Marhaban ya ramadhan…

Alhamdulillah kita diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci ramadhan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Dan juga, semoga semangat kita untuk beribadah diawal bulan ramadhan ini konsisten hingga akhir bulan, bahkan hingga sepanjang tahun. Amin…

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ramadhan yang biasanya bertepatan dengan libur musim panas di Turki, kali ini, ramadhan jatuh pada bulan Mei. Hal ini menyebabkan sedikit kesulitan bagi beberapa mahasiswa. Belum lagi karena ramadhan kali ini bertepatan dengan dimulainya Ujian Akhir Semester. Jadi, mereka harus membagi fokus antara jadwal ibadah khas puasa seperti tarawih, sahur, iftar, tadarus dan lain-lain dengan belajar mempersiapkan diri untuk ujian.  

Dalam hal bersamaan, ramadhan kali ini, sama seperti ramadhan sebelumnya, juga bertepatan dengan waktu musim panas.  Hal ini menyebabkan waktu siang akan lebih lama dari waktu malam. Sehingga umat Islam di Turki akan berpuasa lebih dari 17 jam. Imsak pada jam 03.57 dan iftar pada jam 20.33. Rintangan lain adalah cuaca musim panas yang sangat ekstrim. Untuk saat ini tempratur cuara sampai 30 derajat selsius.

Namun semoga saja ini tidak mengurangi keinginan kita untuk beribadah dengan khusuk.

Dan mengingat, kemungkinan besar ramadhan kali ini adalah ramadhan terakhir saya di Turki, saya tidak terlalu protes dengan rintangan-rintangan di atas. Saya ingin menikmati semua keindahan yang tersebar didalamnya. Antrian sahur di asrama dan menu sahur yang tidak akan pernah cukup untuk perut Indonesiaku. Dan lain-lain.

Sedihnya, ramadhan di Turki kali ini sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Biasanya, setiap masuk bulan ramadhan saya akan berkumpul dengan Emen dan teman-teman yang lain, tinggal disatu rumah selama ramadhan. Sepertinya tahun kali ini tidak akan bisa direalisasikan.
Anyway, selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Dan bisa kembali fitrah saat idul fitri nanti J J







Beberapa minggu ini saya sering sekali membahas tentang wisuda dan perbandingan seremoni wisuda antara universitas-universitas di Indonesia dan di Turki. Dan Alhamdulillah, kemarin tanggal 24 Mei 2017, jam 19.30 – 22.30 waktu Turki, kami mahasiswa dari fakultas Fen Edebiyati (the Faculty of Letters) Universitas Celal Bayar Manisa, telah diwisuda.

Ada perasaan campur aduk yang bergulat didalam benak saya kala itu. Pertama adalah ketidakhadiran orangtua. Sebenarnya sejak pertama kali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri saya sadar bahwa orangtua saya tidak akan bisa hadir dalam acara wisuda saya. Namun mengingat ibu saya sering sekali ikut rombongan keluarga besar berbondon-bondon ke kota besar seperti Banda Aceh, saat ada anggota keluarga mereka yang diwisuda, saya tidak bisa menahan untuk bercengeng ria. Saya pikir: ibu saya nekad melihat anak saudaranya wisuda. Namun, saat anaknya sendiri diwisuda mereka tidak mampu hadir karena jarak dan kondisi keuangan. Mereka tidak bisa berdandan rapih dan duduk diatas kursi gedung wisuda yang telah direservasi khusus utuk mereka. Mereka tidak bisa menyaksikan dengan bangga bahwa anaknya masuk dalam kategori lulusan terbaik dijurusannya. Semua ini sungguh membuat dada sesak.

Namun, saya sadar bahwa kehadiran fisik bukanlah segalanya. Saya dapat merasakan spirit mereka hadir dalam hari bahagiaku itu. Saya dapat membayangkan kebahagia dan keharuan terlukis diwajah mereka. Dan itu lebih penting dari segalanya. Melalui telepon ku sampaikan semua detail resepsi acara wisuda hari itu dan mendengar nada kebahagian hadir dari suara syahdu mereka, cukup mengobati segala kekurangan dari hari penting ini.

Dan hari itu mengajarkanku satu hal! Keluarga kandung adalah mutlak. Namun, selain keluarga kandung, ada keluarga lain yang mensubtitusi keabsenan keluarga inti. Bagiku pribadi, mereka adalah PPI Adana dan PPI Izmir. Selama kehidupan saya di Turki, kedua keluarga ini yang telah mensubtitusi keabsenan keluarga inti. Mereka memberikan selimut kehangatan, ketika selimut itu mulai dingin saat berpisah jauh dari keluarga inti.

Satu tahun pertamaku di Turki kuhabiskan di kotaAdana, dimana segalanya terasa buram, dan PPI Adana lah, yang merangkulku ditengah ketakutan, masa-masa kelam, dan masa-masa tersulitku selama di Turki kala itu. Terimakasih untuk pak Muhammad Nasir Rofiq, bang Salahuddin Al-Ayubi, mas Adi Surya, Alvi, Gunawan, Regi dan Andria bi, Syauqi, Dirga, Tri, Nurul, dan Latifah yang telah menjadi keluarga pertamaku di Turki.

Namun selanjutnya saya pindah ke kota Manisa, kota kecil yang bahkan hampir tidak ada orang Indonesia sama sekali. Untunglah kota Izmir tidak begitu jauh dari Manisa. Dalam masa-masa yang juga sama sulitnya seperti ketika di Adana, Allah mengenalkanku dengan teman-teman di PPI Izmir. Mereka dengan instan menjadi keluarga bagiku. Ketika berkumpul bersama mereka aku bisa melupakan sejenak kemelaratan hidupku (mungkin ini adalah sebuah hiperbola mengingat ada banyak orang yang lebih nelangsa dariku seperti korban perang dll). Mereka memberikanku kembali rasa yang semakin hari semakin menghilang dari lidahku. Dalam waktu 4 tahun terakhir, kami berkumpul untuk sekedar merasakan kembali kehangatan keluarga. Namun lebih dari itu, terkadang kami juga tinggal bersama selama musim panas – masa-masa yang tidak akan pernah aku lupakan. Terimakasih teman-teman PPI Izmir. Emencim! Gua nggak akan lupa hari itu, saat lu ngasih gaji lu sebagai translator ke gua karena lu prihatin dengan kondisi gua yang datang ke Izmir untuk kerja seharian dengan gaji hanya 50TL. Dan waktu itu gua lagi sakit gigi. Kata dokter gigi harus di operasi kanal dan gua nolak karena gak punya uang atapun asuransi. Dan lu dengan perhatiannya ngasih uang itu. Makasih men. I know you will be always a dear friend to me. Juga mas Maulana dan mas Iqbal, yang sudah sudi nampung saya setiap kali musim panas tiba. Terimakasih banyak untuk teman-teman PPI Izmir lainnya yang sudah menjadi bagian hidup saya. Kalian akan selalu menjadi bagian hidupku. 

(Hatice, Prof. Anthony Patterson, Yagmur, Adhari, Gizem, Rukiye, Lemesa Chitata)
Dan makna keluarga ini terbukti dihari terpenting kehidupan S1 saya kemarin. Dihari dimana kehadiran keluarga sangat krusial secara batin, mereka hadir mengisi kotak kosong itu. Dan ini membuktikan bahwa keluarga ada dimana-mana. Terimakasih kepada Alvi, pak Agustin, mba Lyla, mba Erna, dan Akbar yang telah rela untuk hadir kemarin. Saya sadar lokasi kampus saya memang agak terpencil dan yang membuat segalanya lebih runyam, acara wisudanya mulai jam 19:30. Tapi despite all of that, kalian hadir dan aku sangat mengapresiasi itu.

*******
Detail Acara Wisuda:




Sejak bangun untuk shalat subuh, saya merasakan antusiame yang sangat tinggi. Dan kebiasaan saya, ketika kadar antusiasme terlalu tinggi, saya tidak bisa tidur. Ini kerap terjadi ketika saya akan melakukan perjalanan jauh, ketika akan presentasi dll. Hal serupa terjadi padi hari kemarin, hari wisuda saya. Biasanya, pada saat bangun shalat subuh saya masih mengantuk. Tapi kemarin, saya melek dengan seketika.

Saya mulai gusar dan gak sabaran, seolah saat itu tidak pernah datang. Jam 8 pagi dan saya pikir, ah… masih 11 jam lagi. Ide buruk! Jangan pernah menghitung waktu. Ini hanya akan memperlama segala hal untuk kenyataan. Walaupun sebenarnya tidak selama yang kita pikirkan. Antusiasme dan kegugupan membuat segalanya menjadi tidak terkendari.

Untuk memanipulasi emosi saya, saya pikir mending saya menyibukkan diri dengan menonton film yang ditugaskan oleh dosen untuk topik ujian hari selasa nanti. Tidak berhasil. Saya masih saja terlalu antusias dan tidak sabaran. Namun ternyata waktu belalu juga. Just because you are nervous doesn’t mean time will stop!

Jam 17:20, teman-teman dari Izmir mengabarkan bahwa mereka akan sampai sebentar lagi. Barulah saya bersiap-siap untuk berpakaian rapih, jas warna biru navi dan sepatu cokelat senada dengan warna ikat pinggang. Tidak lupa kemaja putih dan dasi berwarna campuran biru dan unggu bertengger rapih di leher saya. Ternyata mereka sampai, sebelum saya siap. “kenapa saya tidak siap-siap dari jam 17:00 saja. Biar pas mereka sampai, bisa langsung duduk dan ngobrol atau foto-foto.” Tapi saya pikir, acaranya baru mulai jam 19:30 kenapa saya harus siap-siap terlalu awal. Pelajaran! Everything can go wrong!

Rapih dan siap saya pun keluar asrama. Pak Agustin dan teman-teman sudah menunggu dibanggu didepan asrama. Kami salaman dan foto-foto. Saya minta tunggu teman-teman kamar saya (Ali Tolu dan Melih Kaya) yang kebetulan juga lulus hari itu untuk datang sebenar dan berfoto. Setelahnya kami makan dan shalat ashar. Barulah kami menuju lapangan olahraga, tempat acara wisuda berlangsung. Segalanya berjalan begitu cepat! Kami tidak sempat befoto-foto. Satu-satunya foto kami bersama hanya didepan asrama. Satu hal yang saya sesali!

Berbeda dengan perasaan saya dipagi hari dimana waktu rasanya macet, disaat acara jam rasanya berputar terlalu cepat. Tiba-tiba kami disuruh berbaris untuk berjalan didepan hadirin wisuda. Kemudian pidato sambutan dari rektor. Pidato dari juara umum sefakultas. Kemudian pembagian piagam kepada 3 mahasiwa dengan IPK tertinggi sefakultas dan sejurusan. Kemudian setiap nama mahasiswa yang lulus di panggil satu persatu dari setiap jurusan. Kemudian selesai. Sebenarnya acaranya lumayan panjang, apalagi bagi hadirin. Tapi bagi saya, malam terlalu cepat datang hari itu. Coba masih terik kan bisa foto-foto dengan pak Agustin dan teman-teman.

Dan begitulah acara wisuda kami disini. Salam class of 2017! Semoga kita semua berhasil didunia kerja ataupun bagi yang melajutkan pendidikan S2, sukses dengan pendidikan selanjutnya. Bagi teman-teman yang masih berusaha untuk lulus, semoga cepat lulus dan bisa melanjutkan cita-cita lainnya.


NB: foto bareng temen-temen PPI Izmir belum di kirim. Dimasukin nanti deh.
courtesy of Clipart Library

 Selain gelar, orang-orang Indonesia juga terobsesi dengan status kelulusan. Menurut yang saya pahami, di Indonesia ada konsep “cum laude” yang secara general berarti lulus dengan nilai rata-rata yang sangat memuasakan. Dan ternyata ada level-level kelulusan lho dan itu lebih dari sekedar “cum laude” yang kita ketahui. Berikut adalah tingkat kelulusan dan gelar-gelar kehormatan yang disematkan menurut http://www.ican-education.com :

3.80 dan 3.80 keatas: Summa Cum Laude
3.60 s/d 3.79: Magna Cum Laude
3.40 s/d 3.59: Cum Laude
3.20 s/d 3.39: High Merit
3.00 s/d 3.19: Merit

Nah, bagaimana dengan sistem pendidikan di Turki? Apakah ada gelar kehormatan khusus bagi lulusan terbaik?

Sepengetahuan saya, di universitas negeri di Turki tidak ada gelar kehormatan seperti “cum laude” di Indonesia atau “valedictorian” di Amerika. Namun, penghargaan secara simbolik hanya diberikan kepada 3 mahasiswa dengan nilai terbaik di jurusan: Okul Birincisi, Okul ikincisi, Okul uncusu. Dan konsep seperti “cum laude” atau “valedictorian” tidak diasosiasikan dengan keberhasilan mereka secara akademis.

Lalu apakah keberhasilan mereka di muat didalam ijazah?

Untuk hal ini saya masih belum tahu. Yang jelas, ketiga mahasiswa terbaik di jurusan akan mendapatkan piagam simbolik yang menyatakan bahwa mereka sangat berhasil secara akademis. Selain itu, mereka juga akan diberikan bingkisan dari kampus.

 

Sumber:
http://www.ican-education.com/articles/view/pengertian_cum_laude_magna_cum_laude_dan_summa_cum_laude



courtesy of okezone.com

Dalam spirit kelulusan, ada baiknya kita membahas tentang “gelar,” khususnya karena gelar adalah salah satu obsesi orang-orang Indonesia.  

Sering kali saya ditanya “nanti pas lulus gelar kamu apa?” Jujur, sebelumnya saya tidak pernah memikirkan tentang hal ini. Namun karena ditanya terus, akhirnya saya pun ikut bertanya-tanya.

Jadi apa sih gelar para lulusan universitas di Turki? Apakah pendidikan di Turki memiliki sistem khusus atau hanya mengikuti standar internasional?

Penasaran, akhirnya saya pun bertanya ke teman-teman saya di kampus. Jawaban mereka sangat menarik yaitu “apa……………?” atau “Hah…….?” Seolah mereka tidak mengerti dengan konsep “gelar” itu sendiri.

Selanjutnya saya berpikir, apa Indonesia doang ya yang sangat terobsesi dengan gelar? Nyatanya, hanya orang Indonesia saja yang memuat gelar di samping nama sampai berantakan begitu. Dinegara lain, jarang sekali gelar dipamerkan disamping nama. Kalaupun ada cuma para akademisi, itu pun karena permintaan Universitas.

Setelah saya lihat-lihat, gelar para akademisi di Turki bukan berdasarkan tingkatan pendidikan yang telah mereka selesaikan. Namun lebih ketingkat jabatan mereka sebagai akademisi di kampus. Urutan jabatan dikampus adalah sebagai berikut:
Assistant Research / Okutman (Lecturer) / Docent – Assistant Professor – Associate Professor – Professor

Untuk asisten riset biasanya adalah lulusan S2 dan S3 dan tugas mereka adalah membantu para mahasiswa S1 atau S2 yang sedang menyiapkan tugas akhir mereka. Sesekali, mereka juga mengisi kelas ketika dosen berhalangan. Status asisten riset adalah pegawai negeri. Untuk naik jabatan ketahap berikutnya yaitu Assistant Professor, mereka harus menyelesaikan S3 dan mengikuti ujian kenaikanan jabatan. Selain itu memperbanyak publikasi artikel dan lain-lain juga sangat penting. Begitulah kira-kira peroses menjadi akademisi di Turki.

Untuk guru SMA, sepengetahuan saya tidak memiliki gelar khusus. Karena strata guru SMA di Turki hampir sama semua. Tapi mungkin saja saya salah.  Yang membedakan hanya guru dan kepala sekolah. Mungkin saja dalam hal gaji, sama halnya seperti di Indonesia, tingginya jenjang pendidikan menentukan gaji yang didapat. Tapi lebih dari itu, tidak ada hal-hal khusus. 

Di Turki untuk mereka yang berprofesi diluar dunia akademisi, gelar tidak pernah menjadi perbincangan. Yang mengetahui jenjang pendidikan terakhir seseorang, hanya pihak HRD. Itu pun karena mereka yang bertugas me-review CV si calon pekerja tersebut. Nah, akhirnya kita sampai ke titik perbincangan. CV lah yang menunjukkan jenjang pendidikan kita. Bukan gelar yang kita sematkan dinaman.

Kembali lagi, lalu untuk lulusan S1 seperti saya, gelar saya apa?

Jawabannya, di Turki gelar S1 tidak pernah disematkan dinama, Bahkan gelar S2. Palingan cuma mereka yang telah berhasil menyelesaikan P.hd saja yang menyematkannya dinama, itu pun sangat jarang dan hanya berlaku di lingkungan akademisi aka kampus. Tapi kalau maksa, “Kan di Indonesia gelar adalah segalanya!” atau “Aku harus punya gelar!”

Ya sudah, kita bisa mengikuti standar internasional. Yaitu B.A atau Bachelor of Arts untuk mereka yang lulus dari jurusan Sosial dan Humaniora dan B.Sc atau Bachelor of Science untuk mereka yang lulus dari jurusan Science.    

Maaf mengecewakan. Tidak aja gelar khusus seperti Lc untuk lulusan Mesir, yang juga sebenarnya berasalah dari kata License yang berarti S1. Dalam bahasa Turki S1 adalah Lisans. Meskipun mirip, lulusan S1 Turki tidak akan mendapat gelar Lc!