Showing posts with label Life Style. Show all posts
Showing posts with label Life Style. Show all posts

photo credited to http://americanstyleenglish.net






Semester ini ada mata kuliah yang menurut saya unik sekali. Mata kuliah ini seolah menjadi kaca mata bagi mata katarak ku. Penglihatan yang awalnya hilang, kini telah lahir dan hidup kembali. Nama kacamata itu 'Cultural Studies.'
Didalam mata kuliah ini kami diajarkan tentang jenis-jenis Budaya. Kelihatannya topik ini sangat sepele. Tapi, coba ingat-ingat kembali tentang kesalahan-kesalan yang sering kita lakukan, yang juga umumnya bersifat sangat sepele, namun efek yang ditimbulkan sangat besar.
Pernahkah kalian mendengar berita tentang sebuah kebakaran yang hanya disebabkan oleh secuil sisa rokok? Iya, bentuk ketidaksadaran kita sebagai masyarakat akan budaya yang kita 'secara tidak' sadar kita tekuni hampir sama dengan efek yang disebabkan oleh perokok yang tidak bertanggungjawab melemparkan sisa rokoknya ke hutan. Akibatnya satu hutan gundul, hangus dibakar api yang awalnya terasa seperti tidak punya kekuatan apa-apa.

Budaya, menurut para Budayawan bukanlah hal yang terjadi begitu saja. Budaya-budaya yang kita secara 'tidak sadar' menjadi bagiannya adalah sebuah 'alat' yang dipakai para konglomerat untuk membodohi kita. Teori seperti ini dikemukakan oleh Kritikus Budaya Marxist. Mereka percaya bahwa 'base' atau hal-hal yang berkaitan dengan produksi dan jasa dan  'superstructure' atau instansi kemasayaraktan seperti sekolah, agama dan lain-lain itu sangat bersinambungan. Dengan kata lain, instansi-instansi yang berfungsi sebagai media penyebar ideologi telah dipengaruhi oleh ideologi si konglomerat oportunis tersebut. Salah satu hal yang mereka usahakan melalui instansi itu adalah bagaimana membuat para kaum miskin diam atas kemelaratannya; bagaimana agar mereka menerima kemiskinannya sebagi bentuk 'takdir' dari sang maha kuasa. Kritikus Maxist menyebut kondisi tersebut 'False Conscious,' keadaan dimana masyarakat merasa seolah mereka mengerti keadaan yang mereka alami, namun sebenarnya hal tersebut adalah bagian dari rencana kaum konglomerat atau borju. 

Awalnya saya juga shock ketika membaca semua ini. Saya tidak percaya sama sekali. Tapi ketika melihat Indonesia dan mengaplikasikan teori ini kepada realitas kehidupan Indonesia, sepertinya masuk akal. Televisi, yang juga merupakan salah satu instansi milik konglomerat atau kaum borju menjadi salah satu alat yang bisa digunakan untuk menyampaikan faham maupun pesan tertentu. Tidak masuk akal mengapa Indonesia dipenuhi oleh kaum miskin yang sangat nyaman dengan status kemiskinannya? Bahkan dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit mereka masih saja bisa menikmati siaran TV yang notabene adalah penyebab terjadinya kebodohan masal? Yang menjadi penyebab kenapa mereka diam dan tanpa reaksi terhadap kondisi ekonomi mereka yang sedang hadapi.

Untuk itu dalam hal ini saya akhirnya sediki berpihak kepada kaum elitis yang menganggap bahwa ada perbedaan besar antara Budaya Tinggi (high culture), Budaya Menengah (Middle Culture) dan Budaya Rendahan (Low Culture). Salah satu argumentasi yang digunakan para elitis untuk mempertahankan teori ini adalah kemungkinan bahwa Budaya Menengah dan Budaya Rendahan tidak memiliki konten yang dapat membuat para penikmatnya untuk berfikir kreatif. Lihat saja sinetron, adakah bagian-bagian dari sinetron hang menstimulasi penontonnya untuk berfikir lebih kreatif dan kritis? Sebaliknya, budaya atas seperti lukisan, opera, karya sastra yang canon - semua ini membutuhkan proses pemikiran yang tinggi untuk akhirnya mendapatkan seluruh pesan yang dari awal si artis ingin sampaikan. Juga, karya-karya Budaya Tinggi ini dapat meningkatkan kemampuan berfikir dan rasa kritisme terhadap segala hal dalam hidup - maukah itu keputusan yang para politikus ambil maupun pilihan hidup kita. Ketika kita telah terekspos kepada Budaya Atas, tentu kita akan lebih memahawi betapa sampahnya tayangan televisi, sehingga kita akan dengan begitu saja bisa menolak untuk mengisi otak kita dengan sampah-sampah itu.

Karenanya sebagai seorang mahasiswa Sastra, saya sangat menyarankan agar kita semua mulai menjauhi diri dari sampah-sampah yang dengan sengaja dibuat oleh kaum borju - sinetron, advertisement, dan sampah-sampah lainnya. Mulailah membaca buku. Mulailah mengenalkan anak-anak kecil disekitar anda dengan budaya membaca buku. Sebanyak apapun paham kotor yang ada dalam buku, seorang pembaca akan dengan mudah bisa melakukan metode 'pick and choose' mana yang baik dan mana yang buruk.
Note:
  • Cultural Studies tidak sesimplel yang saya jelaskan di atas. Didalam mata kuliah ini kami juga belajar tentang hubungan antar 'budaya' dan 'otoritas', tentang proses globalisasi dan bagaimana globalisasi mempengaruhi budaya lokal, tentang budaya bawah dan budaya tinggi, tentang mass culture atau budaya pop. Dan lain-lain.

Entah apa cerita dibalik dijadikannya pergantian tahun, atau tanggal 1 januari, sebagai tanggal libur - yang jelas hari ini festivitas ini sangatlah megah. Manusia disegala penjuru berlomba-lomba untuk merayakan pergantian tahun ini dengan berbagai cara; ada yang berkumpul disuatu pusat keramaian sepeti time square new york; ada yang merayakkannya dengan cara yang lebih masuk akal seperti melihat balik tahun yang telah berlalu dan membuat resolusi untuk tahun yang sebentar lagi akan dimulai. Sepertinya saya lebih menikmati ritual nomer kedua.

Meski hari ini (31/12/2015) berada di Amsterdam saya tidak akan pergi ke pusat ke ramaian. Ada banyak alasan: 1) Karena pemerintah Amsterdam memutuskan untuk mempercepat jam beroperasi transportasi umum untuk berakhir, jam 8 malam. Jadi kalau saya akan berada di luar hingga jam 12.01, saya tidak akan bisa kembali ke tempat dimana saya menginap. 2) Setelah menulusuri Amsterdam hingga kesudut tergelapnya, akhirnya saya memutuskan bahwa berada di luar hingga larut malam bukanlah keputusan yang baik. Ditambah lagi karena mengingat bahwa mengonsumsi ganja di Amsterdam legal, ini justru menambah list kenapa berada tengah malam diluar sangatlah tidak aman. 3) Akan sangat tidak lucu jika memulai tahun 2016 dengan konsekwensi sebuah sikap yang tidak lebih bijak, sepeti terbakar kembang api? Atau malah menjadi korban ketidak bijakan orang lain yang mabok? Apapun bentuknya.
Demi menghindari segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi saya memilih untuk tinggal dirumah dengan keluarga yang telah bersedia menjamu saya, dan menuliskan tulisan ini yang di akhir tahun depan akan saya lihat kembali.

Tahun 2016 adalah tahun yang sangat mendebarkan bagi saya. Saya tidak suka melihat prediksi kehidupan saya melalui zodiak atau apapun itu. Namun saya lebih menghargai diri saya sendiri jika saya sendiri lah yang "memprediksi" semua hal yang saya harap akan terjadi ditahun itu. Mungkin kata yang lebih tepat untuk mewakili hal ini adalah resolusi atau harapan-harapan atau doa untuk tahun berikutnya.

Untuk tahun 2016, resolusi nomer wahid saya adalah kembali ketanah air dan berkumpul dengan keluarga selama liburan summer. Setelag berada jauh dari keluarga hampir 4 tahun, mungkin inilah saatnya untuk pulang. Pulang untuk melepaskan rindu yang tertahan. Belum ada rencana untuk pulang selamanya, pulang kali hanya ingin mengunjungi keluarga.
Kedua, saya ingin mengikuti program summer school - dengan harapan agar saya bisa lulus lebih awal. Mengingat banyaknya universitas di Turki yang menghapus program yaz okul, mungkin resolusi ini agak berat. Tapi lebih baik berharap dari pada berpangku tangan.

Ke empat, mencari beasiswa untuk tahun-tahun terakhir saya di Turki. Dalam satu tahun setengah ini kehidupan saya sangat terbantu dengan beasiswa-beasiwa yang berasal dari banyak instansi seperti YTB (Pemerintah Turki) dan juga yang swasta. Untuk satu smester ini yang sangat beruntuk dalam sisi ekonomi karena kehidupan saya satu semester ditanggung oleh Erasmus+. Seharusnya saya bisa menabung uang yang diberi oleh erasmus+, tapi karena saya memutuskan untuk jalan-jalan ke beberapa negara eropa, kemungkinannbesar saya harus mencari uang tambahan untuk tanggungan saya untuk semester itu.

Kelima, mulai menulis graduation paper. Untuk yang satu ini mungkin saya bisa langsung lakukan di semster depan, karena saya diizinkan untuk milih mata kuliah tambahan dari semster atas.

Keenam yang merupakan resolusi saya setiap tahun dan selalu gagal, mulai menulis karya fiksi. Akhir tahun ini saya sebenarnya sudah punya cerita dan juga template tapi saya belum punya metode yang matang untuk bisa menyelesaikannya dan membuatnya menjadi buku.
Ketujuh, banyak buku kebih banyak lagi - fiksi maupun non fiksi. Target bacaan saya untuk 2015 adalah 50 buku, tapi saya hanya sukses membaca sekitar 21 buku. Angka yang sangat buruk sekali, namun sekali lagi, data ini hanya untuk buku-buku yang fiksi, saya tidka mencantumkan buku pelajaran dalam list.
Kedelapan, mendekatkan diri kepada sang khalik. Dunia dan bertambahnya umur membuat seolah hubungan antara diri dan sang khalik semakin memiliki celah. Dan akun ingin membangun jembatan bagi celah itu. Tujuannya adalah ketenangan batin. Saya percaya bahwa dekat dengan sang khalik bisa menciptakan ketengan dalam batin.

Kesembilan, menjadi manusia yang lebih baik untuk manusia lainnya. Melakukan perjalanan menyadarkanku bahwa hidup ini sangat indah ketika kita mengenal dan belajar dari manusia lainnya. Satu pelajaran yang aku kutip dari melakukan perjalanan, kebanyakan orang yang melakukn perjalanan bukan karean mereka banyak tahu tapi karena mereka banyak tanya. Pertanyaan yang memenuhi kepala mereka lah yang memotivasinya untuk melakukan perjalanan. Sebelum pertanyaan itu terjawab, mereka akan terus dan terus dan terus melakukan perjalan.

Kesepuluh, lebih banyak bersyukur! Saya sangat bersyukur karena 2015 berjalan dengan relatif sangat mulus. Terimakasih tuhan. Semoga tahun ini kembali terulang begitu.. Amin
29 Mei kemarin tepat aku berumur 21. Sebelumnya masalah pergantian umum tidak pernah menjadi diskusi diantara aku dan keluarga. Tapi tiba-tiba, entah karena aku yang sudah terpengaruh kebarat-baratan atau hanya ingin sebuah pengakuan bahwa aku sudah dewasa, aku menelpon orangtua. Ayah, tepatnya. Waktu diangkat, setelah sedikit bersalam-sapa, aku bertanya, "pak, lagi dirumah nggak?/ saya mau bicara sama mamak" Ternyata bapak lagi dikantor bupati (penyempitan makna untuk semua kantor milik pemerintah yang ada di lingkup kabupaten) berurusan dengan birokrasi dll. Menyelesaikan urusan yang menyangkut dengan pekerjaannya sebagai kontraktor."Ya sudah nanti kalau sudah pulang kerumah saja saya telpon lagi".

Selama tiga tahun ini menelpon ayah sudah sangat biasa. Yang sedikit bermasalah adalah komunikasiku dengan ibu. Ibu tidak punya ponsel. Ayah sering dalam kondisi seperto kuceritain diatas. Saat ditelpon sedang berada diluar. Terkadang di kantor. Terkadang dilapangan tempat dia melakukan proyek pembangunan. Jadilah aku yang sering harus terbiasa dengan situasi tidak punya komunikasi yang instense dengan ibu.
Permasalahan lainnya adalah, entah ibu berbohong atau memang dia memang tidak mahir dengan teknologi ini. Setiap kali aku punya kesempatan untuk bisa ngobrol dengannya, dia selalu cepat mengakhiri telponanku. "Ibu mu memang nggak pandai ngobrol ditelepon kata ayahku." Tapi entah kenapa naluri sastraku mengatakan bahwa ada pesan terselubung dibalik situasi aneh ini. Menurutku ibu dia karena ia tidak bisa menahan rasa kangen yang sudah terpendam begitu dalam. Atau mungkin aku saja yang kegeeran. Mungkin juga mereka sudah lupa aku pernah ada. Ah.. aku mulai ngaur lagi.

Padahal kalau didunia nyata aku dan ibu sering sekali bertukar pikiran. Sering curhat tentang apapun itu. Bahkan tentang pekerjaan bapak yang terkadang suka bermasalah. Posisi ayahku yang suka mengambil proyak didanai orang lain, terkadang menempatakan diposisi sulit. Seperti misalkan ditipu dll. Dia yang menjalankan proyek pergi kelapangan setiap hari. Ketika selesai shalat subuh dia sudah bersiap-siap untuk menuju lapangan. Pulang kerumah ketika langit sudah gelap. Aku yang jarang berada dirumah, karena sudah mulai merantau sejak SMP, cuma bisa melihat mukanya ketika makan malam. Itupun kalau dia pulang tepat waktu. Perjuangannya yang sangat berat itu sering tak seimbang dengan hasil yang ia dapatkan. Jiwanya yang pemurah dan sangat tidak suka dengan pertikaian lah yang pada akhirnya membuat situasi ekonomi keluarga jalan ditempat. Dari pada memperjuangkan haknya dia lebih memilih untuk melepaskannya asal hubungan sesama manusia tidal rusak. Bagi ibu ini adalah sebuah kepedihan yang ia pendam sendiri. Ketika aku pulang ini menjadi topik curhatan andalanya. Tapi kenapa ketika ditelpon ibu suka diam saja.

A "Ibu sehat?"
I "Sehat"
A "Ibu sedang apa?"
I "Makan malam"

Aku juga kadang bingung harus bertanya apa lagi. Akhirnya "ya sudah bu tolong kasih hp nya ke ayah." Dengan ayah aku lebih bisa bicara panjang tentang hal apapun itu. Terkadang politik ataupun tentang pendidikanku disini. Masalahnya aku ingin bicara dengan ibu! Setiap kali menelpon ibu aku tak lupa mengingatkan ibu untuk selalu mendoakanku disini. Dan ibu tak lupa mengatakan kalau jagan sampai ketinggalan shalat. "Shalat adalah penghubung doa. Kalau kamu tidak shalat bagaimana doa bisa sampai," katanya berulang kali.

Kali ini tepat dihari pergantian umurku ayah menelpon balik sesampainya dirumah pulang kerja. Dan aku akhirnya bisa berbibicara dengan ibu. Sepertinya ini adalah kali pertamaku menelpon ibu dibulan Mei, kalau tidak salah. Dan akhirnya, "bu aku 21 tahun hari ini. Terimakasih telah membesarkanku hingga hari ini. Doakan aku menjadi anak yang baik dan berbakti." Aku ingin sekali melihat wajahnya ketika mendengarkan kata-kata itu keluar dsri mulutku. Tapi apalah daya. "Ia... " dan ibu kembali konsisten dengan nasihatnya. Ibu juga cerita bahwa mereka baru saja menggelar kenduri (syukuran) atas kelahiran anak kedua abang tertuaku - sekaligus pemotongah akikah. Aku pun senang mendengar banyak sekali yang sudah berputar disekitaran keluargaku. Semoga suatu hari aku bisa kembali dan berkumpul dengan keluarga besarku.

Setelahnya ketika hp dikembalikan keayah aku juga mengatakan hal yang sama dan ayah menjawab "ya itu kan sudah kewajiban kami sebagai orang tua." Selanjutnya ia bertanya tentang hadiah apa yang aku mau, sambil tertawa kecil. Aku cuma menjawab, cukup dia saja. :)

#tulisanygterlambat

Hari ini kebetulan lagi youtube-an. Dan, entah kenapa topik yang ada dalam video itu bisa sama: Dunia Kerja. Aduh... udah malas duluan. Video pertama yang ku tonton adalah presentasi dari Ridwan Kamil di acara TEDx Jakarta. Dalam video itu dia sedikit menyinggung tentang kenapa banyak orang pintar Indonesia yang memilih tinggal diluar negeri. Salah satu alasannya adalah karena kecilnya gaji yang didapat ketika kerja di Indonesia. Terutama di instansi pemerintah. Sebenarnya perusahan swasta pun sama saja.

Sepintas itu terdengar maruk tapi coba diteliti lebih detil lagi. Coba telaah sikap para lulusan LN itu dari sisi psikologisnya. Pertama, mereka harus berdebat dengan dirinya sendiri "masa sih, gue lulusan luar negeri gaji bulanannya 700rb." Selanjutnya yang timbul adalah perasaan tidak dihargai. Bukan hanya kerja kerasnya untuk menuntut ilmu yang tidak dihargai, tapi juga pengorbanan orangtuanya (kalau kebetulan biaya kuliahnya dari orangtua).

Bagi mahasiswa yang pada saat kuliah kebetulan menerima beasiswa dari instansi tertentu (dari pemerintah negara yang bersangkutan maupun organisasi) tentunya jumlah uang yang ia dapat akan lebih besar dari pada gaji yang ia dapat ketika kerja di Indonesia. Lalu ekspektasi apakah yang kita harapkan dari mereka ketika lulus kuliah? Pulang ketanah air dan menerima segala kenyàtaan? Atau mending menetap disana dan kerja serabutan? Karena kerja sebagai pelayan restoran dibayar lebih mahal disana ketimbang kerja di Indonesia.

Kalau alasannya biaya hidup di Indonesia murah, ngga juga. Murah itu relatif ya. Kalau bisa beradaptasi dengan gaya hidup Indonesia mungkin bisa. Tapi bagaimana kalau misalkan si individu itu ingin menerapkan gaya hidupnya pada saat di LN di tanah air. Misalkan untuk hal yang primer saja: tinggal dirumah yang layak huni, layaknya ketika dia berada di LN. Standar saja, kamar mandi, dapur dan kamar tidur yang layak. Bukan malah dapur seadanya, kamar mandi apalagi. Bisakah gaji satu juta setengah menyediakan fasilitas itu?

Video yang kedua kutonton adalah videonya Sacha, salah satu bule yang terkenal di youtube. Dia sudah lama tinggal di Indonesia dan kalau tidak salah dia menikah dengan orang Indonesia. Dalam video-video yang dia buat, dia banyak mengkritisi gaya hidup orang Indonesia maupun perpolitikan Indonesia. Dalam video yang berjudul "Expat Life in Indonesia," dia menjelaskan nasib bule yang memutuskan untuk kerja di Indonesia. Terutama pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sosial seperti mengajar dan lain-lain. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana nasib para guru di Indonesia. Apalagi untuk guru honorer, bisa dibayangkan bagaimana nasib bule itu hidup di Indonesia.

Didalam video itu Sacha memparodikan kehidupan seorang bule yang datang ke Indonesia menjadi guru bahasa Inggris. Bagaimana dia mencari akomodasi tempat tinggal yang nyaman. Kata nyaman disini sangat tricky. Nyaman bagi kita belum tentu nyaman bagi mereka. Eh, kalau tinggal dirumah kotak gitu nyaman gak sih buat kita? Atau kita aja yang yang berbohong pada diri sendiri? Anak kos ngaku! Masalahnya mungkin kita juga gak punya pilihan. Kalau dikasih pilihan tinggal di studio apartement 1 tempat tidur lengkap dengan dapur kecil dan kamar mandi, pilih mana coba? Tapi kalau di Indonesia pilihan kayak gini bisa kena biaya berapa?

Intinya, buat orang Indonesia sendiri aja sulit untuk menerima kenyataan dunia kerja di Indonesia apalagi bule. Kalau bule kaya yang datang ke Indonesia buat bisnis sih, gak usah dibahas.

Cerita lain lagi, tentang kerja part time atau kerja full time selama libur musim panas dinegara-negara empat musim. Teman-teman sekolah ku bisa mengumpulkan uang sebesar 1000TL perbulan alias lima juta selama liburan musim panas. Di Indonesia pembantu rumah tangga saja dibayar sangat murah. Didalam video si Sacha dia mengherankan bahwa harga wine di Indonesia lebih mahal daripada harga keringat para buruh cuci pakaian.

Alasannya pasti karena populasi Indonesia yang membludak? Sulitnya mencari pekerjaan plus sedikitnya lowongan pekerjaan? Belum lagi karena si tenaga kerja yang minim skill. Dan ujung-ujungnya pendidikan yang menjadi dalang utama.
Semoga generasi-generasi Indonesia kedepannya bisa lebih banyak yang bergerak di bidang wirausaha. Dan semoga pemerintah bisa membantu mereka-mereka yang memiliki ide kreatif. Kalau punya ide tapi ngga punya modal, sama saja! Semoga orang Indonesia seperti Ridwan Kamil muncul lebih banyak lagi.

Hal-hal yang dibutuhkan karwayan adalah: 1, gaji yang manusiawai 2, asuransi. Berapa banyak orang Indonesia yang punya asuransi? Kalau pegawai negeri sih dapat asuransi dari pemerintah. Nah yang kerja sebagai wirausahawan bagaimana? Di Indonesia ada bagian asuransi milik pemerintah nggak sih? Kalau di Turki, ada namanya SGK, jasa asuransi milik pemerintah. Kalau untuk mahasiswa bayarnya 45TL perbulan kalau tidak salah. Ini buat mahasiswa asing.

Pengalaman jadi siswa dari SD sampai SMA di Indonesia, sebagai anak seorang yang kerja sebagai wirausaha, nggak pernah punya asuransi. Resikonya, ya sebagai bukti ketika abangku sakit typhus, entah berapa uang yang keluar. Permasalahannya lagi, jasa asuransi mana sih di Indonesia yang terpercaya. Adakah? Ingat! Dibalik kata asuransi ada kat JASA lo... bukannya malah memperalat perusaan jasa asuransi untuk menipu pelanggan.

Di Turki juga ada istilah gaji pensiun. Di Indonesia juga ada sih, tapi ini beda. Bedanya gaji pensiun ini berlaku untuk semua orang, terserah kerja di swasta maupun negeri. Sistemnya, buat mereka yang kerja serabutan tapi pingin masa tua lebih terjamin bisa mendaftar 'asuransi masa tua' mungkin istilah yang paling mendekati. Mereka akan membayar bulanan. (Ambil saja 'asuransi pendidikan' sebagai bayangan). Program yang sangat bermanfaat bukan?

Rumor yang ada di Indonesia tentang nasib karyawan swasta ya itu tadi, kalau pensiun ngga bakal dapat gaji pensiun. Cuma dapat uang terimakasih di akhir, itupun tidak terlalu banyak. Contoh lagi, saudara jauh ayahku yang tinggal di Jakarta memutusksn untuk keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri, karena pertimbangan gaji. Itu sekitar 20 tahun lalu. Nah, tiba-tiba suatu pagi ketika sampai kantor supirnya membuka pintu mobil, dan tenyata sì bapak sudah almarhum. Untung anaknya sudah besar semua. Dan tinggalah sang istri dengan rumah besar tapi apa gunanya kalau tidak ada penghasilan untuk membayar tagihan air, listrik dan lain-lain. Moral of the story, gaji pensiun itu perlu ya!

PR ku ketika kerja nanti:
1. Mencari jasa asuransi yang terpercaya (semoga nggak semustahil teori alchemy: merubah batu jadi emas)
- asuransi buat masa depan pendidikan anak
- asuransi masa tua (gaji pensiun) sejauh ini sih belum niat jadi PNS, jadi REPLITAnya ngikutin keadaan hati sekarang dulu. Tapi ini memmungkinkan untuk berubah kok..
- asuransi kesehatan
Nah lo? Gaji satu juta setengah bisa menuhin ini semua ngga? Belum lagi belanja dapur, tagihan listrik, telepon, internet, air, langganan tv luar negeri.... yaudah deh, telepon cukup hp aja. Coret! tv berbayar coret! kalau ngga bisa beli tv bebayar mending ngga usah beli tv sekalian. Dari pada nonton siaran tv Indonesia yang minim pesan moral alias tak mendidik.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa............
Belum apa-apa udah stress duluan..
-Edisi Panduan Berbelanja di Turki dengan Sistem Budgeting ala Anak Kuliahan-


Add capt

Ini sudah menjadi rahasia umum bagi mahasiswa Indonesia di Turki, bahwa satu-satunya department store yang ramah dompet adalah LC Waikiki. Selain harga yang ditawarkan relatif murah, produk LC Waikiki juga memiliki kwalitas yang tak kalah bagus dibanding brand yang lain yang memiliki variatif harga yang sangat jauh. Kendatipun memiliki harga yang murah, LC Waikiki tetap memiliki selera fashion yang tinggi.

 Apa lagi yang dicari selain murah, berkwalitas dan memiliki selera fashion? Sangat memenuhi kretiria pembeli, bukan! Benar saja. Ini juga lah yang membuat produk LC Waiki menjadi idaman warga Turki. Wajarlah jika nanti anda sering bertemu kembaran ditempat umum. :D

Dibawah ini saya telah merangkum beberapa tips untuk mendapatkan harga yang lebih murah dari yang lebih murah, adakah? Tentu saja.

1.Gunakan Kartu Kredit
Salah satu keuntungan bagi para konsumen di Turki adalah adanya kartu kredit dengan sistem non-berbungan alias tanpa bunga sama sekali. Bagi para mahasiswa asing jangat takut, adalah Is Bankasi yang sangat membantu. Satu-satunya bank di Turki yang memperbolehkan mahasiswa asing untuk memiliki kartu kredit walaupun limit yang diberikan tidak terlalu banyak. Hanya 500TL, cukup bukan? Untuk keperluan mahasiswa.

Walaupun tidak memiliki bunga, bukan berarti tidak ada denda. Denda akan dikenakan jika pembayaran telat dari batas waktu yang ditentukan.

Keuntungan yang lain adalah, ketika berbelanja, pembeli dapat memilih cara pembayaran sesuai keinginan yaitu bayar Taksit ataukah Pesin. Taksit atau kredit alias bayar cicilan dan Pesin adalah bayar tunai. Kenapa untung? Karena bayar cicilan disini juga tidak berbunga hanya saja harga yang ditentukan sedikit lebih mahal dari harga tunai. Perbedaan harganya juga tidak mencolok, hanya lebih mahal 2TL atau tidak lebih dari 5TL dari harga awal.

Selain itu pembayaran hutang  di kartu kredit juga ada keringanan lain. Nasabah diperbolehkan memilih cara pembayaran sesuai kemampuan. Kalau tidak memiliki uang sebanyak jumlah hutang, nasabah boleh memilih cara pembayaran lain seperti Asgari Turar atau sekitar 25% dari seluruh jumlah hutang atau juga bayar sesuai uang yang dimiliki. Namun untuk pilihan yang satu ini nasabah dikenakan bunga, sekitar 4 TL perbulan.

2.Belanja di Depo
Beberapa hari yang lalu saya bersama teman saya, Sukma Adi Perdana, sedang iseng pergi mengunjungi Depo LC Waikiki yang kebetulan juga berdekatan dengan Depo Defacto cabang Izmir. Definisi depo untuk kedua brand ini cukup memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Ini bisa dilihat dari bentuk fisik yang ditemui dilapangan.

Untuk Defacto sendiri difinisi depo adalah gudang. Dapat dilihat bahwa barang-barang yang dijajalkan disana cukup tidak terawat dan kwalitas-nya juga persis seperti yang dibicarakan: bahwa barang-barang yang ada disana adalah barang yang tidak lewat kepasaran. Meskipun demikian berbicara harga maka tempat ini layak dikunjungi. Gambarannya adalah anda bisa mendapatkan baju kaos hanya dengan harga 5TL dan celana Chino dengan harga 15TL. Untuk celana sendiri, kwalitasnya masih sama dengan yang ditoko jadi jangan ragu untuk membeli.

Sedangkan LC Waikiki memiliki penawaran yang cukup menarik, dari segi bangunan juga tidak memiliki perbedaan dengan toko-tokonya yang lainn, yang menyebar diseluruh Turki. Lengkap dengan kekhasan parfum ruangan yang tak pernah ketinggalan. Letak bangunan Depo-nya persis diseberang jalan Defacto, hanya perlu menyeberang jalan.

Menariknya lagi, Depo milik LC Waikiki ini tidak sedikitpun terlihat seperti tempat barang-barang yang tidak layak dipasarkan, semuanya terlihat normal. Dan LC Waikiki juga tidak menyebutkan tempat ini sebagai depo tetapi outlet. Sekilas terlihat barang-barangnya seperti barang yang telah dipasarkan. Seperti kita ketahui bahwa Turki adalah negara empat musim, setiap musim punya jenis pakaian sendiri. Asumsi saya barang yang didagangkan di outlet ini adalah sisa barang-barang yang tidak habis dipasaran.

Outlet LC Waikiki cabang Izmir yang terletak di Gaziemiz ini juga sangan unique. Bagi anda yang memiliki ukurang tinggi badan dibawah rata-rata, jangan khawatir, karena Outlet ini juga menyediakan tempat pemotongan dan itu semua gratis. Hanya saja, kita harus menunggu selama satu jam kalau sedang ramai.

Selama jam menunggu itu anda bisa melakukan kegiatan-kegiatan lain seperti shalat, makan dan lain-lain. Karena tempat ini juga menyediakan fasilitas untuk semua itu. Termasuk juga tempat bermain anak-anak, bagi mereka yang sudah berkeluarga.

Kalau anda masih ingin melirik hal-hal lain, dilingkungan tempat ini juga tersedia outlet sepatu dengan berbagai merk, baju resmi, outlet Colin's, toko elektronik dan lain-lain.

Selamat berbelanja murah :)

Bagaimana menuju lokasi?
Untuk lebih mudah, disarankan menaiki Izban jalur Geziemir, turun distasiun Semt Garajı. Dan, anda telah sampai ke lokasi.

FYI
LC Waikiki didirikan di Prancis oleh George Amoual pada tahun 1985 namun sejak tahun 1997 kepemilikan saham LC Waikiki diambil alih oleh perusahan Turki LC Waikiki Mağazacılık Hizmetleri Ticaret A.Ş. yang berpusat di Istanbul, Turki.

Dari sisi prestasi LC Waikiki pernah menyambet gelar "Favorite Company in the Ready-to-Wear Industry" untuk seluruh Turki pada tahun 2013.  Sekarang ini LC Waikiki juga telah memiliki 477 cabang yang tersebar di 23 negara: di Timur Tengah, Eropa dan Asia Tengah.

Pemilik Saham :
  • Mustafa Küçük
  • Vahap Küçük
  • Halis Küçük
  • Şefik Yılmaz Dizdar
  • Leyla Dizdar
  • Ayşe Pürlen Dizdar
  • Pamir Güçlü Dizdar
  • Georges Amouyal
  • İsmail Hakkı Kısacık
  • Yalçın Çağlar
  • Murat Mısırlı
  • Muzaffer Mustafa İşçan
  • Muhammed Mazlum Yıldırım



Referensi :