Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts


Traveling atau melancong adalah salah satu kegiatan yang sangat terdampak akibat pandemi. Hampir semua negara menerapkan larangan untuk melakukan perjalanan dalam kota, lebih-lebih lagi perjalanan antar kota dan negara. 


Hal tersebut juga berlaku di Australia, tempat tinggal saya saat ini. Dari bulan Maret 2020, ketika kasus COVID-19 mulai melonjak, Australia menutup penerbangan dari dan ke luar negeri. Salain itu, Australia juga menutup perbatasan antara states atau negara bagian. Salah satu alasannya karena penyebaran virus COVID-19 tidak merata antar negara bagian. Misalnya, sebagai negara bagian terpadat dan tersibuk, New South Wales dan Victoria memiliki kasus penyebaran COVID-19 yang cukup signifikan dibandingkan negara bagian yang lain. Untuk menekan penyebaran, pemerintah federasi membatasi perjalanan dari dan ke kedua negara bagian tersebut. 


Syukurnya, kedua negara bagian ini telah berhasil untuk flatten the curve. Sebuah mukjizat sekali. Terutama untuk negara bagian Victoria dengan angka kematian akibat COVID-19 tertinggi di Australia, sejumlah 820 jiwa. Kini kasus positif COVID-19 di negara bagian Victoria sampai nihil, atau tidak ada kasus sama sekali. 


Bukan berarti kasus COVID-19 di Australia sudah tidak ada. Masih ada. Secara total, saat ini ada 51 kasus aktif. Namun, kebanyakan kasus aktif ini berasal dari warga Australia yang baru kembali dari luar negeri. Sehingga mereka langsung karantina ketika memasuki Australia. Dengan begitu penyebaran secara lokal bisa di antisipasi.

 

Setelah berhasil menekan penyebaran COVID-19 di hampir semua negara bagian, akhirnya pemerintah negara bagian mulai mengizinkan perjalanan antar perbatasan tanpa harus karantina dua minggu terlebih dahulu. Sepertinya saat ini semua negera bagian sudah membuka perbatasan kecuali South Australia. Alhasil, saya pun bisa dan memberanikan diri untuk traveling ke kota Melbourne. 


Walaupun Melbourne sudah aman, penggunaan masker saat berada di tempat umum masih diterapkan. Berbeda sekali dengan Canberra atau Australian Capital Territory (ACT) dimana penggunaan masker tidak wajib sama sekali. Jadi sepanjang tiga hari saya di Melbourne selalu menggunakan masker kemana-mana: di hotel, tram, restoran dan saat jalan kaki keliling kota. 


Lalu bagaimana rasanya traveling saat pandemi? Jujur agak paranoid ya. Apalagi karena Melbourne satu-satunya kota yang sempat memiliki kasus positif dan kematian COVID-19 tertinggi. Tapi setelah ketemu teman-teman di Melbourne akhirnya mulai merasanya nyaman dan percaya diri bahwa kasus COVID-19 di Melbourne sudah tertangani (under control). 


Sekarang saya sudah balik di Canberra. Tapi saya masih aja paranoid. Takut tiba-tiba saya tertular saat perjalanan di Melbourne dan saya secara tidak sengaja membawa virus ke Canberra. Jadi ragu untuk keluar dulu di Canberra. Harusnya sih nggak ya. Kan sudah nol karus. 


Nah, selama di Melbourne saya jalan-jalan kemana aja? Jujur saya nggak banyak jalan-jalan selama disana, karena saya lagi ada kerjaan saat itu. Jadi saya cuma jalan-jalan dari pagi sampai jam 13.00 siang. Setelah jam 13.00 saya harus kerja. Jadi saya cuma memanfaatkan waktu dari jam 06.00 sampai 13.00 untuk jalan-jalan. 


Walaupun begitu saya masih bisa mengunjungi tempat-tempat yang identik dengan Melbourne seperti: 


Hari Pertama:

    1. St. Kilda 

    2. Brighton Beach 

    3. University of Melbourne (Unimelb) 



Hari Kedua 

    1. Queen Victoria Market (QVM) 

    2. Royal Exhibition Building 

    3. Immigration Museum 

    4. Makan di YOI dengan teman-teman 9W1 Melbourne 

    5. Victoria State Library (saya akhirnya kerja disini selama 3 jam)




Hari Ketiga  

   1. South Melbourne Market

    2. Makan di Ayam Penyet Ria 

    3. Shrine of Remembrance 

    4. The Dock 


Jujur, masih banyak sekali lokasi-lokasi yang ingin dikunjungi. Tapi karena waktu terbatas akhirnya yang bisa aku kunjungi baru tempat-tempat wisata dalam kota. Lain kali kalau ke Melbourne lagi ingin ke lokasi-lokasi seperti: 

    1. Sovereign Hill 

    2. 12 Apostles 

Dan tentunya banya tempat-tempat lainnya. 


Selanjutnya mari ngobrol tentang budget. Berapa uang yang dibutuhkan untuk tiga hari di Melbourne? Untuk ngomongin ini aku bagi jadi tiga bagian ya: transportasi, penginapan dan makan-makan. 


Transportasi


Saya berangkat ke Melbourne dengan jalur darat menggunakan Grey Hound couch. Biayanya 130 pulang pergi (PP). Untuk transportasi dalam kota menggunakan kartu myki dengan harga 4.5 dollar sekali tap. Kota Melbourne menerapkan cap atau nominal harga maksimum yang kita keluarkan untuk transportasi dalam sehari, sejumlah 9 dollar. Jadi mau jalan sebanyak apapun kita hanya akan mengeluarkan uang 9 dollar dalam sehari. 


Ada satu hal unik mengenai transportasi di Melbourne. Kita tidak perlu tap kartu myki untuk daerah central business district atau CBD. Dalam kata lain, transportasi gratis untuk wilayah CBD. Jadi kalau mau jalan-jalan sekitaran CBD aja, nggak akan mengeluarkan untuk untuk transportasi. 


Penginapan


Selama di Melbourne saya menginap di City Centre Budget Hotel dengan harga 125 dollar 2 malam. Kebetulan saya menginap di kamar twin bed dengan teman saya. Jadi masing-masing kami mengularkan sekitar 63 dollar untuk 2 malam. Harga yang cukup bagus mengingat lokasi hotel ada di CBD. 


Makan Makan


Bagi anak Canberra, Melbourne adalah syurganya makan-makan. Selain makanan biasaya, di Melbourne banyak restoran Indonesia. Akhirnya jalan-jalan ke Melbourne jadi ajang memenuhi kekangenan untuk makan makanan Indonesia. Selama di Melbourne kami coba tiga restoran Indonesia: YOI, Nelayan dan Ayam Penyet Ria. Menurut saya yang juara, Ayam Penyet Ria. Sambalnya khas ayam penyet banget. 


Makanan di Melbourne rara-rata harganya 12-15 dollar untuk menu makan berat. Untuk kopi biasanya 5.5 dollar kalau minum di cafe. Kalau mau ngopi murah beli di Seven Eleven aja, bisa dapat dengan harga 2 dollar saja. 


Kalau di total transportasi, penginapan dan makan-makan, budget yang perlu dipersiapkan untuk jalan-jalan selama tiga hari di Melbourne sebanyak 300-400 dollar. Tentuk balik lagi ke gaya traveling masing-masing. Kalau kamu bisa berhemat dimakanan mungkin bisa lebih murah lagi. Karena saya kangen makanan Indonesia dan mau menikmati jalan-jalan saya selama di Melbourne, saya cukup hedon dalam jalan-jalan kemarin. 

   

Courtesy of sbs.com.au


Let me first clarify the title. With the world is becoming more divisive, with the rise of alt-right ultra nationalist politics, it is nonsensical to even bring up the idea of visa and residence permit abolition. Certainly, this topic would have been more relevant six to eight years ago - where everyone had thought that capitalist liberalism with its free market had reached an equilibrium. People thought that the world had voluntarily and happily become one - globalized, interconnected and countries are dependent on one another. It still is the case today but the voluntary and happy sides have been upended. Little that we know that there are people out there who resent world's interconnectedness by making nationalistic propaganda, sovereignty rhetoric and anti-foreignness. Because of these new phenomena, the very idea of visa and residence permit abolition are left in the air.

 

No. This article is not going to talk about the abolition of visa and residence permit in a political sense. Obviously, there is no sign that this will ever happen in the near future. What I wanted to talk about in this article is about the practice of attaching physical visa in your passport page and getting a residence permit once you arrive in the country. This practice seems to have been slowly removed from our traveling experience.

 

Having acquired visas and residence permits to live in two countries (Turkey and Romania) before, I naturally thought that I had to go through the same process to live in Australia. In turns out that, although you still have to go through the same process, you won't find any visa on your passport page. Likewise, once you arrive in Australia, (1) your passport will not be stamped, (2) you are not required to go to the immigration office to process a residence permit. Instead, you get an electronic visa (PDF file) and that's about it.

 

I had a hard time rationalizing this. I thought "well, this is going to be complicated."

 

In my past experiences, you have to bring your residence permit with you every time you leave the house. If you don't have one (because you are in the country on a temporary visa), then you carry your passport with at all times. You never know. Just in case some random police stops you in the street.

 

Now that I am not given a visa nor a residence permit, I thought I would have to carry my passport with me all the time. "This is not very pleasant. What if I drop my passport? It will get me a lot of trouble - for sure."

 

But having lived here for a little over six months, I have yet to experience being stopped on the street and asked to show any form of identification. Although I don't carry my passport around, I do carry my student ID and an ID that I got from the local authority. I guess we can say that the ID I got from the local authority is the equivalent of a residence permit? Well, it is not a compulsory to get it though. But if you want and need one (to buy alcoholic drinks and to get in a bar) - you can get it from them.

 

I don't know what to feel about this. Personally, I like having my travel experience documented in the form of visa and immigration stamps. I mean, I have 30 blank pages or so in my passport. Might as well have them stamped and decorated with visas. But I guess seeing the massive migration to the digital world of almost all aspect of our lives, it is not an impossibility to see a future where the passport book that we now know and have will be replaced with a credit card-like passport. Our movements and data will be easier to be traced, and no more privacy. Ye…!


Courtesy of https://www.accesscanberra.act.gov.au/app/answers/detail/a_id/51/~/proof-of-identity-cards



Disclaimer :

  1. I took this trip in February, long before the lockdown and the social-distancing were imposed. 
  2. A bit of cheating today. This post is not new at all. I copied it from my Instagram post with some minor changes. I thought of doing a completely new one. But I think this one is as good as it can. 

 

*****

 

Going to Sydney is an obvious choice for Canberrans who crave for a short escape to a megapolitan city. As calming and zen as Canberra can be, sometimes you just want to have a taste of the craziness of a big city life. So, that's exactly what I did. I jumped on the chance knowing that I had 5 days off before O-week.

 

The trip takes around 3.5 hours by bus, which is quite convenient I must say, compared to the trip I have to take going home (we will talk about this some other time). Plus, there was a big sale on the bus fares. Normally it would cost around 20 to 25 dollars on a single trip, which is a little bit expensive for a student like me. Now the return trips only cost me only 10 dollars. Who would miss the chance to visit Sydney with only 10 dollars, right? Exactly!

 



Now that I'd got my ticket, the next thing I had to think about was my accommodation. Accommodation in Sydney is surprisingly expensive - like really really expensive. A good backpacker that I am, I went straight to the hostel option. After an extensive browsing, I found the cheapest hostel option called Chiliblue Hostel that cost me 26 dollars for two nights. 

 

Judging from the amount of money I had to pay - I didn't really expect much. Since I would be out a lot, I felt like I didn't need an expensive hotel because literally I just need a place to put my belongings and to sleep at nights. Surely, the hostel is located in red light district area of Sydney and the hostel was disgusting. I have been to many many hostels before and this is the worst of them all. But I guess I deserve it. What do you expect from a 26-dollars per two nights hostel? 

 

 

As for the fun part (exploring Sydney) I both went for the cliches and the not so cliches. 

 

  1. I went for the cliches and loved it 

 

The most cliche things to do in Sydney would be visiting Opera House, Harbor Bridge, getting on a ferry to Manly. Right? I did all of them and would definitely do it again. 

 

  1. Free tour 

 

Well, it's not actually free per se. But you are definitely free to give any amount you'd like. Check this link (https://imfree.com.au/) if you are keen on joining the tour! 


 

  1. Foods cost cheaper than Canberra 

 

In Canberra a big meal costs at least 15 dollars. That's why I prefer to eat home and pack my own lunch. But in Sydney, a very big meal cost 10 to 12 dollars. Of course much more expensive choices are available if you are into that kind of thing. 

 

  1. Going down to memory lane 

 

I am not quite sure what possessed me, but the whole time I was in Sydney felt surreal. Was I hallucinating or Sydney really bears resemblance to Istanbul? And while we are on this game, I must say Canberra somehow feels so much like Ankara. 

 

  1. What about New York? 

 

Well I can't really talk about this as I haven't been to NY yet. But the buildings in Sydney look so much like those in NY (or perhaps in Brooklyn). That being said, Sydney is definitely a melting pot.

 

This is not going to be my last trip to Sydney. When the health crisis is contained, I will definitely come back to Sydney again. Until then, what else do you think I should have done in Sydney



Tebing T-Rex, Kelingking Beach
Ketika berbicara tentang Bali, yang langsung hinggap di kepala adalah Kuta, Tanah Lot, Canggu dan Ubud, tempat-tampat yang notabene penuh oleh turis dalam negeri maupun mancanegera. Memang sulit rasanya untuk menemukan tempat yang sepi turis di Bali. Namun bukan mustahil, karena ternyata banyak sisi-sisi bali yang belum terekpos, seperti Nusa Penida, misalnya.

Nama Nusa Penida beberapa tahun terakhir ini semakin marak di perbincangkan seiring dengan banyaknya para travel vlogger seperti Lost LeBlanc, High On Life dan lain-lain meliput tempat spesial ini. Jadi bukan tidak mungkin tempat ini akan penuh oleh beberapa tahun kedepan. Apalagi masyarat pulau Nusa Penida sepertinya sedang bersiap-siap untuk itu melihat banyaknya pembangunan tempat penginapan disana - sini sudut Nusa Penida.

Lalu apa sih yang membuat Nusa Penida sangat spesial?

1. Sensasi Petualangan

Sejak awal Nusa Penida sudah menawarkan apa yang tidak ditawarkan oleh tempat lain yaitu sensasi petualangan. Berangkat dari Pelabuhan Sanur menggunakan fast boat memakan waktu sekitar 30 sampai dengan 40 menit menuju Pelabuhan Nusa Penida. Selama perjalanan penumpang harus siap dengan berbagai kondisi seperti ombak yang sangat tinggi sehingga fast boat sering terombak-ambik dengan begitu penumpang pun ikut serta terombak-ambik. Belum lagi air laut yang terkadang menyusup masuk kedalam kapal. Dan yang terpenting lagi udara didalam kapal. Karena laju kapal yang sangat cepat, air laut akan otomatis masuk kedalam kapal. Untuk menghindari ini semua jendela kapal di tutup dan efeknya udara dalam kapal sangat panas dan pengap. Ada kipas angin didalam kapal, namun dengan jumlah penumpang yang ada, kipas angin tidak banyak membantu.

Dari semua kondisi ini, tidak ada satu orang pun yang komplain. Saya rasa karena sensasi yang diberikan oleh perjalanan ini adalah sensasi petualangan yang semua orang ingin alami. Jadi mereka tidak masalah sama sekali.

Begitu juga ketika sampai di Nusa Penida. Menaiki fast boat hanyalah awal dari semua petualangan yang ditawarkan oleh Nusa Penida. Ada banyak petualangan yang lebih menantang menanti seperti mengendarai sepeda motor dengan kondisi jalan yang rusak, tanjakan dan turunan yang terjal dan jalan menuju pantai yang sangat menantang.

2. Pemandangan Berbeda

Meski masih menawarkan wisata pantai dan laut, ada yang berbeda dengan Nusa Penida. Tempat-tempat di Nusa Penida memberikan suatu yang fresh dari segi pemandangan dan suasan.

Berikut adalah tempat - tempat yang wajib dikunjungi di Nusa Penida.

    Pantai Kelingking (Kelingking Beach)

Dengan jarak tempuh sekitar 30 - 40 menit dari pelabuhan, Pantai Kelingking memberikan pemandangan yang sangat menakjubkan sejak awal melabuhkan mata ditempat ini. Paling kentara menyambut kedatangan pengunjung adalah tebing yang berbentuk dinosaunur jenis T-Rex. Dan yang menambah nilai plus adalah air laut yang bersih dan biru mengelilingi tebing ini. Bagi para pengguna instagram, tempat ini tentu saja surga untuk berfoto ria. Namun bagi saya yang suka petualangan, tempat ini menawarkan petualangan yang sangat mengagumkan sekaligu sangat ekstrim.

Ketika mengunjungi Kelingking Beach, tidak lengkap rasanya jika tidak turun sampai ke Kelingking Beach. Benar, Tebing itu bukanlah Kelingking Beach yang di maksud, Kelingking Beach sebenarnya ada di bawah kaki tebing T-Rex itu. Berita baik - jalan menuju Kelingking Beach sangat ekstrim dan membutuhkan banyak sekali energi. Jika anda berencana datang ke tempat ini, saya sarankan untuk melakukan pemanasan dan olahraga ringan terlebih dahulu. Kesalahan fatal yang saya lakukan adalah saya sudah lama tidak berolahraga dan setiba saya ke tempat ini saya langsung turun menuju KB. Alhasil kaki dan paha saya sakit berhari - hari. Namun tenang saja, yang menanti anda dibawah sangatlah worth-it dengan semua yang dikorbankan. Pasir putih dicampur dengan butiran pasir berwarna merah yang membuat ilusi seolah-seolah pasir berwarna merah muda (pink), air laut yang bersih tanpa sampah, dan ombak yang sangat menakjubkan. Belum lagi pepohonan yang tumbuh disekitaran pantai membuat sensasi seolah-olah berada di pantai terpencil. Dan yang terpenting lagi, pantai ini belum banyak pengunjung, anda akan berasa seolah-olah ada di pantai pribadi. Ketika sampai dibawah silahkan berbahagia dulu, karena sebentar lagi anda harus memanjat jalanan yang terjal dan ekstrim lagi HEHE.

Broken Beach

    Broken Beach atau Pasih Uug

Broken Beach Video
Tenang saja, Kelingking Beach bukanlah satu-satunya tempat menarik di Nusa Penida, ada Broken Beach yang tidak kalah menarik.

Broken Beach berada cukup dekat dari lokasi Kelingking Beach sekitar 30 - 40 menitan lagi dengan mengendarai sepeda motor, adalah sebuah tunnel alami yang sangat dramatis karena salah satu sisi tunnel dalam kondisi terbuka. Hal ini menyebabkan air laut ikut masuk kedalam dan membentuk sejenis lagun yang sangat indah. Belum lagi kondisi bebukitan yang indah disekitaran lokasi dan air laut biru dengan deburan ombaknya. Saya bisa menyepi disini berhari-hari.

Angel's Bilabong

    Angel's Bilabong 


Berlokasi hanya 5 menit dari Broken Beach, Angel's Bilabong juga menawarkan suatu hal yang sangat unik yaitu kolam alami yang dihiasi oleh lubang-lubang yang mengilumniasikan warna biru.Saya pribadi tidak berani untuk mandi di kolam alami ini karena ombak bisa sewaktu-waktu menerjang. Kalau tidak pandai berenang hati-hati, bisa-bisa anda terhampar kedalam laut. Tanpa berenang pun tempat ini tetap sangat spesial.

Berjalan sedikit menuju tebing anda bisa beristirahat sembari menikmati ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa: lautan luas yang bebas dengan ombak yang berdebur menciptakan nyayian alami yang indah, sangat menakjubkan. Sesekali akan terlihat kapal tradisional dan fast boat yang mebawa pengunjung untuk menikmati alam Nusa Penida.

    Atuh Beach

courtesy of https://jonnymelon.com/atuh-beach-nusa-penida/
Dikelilingi oleh tebing kapur yang sangat sureal, pantai ini sangat indah sekali dengan pasirnya yang putih alami dan sangat bersih sekali. Mau tau rasanya berenang dan berjemur di pantai yang belum terjamah, Atuh Beach adalah pilihan yang tepat.

3. Masyarakat Pedesaan

Berbeda dengan Kuta dimana kehidupan sudah sangat metropolitan sekali, Nusa Penida masih menawarkan pemandangan ala pedasaan yang sangat asri. Bahkan sejak masih dikawasan pelabuhan. Hanya ada pasar kecil dimana para warga umumnya berbelanja. Walaupun sudah mulai hadir cafe-cafe modern untuk mengakomodir kebutuhan pelancong mancanegara, tempat ini masih saja terlihat sangat otentik. Semoga otentisitasnya tetap terjaga seiring dengan banyaknya turis yang datang, ya!

Sekian ulasan saya tentang Nusa Penida, ingin tahun lebih banyak lagi tentang Nusa Penida? Silahkan komen dibawah ini. Selamat merencanakan liburan anda ke Bali :)

Disclaimer:
1. Deskripsi saya tentang tempat ini tentu saja tidak seimbang dengan indahnya Nusa Peninda. Memang benar, seeing is believing, karenanya anda harus mengunjungi tempat ini dan menyaksikannya sendiri.
2. Selain tempat disebutkan di atas, masih banyak lagi tempat-tempat unik lainnya yang ada di Nusa Penida, seperti crystal beach dan kebun kelapa yang juga berada satu lokasi dengan crystal beach.


The past two weeks had been the most amazing time in my life as I had what others would call the best job there is the world. For me the recipe for a great job is when you could combine working and traveling at the same time. And that finally that came through this month - being paid to come to the most talked holiday destination - BALI, that's A, and B, you work for one of the most important international events, the IMF-WBG 2018 Annual Meetings. I wasn't the only one and this doesn't apply only to locals. In the hotels I stayed, Tijili Benoa Hotels that is, I met a couple of Dutch students who were doing their internships in Bali. That could be an option for you to visit Bali. Care to try?

I had to work for only 9 days and as others would have done had they been in my shoes, I extended my stay for another days. Would not have been counted visiting Bali without exploring its amazing cultures and natures. That being said, I would like to go over to the biggest mistakes tourists make when there are in Bali.

On my last night in Bali, I decided to stay in a hostel called Kayun Hostel Downtown, located just in a walking distance from the Bali Bombing Ground Zero Memorial. The hostel was very quiet this time around and fairly so as it is the low season in Bali. And that takes us to the first mistake tourists make, coming to Bali during the high season. If you are traveling on a budget like me, you would not want to come to a holiday destination when it is flooded by thousands of other tourists. We all know that the prices will go up during this time around: the airfair, the accommodation and possibly the food in the restaurants. So if you want to afford all that Bali has to offer do not come to Bali in between July and August, during the Easter holiday and during the Christmas and new year. I know it's basically all of the holiday seasons but just let the have-moneys enjoy their time on all those occasions, you, the budget traveler on the other hand, can have Bali on days other than the ones mentioned.

The second biggest mistake tourists make while in Bali is spending too much time in Kuta. Again, refering to my time in Kayun Hostel, I met 4 tourists from Sweden who said that they had been in that hostel for 3 days and planned to do so for another two days. It is a big big no. Do not spend too much time in Kuta! You won't see anything there and what you would end up with is hating all the time you spend in Bali. If that happened, it is not Bali, it's your fault for not exploring enough. Yes there is Kuta Beach, but I would sacrifice skipping Kuta Beach for other beautiful beaches. And yes, there are a lot of them in Bali: Canggu, Jimbaran, to name a few. That's just the beaches, what about other gems of Bali? Yes, that's what you come to Bali for. So do not stay in the red light district part of Bali (Kuta)! Go explore Ubud, Jimbaran, Nusa Penida Island and many more (I will talk about the must visit places in my next post).

And three, do not go to restaurants with western food. Hey, you came all the way to Bali, why don't you take a bite of Balinese / Indonesian cuisine? I have list of local food you have to try: Nasi Padang - that's a must and you can find it everywhere in Bali, Ayam Pedas Buk Oki, Manega Cafe Jimbaran and list goes on. This is also a good way of saving money as the prices in local restaurant can be a lot cheaper compared to the western ones.

Four, minggle with the local. What I observe from tourists coming to Bali, they often spend time with their circle. Well, it's a matter of choice, but personally when I visit a new country I would want to have a conversation with locals. I would like to get an in-depth of the local culture right from its source. I know sometimes we have this prejudice within us that we might be scammed in a foreign place but you might be suprised by how nice the locals could be.

And lastly, don't think Bali as an expensive destination. No, Bali is not expensive at all. Well, Bali is that one place that has a bit of everything for everyone. If you like to stay in an expensive hotel, Bali definitely has that. Just go to the hotels in Nusa Dua region. If you like to stay in a rather modest accommodation, Bali has that too. Just be willing to do a little research before coming to Bali. And if using international website doesn't work, use local website like traveloka.com, airy.com, reddoorz.com and many more.

So, those are the common mistakes tourists make when they are in Bali. Make sure you don't fall under all of that. And.... enjoy your vacation in Bali! 


Salah satu tradisi dinegara 4 musim adalah: beramai-ramai menuju pantai saat musim panas tiba. Banyak kegiatan yang bisa di lakukan dipantai seperti berjemur, berenang, sampai berpiknik ria.

Izmir, salah satu provinsi di Turki, memiliki tradisi unik selama musim panas. Setiap hari selama musim panas (pertengahan Juni sampai September) pemerintah kota Izmir menyediakan kapal menuju pulau Yassica (dibaca: Yasija dengan i dibaca seperti e di kata enggak), sebuah pulau yang berjarak sekitar satu jam perjalan melalui kapal ferry dari pusat kota Izmir. 

Ada 2 pilihan pelabuhan dimana para penumpang bisa menaiki kapal tujuan Yassica ada ini: Karsiyaka dan Uckuylar. Untuk jam keberangkatan, setiap hari kapal berangkat jam 8.30 dari Karsiyaka. Lalu transit di Uckuylar untuk mengambil penumpang yang memilih untuk naik di pelabuhan ini. Untuk kepulangan, hanya ada jam 17.45. Dalam kata lain, dalam sehari hanya ada satu kapal keberangkatan dan kepulangan. 

Ada sensasi yang berbeda dari pilihan hiburan khas musim panas di kota Izmir ini. Para pengunjung Yassica Ada diberikan kesempatan untuk merealisasikan mimpinya yang sebelumnya hanya ada di imajinasi: mimpi untuk bisa berlayar ke sebuah pulau privat. Bagaimana tidak, dengan biaya sebesar 20TL para pengunjung bisa menikmati pengalaman berlayar menuju sebuah pulau yang terbilang eksklusif. Hanya orang-orang yang berada dalam kapal saja yang bisa menikmati pulau itu. Apalagi karena tidak ada jadwal keberangkatan lain, alhasil pulau ini bebas dari keramain yang tidak terkendali.



Fasilitas didalam pulau ini juga terbilang lengkap. Ada sebuah kafe dan kios dimana pengunjung bisa menikmati sebongkah es krim, sandwich ikan dan pilihan makanan lain. Selain itu, ada juga seluncuran yang terhubung langsung dengan air laut dimana anak-anak dan dewasa bisa bermain ria. Air laut yang tidak terlalu dalam dan gelombang air yang tidak terlalu kuat membuat pulau ini semakin ramah keluarga dan anak-anak.

Pemerintah Kota Izmir juga menyediakan fasilitas primer seperti tenda tempat berteduh gratis, payung pantai dengan biaya sewa terjangkau 15TL untuk sehari penuh, WC, dan tempat berganti pakaian. Dengan semua fasilitas ini, pengunjung dijamin akan mendapatkan pengalaman liburan yang sangat menyenangkan.

Ayo berkunjung ke Yassica Ada!   




christmas market bukarest 2015


Pernahkah kamu berada di situasi, dimana kamu bertemu dengan seseorang untuk pertama kalinya, namun perasaan yang timbul malah sebaliknya? Kamu merasa seperti sedang bertemu dengan teman lama, dengan orang yang telah kamu kenal seumur hidup-mu. Orang itu menjelma menjadi sesosok manusia yang paling tahu semua rahasia tentang mu hingga terkecil; bukan karena dia membongkarnya tapi karena dia adalah orang kepercayaanmu. Kamu paling nyaman bercertia dengannya tentang semua hal.

Iya, perasaan itu ada dan nyata. Dan aku sering sekali berada disana. Sebagai seorang yang kerap kali berapa didunia baru, aku di paksa untuk berinteraksi dengan semua jenis manusia – mulai dari yang menjengkelkan sampai ke yang paling baik sekalipun – sampai-sampai kamu bertanya dalam hati “apakah ini nyata?”

Jadi dalam tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang orang-orang yang pernah hadir dalam drama kehidupanku, dan menggoreskan tinta emas dalam kanvas memoriku.

1.        Si Cewek Nekad

Waktu di Romania, saya beberapa kali mengunjungi kota Bukarest. Disana saya menginap disalah satu hostel tidak begitu jauh dari gedung parlemen yang terkenal itu. Salah satu alasan saya mengunjungi kota Bukarest adalah untuk mendaftar visa Schengen. Nah, dalam kunjungan saya ketiga (kalau tidak salah) saya kembali menginap di hostel itu dalam rangga pengambilan paspor dari kedutaan Belanda dan melihat hasil pendaftran visa yang telah saya masukkan beberapa hari sebelumnya. Alhamdulillah aplikasi visa saya diterima, dan saya berhasil mengunjungi beberapa kota di Eropa.

Yang mengesankan dari kunjungan saya ke Bukarest kali itu adalah pertemuan saya dengan salah satu cewek lulusan universitas ODTU atau METU Ankara. Ironis memang, sudah di Romania kok masih ketemu orang Turki? Tapi jangan salah, ternyata populasi orang Turki yang berada di Eropa juga tidak sedikit. Terutama di Jerman dan Austria. Jadi kalau ketemu orang Turki lagi selama di Eropa itu bukan hal yang aneh.

Cewek yang kebetulan menginap di hostel yang sama dengan ku bukan salah satu dari mereka. Dia tinggal di Turki dan besar di Turki. Namun, secara karakteristik saya kira dia sangat tidak konvensional. Umumnya keluarga Turki sangat posesif dan proktektif terhadap anak peremupuannya. Namun, cewek yang satu ini malah sudah traveling selama tiga bulan berturut-turut. Dalam rute jalan-jalannya kali ini dia ingin mengunjungi semua Negara Balkan. Dan Romania, ternyata adalah tujuan terakhirnya. Saat saya tanya, “you look so different from other Turkish women I know. It’s very unconventional. What does your family say when you decided to go on the road?” Jawabannya? Sangat simple. Keluarganya mendukung semua keputusannya. Dan bahasa Inggris sangat super. Saat komunikasi kami malah bercakap dalam bahasa Inggris.
Hal yang paling membuat saya terpukau adalah kesamaan hobi kami. Ternyata dia adalah pencinta Sastra, walaupun jurusannya Teknik. Kami menghabiskan waktu berdiskusi masalah Sastra, Politik dan Budaya. Saat itu lah perasaan yang saya deskripsikan diawal timbul. Saya merasa begitu akrab dengan orang yang baru saya kenal kurang dari 24jam. Sore itu kami memutuskan untuk mengunjungi pusat kota Bukarest dan mengikurti tur gratis kota Bukarest dan mengunjungi Christmas market.

Karena waktu itu adalah awal bulan Desember, yang artinya sebentar lagi akan ada perayaan Natal – sebuah pasar Natal pun di bagun ditengah kota Bukarest (tepat disamping Universitas Bukarest). Kami bersama-sama menuju Christmas Market itu, dan bercerita panjang lebar tentang Turki dan gaya hidup traveler. Selain si Cewek nekad ini, ada seorang traveler hebat lainnya berasal dari Korea Selatan (kalau tidak salah). Jadi kami berjalan-jalan sekitaran pusat kota bertiga.

Keesokan harinya mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Brasov, salah satu mutiara Romania. Disana pengunjung bisa menemukan sebuah kastil yang sering dihubung-hubungkan dengan mitos drakula. Karena keesokan harinya saya harus terbang ke Milan, saya pun mengurung niat untuk ikut mereka. Apapun itu, yang jelas si Cewek tangguh ini telah membuat saya “waw”: satu, karena keberaniannya untuk mangarungi jalan sendirian; kedua, karena kesamaan hobi kami; ketiga, karena dia berbeda dari orang Turki umumnya (berbeda yang positif)

++++++

Saya berniat untuk membuat lanjutan tulisan ini. Karena jelas saja sosok yang membuat saya terkagum dalam hidup ini bukan hanya satu orang, tapi banyak! Semoga saya bisa konsisten