Beberapa hari yang lalu aku di ajak oleh seorang bapak berlebaran dirumahnya disebuah pedesaan di daerah Akdenis, Turkey atau pantai laut tengah bahasa Indonesianya. Nama desa tersebut desa Aidenler. Kebetulan dia adalah seorang pengusaha di bisang agrari bisnis.
Perjalanan menuju kesana tak terlalu lama, sekitar satu jam. Disepanjang perjalanan aku disuguhi pemandangan ladang-ladang petani. Tapi tenang, aku tak lagi melihat desa Edensor yang indah seperti yang ada dalam cerita Andrea Hirata kok. Hehehe
Aku terengah ketika melihat sistem pertanian di Negara ini. Sungguh sangat ironis jika di bandingkan dengan system pertanian di Indonesia. Disini sistem pertanian sudah sangat baik. Tak lagi memporsir tenaga manusia habis-habisan.
Semua ladang baik itu ladang kacang, tomat, atau apapun itu dikerjakan dengan mesin dan itu tak memakan waktu yang lama. Juga sistem pengairannya. Mungkin bagi yang pernah tinggal dipedesaan pasti tahu bagaimana sulitnya bertani. Terlebih jika berbicara tentang air yang berfungsi sebagai penyiram atau pemupuk.
Beberapa tempat perkebunan yang kebetulan berada di lembah gunung atau berada diantara sungai dan bukit seperti di  dataran tinggi Gayo, daerah yang berada disalah satu kota di Aceh, Indonesia, pasti bisa merasakan bagaimana sulitnya bertani. Mengangkut air dari sungai untuk menyiram tanaman adalah hal biasa yang bisa di lihat di daerah ini.
Namun dinegara yang sebagian kecil daerahnya berada didaratan eropa ini, system pengairan sudah tak perlu menjadi hal yang diributkan lagi karena disini sudah ditata dengan sangat baik. Setiap ladang telah tersedia alat yang berfungsi sebagai tempat mengalirnya air. Alatnya itu seperti pipa besar yang tak sempurna (setengah lingkaran) tapi dalam bentuk aluminium. Disitulah air akan dialirkan. Tanpa perlu mengangkut-angkut, air akan mengalir dengan baik.
Ada satu lagi yang mencengangkan yaitu menyiram. Kalau di Indonesia kita masih menyiram dengan ember, kalaupun ada penyiram maka kita masih menggunakan penyiram yang manual. Tapi disini petani tak perlu banting tulang hanya untuk menyiram setiap pagi dan sore hari. Mereka telah menyediakan selang yang hanya perlu di hidupkan setiap kali akan menyiram. Setelahnya mereka bisa duduk tenang sambil menyeruput cay (teh dalam bahasa turki).

Sedangkan di Indonesia ? setelah mengankut air dengan nafas yang terengah-engah eh para petani masih di tunggu oleh tugas menyiram. Dan itu sungguh tidak manusiawi. Mungkin kita bisa memberi alasan bahwa pekerjaan seperti yang kita lakukan diindonesia itu bisa menunjukkan bahwa kita bukanlah bangsa yang pemalas. Namun permasalahnnya adalah ketika ada satu hal yang bisa meringankan beban pekerjaan kita, kenapa tidak ? kenapa kita harus memporsir tenaga yang seharusnya bisa kita simpan untuk melakukan pekerjaan yang lain. 
Ketika sampai di perkampungan si bapak aku lebih tercengang lagi ketika melihat hampir setiap rumah warga yang mayoritas petani memiliki traktor yang beraneka rupa. Melihat aku tercengang si bapak langsung bertanya :
“Indonesia’da traktor var mı ?” (Apakah di Indonesia ada traktor)
Dengan bahasa turki yang sangat kacau akupun mencoba menjawab:
Ada, tapi cuma perusahaan tertentu saja yang ada dan kalaupun petani punya, itupun hanya petani yang sangat kaya.
Bisa dibilang bahwa system pertanian yang ada dinegara ini telah mengikuti system pertanian yang ada di Eropa. Ketika mengintip merk alat pertaniannya aku bisa melihat tulisan “made in Holland” disana. Dan kalau kita masih ingat, Negara yang satu itu adalah Negara yang pernah menjajah Indonesia.
Satu hal yang sangat menginspirasiku disini, yaitu ketika berbicara tentang keuntungan yang diperoleh. Tentu sistem yang dipakai dinegara ini lebih menguntungkan dari segi waktu ataupun hasil panen yang akan diperoleh.
Sedangkan di Indonesia terutama di Gayo aku telah mengalami sendiri bagaiman hasil panen kebun kopi yang kami miliki yang hasilnya hanya bisa untuk menopang kehidupan untuk (tak sanggup setahun) dan selebihnya para petani berhutang kepada si Agen kopi.
Belum lagi berbicara tentang harga di Indonesia, di Gayo khususnya aku bisa merasakan bagaiman nasib para petani yang kebetulan bercocok tanam bersamaan. Ketika musim panen tiba dan hasil panen berlimpah ruah, bukannya si petani meraup untung malah rugi karena harga yang tiba-tiba morosot turun. Hasil yang didapat tak sesuai dengan modal dikeluarkan. Kalau berbicara tentang kualitas cabe ataupun hasil panen cocok tanam lainnya yang ada didaerah ini boleh adu. Terutama kopinya.
Namun miris, kualitas tak didukung oleh harga. Seberapa baguspun kualitas kopi, cabe dan hasil tani lainnya. Para petani tetaplah petani. Tak banyak yang bisa naik kasta. Satu-satunya hal yang bisa petani harapkan hanyalah bisa menyambung hidup dan meyekolahkan anak agar bisa menaikkan kasta.


ADHARI
Anak Seorang Petani dari Gayo, Indonesia


Kemarin tanggal 2 oktober pagi, tak terasa pada malam harinya ternyata ada pesan masuk di HP  yang tak sempat terbaca olehku. Mungkin badan kecilku terlalu lelah menjajali jalanan kota tempat tinggal baruku ini.
Pesan ini disampaikan oleh PPI sedunia, besok diharapkan semua anggota Mahasiswa Adana, Turki memakai Batik ………..” begitu isi pesannya.
Pertranyaanpun mulai memenuhi isi memoriku. Apakah gerangan yang mengharuskan hari ini memakai batik ? tanyaku dalam hati. Kucoba mencawab sebisaku. Berbagai alasan-alasan yang tak masuk akal pun keluar dalam pikiranku.
Apakah mungkin hari ini batik sedang masuk World Record sebagai karya terindah. Atau mungkin hari ini batik sedang dikontrak sama designer ternama dari dunia barat sehingga patut untuk dirayakan. Semua pertanyaan itupun sempat nongkrong dibenakku.

Hingga akhirnya siang harinya ketika saya pergi ke kampus untuk beberapa urusan setelahnya mampir kesalah satu orang Indonesia yang telah kami anggap sebagai orang tua kami.
Lalu iapun menanyai saya dengan pertanyaan : “Mana batik kamu”
“emang hari ini hari apa sih pak” tanyaku penasaran.
“Hari ini hari batik nasional semua warga Indonesia yang diluar negeri makai batik hari ini” jawabnya lengkap. “Punya kamu mana kok nggak di pakai. Kalau ngga ada ini ada punya saya. Pakai aja” timpalnya.
“Ada ko pak ini dalam tas” jawabku diselah oh-ohan ku tanda ku mengerti.
Beginilah adanya setiap anak negeri yang melanglang buana. Rasa nasionalismenya bangkit melalui semua hal yang berbau Negara. Ntah itu dalam bidang seni, pendidikan bahkan hal yang terburuk sekalipun. Didalam benak mereka Indonesia tetap Mother Land bagi mereka. Merka mencoba untuk menngenalkan semua budaya Indonesia termasuk yang satu ini, Batik. Meskipun banyak orang yang tahu Indonesia dari hal yang buruknya. Tapi kami mecoba untuk menghilangkan pandangan buruk itu.
Kadang kala disela-sela kehidupan sehari-hari ada warga lokal yang penasan tentang asal usul manusia aneh yang notabene berbadan lebih kecil dari mereka. Merekapun kerap kali memberikan pertanyaan bak repoter berita.
“Asal kamu dari mana ?” itulah kata yang tak pernah absen ditanya oleh seseorang yang baru kenal setelah nama dan bla, bla, bla.
Mungkin dibeberapa Negara Muslim nama Indonesia tak lagi sulit untuk dijelaskan ini itu. Pertanyaan yang mengesalkan seperti “Negara dibagian mana ya ?” atau “itu masuk benua mana, Afrika ya ?” pertanyaan itu sudah tak terlalu sering kami dengar disini. Namun penderitaan kami belum berakhir, ada  respon yang paling ampuh membuat kuping panas atau bahkan berasap seperti yang ada di film-film cartoon ketika mengatakan Negara yang kita sangat cintai itu, Indonesia.
“Kamu di Indonesia di daerah mana, Indonesia, Negara yang Populasinya paling banyak di dunia
kan ?” kami hanya senyam senyum ketika mendapat respon itu.
ada yang lebih parah lagi. Ketika saya mejawab bahwa saya dari Aceh. “Aceh ? itu yang kena gempa dan Tsunami dulu kan ?” respon balik mereka. Terkadang pertanyaan tentang Negara menjadi Phobia tersendiri bagi masayarakat Indonesia yang merantau keluar negeri.
Tak sepenuhnya begitu. Ada juga yang tahu Indonesia karena Bali. Kita patut berbangga dengan pulau yang satu itu. Kesuksesannya dibidang pariwisata patut diacungkan jempol. Ia mampu mebuat image yang lebih baik tentang Indonesia, setidaknya di mata para pelancoong atau para tourist yang haus akan pantai dan panas matahari,
“Bali bagus ya !” katanya tanpa ditanya.
Ada perasaan yang ntah bagaiman mengungkapkanya, atau mengatakannya, ada secuil keinginan untuk hal yang sepele tapi cukup membuat geram itu. Ada keinginan atau kerinduan akan adanya sebuah prestasi dari sebuah bangsa yang dapat dibanggakan ntah itu dibidang olahraga seperti bulu tangkis, pada masa Susi Susanti atau dari segi Negara mungkin, Indonesia bisa dapat julukan lagi seperti dulu sebagai Negara Pangan, pada masa pak Suharto. Ntahlah, itu hanya secercah harapan.
Wah lupa, ada satu hal dari bidang karya yang dapat membuat kita bisa sedikit tersenyum lebar dinegara satu ini, Turki. Ada salah satu karya anak bangsa yang buming disini. Mereka menyebut judulnya “Ayat-Ayat Jinta” yang di Indonesia sebenarnya adalah “Ayat-Ayat Cinta” karya novelis ternama di Indonesia dengan novel-novelnya yang bebau Islam., Habiburahman Al . Novel tersebut disini tersedia dalam terjemahan.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak Habib. Karena  memperkenalkan Indonesia dengan kelihaian jemari tangannya untuk menulis. Juga sutradara film tersebut. Karena disini juga mereka tahu tentang keberadaan film itu.

Selamat Hari Batik Nasional !!!!
Mari lestarikan budaya Indonesia jangan sampai di Claim oleh Negara tetangga lagi!
Miss you Indoensia.
Disela-sela kerinduanku terhadap semua yang ada di Indonesia. Nasi Goreng. Sambel Pedas. Ikan. Bakso. Mie Ayam. Pecal. Sayur-mayur. Rendang. Dan murahnya hidup di Indonesia. Ternyata kita salah juga ya! Demo pas harga naik. Disini yang semua harga mahal saja mereka biasa saja. Yang penting Negara maju. Daripada harga murah karena disubsidi, terus rencana mau buat Indonesia maju terbengkalai karena dananya udah dipakai buat subsidi ini itu.  Mending mana coba ??  hehehe… maaf  ya kalau salah.. ini Cuma pemikiran sekilas saya aja kok !! :D



Austria, sebuah Negara yang terletak di benua Eropa. Disanalah seorang perempuan yang bernama Hanum, begitu ia di sapa, berhijrah untuk tiga tahun lamanya menemani sang suami yang sedang melanjutkan study S3.

Mempelajari bahasa adalah salah satu jalan yang harus ditempuh oleh Hanum untuk bisa bersosialisai di Negara tersebut. Niat awal hanya untuk menghilangkan kebosanan (karena ia tidak bekerja dan hanya tinggal di apartemen menunggu sang suami,) namun tuhan mempertemukannya dengan Fatma, seorang imigran Turki. Ia telihat begitu berbeda dengan orang-orang yang ada di Negara itu. Satu hal yang membuatnya berbeda ialah penutup kepala yang ia kenakan. 

Awal perkenalannya sangat unique. Hanum yang saat itu sedang makan cokelat mecoba untuk menyodorkan ke Fatma namun Fatma menolak secara halus karena ia sedang berpuasa sunah. Mendengar Hanum bisa menebak (red: mengetahui) ibadah yang ia lakukan, iapun “menanyak apakah kamu muslim?” Itulah awal pertemuan yang menciptakan seluruh isi cerita didalam novel ini.

Hari berganti, Hanum dan Fatma semakin akrab. Banyak pelajaran yang Hanum petik dari keramahan hati dan keseharian Fatma. Terutama menjadi seorang muslimah yang manjadi minoritas di Negara Atheis. Setiap kali melakukan sesuatu, moto yang di pegang erat oleh Fatma ialah “menjadi agen muslim di Eropa,” sehingga ia pun menjadi sangat hati-hati dalam bertindak. Karena image islam tergantung padanya. Kalau ia melakukan kebaikan makan image islam akan telihat baik namun sebaliknya kalu ia memilih membalas kekerasan dengan kekerasan artinya semua stereotype tentang Islam (T) itu benar adanya.  

Satu hal menarik yang dilakukan oleh tokoh Fatma dalam novel ini yaitu perlakuannya terhadap turis asal Amerika yang jelas-jelas telah melukai hatinya melalui roti cruisant.
“kalau kamu mau menghina orang Muslim atau Turki begini caranya, kata seorang tourist ketika hendak melahap roti cruisant. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat (terlepas dari benar atau tidak) roti cruisant adalah simbul kekalahan Turki atau tentara muslim yang sedang berinvansi ke Eropa Barat, Austria. 

Ceritanya semakin dramatis ketika ternyata Fatma adalah keturunan Kara Mustafa Pasha, salah satu tokoh muslim terpenting dalam usaha penaklukan Austria. Lukisan wajahnya ada di salah satu museum di Viena. Penggambaran tentang sosoknya didalam lukisan itu sangat menyedihkan, seolah-olah sang pelukis ingin menyampaikan suatu pesan “kamu adalah pengecut.” 

Hal itu diketahui Hanum ketika mereka bersama-sama mengunjungi museum itu. Fatma yang menangis secara tiba-tiba menyimpan tanda tanya dibenak Hamum. Akhirnya Fatma menceritakan bahwa orang yang ada dalam lukisan itu adalah tokoh yang telah mencoreng sejarah islam dan dia adalah kakek buyutnya. “Ayo kita keluar dari tempat ini! Biarkan Kara Mustafa menikmati apa yang telah ia lakukan,” ucap Fatma penuh emosional.

Keberadaan tokoh Fatma didalam novel ini juga adalah sebagai contrast atas jalan yang dipilih oleh Kara Mustafa Pasha. Menurut Fatma “otot” bukanlah cara yang tepat untuk menyebarkan islam. Cara yang terbaik ia dengan menunjukkan perbuatan baik.

Ini terbukti ketika ia lebih memilih untuk membayarkan makanan si bule Amerika ketimbang melabraknya. Padahal Hanum sudah siap dengan kata-kata dikepalanya untuk melabrak di bule itu. Fatma juga tak lupa menuliskan alamat emailnya disana. Tak berapa lama dari kejadian itu sibule ternyata meng-emailnya dan menyatakan betapa senangnya ia  memiliki teman muslim.

Sejatinya seseorang yang di hina agamanya juga negaranya tentu akan marah besar, kecuali orang tersebut bukan orang Nasionalis atau bukan yang agamis (Islam KTP.) Namun, kedua hal itu bukanlah alasan yang benar dalam kasus Fatma ini. Satu hal yang menjadi alasan Fatma ketika memutuskan untuk melakukan tindakan itu, yaitu “Kita harus menjadi duta islam yang baik di Negara Eropa,” ucapnya dengan tulus. Dengan kata lain Fatma ingin menunjukkan bahwa islam itu bukanlah agama yang keras seperti layaknya islam tercitra saat ini. Ingin membunuh stereotype buruk tentang Islam di mata barat.

Banyak hal menarik dalam Novel ini, bagi anda penyuka sejarah dan petualangan novel ini sangat tepat untuk dibaca. Terutama yang suka mengaitkan sesuatu dengan Islam. Contohnya apa alasan Napoleon Bonaparte untuk membuat bangunan di Paris yang sangat simetris dan adanaya spekulasi bahwa arahnya lurus ke Timur yaitu ke Mekkah. Ada juga yang katanya si Napoleon di prediksi telah memeluk Islam sekembalinya dari Mesir, yang juga menjadi inspirasi dalam membuat bangunan-bangunan yang simetris itu. 

Hal lainnya adalah lukisan bunda maria di Musem di Paris yang katanya terdapat kaligrafi Laa Illa ha Illa Allah disisi kerudungnya. Ini menunjukkan bahwa muslim pernah menjadi trend di masa lalu. Sama seperti demam K-pop di tanah air. Kemajuan Islam pun pernah membuat deman seantero dunia termasuk Eropa. Ini juga dibuktikan oleh lukisan salah satu raja di museum di Austria yang juga terdapat tulisan arab, bahkan isi tulisannya adalah Syahadah.

Pemaparan sejarah dengan cara seperti ini sangatlah baik bagi image sejarah itu sendiri. Ini membangkitkan kembali keinginan untuk mengulas sejarah. Kalau di Indonesia sejarah adalah hal yang paling akrab dengan kata “bosan,” disini Hanum mengemas sejarah menjadi hal yang sangat menarik untuk diketahui. Terlepas dari benar tau tidaknya sejarah yang ia ceritakan toh ini hanyalah buku fiktif. Jadi angap saja buku ini sebagai motifasi keislaman kita terutama bagi mereka yang sedang hidup di Eropa. Harus bersitegang dengan keyakinan dalam diri. Apalagi ketika berurusan dengan masalah ibadah dan dalam waktu bersamaan harus mengejar pelajaran atau pekerjaan, dilemma.

Terlepas dari semua itu, ucapan selamat dan jempol layak disematkan untuk novel ini, walaupun ada berberapa hal yang mengganggu ketika hendak membaca buku ini, yaitu adanya beberapa kesalahan dalam pengetikan dan pilihan sisi paragraph yang acak (sisi sudutnya) sedikit mengganggu. Alangkah indahnya kalau itu dibuat (dipilih) simetri mungkin bisa membuat pembaca lebih enjoy untuk menikmati buku ini.

Lain lagi dengan sederetan testimony atau endorsement yang terpampang di cover novel ini, terlihat jelas bahwa penulis sangat menggunakan keberadaannya sebagai anak petinggi, yang memiliki banyak teman orang-orang ternama. Sehingga sempat terpikir di benak saya “Enak ya, jadi anak orang besar. Kalau butuh testimony tinggal minta saja.” (upss.. itu hanya pemikiran kotor yang ada dalam benak saya) hehehe :D

Selebihnya novel ini adalah novel bagus yang layak and dibaca. Good luck !!! (y)


Adhari
Mahasiswa Sastra Inggris (SI) di Turki



NB:
(1) Saya telah menulis resensi novel ini di tahun 2012. (2) Alasan saya merevisi tulisan ini  karena baru-baru ini saya menambah gadget di blog saya, yang menujukkan tulisan apa yg pembaca buka. Dan yang muncul adalah tulisan ini. Ketika membaca kembali tulisan ini saya jadi tertawa sendiri. Tulisannya masih seperti tulisan anak kecil. (3) Saya tahu blog ini minim pengunjung. Ketika ada yang mungunjungi saya ingin memberikan kesan baik untuk mereka. (4) Dengan mengunjungi blog ini saya merasa telah disetrum energi positif untuk lebih giat menulis lagi (5) Trimakasih telah mengunjungi blog ini, trimakasih setruman positifnya dan mohon komentarnya agar saya bisa menulis lebih baik lagi


Semua Butuh Proses, begitulah kata-kata yang selalu mengaung di telingaku ketika hati kecilku bertanya mengapa ? mengapa? Mengapa ?

Sudah sebulan lamanya kami menyangkar di JABODETABEK. Entah berapa kota yang telah kami lalui, entah berapa duit yang telah kami keluarkan. Entah mengapa ini semua harus terjadi ? itulah pertanmyaan yang kerap menghantui kami.
Upss…
Saya belum memperkenalakan siapa itu kami..
Ceritanya berawal saat 3 bulan yang lalu saat kami akan lulus dari bangku SMA, dengan sangat bahagia kami menerima informasi bahwa ada Beasiswa ke luar negeri. Tanpa pikir panjang saya dan beberapa teman saya mendaftarkan diri untuk mengikuti kesempatan emas ini. Dari 60 siswa yang mendaftar hanya 6 orang yang diterima. Dengan sangat gembira saya berada dalam 6 orang tersebut.
Setelah terpilih sebagai perwakilan sekolah kini saatnya kami mengikuti segala proses yang telah menjadi program si pemberi beasiswa. Belajar bahasa. Ya, itulah hal pertama yang menjadi agenda wjib dalam program mereka.
Kami mengikuti program belajar bahasa, meskipun kepastian untuk mendapat beasiswa belum kami kantongi. 2 bulan lamanya kami telah belajar bahasa. Itupun hanya sehari dalam seminggu. Bahasa sehari-hari Negara yang menjadi tujuan kami untuk kuliahpun telah ada di tangan kami. Meskipun hanya secuil. 
“Melakukan sesuatu tanpa kepastian itu sia-sia” kata-kata itu kerap menyurutkan niat kami untuk melanjutkan program ini. Namun keinginan kami ternyata lebih kuat daripada hantu yang menggonggongi niat baik kami.
Ujian Nasiaonal telah berlalu, pengumuman kelulusan telah terpampang. 100 % lulus. Tulisan itu membuat sorak gembira menggema halaman sekolah. Tak terkecuali diriku. Aku sangat bahagia menerima berita baik itu. Terlebih LULUS adalah syarat utama untuk mendapatkan beasiswa.
Kami kembali menanyakan kejelasan beasiswa tersebut. Namun, pengajar bahsa kami tidak tahu-menahu tentang beasiswa tersebut yang ia tahu hanyalah mengajarkan bahsa kepada kami. Rasa gundahpun kembali menghantui kami.
Beberapa opsi telah tertata rapi dalam otak kami. Mengikuti SNM-PTN adalah salah satunya. Namun keinginan untuk tetap bisa keluar negeri lebih dominan. harapan yang begitu besar itu membuat hari-hari terasa begitu hambar.
******
Sore hari, tiba-tiba phonsel ku berdering, ternyata ada SMS masuk. “Ary apakah kamu bisa ke Rumah saya sekarang ??” isi SMS itu. Rasa malas mendekamku. Terlebih sore itu hari terlihat mendung dan hujan telah terlebih dahulu menguasai tanah. Jalan-jalan berlubang di penuhi oleh air hujan yang sedari tadi telah membooking tempat.
Ku layangkan satu pertnayaan SMS, “ada apa ?? apakah saya sendiri ? atau saya ajak teman yang lain ?” namun SMS itu tidak ada balasan. Dengan berat hati akupun menyambangi rumah pengajar bahsa kami itu.
Sesampai dirumahnya ternyata dia baru saja keluar. Rasa kecewapun bercengkrama di hati. Akhirnya aku menelphon guru belajar bahasa tersebut. “Saya akan segera pulang” kata-kata itu membuat hatigu sedikit lega.
Sesampainya di Rumah…..
“Ada apa ??” pertanyaaan yang paling utama kulayangkan.
“jadi begini, kamu dapat beasiswa itu. Dengan syarat uang keberangkatan di tanggung oleh individu. Itu sekitar 150 US$”
What ?? pernyataanitu membuat nyaliku ciut, bagaikan kerupuk yang nyemplung di air.
“bagaimana ?? kamu bersedia ??, tolong cepat kabarkan ?? dan tolong tanyakan kepada orang tua !! tolong beritahu orang tua anda. Besok  pertemuan dengan orang tua jam 10”
Kata-kata itu kembali membuatku mengernyitkan dahi. Dekarenakan aku adalah anak rantau. Dan orangtuaku berada didaerah berbeda dengantempatku merantau.
Kebetulan saat itu masih jam 6 sore. “Mengkin ayahku bisa menaiki mini bus yang biasanya berangkat pada jam 20.00” kataku dalam hati. Ayahku dengan terkejut mengiyakan keinginanku.
********
Rapat telah selesai.  Dengan tatapan mata yang bertanya-tanya ku pandang wajah ayahku. “bagaimana yah ??” pertanayaan itu ku keluarkan dengan harap-harap cemas.
“Udah kamu ambil saja beasiswa ini” jawaban yang membuatku sedikit tenang.
“tapi 15 jutanya ??” kataku dengan tatapan tidak enak hati.
“sudah tenang saja itu bisa di usahakan”
Dengan begitu saya dan ayah berencana untuk langsung pulang ke kampung halamanan untuk sekaligus berpamitan. Karena pihak pemberi beasiswa hanya memberi waktu seminggu. Belum lagi saya harus cepat kembail ke tempat perantauanku untuk mengurus segala persyaratan ke sekolah. Minggu depan harus sudah berangkat ke Semarang. Di sana akan di adakan karantina dan belajar bahasa seara intense.
Hari yang telah ditentukan tiba, kamipun sudah siap untuk berangkat. Namun, tiba-tiba masalah tiket menghambat karena tiket ekonomi jurusan semarang habis. Kami lebih memilih ekonomi, toh ekonomi tidak terlalu buruk dan lebih ekonomis. :D pernyataan itu kembali membuat geram.
Akhirnya keberangkatan di tunda ke 3 hari selanjutnya. Beberapa saudara yang berniat untuk mengantarku, memilih untuk pulang di karenakan kebanayakan dari mereka adalah pekerja kantor yang mengharuskan mereka untuk tidak libur untuk waktu lama.
Hari keberangkatan tiba. Berita mengejutkan kembali terdengar. “kalaian tidak jadi ke Semarang, kalaian ke Jakarta saja” berita itu tentu tidak baik karena system pembookingan tiket pesawat yang di cancel pada hari H tentu merugikan. Namun, apa yang bisa kami perbuat.
Kamipun terbang ke jakarata.
********
Sebualan di Jakarta tanpa kepastian keberangkatan. Berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kini kami hanaya menunggu keberangkatan. Yang katanya akan berangkat akhir Agustus. Kami menunggu saat itu.

BERSAMBUNG……
Pulau-Pulau di Indonesia yang Cukup Penting untuk di Tuju

1. Bali


2. Lombok


3. Belitong

4. Sabang