarkan kosa-kata, tapi apakah cukup? Tentu tidak. Selama SMP dan SMA bahasa Inggris saya kacau. Grammar gak karuan dan lain-lain. Tapi ada satu hal yang saya punya saat itu, yaitu rasa percaya diri yang tinggi. Saya nggak perduli bahasa Inggris saya mau kacau atau apapun, saya tetap komitmen untuk mempraktikannya. Kalau history twitter saya tahun 2011-2013an dibongkar pasti isinya kacau semua. Tapi saya nggak malu untuk mengakui itu. Itu adalah bagian dari proses belajar bahasa Inggris yang harus saya lalui sebagai anak perkampungan.

Terkadang saya iri dengan teman-teman Indonesia lainnya yang saya temui di Turki. Mereka mengaku sudah dikenalkan ke Bahasa Inggris sejak kecil dan bahkan orangtua mereka memang secara conscious membiasakan mereka untuk melek bahasa Inggris sejak kecil dengan cara membelikan buku-buku bacaan dalam bahasa Inggris dan mengintal TV berbayar yang ada channel bahasa Inggrisnya. Ditambah dengan pendidikan mereka selanjutnya, SMP dan SMA internasional. Lengkaplah sudah!

Tapi ini bukanlah topik yang saya ingin tekankan dalam postingan ini. Berkaca dari pengalaman saya di Turki, dibalik kesenjangan pendidikan di Indonesia, ada satu hal yang membuat saya bersyukur menjadi salah satu produk didikan sekolah Indonesia yaitu KEMANDIRIAN. Saya tidak tahu dengan sekolah-sekolah di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain, tapi kami di Aceh masih di tugaskan untuk membersihkan kelas sendiri. Setiap hari sudah ditentukan siapa yang akan menjadi piket bersih-bersih kelas. Berbeda dengan di Turki, para murid tidak terjun langsung dalam kegiatan bersih-bersih. Pemerintah sudah menyediakan tenaga pembersih yang bertugas untuk membersihkan dan merapihkan kelas. Para murid hanya datang untuk belajar saja. Kelihatannya sangat bagus bukan? Jadi anak-anak bisa fokus pada pelajarannya saja. Tapi saya pribadi tidak berpikiran demikian. Sekolah bukan hanya tempat untuk mengemban ilmu saja tapi juga tempat untuk membentuk moral anak-anak. Dan hal sesimpel membersihkan kelas mampu memberikan pelajaran besar yang akan dibawa oleh anak-anak tersebut hingga dikehidupan dewasanya.

Kebetulan di Turki saya tinggal di asrama yang dikelola oleh pemerintah. Diasrama ini mahasiswa dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti makanan siap santap tanpa perlu masak, laundry dan pengering yang tidak membutuhkan tenaga dan waktu jika dibandingkan dengan mencuci secara manual, dan tenaga pembersih yang setiap pagi datang kekamar-kamar untuk menyapu dan mengepel lantai dan membersihkan toilet. Sebagai produk didikan asrama pondok saya sangat tidak enakan ketika melihat kamar dibersihkan orang lain. Bayangkan saja, biasanya bersih-bersih kamar dan toilet bersama dengan teman sekamar, disini tiba-tiba ada orang paruh baya yang datang untuk membersihakan kekacauan yang kamu buat. Sampah-sampai diatas meja dipungut sama mereka. Saya malah nggak ngebolehin mereka untuk ngambil sampah saya. Saya bilang gini: nanti saya akan buang sendiri.

Tanpa ada judgment dalam kalimat ini, saya ingin membandingkan approach yang diambil teman sekamar saya (yang adalah orang lokal) terhadap tukang bersih-bersih ini. Kontras, mereka melihat tukang bersih-bersih ini sebagai orang yang memang harus melakukan hal-hal tersebut. Bahkan alih-alih menolong, mereka malah mempersulit kerja tukang bersih-bersih dengan menumpuk sampah disetiap sudut kamar. Beberapa minggu ini tenaga bersih-bersih komplain untuk tidak menumpuk sampah diatas kulkas. Alih-alih mengindahkan komplainan itu, mereka malah berontak dan marah-marah dan menambah jumlah sampah yang ada. “Kenapa, itu kan kerjaan kamu!” jawab mereka.

Dalam penggunaan kamar mandi juga. Orang sini yang umumnya berjenggot mengharuskan mereka untuk merapihkan jenggotnya setiap minggu, bahkan mungkin dalam 3 hari sekali. Nah, sebagai orang yang bertanggungjawab harusnya setelah mencukur jenggot rambut-rambutnya diberihkan jangan sampai berantakan di westafel dan lantai kamar mandi. Tapi nggak! Teman kamar saya nggak perduli untuk membersihkan “kotorannnya” itu. Dia lebih memilih untuk meninggalkannya ke tukang bersih-bersih saja, yang menurut saya pribadi sangat mengejutkan. Kalau saya pasti malu kalau rambut-rambut gitu berceceran dilantai. Lebih ke perspektif sih. Nanti di cap sebagai orang kotor sama tukang bersih-bersih. NB: saya adalah salah satu orang yang sangat peduli pandangan orang lain terhadap saya!

Satu lagi, disini setiap orang mau laki atau perempuan pasti pakai pengering rambut. Nggak ada masalah dengan ini. Tapi salah satu teman sekamar saya, rambutnya gampang rontok. Nah, kalau lagi cuci rambut dan setelahnya rambutnya diblow pakai pengering rambutnya jadi berceceran dilantai WC. Apakah dia akan bersihin lantainya setelah itu? Mustahil. Beberapa kali saya bersihin tapi karena dia gak sadar juga, akhirnya saya biarin begitu. Ujung-ujungnya tukang bersih-bersih juga yang harus membersihkan kotoran yang kami buat.

Tapi kembali lagi, generalisasi adalah sebuah kebodohan. Mungkin saja saya kebetulan jonk dapat teman-teman kamar begitu. Pasti orang lain gak begitu. Tetap positif.

Kembali ke salah satu didikan sekolah di Indonesia yang mungkin terlihat simple (piket kelas) tapi ternyata mengajarkan hal yang sangat besar yaitu bagaimana untuk hidup mandiri, bertanggungjawab, dan meningkatkan sensitifitas dan kesadaran terhadapa lingkungan. Dan saya rasa didikan seperti ini harus dilanjutkan. Jangan sampai sekolah membayar tenaga pemberih untuk membersihkan kelas-kelas. Melainkan ikut sertakan murid-murid utuk membersihkan lingkungannya. Saya juga ingat dulu di SD bahkan sampai SMA sekali dalam seminggu ada bersih-bersih masal untuk membersihkan lingkunan luar sekolah. Waktu itu mungkin menjengkelkan, tapi sekarang saya bisa lihat manfaatnya.

Tapi kita juga harus menekankan pentingnya faktor-faktor utama seperti infrastruktur, tenaga pengajar yang memadai dan komponen lainnya agar fondasi sistem didikan yang sudah baik itu tambah lebih baik laik. Hidup pendidikan Indonesia!


courtesy: pinterest.com



Digitalisasi hadir dan merubah hidup manusia seutuhnya. Bagi yang terlahir di era sebelum digitalisasi menjadi sebuah fenomena, sekali memutuskan menjadi manusia digital tidak ada kata kembali. Begitu juga bagi mereka yang terlahir diera ketika digitalisasi telah menjadi sebuah kenormalan (kaum milenial), mereka juga tidak bisa memutuskan untuk tidak menjadi bagian dari kehidupan itu. Mereka terjebak didalamnya.

Kendatipun digitalisasi sering dilihat sebagai sebuah hal positif, tidak dipungkiri pula bahwa digitalisasi juga memiliki tendesi untuk mendatangkan hal negatif pada kehidupan sosial. Fenomena sosial media, misalnya, awalnya dimaksudkan untuk menghubungkan manusia yang dipisahkan oleh jarak. Namun semakin berjalannya waktu, sosial media berubah menjadi tempat dimana makna “kebenaran” semakin dipertanyakan. Bukan hanya itu, kehadiran media sosial juga menjadi pertanda bermulanya era narsisme. Kaum maya semakin gemar memamerkan kehidupan pribadinya demi pujian dan “like”.  Disinilah makna “kebenaran” menjadi semakin dipertanyakan. Postingan bukan lagi orisinil. Semua termotivasi oleh sebuah pritensi. Kembali lagi semua, ini dilakukan demi sebongkah hujan pujian dan “like.”

Andai saja hal itu adalah akhir dari cerita ini. Kenyatanyannya, bukan. Kehidupan maya menjadi lebih riil dari kehidupan nyata sekalipun. Disana lemparan hujatan dan hinaat bersangkar. Setidaknya didunia nyata kita masih berpikir dua kali sebelum menggunakan kata kasar. Namun hadirnya dunia maya seolah memberi ruang kepada para manusia berbulu domba untuk unjuk diri. Mereka bisa berpura-pura menjadi A di akun sosial medianya, lalu dengan mudahnya meluapkan segala sisi hitamnya. Ditambah dengan fakta bahwa di dunia maya kita bisa menutup muka, atau menggunakan topeng tanpa diketahui siapa pun. Kalaupun ada kemungkinan untuk tertangkap, pasti sangat kecil karena yang punya akses kesana hanyalah para ahli.

Kata-kata mutiara “When you’re in Rome, be a Roman” sepertinya sangat cocok pada situasi kita kali ini. Dunia telah berubah menjadi digital. Namun kita tidak selayaknya menanggalkan sisi manusia yang ada dalam diri kita. Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk tetap menjadi manusia yang manusiawi walaupun digitalisasi seolah mengambil alih kehidupan? Ada satu nilai yang tetap universal – TOLERANSI. Dengan sedikit pembaharuan, nilai yang telah lama ada dalam masyarakat ini pun akan mampu menjaga dunia tetap aman, tentram dan madani. 

Lalu toleransi seperti apakah yang layak kita aplikasikan di dunia digital ini? Banyak! Salah satu dan yang terkecil kita bisa memulainya dengan mendidik diri kita pribadi tentang informasi. Bahwa tidak semua informasi yang ada didunia maya bisa dipercaya. Kita harus memverifikasi terlebih dahulu sebelum beropini. Bisa saja berita tersebut diserabar untuk memprovokasi masa demi agenda pribadi. Terutama berita yang berbau politik dan agama. Jangan sampai pandangan politik dan agama kita membuat kita menjadi manusia yang buruk. Padahal didunia digital ini semua individu dianggap menjadi reprisentasi kelompok dimana kita menjadi bagiannya. Misalnya, kamu adalah seorang muslim, dan karena pandangan pribadi mu tentang suatu hal, agama mu secara keseluruhan bisa dicap dengan mudahnya. Bagi manusia berpendidikan pasti sudah paham bahwa opini seseorang tidak mereprisentasikan kelompoknya. Namun sayangnya hidup kita dikelilingi oleh manusia dangkal, jadi berhati-hatilah agar kita tidak tenggelam di air yang dangkal. Akan sangat memalukan sekali jika itu terjadi.

Selanjutnya mungkin kita bisa melihat sekitar sejenak sebelum bertindak. Dan karena kita hidup didunia maya, mungkin kita bisa mengambil waktu sejenak sebelum memosting sesuatu. Pikirkan apakah postingan kita itu benar atau tidak. Jangan sampai karena postingan kita atau link yang kita bagikan kita malah menyebarkan fitnah. Kalau fitnah berupa lisan bisa hilang di makan waktu (setidaknya didunia ini,) tapi didunia maya terdokumentasi secara riil. Jadi, hati-hati. Jangan mudah terprovokasi, dan jangan mudah klik share.

Satu lagi, yang sangat mengganggu saya pribadi. Saya tidak masalah kalau semua manusia yang saya temui di transportasi umum atau di tempat umum lainnya sibuk dengan gadget-nya. Yang menjadi masalah bagi saya pribadi adalah ketika mereka dengan gampangnya menyalakan video atau musik dari gadgetnya tanpa memikirkan orang disekitarnya. Musik dan video itu mengeluarkan suara. Seperti hal yang bersuara lainnya, ini kerap menggangu orang disekitar. Ada banyak orang yang sedang melakukan hal penting lain seperti membaca dan berpikir. Jadi kembali lagi, jadilah manusia toleran. Kalau ingin mendengarkan musik dan video, gunakan headset agar tidak mengganggu orang disekitar. Dan ketika sudah menggunakan headset pastikan bahwa volume-nya masih normal. Percuma kalau pakai headset, kalau orang disekitar masih bisa mendengar lagu Justin Bieber yang kamu dengar.

Sekian dari saya cara agar tetap menjadi manusia yang manusiawi di era digital ini. Kalau kalian punya ide lain, silahkan komen dibawah ini. Salam. Selamat bermalam minggu.
courtesy of http://www.vocfm.co.za/
Once is a year muslims around the world are celebrating Ramadan, a month where the muslim people fast from down to sunset. That would be the very simplest definition of ramadhan. If you ask the muslims about Ramadan, they will immidiately tell you that Ramadan is so much more than just not eating and not drinking from down to sunset. It's a month of the purification of soul. Your soul will be purified by avoiding any sorts of temptation: temptation to eat, temptation to drink, sexual temptation, tempting to talk ill of others etc. This is the real meaning of Ramadan. It purifies you from your past wrong-doings.

In addition, during Ramadan the muslim also goes to the mosque at night after isya prayer, to do a special prayer called tarawih. This prayer is only conducted during the holy month of Ramadan. The rakaat differs from one place to another, some do it 23 rakaat including the witir, others do it 11 rakaat. Despite these differences they are doing it for the same purpose, they want to reconncet with their khalik (the creator).

By the end of this festivity, the people are required to pay their zakat al-fitr or the tax of the soul. The money or food (normally it is paid in a form of rice in Indonesia, but then again it is strongly advised to pay it with the primary food in the country) will then be shared to the people who are on the list of eligible people to receive this. They are the poor, the needy, the collectors of zakat, the reconciliation of heart, for freeing captives, the debtors, the fighter who fights in the way of God, and the traveler.

If anything this whole ritual tells us, it tells us how beautiful this religion is. It not only concerns to the well being of its people, but it also invites us to question what this whole thing is designed for.

Islamic teaching always advocates two things: "hablu minaAllah wa hablu minannas" to have a good relationship with the creator, and also to have a good relationship among people. The realization of this message can be clearly seen in the ritual of Ramadan, where the people are made to purify his/her self, his/her soul, to reconnect with Allah, and then it doesn't forget to help in reconnecting people. These are the message of ramadan, among other thing.

A research proves that fasting during Ramadan does not only succeed in fulfilling the message itself, but it also shows a positive effect health-wise. People who fast are likely to have improvements in blood pressure, cholesterol, insuline sensitivity and etc.

In terms of socio-economy, we can see how Islam also takes care of its people. It teaches the people to care about the other people around them by sharing a small amount of their wealth to the needy people. Yet, it is not a free thing. It is repaid with a purified version of your self and your soul. Thus, Islam shows it is not only a religion, it is a way of life. Islam teaches so much positivity, as oppose to the negative things that media often associate this beautiful thing with.

Happy Ramadan. May Allah accept all our good deeds and our duas. Ameen..


Liputan saya mengenai acara Harika Endonezya ketiga yang publish di website PPI Turki


Tim Display dan Pameran
Dalam upaya mengenalkan Indonesia ke masyarakat Turki, Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Turki (KBRI Ankara) berkerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia wilayah Izmir (PPI Izmir) mengadakan sebuah malam kebudayan Indonesia yang bertema “Unity in Diversity” atau “Bhinneka Tunggal Ika”. Tema ini segaja dipilih karena dianggap paling mampu merepresentasikan keberagaman nusantara, baik dari segi etnisitas, budaya, maupun bahasa.

Acara yang diberi nama “Harika Endonezya” atau “Indonesia Sempurna” ini adalah program yang rutin dilakukan oleh KBRI Ankara. Sejauh ini program serupa telah dilakukan dua kali berturut-turut di kota Ankara. Kesuksesan acara Harika Endonezya sebelumnya membuat pihak KBRI Ankara berinisiatif untuk melakukan acara serupa di kota-kota lain di Turki. Untuk Harika yang ketiga ini, misalnya, KBRI Ankara memilih kota Izmir setelah mempertimbangkan bahwa Izmir merupakan kota terbesar ketiga di Turki.

Dalam sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Turki, Bapak Wardana, mengungkapkan bahwa tujuan dari Harika Endonezya ini adalah untuk mengenalkan Indonesia ke masyarakat Turki. Selain itu, lanjut Pak Wardana, Harika Endonezya juga diharapkan mampu menghibur masyarakat Turki melalui fotografi, musik, tarian dan makanan Indonesia. Rencananya setelah kota Izmir, Harika Endonezya yang ke empat akan dilaksanakan di kota Istanbul pada bulan Oktober. Dalam kesempatan tersebut Bapak Wardana juga mengajak masyarakat Izmir untuk ikut serta dalam kompetisi pidato berbahasa Indonesia. Dua Pemenang akan dihadiahi tiket pulang-pergi ke Indonesia untuk mengikuti workshop budaya Indonesia di Jakarta dan Yogyakarta. Selain itu, pemenang juga akan dihadiahi kesempatan untuk menghadiri langsung upacara kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta pada tanggal 17 agustus 2016 nanti.

Poster Harika Endonezya 3

Harika Endonezya yang ketiga ini dihadiri oleh Bapak Wakil Gubernur Provinsi Izmir Uğur Kolsuz, Bapak Wakil Wali Kota Izmir Dr. Sırrı Aydoğan, para konsulat negara-negara yang berada di Izmir, juga segenap kalangan pengusaha dan masyarakat Izmir sekitarnya.

Acara yang berlangsung tanggal 20 Mei 2016 di gedung Atatürk Kültür Merkezi, Konak, Izmir ini disusun menjadi 3 bagian acara yaitu Display dan Pameran, Resepsi Cocktail, dan acara inti yaitu pertunjukkan kesenian Indonesia.

Di dalam bagian Display dan Pameran tersendiri ada tiga stan yaitu pertama, stan brosur dan booklet yang berisi tentang informasi pariwisata Indonesia. Kedua, stan foto pariwisata Indonesia yang dipenuhi oleh lebih dari 40 foto yang bertema sangat beragam mulai dari indahnya alam Indonesia, sampai keunikan budaya Indonesia seperti foto lompat batu dari kota Nias. Ketiga, stan busana Indonesia yang disediakan khusus agar para pengunjung dapat mencoba langsung mengenakannya. Sebagai sandingan, stan busana ini juga dilengkapi dengan bingkai Instagram, agar para pengunjung bisa berfoto dengan gaya kekinian. Selanjutnya adalah stan alat musik dan pernak-pernik Indonesia, yang di dalamnya terdapat alat musik seperti angklung, gamelan dan wayang kulit.

Setelah awalnya mata para pengunjung disuguhi oleh Indahnya Indonesia melalui fotografi, alat musik dan kain Indonesia yang sangat detail, selanjutnya pengunjung juga diberikan kesempatan untuk memanjakan indera perasanya dengan sajian makanan ringan Indonesia seperti risoles, bolu kukus dan martabak telur.

Tak hanya itu, panitia Hakira Endonezya juga mencoba membawa pengunjung lebih jauh lagi dalam memanjakan indera pengelihatan dan pendengaran mereka secara bersamaan, dengan suguhan penampilan tarian Indonesia seperti: Tari Saman Gayo, Tari Kipas, Tari Piring, Tari Rapa’i Geleng, Tari Jaipong, Tari Yapong danTari Zapin. Demi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia juga mampu berintegrasi di Turki, salah satu tarian khas Turki pun ditampilkan seperti Tari Horon dari daerah Laut Hitam. Selain penampilah tarian tradisional tersebut, ada juga penampilan akustik menggunakan angklung dan nyanyian bebahasa Indonesia, Turki maupun bahasa Inggris.

Kebehasilan Harika Endonezya tersebut dapat dilihat dari decak kagum para pengunjung yang mengatakan bahwa mereka sangat beruntung telah hadir di hari tersebut. Ada juga yang berharap agar acara ini berlangsung hingga esok hari, agar mereka bisa membawa sanak saudara mereka untuk merasakan budaya Indonesia dalam sehari. Paling mengagumkan adalah pengunjung yang sengaja hadir karena mereka telah berniat sejak lama untuk mengunjungi Indonesia, dan dengan menghadiri Harika Endonezya tersebut semakin mantap untuk mengunjungi Indonesia musim panas tahun ini. Dengan kata lain, salah satu misi dari Harika Endonezya telah terbukti keampuhannya, yaitu meningkatkan turisme Indonesia.

Dengan begitu, rasanya bukanlah sebuah hiperbola untuk mengatakan bahwa acara Harika Endonezya ketiga yang berlangsung di kota Izmir kali ini adalah sebuah acara dengan kombinasi yang paling sempurna. Hal itu juga telah menjawab makna dari penamaan “Harika Endonezya” itu tersendiri yaitu bukan hanya karena alam Indonesia yang sempurna, tapi juga menggambarkan keinginan untuk merepresentasikan kesempurnaan Indonesia itu tersendiri.

Credit: https://aaronsummers.wordpress.com/2012/08/24/growing-up-too-fast/

Lucky perhaps is the right term to describe the people whose childhood surrounded by books. I was not raised in an academically oriented family, at least not until my parents see how passionate I am about my education. By that I don't mean to say that my parents were not putting any effort to educate me academically. In fact so far they are very supportive when it comes to my education. What they seem to have a little trouble is in creating an academic-orianted environment in the house for me, particularly at the age where stuffing knowledge to a child's mind is very considered crucial such as at the age of 0 to 14/15 years old. That age is known for a time where children acquire their knowledge from internal surrounding, family.
 
However I don't entirely put the blame on them. They were just doing their turn. That was how they were raised, and in turn that is how they raise their children. As a kid, I don't remember my parents asking me to sit and read books. Neither had I any recollection of them reading a story while putting me to bed.
 
But I do remember that I had a grandma who was also just as desperate as I was to have a conversation. Sometime elderly are not included in the conversation because it takes hours upon hours to make them understand the topics. Just like a child.
 
So there I was becoming a little kid who is very curious about world, and so did my grandmother who wants to tell everything she knew about world. With that, she was the person who told me stories before bedtime. She would tell me a story about a village girl who turns into a marmaid to avoid marrying his own brother. It's called Puteri Ijo (the green princess). Some people believe that the princess is still exist today and she often disguises herself as green soap and any other green objects. Others admit that he or she had an encounter with her, especially those who survived from drowning the lake.
 
Other time she would tell me a story about a princess who turned into a stone because she did not follow what her mother had told her "do not gaze at the back." Today I could analyze this phrase through multiple lens, but at the time the moral of the story is probably about listening to what your mother has to say.
 
Some other time I would be told a story of her own life during the Japanese occupation. She happened to live at the time when Indonesia was still under Japanese colonization. And she would describe eagerly how she was making friends with the Japanese children in the School of the People (Sekolah Rakyat.) And how admiring the Japanese souldier was, because they were very discipline. My grandmother still remembered the song they sang while marching the town.
 
I am so happy to have a grandma who was very knowledgeable about world, in her own way. She was such a story teller. When I was a kid, I keenly remember how I would believe everything she said. And I will keep believing her story if she could tell me one right now. But then school happens. Starting from middle school I see her lesser and lesser, until I heard a news about the day when she was finally not able to tell her story. I wish I had recorded all ther stories she told me in any form possible and immortalize them into anything visible. She is one of my true heroes. She is a hero without being labeled as one. She had experienced so many wars: the Japanese occupation, Sarikat Islam Indonesia, and the last once was the Civil war between Aceh and Indonesia. If one day I could write a book, it will be on her honor.
 
Coming back to my childhood...
 
I grew up in a small town where people know each other. It seems that the townspeople had an unwritten agreement in raising the towns-children. So instead of raising their children individually, they would send their children to the afternood school where the children were taught to read Kuran and learn how to make ablution, and conducting the prayer. By the time I was 10 years old I was more than able to read Kuranic verses and other Islamic texts written in Arabic alphabet which was actually Malay language. We call that the Jawi scripture.
 
And that was how my primary school schedule constructed, in the morning  from 8 am to 1 pm I had to go to school (formal school) and from 4pm to 5pm I went to the afternood school. That was how I acquired my first step sort of knowledge.
 
I still regret the fact that my parents did not provide me access to popular children books. Again, without them making excusses, I would really understand what affect their chioises in raising me at the time. First, when I was a kid, between 1994 to 2014, the civil war was still going on. It is still clear in my memory of what was happening at the time. All valuable things such as clothes and kitchen stuff were hidden outsite the house, sometime burried undeground. The logic that they were trying to fulfil is if the house was burned at least we could still live outside with all these things: blanket and kitchen equiptments.  
 
I still remember how everything was reversed. Women were made to go to the farm, while husbands stayed at home to prevent the unwanted. For a man to go to the farm could be accussed for doing hidden meeting with the rebel. Or even being kidnapped by the rebel and forced to fight with them against 'the country.'
 
I am aware that regret won't change anything. Therefore, I prefer to make my childhood experience a learning for myself so that I can be a better human being in my own version. Also if one day I get my turn to be parent I would do my best to educate my chidren from early age. I can foresee myself being a strict father who would ask his children to read books as much as possible and to keep a journal. I will make sure that if I fail to become a writer, my children should become one!
 
 
*What is happening? I was gonna write about Peter Pan that happens to be one of the assignments for Science Fiction and Fantasy Class. How could I end up here? God knows :)
 
 

Courtesy of wikihow.com
Jika saya diberi kesempatan untuk memberi masukan kepada sistem pendidikan Indonesia, maka saya akan mengusulkan satu program saja yaitu program perencanaan atau lebih tepatnya, PROGRAM PERENCANAAN MASA DEPAN.

Pernahkah kita memikirkan apa yang ada didalam pikiran anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu ketika hadir kesekolah? Mereka tidak punya clue sama sekali. Mereka hadir karena orangtua mereka menganggap bahwa sekolah lah yang akan mampu mengubah masa depan hidup anak-anak mereka. Lalu kata yang kerap terucap adalah kata-kata seperti "makanya kamu sekolah yang bener. Biar kamu tidak menjadi seperti kami."

Tidak dipungkiri bahwa sekolah telah merubah hidup orang banyak. Namun, tidak jarang juga ada banyak yang memutuskan untuk meninggalkan sekolah karena menganggap bahwa tujuan akhir dari sekolah hanyalah untuk mencari uang. Jadi dari pada mengahabiskan banyak waktu disekolah, mereka lebih memilih menghabiskan waktu mencari uang. Apalagi ditambah dengan kondisi dimana status sumber pengahasilan didalam keluarga tidak menentu. Pada akhirnya mereka juga terpaksa harus terjun langsung dalam menyediakan makananan diatas meja. Kalaupun meja adalah bagian dari properti rumah mereka.

Sebuah penelitian dilakukan oleh seorang ahli antropologi Amerika, Oscar Lewis, tentang 'Kemiskinan' dinegara-negara seperti Meksiko, Puerto Rico, dan Amerika Serikat. Dari penelitiannya Lewis berkonklusi bahwa salah satu penyebab terjadinya kemiskinan berantai dari generasi ke generasi adalah adanya budaya-budaya yang  bersifat turun-menurun. Budaya-budaya yang dimaksud adalah budaya yang bersifat negatif seperti: adanya perasaan minder atau rendah diri terhadap kalangan atas baik secara pengetahuan maupun kekuatan didalam tatanan masyarakat, kurangnya kasih sayang dari orangtua karena kesibukan mereka untuk mencari nafkah, kecendrungan menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, menikah dini tanpa ada perencaan matang dan lain-lain.

Dari kesemua kriteria yang menyebabkan kemiskinan berantai ini, satu hal yang menjadi titik persamaan diantara mereka yaitu tidak adanya perencaan hidup. Orang miskin hidup dari hari kehari. Rencana harian mereka adalah bagaimana untuk bisa menyambung hidup esok hari. Bagaimana bisa menikmati sesuap nasi hari ini. Lalu dengan mentalitas seperti ini bagaimanakah hidup mereka akan bisa berubah?

Ketika masyarakat miskin menganggap bahwa sekolah adalah kunci utama yang bisa mengeluarkan mereka dari garis kemiskinan, maka sebagai lembaga pendidikan, hal yang paling utama yang seharusnya diajarkan dibangku sekolah adalah bagaimana kemudian hal ini bisa menjadi sebuah target.

Bentuk format yang mungkin bisa diaplikasikan disekolah adalah sebagai berikut:

  1. Sekolah menyediakan program konsultasi semesteran.
Setiap anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan mimpi masa depannya. Berika mereka kesempatan untuk mendesign masa depan mereka baik dalam waktu pendek maupun masa panjang. Istilah yang paling umum di Indonesia mungkin REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun).

  1. Menindak Lanjuti
Ketika seorang anak mengungkapkan rencana masa depannya, sebagai konsultan perencanaan masa depan, sang guru harus menuntun atau memberikan jalan kepada si anak bagaimana perencanaan itu bisa tercapai. Misalkan sang anak ingin menjadi seorang diplomat. Untuk menjadi seorang diplomat diutamakan untuk lulus dari universitas tenama di Indonesia dan dari jurusan Hubungan Internasional, misalkan. Dalam kata lain sianak kemungkinan ingin berkuliah di Universitas UI jurusan Hubungan Internasional. Setelah melakukan riset ternyata untuk masuk UI dibutuhkan kemampuan dibidang ilmu sosial dan bahasa Inggris. Nah, sekolah harus memfasilitasi kebutuhan ini baik secara material maupun secara mental.
Mengingat karena si anak berasalh dari keluarga tidak mampu, sang guru juga diharapkan menyediakan informasi tentang beasiswa. Skenario apakah yang bisa dipakai untuk merealisasikan mimpi sang anak untuk berkuliah di UI, misalkan? Apakah dengan beasiswa pemerintah (LPDP) atau beasiswa dari organisasi tertentu.

  1. Evaluasi rencana masa depan
Setiap pertemuan si anak ditanyakan kembali apakah rencana masa depannya masih berlaku. Menginat imaginasi anak-anak berubah seringing dengan pengetahuan yang mereka dapat.

Mengapa jasa perencanaan menurut saya sangat penting? Karena banyak sekali orang yang tidak mengerti apa yang mereka sedang lakukan. Ditambah kondisi keluarga yang juga tidak tahu menahu secara detail apa yang mereka harus ajarakan kepada anaknya. Bahkan banyak sekali anak-anak yang baru mengenal buku ketika mereka duduk dibangku sekolah. Artinya, budaya membaca buku bukanlah bagian dari keluarga mereka. Ketika membaca buku saja bukan bagian dari keluarga mereka, lalu haruskah kita berekspektasi bahwa sang keluarga akan mampu menyediakan perencaan masa depan bagi anaknya. Jangan sampai, kurangnya perencaan menjadi penyebab terjadinya kemiskinan berantai di masyarakat kita.