Showing posts with label Post-watching Reaction. Show all posts
Showing posts with label Post-watching Reaction. Show all posts

In a press junket for a movie entitled "Our Souls at Night," Robert Redford was asked what he thought has changed with film industry? And his answer was: movies no longer tell stories about real life. I particularly find Redford's observation to be quite true in so many ways. For a start, if we look at the movie charts, one of the blockbusters has got to be sci-fi or something in that range. I am not against sci-fi. And in a lot of ways, sci-fi film makers such as Christopher Nolan incorporates a lot of philosophical questions for audiences to chew - which is a remarkable thing. Still, if I had to choose between sci-fi and movies like "Lady Bird" or "August: Osage County," I would probably go with the later.

 

This whole thing goes way back to the earlier debate: do arts exist for the purpose of esthetics only or do they exist as media to reflect life, or even more so, are arts there to preach or to convey ideal moral values. Of course, both are not wrong. And every artist is entitled to determine what his or her arts represent.


Courtesy of wallpaperset.com 

 

However, in an age where the views of the experts/the critics mean less in society, people perceive arts merely as entertainments to give them cheap laughs and temporary awe to get them out of their boring lives. Consequently, the quality of an art work is no longer judged based on its meaning and quality, instead it is judged based on how much audiences like and watch the movies.

 

Should we move away from having a philosophical question about what arts are supposed to mean to our society and focus on making money instead? Yes, unfortunately that's what Arts have been reduced into. Arts have been bought by capitalist money driven culture.

 

Luckily, while "the big screen" has shown a downward trend in quality, the streaming culture such as Netflix gain momentum. We have been seeing a lot of good quality shows such as Sex Education, The Marvelous Mrs. Maisel, Mrs. America, the Feud, and many more. It seems that nowadays TV and streaming flatforms are more open to unique creative ideas, while the big screen studios are more rigid and calculative in making the decisions. Rightly so, there are a lot at stake and big screen doesn't make as much money as it used to.

 

Anyway, just fun little questions. What do you think an art work should stand for?  How can we maintain the quality (if that is necessary at all)? Should arts reflect reality?

 

Finally, I would like to end this blog post with lists of some of the movies that I consider rare species.

 

  1. Lady Bird


A movie staring the up and coming actors such as Saoirse Ronan, Lucas Hedges and Timothee Chalamet - complemented with the already established stage actors such as Laurie Metcalf and Tracy Letts. Looking at the casts alone, I would not think twice to watch this movie.

 

The movie follows the life of an eccentric teenager (Lady Bird) who is transitioning to become a young adult. Following the journey of her transition, audiences are taken into a roller coaster ride of emotions filled with laughter and tears.



 

  1. Frances Ha


Frances Ha was directed by Noam Baumbach. If you are not familiar with him, you are probably familiar with his 2019 Oscar nominated film "Marriage Story".  And in a very strange coincidence, the main protagonist of Frances Ha (Greta Gerwig) is actually the director of Lady Bird. To make it even more interesting, Noam Baumbach and Greta Gerwig are a couple.

 

Frances Ha explores a chaotic life of an adult woman who is yet to reach a meaningful accomplishment in life. With the use of black and white movie technic, the story is so much more powerful.


 

I guess from the movie I have chosen it's quite telling that I like certain kind of movies and actors. I like movies that reflect real life. Throughout this blog post I have been mentioning names and movie titles that are connected in one way or another. For example, if you haven't noticed, I talked about August: Osage County which actually was written by the amazing Tracy Letts (he plays Lady Bird's father in Lady Bird)

 

So, I guess for now I am just gonna look forward to seeing the works of these people that I've mentioned. Alternatively, I can look at other directors who produce similar genres. Feel free to give me some recommendations!


Disclaimer:
Sulit sekali rasanya untuk politically correct ketika mengangkat issue disabilitas. Oleh karenanya jika ada bahasa saya yang tidak berkenan didalam postingan kali ini, sesungguhnya itu murni karena keterbatasan bahasa yang saya miliki. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti kelompok tertentu.

******


Bercerita tentang hubungan antara dua insan yang berbeda, Onur seorang pria tunarungu dan tunawicara dan Zeynep seorang wanita yang terlahir dengan kondisi fisik yang lengkap*,  Başka Dilde Aşk adalah sebuah film garapan sutradara Turki İlksen Başarır yang dirilis tahun 2009. Selain kisah cinta yang mungkin ketika pertama kali mendengarnya kita akan langsung berkomentar “cliché!,Başka Dilde Aşk juga mengangkat isu-isu sosial yang sangat mendalam. Salah satunya adalah hubungan cinta beda dunia ini. Masyarakat umum mungkin berekspektasi bahwa orang disabilitas akan berakhir dengan orang disabilitas pula. Disinilah diskusi dimulai. Bagaimana jika ada suatu kondisi dimana cinta tumbuh antara seorang pria disabilitas dengan wanita yang menurut masyarat umum adalah normal.

For the record, saya mencoba untuk tidak menggunakan kata normal di postingan. Namun rasanya sangat sulit karena keterbatasan ilmu bahasa kita. Normal adalah sebuah konsep yang sangat overrated dan kosep normal sendiri adalah sebuah konstruksi sosial. Jadi apa yang dianggap masyarakat kita normal belum tentu normal bagi kaum lain. Bayangkan saja begini. Bagi kaum disabilitas kita yang tidak normal karena baginya yang normal adalah mereka. Dalam kata lain menganggap kita tentang normal dan tidak normal adalah sepenuhnya berdasarkan pehaman kita akan normalitas. Namun apakah itu normalitas?

Onur dan Zeynep bertemu disebuah bar dipesta anniversary seorang teman. Pertemuan mereka berjalan begitua kasual namun jika penonton jeli akan mudah sekali melihat adanya api diantara mereka. Onur setelah mengucapkan salam kepada penyelenggara acara langsung menyendiri disudut bar memesan sebotol bir. Zeynep terlihat lebih sosial, langsung berbincang-bincang dengan orang-orang yang dibar. Disini kita bisa melihat bahwa Onur dengan keterbatasannya akhirnya terbiasa untuk menutup diri karena tuntutan sosial. Jika ia terlalu sosial maka dia akan lelah sendiri karena harus menjelaskan kondisinya juga. Juga mungkin karena Onur tidak ingin melihat ekspresi aneh atau iba dari orang-orang yang menganggap diri mereka normal itu.
Lalu Zeynep didekati oleh seorang laki-laki. Tidak tertari, Zeynep meninggalkan lelaki itu dan berjalan ke arah Onur dan langsug memesan bir. Onur yang baru saja meneguk birnya meletakkan botol bir diatas meja bar. Tanpa melihat Zeynep langsung meneguk botol bir Onur. Inilah awal pertama kali keduanya saling melirik.

Satu orang laki-laki lagi muncul yang ternyata adalah bos Zeynep disebuah kantor yang bergerak dibidang customer service, dengan nada sedikit memaksa mengajak Zeynep pulang. Ternyata lelaki itu selama ini mengejar-ngejar Zeynep namun Zeynep tidak tertarik. Gagal, lelaki itu pun pulang dengan wanita lain teman serumah Zeynep. Setelah lelaki itu pergi Zeynep mencium Onur.

Malam berlangsung. Ketika anggota parti sedang berjalan pulang, tali sepatu Zeynep lepas. Zeynep memanggil Onur sekali, dua kali dan tiga kali, sampai akhirnya Zeynep berteriak Onur tidak juga berbalik. Teman-temannya yang lain melihat ke arah Zeynep dengan muka heran. “Namanya Onur kan?” kata Zeynep. “Ia,” kata mereka. “Kenapa dia tidak berbalik?”. “Dia tuli dan bisu.” Bahagia Zeynep lari dan loncat memeluk Onur. “Ah.. bu iste benim erkegim,” kata Zeynep dengan canda tawa. Sebuah ungkapan yang awalnya mungkin bagi Zeynep hanya sebuah bercandaan. Hubungan yang hanyalah main-main semata. Malam itu Zeynep dan Onur berakhir dipartemen Onur. Zeynep meninggalkan rumah Onur sebelum hubungan intim mereka selesai.

Beberapa hari kemudian Zeynep kembali ke rumah Onur mengambil jaketnya yang ketinggalan. Namun mungkin juga ingin meminta maaf atas keanehannya malam sebelumnya, meninggalkan rumah Onur begitu saja. Keduanya berakhir makan siang bersama.

Melalui kisah cinta Onur dan Zeynep kita bisa menyaksikan suka dan duka hubungan antara dua orang yang sangat berbeda. Bagi mereka bedua mungkin tidak ada masalah sama sekali. Sebuah hiperbola, mungkin. Namun ketika melihat film ini, kita bisa melihat bahwa permasalahan bisanya muncul akibat orang yang ada disekitar mereka. Teman-teman Zeynep, misalnya, yang menganggap bahwa keputusan Zeynep untuk tinggal bersama dengan Onur adalah sebuah kegilaan. Karena bagi mereka tidak ada wanita normal yang mau memilih lelaki yang kurang (eksik insan). Tidak terima, Zeynep membalas dengan mengatakan bahwa sebenarnya yang kurang kalian, karena menggap orang disabilitas kurang.

Begitu juga dengan orangtua keduanya. Ibu Onur senang anaknya bisa menemukan wanita dambaannya. Namun, beliau juga menunjukkan kecemasannya. Ibuya cemas Onur akan berakhir dengan kekecewaan karena perbedaan mereka yang pada akhirnya akan berujung pada permasalahn. “Bagaimana dengan orangtua sigadis itu? Apakasih mereka tau tentang hubungan kalian?” kata ibunya. Onur berontak dan yakin mereka akan baik-baik saja. Saat orangtua Zeynep mengetahui bahwa anak mereka berpacaran dengan seorang laki-laki tunarungu dan tunawicara, mereka marah besar. Memaksa Zeynep untuk pulang ke rumah mereka. Zeynep yang pada dasarnya adalah seorang yang keras kepala, juga berontak dan meninggalkan orangtuanya begitu saja didepan kantor polisi. Kebetulan Zeynep baru ditankap polisi karena berdemo.

Selain kisah cinta yang sangat menyentuh ini, didalam film ini kita juga menyaksikan sebuah isu sosial lain seperti kondisi lingkungan kerja yang tidak manusiawi. Zeynep yang bekerja dibagian costumer service sebuah perusahaan mengalami kondisi kerja penuh tekanan. Salah satunya karena banyaknya kostumer yang menelpon dengan nada yang tidak mengenakkan bahkan tidak jarang berakhir dengan pertengkaran. Tekanan ini membuat para pekerja sangat stress secara psikologi. Alih-alih membantu, Aras, lelaki yang mengejar-ngejar Zeynep, malah memaksa pekerja untuk tetap bekerja tanpa perduli tekanan yang ada. Akhirnya Zeynep dan teman-teman kantornya berontak sampai akhirnya memutuskan untuk berdemo. Dalam demo ini semuanya sudah berjalan lancar. Meskipu sempat ada polisi yang menghampiri, setelah menjelaskan kondisi mereka akhirnya membolehkan mereka untuk tetap berdemo. Salah paham mengira bahwa polisi menyuruh mereka berhenti berdemo, Onur malah berontak yang menyebabkan mereka semua ditahan.

Dalam isu yang sama, film ini juga mengeksplorasi dunia kerja bagi penyandang disabilitas. Onur yang sebenarnya adalah seorang sarjana namun berakhir bekerja di perpustakaan. Meskipum Onur ahli dibidangnya, karena kekurangnya akhirnya tidak ada perusahaan yang menerima dirinya. Alhasil ia berakhir menjadi seorang pustawan dan tukang. Bahkan ketika ada kesampatan datang pun Onur jadi ragu. Karena dia tidak mau diremehkan orang lain seperti itu lagi.

Setelah kejadian penangkapan itu, hubungan Onur dan Zeynep jadi menggantung. Zeynep jadi mempetanyakan hubungannya. Apakah keduanya akan bisa hidup dengan keterbatasan yang ada. Meskipun Zeynep telah belajar bahasa isyarat, tetap saja mereka tidak akan sepenuhnya mengerti satu sama lain. Kejadian itu, misalnya, karena kesalah pahaman mereka jadi ditangkap polisi.

Diakhir film, Zeynep berada dirumah salah satu teman kantornya, membolehkan Zeynep untuk tinggal bersamanya untuk sementara. Zeynep memutuskan untuk mengambil sisa barang-barangnya dirumah Onur. Setelah memencet bel dan memastikan tidak ada orang didalam rumah, Zeynep masuk dan mengumpulkan barang-barangnya. Ketika Zeynep hendak keluar, ada suara dari pintu tanda seseorang baru masuk. Zeynep bersembunyi dibalik tembok. Ketika masuk rumah, Onur melihat ada yang berbeda. Leptop dan kamera Zeynep tidak ada ditas meja. Menyadari bahwa Zeynep meninggalkannya Onur menagis sejadi-jadinya. Zeynep pun menangis kencang dibalik tembok. Seandainya Onur bisa mendengar, Onur pasti menyadari bahwa dia masih ada kesempatan. Zeynep keluar menuju pintu tanpa dilihat oleh Onur. Zeynep sempat ragu dan hampir saja berlari menuju Onur, namun ia mantap untuk keluar.

Sebuah taksi berhenti didepan apartemen Onur. Bel pintu rumah Onur berbunyi. Didepan pintu ada Zeynep menatap muka Onur sambil mengatakan, “Apakah jaket saya tertinggal disini?”

Film berakhir. . . .

*****
Confession time! Selama di Turki aku nggak pernah nonton film Turki sama sekali (selain Ay Lav Yu didalam bis) karena kebiasaan burukku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Aku kira film Turki akan sama seperti sinetronnya yang terlalu dramatis dan mirip telenovela. Akhirnya kemarin karena bosen nggak tau mau ngapain dan juga karena kwalitas film Hollywood lagi hancur-hancurnya, akhirnya mutusin untuk nonton film Turki. Tersentak, saya malah amazed sama film Turki. Ternyata banyak juga film Turki yang bagus.

Tentu ketika berbicara kwalitas akan ada perbedatan hebat. Karena setiap orang memiliki preferensi berbeda-beda. Saya, misalnya, hanya mau nonton film science-fiction dan pop-corn film di bisokop saja. Kalau di leptop yang lebih memiliki film yang mengangkat isu sosial seperti yang satu ini.

Dari membuka hati terhadap film Turki akhirnya aku menemukan film-film bagus seperti Issiz Adam dan Başka Dilde Aşk ini. Sangat berharap menemukan film-film Turki yang bagus lainnya!






courtesy http://www.gstatic.com



I know this is not one of the hottest movies of the year. Partially because it’s in fact an old movie, it was released in 2010. And sadly it’s also not on the top list either. Perhaps it’s too heavy for some people because it talks about real life and stuff that goes around it. Perhaps, people prefer sci-fi film more than a film that portrays a real life. Not that I despise sci-fi, I think it’s an art and people can and should express their artistic values in the ways they feel happy with. 

Personally, I think “Happythankyoumoreplease” is just one of those underrated movies who happen to struck me to the core of my heart. As an audience I do have some criteria that would make me love the movie immediately. Being of them, and also happens to be one of the themes of this movie, is a film that talks about a process of writing or the life of an author / a struggling author. I don’t why, but this kind of story always, I mean, always, wins me. Well, I do know why, I am obsessed with writing and I do struggle to get some writing done. Not blog-kind of writing, more like, a real book kind of writing. Man, you just don’t know how many unfinished draft are there in my PC. It’s just so difficult to finish a book. And knowing that there are people out there who experience the same struggle as you is just so comforting. Meaning that there is a process in which all writers-wanna-be people go through. This is quite tricky. This process I’ve been talking about, is no easy one. Not everyone can survive with it. If we’re not strong enough, it can screw you over. 


The second criteria, which is slightly personal for me, is the element of New York. Everything with New York in it is just so addictive. Coming from a person who has never been to NY, it’s a little weird, right? But who doesn’t have a dream city, a city that has been built in your mind with this ideal and even perfect quality. For me that dream city is NY. Don’t worry, I know what you people are going to say, “NY is not as you think it is” or “You will be disappointed once you go there” etc etc. Actually, I have learned to accept the fact that NY is not perfect. In fact, the perfect-less-ness of NY that makes me love it. I used to have this crazy idea in my head, that once I graduate university I will go and live in NY and become whatever I could be. I could be a cook, I know how to cook. I just need to learn more variants, that’s suitable for NY tastes. That’s before Trump became a president. Now I don’t even know if I want to go there. 

Interestingly, this film also contains a great deal of discussion over the idea of living in NY itself. So there is this couple who lives in a new way of life (I would say). They love each other, but they don’t want to get married. Very new, right? They say, they are just not that kind of people. For the woman, she doesn’t believe in the idea of marriage simply because she comes from a long family with a history of divorce. Their other polemic is that the lover thinks that he has an opportunity in LA, and he wants her to come with him. But it’s impossible because she hates LA. She thinks LA is toxic. Just like me who has a dream city, for this character, she has a nightmare city and that’s LA. They got into this huge fight over the idea of moving to LA and staying in NY. I love her line when she says, “NY is home. And you want me to leave home?” (I am smiling while writing this. It’s so beautiful)

Literature, real life in NY (fictionalized life), and art are is just killers. This film has it all, which makes me love it even more. As I said before, this film displays the life of a struggling writer who’s writing did get done but didn’t get published. So writer kind of life, right? There’s a funny and smart plot regarding this writer’s life. So one day he was on his way meeting a publisher, when he met a little child who’s separated from his foster mother in a subway. Turns out that child did it on purpose, he has a problem with his foster family. It’s not clear what the problem was, but it makes him not wanting to go back there. So, he kind of illegally let him stay with him. Over the course of his stay, the writer finds out that the kid has a talent. He is a good drawer. One day the writer confides in the kid that his life is too smooth which makes him unable to make a great writing. “You, on the other hand,” he said “has a handful of material”. And I think, he did write a story based on that kid. (I find it very funny and smart).

Anyhow, I talk too much about this film. I think I’ve said everything I wanted to say. Highly recommended. I want you to watch it immediately. And I hope you all like it. If you like this one, you may like another movie written and played by the same person called “Liberal Arts”.    


Pikiran logisku gagal memahami bagaimana seseorang akhirnya sampai pada pemikiran untuk memutuskan berhenti disatu titik tertentu, padahal jalan masih terbuka baginya untuk menyusuri dunia impiannya. Mungkin aku butuh waktu untuk memperbaiki pemikiran yang tak sempurna ini. Mungkin nanti aku akan paham sejalan beriringnya waktu.

Berawal di masa kanak-kanak dimana kita terus dihantami oleh pertanyaan "besar nanti kamu mau jadi apa?" Dengan innocent-nya sang anak akan menjawab sekenanya. Apapun yang mampir kekepalanya saat itu. "Aku ingin jadi pilot." "Aku ingin jadi dokter." "Aku ingin jadi astronot." 

Mungkin hanya itulah hari-hari bahagia kita hidup sebagai manusia. Hari dimana kita bebas bermimpi nenjadi apapun yang kita inginkan, tanpa merasa terbebani, apakah semua akan bisa terwujud atau kita hanya akan menjadi pecundang yang pekerjaannya hanya berkhayal saban hari?

Lalu kita tumbuh ditengah dunia pendidikan. Mimpi pun berubah-ubah tergantung dengan kondisi saat itu. Lingkungan memberikan peran besar dalam hal ini. Dan, mimpi masa kecil pun mulai terlupakan seolah itu hanya angin lewat. Seolah mimpi masa kecil itu bukanlah hal yang kita harus jadian acuan "goal" selama hidup kita. Atau mungkin hidup memang begitu adanya?. Kita kan cuma anak kecil yang awam kala itu, yang tak mengerti kenyataan hidup. Biar lah sosok dirimu yang dewasa ini yang mengambil alih nabismu, yang memutuskan apa yang kamu harus lakukan? Begitukah? 

Kenyataan hidup? Oh.. betapa aku rindu menjadi anak kecil. Betapa aku rindu untuk bermimpi tanpa ada pressure yang menjajal pundak keberanianku. Oh, betapa aku ingin melakukan hal, bukan karena tuntutan hidup, tapi karena aku memang ingin melakukannya sepenuh hati. Karena aku bahagia ketika aku melakukannya. Dan itu bukanlah realistis, katamu?

Berapa banyak manusia yang hidup bukan sesuai impiannya? Dan kenapa itu bisa terjadi? How come they could abandon their dreams. That's what I am trying to figure out right now. Or perhaps me too, could be like them one day. Just waiting my turn. 😡😡😡😡


Pikiran lama yang kembali hadir ketika menonton "Wish I was Here"











Three different stories narrated by 2 narrators (one from reality and other narrator is a character within the story that the first narrator is telling) and all those crazy beautiful things are packed in one piece of artwork. What a tremendous idea.

I gotta admit that I'm so crazy about everything that related to writing world. That typewriter, I wanted to own it so badly. My grandpa used to have it. Back then I was out of nowhere about this world. I have no idea how to value something. Until here I am, I finally found what I really
like in this life and it also wakes up and tells me that's something that makes move. I have nothing yet but I'm on my way to get there.

I think there are some processes in this life that can make your life feel like truly living:
1) You know what you like. As I said, that should be something that make you move.
2) It doesn't mean that when you found what you like you are arrived. It's just the beginning of your journey. You have to find and to identify which paths are you going to pass through.
3) If you are not lost then you'll make your way to your victory.
And, I am now is on the first level. I'm still working on my little homework, without forcing myself too hard, to find the path of my own.

So the movie starts in medias res. It's about a young man that thinks he knows what his life is going to be but the truth doesn’t seem as what he has thought. He wants to be a writer and he really devoted himself full time to that kind of world for about two years. When the book finished he has to face the fact that being a writer is not as easy as it seems. He goes back and forth to publishing agencies but none of them gave him a satisfying feedback. One publisher says his book has something on it. But again, they are not only looking for a good writer that has deep messages in his book but also someone who can make their pocket filled up.

Life goes on. From the beginning of the movie he already has a lover. And, at this particular scene they got married and went to France for honeymoon. Here is where the story started. They were shopping to an antique market, the man sees a good briefcase and find it very attracted. The wife bought it for him.

Back in the US. When he was about to put his things to the briefcase, he found something that turned out to be a manuscript of an unpublished novel. He reads it over and over until finished. He keeps thinking about that over and over until one night when he has no idea why he did that but was retyping that stories to his computer. He has no intention to steal that story. Just, his fingers want to know what it feels to write an extraordinary story.

Shortly, he shows that story to the publisher and his book got published. Soon he also won a book prize. The conflict started when he met the real writer of that story. He wasn't demanding him to reveal the truth but wants him (the fake writer) to know what is the story behind that book. But it surely makes the fake writer's life terrified and losses his peace of life. Finally he tells the wife the truth.

Oh ya, what makes him so sure to show that manuscript to the publisher is his own wife. She accidently opened his laptop and read the story. The story amazes her and urges the husband to publish it. Now she knew the truth and get disappointed but she still supports him for whatever he is. Even more, she also inspires him to move on with his life.

What makes this movie so special is this part, the whole story above is narrated by a different actor that happens to be a writer. He is now presenting his book in front of podium. He once says "It's okay to ask many questions even though you may not know the truth." And surely, for the entire hours, while watching this movie, we keep asking what's gonna happen. Once it fulfilled other question is coming up. Even when the movie has ended we are still stuck on that question. Either the story that the narrator has been told is his own personal story or it's just fiction.

Again, three different stories packed in a decent art piece called movie and it really nailed it. Highly recommended.


Moral of the story :
Character one : the old man. He deserted his wife for her mistake, she lost the manuscript of her husband story. He couldn't find it until he gets old. The time he found it, it already belongs to other people. If we question why he could accept the fact that his work has stolen by other people without having any intention to take it back, is because he has learned through all his life that it's worthless. Since he has lost the person that inspired him to write.

Character two : it does terrify him but again all people make mistake. "Move forward!"


The pic is taken from www.texastribune.org
Memang aku belum pernah merasakan kuliah di salah satu universitas di Indonesia. Tapi waktu SMA aku tinggal di kontrakan yang seatap dengan anak-anak kuliahan. Bahkan waktu aku masih SMA, teman sehari2 ku pun kebanyakan adalah anak kuliahan. Kebetulan juga, aku ngontrak rumah bareng sepupuku yang waktu aku kelas 2 SMA dia baru mulai kuliah. Jadi sedikit banyaknya aku mengertilah apa yang mereka kerjakan di kampus atau keluhan apa saja yang mereka derita, aku tau persis.

KULIAHAN ala INDONESIA
Banyak tugas, makalah, presentasi mungkin ketiga kata itu sudah cukup mewakili wajah perkuliahan Indonesia. Oh iya satu lagi bergadang! Efek dari ketiga kata itu adalah bergadang. Mengerjain tugas yang lumayan ribet itu sampai larut malam adalah hal biasa. Sering juga buka
chatting facebook yang seharus di Indonesia itu sudah larut malam tapi masih ada juga yg ON. pas di tanya ko belum tidur? jwabnya lagi ngerjain tugas.

Sesaat aku jadi merasa sangat beruntung, “untung aku gak kuliah di Indonesia”. (hint) :D

Lalu apakah efektif kalau diberi tugas sedemikian rumit? Kalau intensitasnya sekali dalam 1 semester sih ok. Tapi kalau sudah sampai tahap seminggu sampai punya jadwal presentasi 3 kali terus ngumpulin makalah seminggu 5 kali, itu sih keterlaluan. Mata kuliah kan bukan
cuma 1. Mereka juga harus membagi 1 kepala ke banyak pelajaran.

Kalau ditanya setuju atau tidak. Setuju saja dengan adanya sistem presentasi dan makalah. Hanya saja, mungkin hal yang harus diperhatikan para dosen adalah "jangan menjadikan makalah dan
presentasi sebagai senjata kemalasan mengajar. " Kalaulah itu alasannya nggak salah juga banyak yang tugasnya hasil copy-paste dari internet.

Melihat produk-produk universitas Indonesia yang sekarang mengenyam S2 di Turki, kebanyakan mereka sangat-sangat okay. Terutama di bidang materi. Kalau materi dia rajanya lah. Tapi yang perlu di kasihani adalah untuk masalah praktik. Masalah klasik yang ada di Indonesia adalah kita nggak punya alat untuk praktek. Akhirnya kerjaan waktu kuliah cuma ngafalin text-text yang ada dibuku-buku itu.

Sebenarnya gak ada yang perlu dirubah dari sistem pendidikan di Indonesia, cuma perlu peningkatan saja. Bahkan menurut saya [kalau masalah system] Indonesia lebih keren dari pendidikan di Turki. Infrastruktur, mungkin ini yang paling crucial. Terutama untuk kampus-kampus yang berada di daerah pedalaman yang statusnya pun masih banyak dipertanyakan.
Kenapa pemerintah harus mempersulit kampus di pedalaman sih? Banyak orang yang mau kuliah. Tapi apa harus kepusat provinsi cuma untuk mau kuliah? Siapa tau mereka harus kuliah sembari berkebun. Mengingat biaya kuliah dan hidup tidak murah. Harusnya pemerintah
menfasilitasi bukan memperibet kampus-kampus yang sudah diusahakan oleh mereka yang mengusahakan.

Masalah kesetaraan (equality) lagi. Ini yang sulit sekali. Bagaimana sih caranya agar fasilitas pendidikan di pusat sama daerah bisa sama? Kenapa guru-guru yang bagus cuma ada di kota? apa orang desa gak berhak dapat pendidikan yang bagus?

Kuliahan di Turki

Pendidikan di Turki itu bisa dibilang super santai. Gak pernah ada tugas, kalaupun ada hanya berbentuk buat essay atau tugas-tugas ringan. Selama hampir dua semester disini belum pernah dapat tugas buat presentasi atau makalah-makalah. Tapi setelah dirasakan kayanya system kaya gini juga kurang, walaupun mahasiswa dapat waktu belajar lebih banyak, - kita bisa mendalami pelajaran lebih leluasa-. Masalahnya selama di Turki aku jadi introvert (terlalu exaggerated sih pakai kata introvert) intinya aku jadi gak kaya waktu sekolah di Indonesia –yang suka debat, suka nanya, suka mojokin teman yang lagi presentasi- pokoknya yang jenis-jenis gitu lah. Disini ceritanya yang memang bener-bener kuliah. Datang – masuk – keluar – ke  perpustakaan – asrama – ruang belajar yang gitu-gitu aja. Jadi merasa janggal. Karena wajah perkuliahan yang ada dibayangku itu adalah diskusi dan presentasi. Selama kuliah – karena banyak waktu luang – akhirnya aku jadi sering nonton. Ditambah disini ada wifi gratis. Film tinggal download aja. Tapi kalau untuk jurusanku sih nonton juga kayanya perlu. Karena nonton menurutku sama aja kaya komunikasi, jadi ya gak salah lah. Dari nonton itu aku jadi banyak dapat referensi perkuliahan di Amerika dan Negara barat. Aku jadi lebih mengerti perbedaan British sama American accent atau Scotish dan lain-lain. Jadi sekarang istilah sudah berbentuklah jenih accent apa yang aku pilih. 

Masalah gambaran kelas, itu tergantung docent sih. Ada yang keren, kebanyakan yang keren adalah yang jam terbang internationalnya udah banyak. Kalau yang lokal masih so so. Terutama masalah berinteraksi sama mahasiswa. Ada yang masih menggunakan sistem SMA, yang suka ngecheck attendance sheet yang gak penting itu. Ngabisin setengah jam pelajaran cuma untuk ngecheck itu aja. Docent yang ini ngajar pelajaran yang gak ada sangkut pautnya sama jurusanku sih, jadi agak kesal juga. Setiap minggu harus dengerin dia ngoceh masalah daftar hadir. Huh 
Kalau mahasiswanya disini -gimana ya- mereka malas masuk kelas. Kalaupun masuk itu karena tanda tangan absen. Karena disini kalau nggak masuk 3 kali dianggap gak lulus. Kalau nggak masuk yan mereka nitip tanda tangan ke temen. Tentu ngga semua kaya gini, tapi adalah beberapa. Masalah catatan, kalau udah mau musim ujian mereka sibuk foto copy catatan mahasiswa ya rajin. :Ix 
Oke ini yang penting yang harus dicatat kalau perlu diberi garis bawah dengan pulpen berwarna.
1.      Disini itu gak ada kelas international. Semua sama. Jadi walaupun mahasiswa asing harus ngambil mata kuliah PKN nya Turki sama bahasa Turki, yang hampir semua mahasiswa asing – kecuali yang asalah serumpunya Turki – kesulitan. Masalahnya mahasiswa Turki sendiri sudah muak dengan pelajaran itu. Katanya pelajaran itu udah dari TK. 
2.      Disini sistem jurusan ada yang 30% ,70%, bahkan ada juga yang 100% menggunakan bahasa Inggris. Untuk itu, mereka sebelum mulai kuliah harus ikut tes bahasa Inggris kalau lewat bisa langsung kuliah. Kalau ngga harus ikut persiapan bahasa selama setahun penuh. Harusnya sih mereka bahasa Inggrisnya keren. :D
Tapi jangan ketipu sama angka persenan itu, kebanyakan itu ngga berlaku. Cuma sebagian kecil yang pake bahasa inggris.
3.    Kerennya sistem pendidikan Turki itu udah masuk EU (European Union). Kalau lulus dari Turki ijazahnya ada lambang Eropanya. Terus ada juga program Erasmus. Setiap Universitas dapat quota masing-masih (bukan quota pernegara.) Quotanya tergantung ranking universitas. 
Erasmus adalah Program student exchange ke Negara-negara Eropa. Selama program biayanya di tanggung oleh pihak Erasmus. Walaupun menurut teman yang sudah pernah ikut uangnya sangat pas-pasan. Kalau mau jalan-jalan ke Negara tetangga harus nyediain uang sendiri.
4.   Bukan hanya program student exchange antar Negara Eropa, Turki juga menyediakan program exchange antar universitas di Turki. Kalau ada mahasaiswa yang ingin merasakan bersekolah di kota lain mereka bisa mengikuti program ini.
5.   Ada juga program transfer niversitas antar uyang terkelola khusus. Kalau di Indonesia mungkin kalau mau pindah universitas harus diurus sendiri ke kampus tujuan, kalau disini tinggal pergi kekantor rektorat dan ngajuin pindah ke universitas manapun yang diinginkan (asal diterima aja :D).
6.    Kerennya lagi disini mahasiswa kuliahnya gratis alias bebas biaya. Turki punya 2 sistem kuliah, kuliah pagi dan sore. Kalau yang pagi sudah dipastikan bebas biaya tapi kalau gak lulus yang pagi dan terpaksa ngambil kuliah sore atau mereka nyebutnya 2. Egitim, itu harus bayar biaya kuliah sendiri. 
7.    Sistem ujian masuk universitasnya juga keren, hampir sama kaya di Indonesia sih. Pas ikut ujian kita bisa milih 5 universitas, nanti lulusnya tergantung nilai yang didapat. Kerennya disini di satu Universitas hampir ada dari semua daerah yang di Turki.
8.   Turki punya asrama khusus mahasiswa yang kurang mampu dengan biaya yang sangat tergolong murah. Bahkan mereka juga nyediain beasiswa asrama pertahun bagi yang kurang mampu.
9.    Turki sadar kalau nggak semua orang mampu, tapi semua orang berhak mendapatkan pendidikan. Bebas biaya kuliah belum menjamin mereka bisa kuliah, karena untuk kuliah perlu biaya hidup. Untuk itu Turki nyediain beasiswa bagi kurang mampu. Selain itu di Turki juga ada program Student Loan, mahasiswa boleh minjam uang pendidikan yang akan dibayar nanti setelah bekerja. Jangka waktunya setelah lima tahun bekerja. Kalau lulus dalam kurun waktu 4 tahun, hutangnya bisa dianggap lunas.
(Saya nggak yakin sih, tapi temen saya cerita, dia harusnya kuliah 5 tahun tapi karena dia lulus tes bahasa jadi ngga perlu masuk prepschool. Jadinya nanti dia akan lulus 4 tahun dan hutangnya akan dianggap lunas)
10.  Kebanyakan S1 disini nggak ada skripsi, kecuali jurusan sastra. Yang lain cuma perlu magang sebelum benar-benar lulus.
Kayanya cukup deh segini aja.
Ini nggak ada penelitian khusus sebelum nulis ini jadi nggak perlu dijadikan referesi. Semua ditulis based on personal experience aja. Tapi inshaa Allah akurat lah..
:D :D