Entah apa cerita dibalik dijadikannya pergantian tahun, atau tanggal 1 januari, sebagai tanggal libur - yang jelas hari ini festivitas ini sangatlah megah. Manusia disegala penjuru berlomba-lomba untuk merayakan pergantian tahun ini dengan berbagai cara; ada yang berkumpul disuatu pusat keramaian sepeti time square new york; ada yang merayakkannya dengan cara yang lebih masuk akal seperti melihat balik tahun yang telah berlalu dan membuat resolusi untuk tahun yang sebentar lagi akan dimulai. Sepertinya saya lebih menikmati ritual nomer kedua.

Meski hari ini (31/12/2015) berada di Amsterdam saya tidak akan pergi ke pusat ke ramaian. Ada banyak alasan: 1) Karena pemerintah Amsterdam memutuskan untuk mempercepat jam beroperasi transportasi umum untuk berakhir, jam 8 malam. Jadi kalau saya akan berada di luar hingga jam 12.01, saya tidak akan bisa kembali ke tempat dimana saya menginap. 2) Setelah menulusuri Amsterdam hingga kesudut tergelapnya, akhirnya saya memutuskan bahwa berada di luar hingga larut malam bukanlah keputusan yang baik. Ditambah lagi karena mengingat bahwa mengonsumsi ganja di Amsterdam legal, ini justru menambah list kenapa berada tengah malam diluar sangatlah tidak aman. 3) Akan sangat tidak lucu jika memulai tahun 2016 dengan konsekwensi sebuah sikap yang tidak lebih bijak, sepeti terbakar kembang api? Atau malah menjadi korban ketidak bijakan orang lain yang mabok? Apapun bentuknya.
Demi menghindari segala kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi saya memilih untuk tinggal dirumah dengan keluarga yang telah bersedia menjamu saya, dan menuliskan tulisan ini yang di akhir tahun depan akan saya lihat kembali.

Tahun 2016 adalah tahun yang sangat mendebarkan bagi saya. Saya tidak suka melihat prediksi kehidupan saya melalui zodiak atau apapun itu. Namun saya lebih menghargai diri saya sendiri jika saya sendiri lah yang "memprediksi" semua hal yang saya harap akan terjadi ditahun itu. Mungkin kata yang lebih tepat untuk mewakili hal ini adalah resolusi atau harapan-harapan atau doa untuk tahun berikutnya.

Untuk tahun 2016, resolusi nomer wahid saya adalah kembali ketanah air dan berkumpul dengan keluarga selama liburan summer. Setelag berada jauh dari keluarga hampir 4 tahun, mungkin inilah saatnya untuk pulang. Pulang untuk melepaskan rindu yang tertahan. Belum ada rencana untuk pulang selamanya, pulang kali hanya ingin mengunjungi keluarga.
Kedua, saya ingin mengikuti program summer school - dengan harapan agar saya bisa lulus lebih awal. Mengingat banyaknya universitas di Turki yang menghapus program yaz okul, mungkin resolusi ini agak berat. Tapi lebih baik berharap dari pada berpangku tangan.

Ke empat, mencari beasiswa untuk tahun-tahun terakhir saya di Turki. Dalam satu tahun setengah ini kehidupan saya sangat terbantu dengan beasiswa-beasiwa yang berasal dari banyak instansi seperti YTB (Pemerintah Turki) dan juga yang swasta. Untuk satu smester ini yang sangat beruntuk dalam sisi ekonomi karena kehidupan saya satu semester ditanggung oleh Erasmus+. Seharusnya saya bisa menabung uang yang diberi oleh erasmus+, tapi karena saya memutuskan untuk jalan-jalan ke beberapa negara eropa, kemungkinannbesar saya harus mencari uang tambahan untuk tanggungan saya untuk semester itu.

Kelima, mulai menulis graduation paper. Untuk yang satu ini mungkin saya bisa langsung lakukan di semster depan, karena saya diizinkan untuk milih mata kuliah tambahan dari semster atas.

Keenam yang merupakan resolusi saya setiap tahun dan selalu gagal, mulai menulis karya fiksi. Akhir tahun ini saya sebenarnya sudah punya cerita dan juga template tapi saya belum punya metode yang matang untuk bisa menyelesaikannya dan membuatnya menjadi buku.
Ketujuh, banyak buku kebih banyak lagi - fiksi maupun non fiksi. Target bacaan saya untuk 2015 adalah 50 buku, tapi saya hanya sukses membaca sekitar 21 buku. Angka yang sangat buruk sekali, namun sekali lagi, data ini hanya untuk buku-buku yang fiksi, saya tidka mencantumkan buku pelajaran dalam list.
Kedelapan, mendekatkan diri kepada sang khalik. Dunia dan bertambahnya umur membuat seolah hubungan antara diri dan sang khalik semakin memiliki celah. Dan akun ingin membangun jembatan bagi celah itu. Tujuannya adalah ketenangan batin. Saya percaya bahwa dekat dengan sang khalik bisa menciptakan ketengan dalam batin.

Kesembilan, menjadi manusia yang lebih baik untuk manusia lainnya. Melakukan perjalanan menyadarkanku bahwa hidup ini sangat indah ketika kita mengenal dan belajar dari manusia lainnya. Satu pelajaran yang aku kutip dari melakukan perjalanan, kebanyakan orang yang melakukn perjalanan bukan karean mereka banyak tahu tapi karena mereka banyak tanya. Pertanyaan yang memenuhi kepala mereka lah yang memotivasinya untuk melakukan perjalanan. Sebelum pertanyaan itu terjawab, mereka akan terus dan terus dan terus melakukan perjalan.

Kesepuluh, lebih banyak bersyukur! Saya sangat bersyukur karena 2015 berjalan dengan relatif sangat mulus. Terimakasih tuhan. Semoga tahun ini kembali terulang begitu.. Amin

Saya keluar dari hostel cukup awal, jam 8 pagi, menuju bandara Otopeni, yang kebetulan berada diluar kota Bucharest. Hari sebelumnya saya sudah bertanya ke pihak hostel cara menuju ke bandara. Jadi harusnya pagi ini tidak ada masalah. Tiket bus pun telah aku kantongi.

Bus menuju bandara beroperasi setiap 40 menit. Kebetulan halte pertama bus no 783 berada tidak terlalu jauh dari hostel, tepat berada di bundaran depan Parliament palace. Dari hostel cukup berjalan kaki sekitar 15 menit. Tiket nya juga cukup terjangkau- 8 lei untuk dua kali jalan.

Sesampainya di Bandara saya langsung masuk ke bagian penerbangan international, sebenarnya di Bucharest ini tidak terlalu kentara terminal penerbangan lokal dan international - mungkin karena penerbang antar Eropa sudah terlalu biasa disini. Setelah menunggu lima belas menit akhirnya di monitor tertulis tempat check in untuk wizzair. Saya langsung lari menuju antrian di depan konter wizzair.

Percuma lama mengantri, ternyata pas di konter, bukti check in online yg sudah saya print cuma di sobek, bukan diganti dengan boarding pass yang baru. Memang sih saat pemesanan tiket saya milih yang check in online, karena yg check in di bandara berbayar sekitar 5€ lagi.

Setelahnya aku dihadapkan pada pertualan untuk melalui banyak sekali pos, hal yang membuatku bernostalgia ke masa-masa SMP dimana aku masih aktif di pramuka. Di pramuka kami sering mengadakan hicking. Saat hicking para senior biasanya menyediakan pos berikut dengan tantangan, seperti menemukan kode agar diizinkan untuk lanjut ke pos berikutnya.

Pos pertama yang saya lalui adalah pos pemeriksaan tas, dimana Shampoo ku gugur ke tong sampah. Selanjutnya pos pemeriksaan paspor, dan pertanyaan tentang nama kembali hadir. Akhirnya barulah masuk kebagian gate dimana pesawat yang akan ditumpangi seharusnya bertengger. Namun tidak dengan pesawat ku hari ini. Setelah menunggu di gate itu satu jam lebih, akhirnya layar monitor menukar tujuan pesawat yang awalnya Milan menjadi Amsterdam. Sempat terbesit dikepalaku untuk berlaku nakal. Apa saya naik pesawat ini saja ya. Biar langsung sampai ke Amsterdam.

Tapi aku tidak segila itu. Rencanaku sudah bulat dan aku tidak akan membiarkan rencana yang bulat itu menjadi retak seperti kue ketawa. Saya pun dengan kadar positif yang tinggi berjalan cepat menuju gate yang baru, karena jam sudah menunjukkan -40 menit sebelum keberangkatan. Harusnya jam segini penumpah sudah dipersilahkan masuk kedalam pesawat. Ternyata kali ini ada hal yang unorthodox terjadi, delay! Wizzair akhirnya menjadi sang juara yang telah menancapkan rekor pertama menjadi pesawat yang memberiku pengalaman delay! Dengan begitu wizzair harusnya layak menerima medali warna merah di perjalananku selanjutnya. Tapi tiket pulang sudah terlanjur dibeli. Kalau begitu setelah selesai rute perjalanan ini, wizzair pasti akan mendapatkan hadiah yang layak ia embat.

Delay berlangsung sekitar 50 menit. Entah apa penyebab delay, tapi yang jelas saya menyaksikan betapa para penumpang didalam pesawat jalan berhamburan keluar pesawat. Sepertinya mereka adalah penumpang yang menuju suatu negara namun salah menaiki pesawat- atau pihak wizzair memutuskan untuk menggati pesawat lain untuk mereka. Apapun itu, tentu mereka sangat kesal. Begitu juga orang-orang yang menunggu mereka keluar yang menganggap mereka menjadi penyebab delay.

Perjalanan Bucharest - Milan berlangsung 1 jam 50 menit. Diudara perjalanan cukup membuat jantung grarap-grugup. Awan musim dingin menjadi penyebab terjadinya turbulan yang tak terhindari. Namun Alhamdulillah kami penumpang wizzair nomer 7135 sampai dengan selamat.

Oh.. ternyata untuk sampai ke Eropa tidak sesulit yang kupikirkan kataku. Namun aku berubah pikiran setelah keluar bandara. Terutama ketika melewati booth pemeriksaan paspor. Kejadian Paris beberapa bulan lalu membuat wajah Eropa berubah 360 derajat. Sekarang setiap wargawan asing harus melewati pemeriksaan ketat. Sampai-sampai ada yang ditanya tentang bukti keuangan. Karena tidak memiliki rekening koran akhirnya orang itu menunjukkan euro yang ada dikantongnya.

Saatnya saat maju ke booth pemeriksaan paspor. Saat ditanya ada tujuan apa ke Milan, saya jawab berwisata sekaligus bertemu teman, saya langsung dibiarkan lewat. Betapa saya merasa bahwa saya baru saja mendapatkan durian runtuh. Tidak saat saya sudah bebas keluar bandara. Tiba-tiba stuff bandara yang ditugaskan untuk memantau bagian tengah bandara memanggil dan memaksa saya untuk membuka tas. Saya tidak ada pilihan tapi membiarkan si petugas untuk memereteli barang-barang saya. Hal yang membuat saya kesal adalah tas saja jadi rusak. Zipper nya tidak bisa ditutup lagi. Saya pun tidak punya pilihan selain membeli tas baru. Untung Decathlon punya tas dengan harga yang terjangkau, 9€. Sulit rasanya melepaskan tas bodypack yang telah menemanikan hampir 4 tahun. Tapi aku yakin dia akan senang gugur dimedan pertempuran, karena tempat dimana ia dikuburkan adalah Milan. Ia bisa berbangga diri dengan kematiannya, karena dikuburkan ditanah para barang bermerk - dan ia pun bisa mengaku-ngaku menjadi bagian dari barang bermerk itu..

Setelah bersusah payah dengan lelucon yang dibuat oleh pihak kedutaan, akhirnya aku mendapatkan apa yang disebut "besusah-susah dahulu bersenang-senag kemudian." Walaupun tidak ada yang namanya 'kebahagian abadi' - hal yang selalu diperdebatkan di dunia film dan literatur. Para realist menganggap bahwa cerita yang berakhir dengan kebahagiaan bukanlah cerita yang yang sebenarnya. Karena kehidupan tidak pernah berjalan begitu. Hidup adalah campuran antara bahagia dan duka. Kedua kata sifat ini selalu berbaringan dan mereka selalu berlari mengelilingi roda kehidupan. Terkadang si Bahagia berada di roda paling atas. Lain kesempatan si Duka yang menempati posisi itu. Begitulah hingga akhir kehidupan.
Begitu juga dengan perjalanan visa ku. Sesaat setelah aku mendapat e-mail dari pihak kedutaan Belanda, otak ku langsung bergerak cepat. Tiket-tiket!! Setelah mengecek skyscanner ternyata harga tiket sudah naik dua kali lipat, dari 10€ menjadi 25€. Akupun langsung dibuat stress. Ternyata benar, rasa bahagia itu tidak permanen. Lima menit setelah membaca email bahagia, rasa Duka kembali mengungguli si bahagia.
Rencana awalku yang tidak muluk-muluk hanya ingin jalan-jalan di Italia (Roma-Pisa-Flowrence-Milan), namun setelah menerima penghinaan dari pihak kedutaan Italia yang menolakku bahkan sebelum dokumen yang ku siapkan diperiksa, akupun merasa bahwa aku harus membalas hutang budi kepada kedutaan Belanda yang telah berbaik hati menganugrahiku visa schengen. Hal lain yang membuatku nekad mau ke Belanda karena takut nanti di pinalti karena tidak mengunjungi negara yang mengabulkan visa.

Jadi akupun memutar otak gimana caranya bisa sampai ke Belanda, tanpa mengeluarkan uang terlalu banyak. Aku langsung melototi peta berjam-jam, dibarengi dengan melihat harga tiket. Hal ini berlangsung-berhari. Hingga hari ketiga setelah mendapatkan kabar dikabulkannya visa, akhirnya saya memutuskan untuk merubah rute perjalanan menajadi (Milan-Lyon-Paris-Maastrich-Amsterdam).

Kenapa Milan? Karena tiket langsung ke Paris atau Belanda sangat mahal hampir 100€. Akhirnya aku menjadikan Milan sebagai pintu gerbang menuju negara-negara Eropa lainnya. Entah mengapa tiket pesawat Romanian - Italia lebih murah dibanding negara-negara lainnya, termasuk Hungaria yang padahal tetangga terdekatnya. Alasannya mungkin karena pesawat jurusan Romania - Italia lebih banyak daripada negara-negara lainnya. Setelah hidup di Romania, aku melukan sedikir observasi, yaitu orang Romania banyak yang berimigrasi ke Italia untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lebih layak.

Nah.. tiket Bucharest - Milan pun aku kunci dengan harga 25 euro. Setelah riset ternyata bandara Malpensa lumayan jauh untuk sampai ke Milano Centrale, untuk menuju kesana aku harus merogoh kocek sedikitnya 10€. Pikirankupun langsung berputar 360 derajat. Tidak ada lagi kata berputar balik. Keputusan sudah dibuat dan aku harus menerima dan bertanggungjawab atas ketidak telitianku.

Dua hari sebelum tanggal keberangkatan aku berangkat menuju Bucharest, untuk mengambil paspor berikut tempelan visa yang sudah dijanjikan. Aku langsung berfikiran aneh lagi, bagaimana kalau email ini salah dan ternyata pengabulan permohonan visaku sebuah fiksi? Karena dibagaian akhir email ada tulisan yang menyatakan bahwa kemungkinan kesalahan adalah hal yang wajar. Pikiran anehku berikutnya, okeh visa ku di kabulkan tapi ternyata tanggal berlakunya dimulai bukan dihari penerbanganku? Untung kesemua pikiran aneh ini terpatahkan saat aku mengambil paspor. Malah sebaliknya visanya berlaku 3 hari lebih awal dari yang aku minta. Dan jumlah berlakunya 20 hari lebih banyak. Cuma satu yang sangat disesai, pihak kedutaan Belanda memberi single entry, artinya sesaat aku meninggalkan kawasan schengen langsung hangus sisa visa yang ada. Awalnya sempat membayangkan main ke Yunani di akhir februari. Tapi ya sudahlah ini kah permohonan visa schengen pertamaku. Aku harus mensyukuri apa yang aku dapat

1. Transportation

Capital city in general is a crowded place, and so does Bucharest. Taking bus to explore the city, is definitely not a wise decision to make. Furthermore, you need to worry about the authoritity who might be wearing mask under the uniform. Unlike the cities in Turkey, or perhaps other countries too, Bucharest's buses do not provide the ticket scanner (machine) at the nearest door to the driver. But, they (ticket scanners) are attached in the middle of the bus. This allows passangers to enter the bus from every door, which at first sounds like a good idea. But if you know what's in the authority's mind you would change the whole perspective.

When you enter the bus please do scan your ticket immediately! There will be authotities coming to check your ticket. If they find out you just scanned the ticket, you will be their prey. They will be fantasizing money coming from you. If you happen to be the one who scan his card when the authority coming, please whatever happens do not hand your ID to them. Once you handed your ID, they will not give it back unless you give them 50 lei.

This might sound illogical, but foreigners are the easiest people to fool. As foreigners we often think that we are obligated to show our ID, when the authority asks. Not in this case, it is just a trap. Or perhaps you could show your ID, but don't allow them to touch it. Just let them see it from distance.

******
Fortunately, Bucharest has subways that are well connected. You could literally reach all the cities by taking the subways. If you wanna go to the old city, for example, you can take the subway that goes to the University of Bucharest. From there you just need to walk 15 minutes.

One of the things a traveler must have is a devise that has GPS on it, if you have GPS - nothing you need to worry about. Atleast in the case of Bucharest, where you can pretty much walk on foot everywhere- the touristy places are mostly in the center of the city. And also, from my experience, the route of transportation in Bucharest are very well recorded on googlemaps, instead of asking the passersby you can just utilize your divise, right? Sometimes asking the passersby can waste your time.

For metro (or subway) you have the option to buy daily ticket that costs 8 lei, I suggest you to buy this ticket if you are staying in bucharest less than a week. And, If you are planning to stay in Bucharest for the whole week, it might be better if you buy the weekly ticket that costs 28 lei.

2. Accommodation or Where to Stay?

I am not talking about a big budget traveler's accommodation here. I am just gonna focus on low budget traveler's accommodation, which is hostel - since I failed to get a host through couchsurfing. Try to join couchsurfing, who knows may be you are lucky enough to get a host.



For a hostel, I have only one recommendation, the Cozyness of Downtown Hostel. This is my very first experience staying in a hostel, and I am impressed by it. I have so many worries regarding hostel - or I listen to much to the voices out there.
If you happen to be in Bucharest, this hostel is definitely where you should stay. What I feel most about this hostel is a sense of trust and community. They provide a shared kitchen that you can use for free. And there is where you are made to feel like you belong the community. Plus, the community you have is international community. When I was there I met people from the USA, Finland, Belgium, Italy etc. If you are lucky enough, you can exchange stories with these interesting people. They are normally very open-minded.



The stuff of this histel is unbelievably kind - when you first arrived she will instantly offer you a free towel, a pair of sandal, a lock for your locker, bucharest map, and other brochures regarding Bucharest.



What would make you attached to this place, I think is the living room - or the lobby - if it's lobby at all, I think they failed to create that image, because it's so hommy.

I don't want to praise too much, because it will make it sound cheesy. So, again, if you are in Buchareat you should definitely stay here.



Nama Romania tidaklah se-megah negara-negara Eropa lainnya. Namun demikian bukan berarti Romania tidak worth-visiting. Ada banyak hal yang bisa ditawarkan oleh Romania, sebut saja ibu kota Romania, Bukarest, atau nama lainnya "the little Paris." Untuk mengetahui alasan dibalik nama panggilannya ini, tentu kita harus mengunjungi Bukarest secara langsung - selanjutnya bisa menilai apakah sebutan itu layak dimiliki oleh Bukarest?

Setelah berkunjung ke Bukarest selama tiga hari, saya dengan otomatis meng-iyakan sebutan itu. Arsitektur Bukarest memang sangat bersinambung dengan nama yang ia sandang. Kalau anda merupakan pencinta arsitektur, tidak ada salahnya mengunjungi bukarest. Berikut adalah list bangunan yang akan membuat anda terpesona:

1. The Palace of Parliament (Gedung Parliament)

Gedung Parliament ini adalah gedung terbesar kedua didunia setelah Pentagon. Dan merupakan sebuah karya termegah Nicolae Ceauşescu, seorang diktator yang pernah menguasai Romania. Gedung ini di bangun di tahun 1984, belum tuntas hingga sekarang, memiliki sebanyat 3000 ruangan.

Jika anda berkunjung ke Bukarest, tidak ada salahnya mencoba untuk masuk kedalam gedung ini. Ada tour yang disediakan khusus berikut dengan guide. Bayarannya cukup bervariasi, untuk pelajar bisa membayar sebanyak 13 lei atau sekitar 44 ribu rupiah. Untuk turis umum, 25 lei atau sekitar 85 ribu rupiah. Jam berkunjung dibuka dari jam 10 pagi hingga jam 4 sore.

2. Romanian Athenaeum (Ateneul Român)

Romanian Athenaeum adalah sebuah gedung bertunjukan yang berlokasi tidak terlalu jauh dari Universitas Bukarest, tepatnya di jalan Franklin nr. 1-3, sector 1. Bahkan untuk menuju kesana, anda bisa mengikut arah samping kanan gedung universitas Bucharest - selanjutnya anda cukup berjalan lurus saja.

Gedung ini pertama kali dibuka di tahun 1988. Didesign oleh seorang arsitek Prancis, Albert Galleron. Dalam pembuatan gedung ini sempat terjadi penggalangan dana dari masyarakat, yang slogannya masih dikenal hingga saat ini "Donate one leu for the Ateneu!"

Didalam gedung, dibagian ruang lobby, ini anda akan di buat tercengang oleh betapa simetrisnya gedung ini dan betapa megah design yang dibuat. Terutama ketika anda masuk ke ruangan pertunjukkan anda akan melihat lukisan indah menggambarkan raja-raja Romania, seperti Carol ke 1 dan lainnya.

3. Cărtureşti Carusel


Cărtureşti Carusel sebuah bangunan tua dari abad ke 19 yang di transformasikan menjadi sebuah toko buku megah. Dengan keunikan bangunannya, Cărtureşti Carusel mampu membuatmu merasa seolah-olah sedang berada didunia dongeng.
Toko buku ini terdiri dari 6 lantai, lantai atas bangunan ini dijadikan sebuah cafe dimana pengunjung bisa bercengkrama berduduk santai sambil menyicip minuman. Lantai lima kebawag didedikasikan untuk kolekasi buku-buku dan souvenir, tidak ketinggalan juga koleksi CD film maupun musik.

Tentu tiga list diatas hanya sedikit dari bangunan megah yang dimiliki oleh Bukarest. Ada banyak bangunan lain lagi yang bisa menghipnotis anda. Untuk menememukan kemegahan itu tentu anda harus mengunjungi Bukarest secara langsung.


Karakter pribadi saya, yang tidak pernah bisa menerima kata 'tidak' sebagai jawaban, memutuskan untuk mencari cara agar perjalanan ke ibu kota Romania ini tidak berahir sia-sia. Hal pertama yang saya lakukan setelah di tolak kedutaan Italia adalah menenangkan diri. Saya memutuskan untuk mencari tempat yang bisa diberistirahat sekaligus berfikir. Yang hadir ke kepala saya adalah café. Awalnya saya sempat berifikir untuk pergi ke starbucks, namun setelah mengecek di googlemap yang hanya mengidentifikasi gerai yang jauh saya pun mencari tempat terdekat. Setelah berjalan 500 meter dari lokasi konsulat Italia, saya melihat ada sebuah café dan tanpa pikir panjang langsung masuk dan mengorder cokelat panas, hal yang nantinya sangat saya sesali - karena: pertama, karena harga si cokelat panas adalah 17 lei dan yang kedua, ternyata ada starbucks juga diseberangan jalan.

Saya memutuskan untuk tidak memikirkan ketololan saya dalam mengoder cokelat panas yang super mahal itu. Saya bertekad hanya akan fokus pada kemungkinan yang saya punya dalam hal visa. Saya mengecek semua website negara-negara EU yang masuk dalam list Schengen. Pertama, saya mengecek website Spanyol yang akhirnya memutuskan bahwa ini bukanlah bagian dari opsi saya - karena si website dipenuhi dengan bahasa Spanyol. Kalaupun ada bagian yang bisa mengganti bahasa si website saya gagal menemukannya.

Polandia sudah tidak mungkin dari awal, karena mereka mengharuskan adanya appointment. Appointment yang paling terdekat adalah 05 Januari, saat saya cek tiga hari sebelumnya masih 30 Desember. Dari awal target saya sebernarnya Polandia, namun karena ketidakpastian kapan Residence Permit keluar akhirnya saya tidak membuat appointment. Inilah yang sebenarnya membawa saya kepada Kedutaan Italia sejak awal. Selain fakta bahwa Italia adalah salah satu destinasi utama saya.

Selanjutnya dibenakku hadir sebuah pemikiran dangkal bahwa Kedutaan Belanda mungkin bisa dicoba. Belanda dan Indonesia kan memiliki sejarah panjang. Mungkin mereka akan lebih memiliki rasa kasihan yang tinggi sehingga diharapkan pada akhirnya bisa berakhir pada pengabulan permohonan visaku.

Kebetulan saja ketika saya mengecek website kedutaan Belanda, ada jadwal appointment untuk tanggal 10 Desember yang kebetulan adalah keesokan harinya. Saya tanpa pikir panjang langsung menyantumkan nama saya di jadwal appointment itu. Walaupun setelahnya saya berharap agar appointmentnya bisa di undur ke jam lain. (Appointment saya jam 9.00 pagi)

Keluar dari café itu saya lagi berkutik dengan diri saya sendiri tentang langkah apakah yang selanjutnya saya harus lakukan. Pergi ke hostel yang saya belum membuat reservasi sama sekali atau mencari warnet, yang sangat mustahil di tahun 2015 ini. Saya tidak butuh wifi, yang saya butuhkan adalah komputer - hal yang disediakan oleh pihak hostel. "Dapat digunakan secara percuma," katanya. Plus mereka juga membolehkan tamu untuk menggunakan printer secara percuma juga.

Saya akhirnya berjalan kaki sambil memantapkan keputusan. Saat berjalan saya mencoba untuk melihat alamat KBRI di googlemap dan ternyata cukup dekat. Saya berjalan sampai gerbang KBRI, tapi memutuskan untuk tidak masuk. Dengan alasan bahwa saya belum mebuat janji. Dan juga ada hal lain yang perlu saya tuntaskan dulu.

Bejalan lima meter ke arah kanan KBRI adalah jalan besar, yang setelah saya cek ada bus yang menuju ke arah Hostel yang saya akan tumpangi. Saya memutuskan untuk menuju kesana dan check in. Saat check in saya terhentak ketika mendengar bahwa harga hostel permalam tanpa reservasi adalah 40 Lei. Saya berontak, "loh… di website harga 54 lei kok per dua malam." Si mba yang baik hati langsung berbisik "ya sudah booking lewat internet saja." Saya langsung senyum dan dengan seketika saya merasa bahwa saya ada ditempat yang tepat.

Setelah ditunjukkan dorm saya, saya langsung meminta izin untuk menggunkan komputer untuk menyiapkan dokumen yang diminta oleh pihak kedutaan. Sebenarnya hampir semua dokumen sudah saya lengkapi, karena kedua kedutaan meminta jenis-jenis dokumen yang hampir mirip. Hanya saja, saya harus mengisi ulang formulir visa yang berlabelkan kedutaan belanda.

Keesokan harinya saya bangun cukup awal. Tapi saya memutuskan untuk tetap merebahkan diri di atas kasur. Saya juga tidak melihat jam di tablet. Ternyata jam sudah menujukkan jam 7.30. Saya lupa kalau ini winter, pagi winter itu tidak akan secerah pagi di waktu Summer. Saya bergegas untuk cuci rambut dan sikat gigi. Setelahnya langsu lari keluar kamar. Masih sempat untuk mencetak email yang menyatakan bahwa saya punya appointment hari itu.

Saat keluar dari Hostel saya bingung haru lari kemana. GPS saya kerjanya sangat tidak akurat. Butuh kerja keras untuk bisa lari ke tujuan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya kepada pejalan kaki, "Do you know where is the closest metro here?" Awalnya dia sempat ketakutan karena ketergesa-gesaan ku. Tapi akhirnya dia menujukkan arah ke metro.

Lokasi kedutaan besar Belanda ada di daerah Pipera. Metro M2 dari arah Tineretului ke Pipera memakan waktu sebanyak 30 menit. Saya sangat takut akan terlambat. Ada banyak cerita terntang keterlambatan yang cukup mengahantuiku.

Saya cukup sukses untuk sampai ke Metro Pipera di jam 9.30. Namun lagi-lagi saya masih harus menemukan gedung kedubes Belanda. Setelah memasuki tiga gedung akhirnya, ada satu pusat informasi gedung yang memberikan alamat yang benar.

Di menit ke 58 saya masih masuk kelantai yang salah. Saya seharunya naik ke lantai 8 tapi saya malah turun dilantai 6. Saya pencet ke 4 lift yang ada, akhirnya ada satu yang muncul. Didalam lift, jam menunjukkan 8.59. Saya lari keluar saat lift berhenti. Langsung menuju pintu yang bertuliskan kedutaan Belanda. Saya pencet Bel dan langsung ditanya. "Yes, how can I help you?". "I have an appointment for visa," jawabku. "What time?," tanyanya lagi. "At nine." Akhirnya sipintu dibukakan juga.

Didalam saya sudah sangat gerah. Saya membuka jaket sambil di interview. Saat semua dokumen diperiksa saya kembali dihadapkan pada situasi yang membuat stress. "Where is your hotel reservasion?"

Saya tunjukkan reservasi hostel. Saya hanya membuat satu reservasi hostel, hanya di destinasi pertama saya yaitu Roma. Namun si petugas langsung beringas, "You have to make hotel reservations, or whatever your means of accommodation, for each city you visit! Otherwise how can we know that you will go to those cities? Especially the cities in the Netherlands." "Okay, I will give you time until 12.00 today to send me the hotel reservations to this email."

Masalah reservasi hotel kami kesampingkan. Selanjutnya kami lari kepermasalahan transportasi. Saya hanya menyediakan buti reservasi pesawat pergi dari dan pulang ke Romania. Karena setelah bertanya kebanyak orang, katanya Cuma itu yang diperlukan. Tapi ternyata semua jenis transportasi yang kita gunakan harus dicantumkan dalam Itinerary. Saya menyediakan Itinerary tapi tidak menyediakan keterangan tentang jenis transportasi yang saya gunakan untuk menuju kota-kota di Schengen border.

Setelah membuat alasan bahwa saya akan melakukan perjalanan saya dengan kereta api dan bus, akhirnya sipetugas hanya menyuruh saya untuk menuliskan apa yang saya jelaskan didalam kertas Itinerary saya.

Selanjutnya permasalahan biaya visa, ternyata kedutaan Belanda di Romania tidak menerima uang lokal. Mereka mengharuskan pembayaran dengan Euro. Saya meminta izin untuk menukarkan uang ke bank terdekat dahulu. Diizinkan dengan syarat, jangan terlalu lama karena di jam 9.30 ada appointment untuk pendaftar lainnya.

Saya kembali dengan uang sebanyak 60 Euro. Setelahnya saya diberi tiga kertas kecil: yang pertama, tracking code visa; yang kedua, akutasi pembayaran 60 Euro; yang ketiga, surat yang menyatakan bahwa paspor saya ada di kedutaan Belanda.

Saya pulang langsung menuju Hostel lagi. Disana saya memutar otak untuk membuat reservasi hostel disetiap kota yang akan kunjungi: Paris, Maastritch, dan Amseterdam. Untuk membuat ketiga reservasi hostel, saya harus berperang dengan waktu lagi. Saya saya sampai ke hostel waktu menunjukkan jam 10.50. Artinya saya hanya punya waktu satu jam.

Saat di Metro saya sudah menyusun surat keterangan bahwa saya akan tinggal di apartmen teman yang kebetulan sedang bersekolah di Maastritch. Beliau sedang sibuk, akhirnya surat yang seharusnya beliau yang menyiapkan, berakhir ditangan saya. Saya hanya menanyakan alamat. Bagaimana mungkin saya bisa menyiapkan surat dalam 1 jam. Menyiapkan surat adalah hal yang gampang. Tapi meminta tanda tangan orang dari seberang sana yang sangat sulit. Apalagi beliau sedang ada dalam kelas.

Surat itu saya kesampingkan. Saya kembali mengecek hostel termurah di kedua kota, Asmterdam dan Paris, tanpa mengecek lebih detail qualitas si hostel. Hostel di kedua kota ini cukup mahal-mahal. Kalau di Roma saya masih bisa menemukan hostel dengan harga 12 Euro permalam, dikedua kota ini harga umum hostel adalalah 24 euro. Tapi setelah mengotak atik akhirnya saya menemukan hostel melalui hostelbookers.com dengan harga 17 Euro permalam. Dan 20.50 Euro untuk hostel di Amsterdam.

Saya kesulitan untuk men-convert kedua dokumen kedalam PDF. Memori tablet saya sedang penuh, sehingga email tidak bisa langsung masuk. Di Tablet seharunya sidokumen bisa dengan mudahnya di convert ke pdf saya memilih menu print.

Segala hal yang penting atau tidak penting saya hapus. Dan sekarang si email masuk dan langsung saya convert ke PDF, dan setelahnya saya email lagi ke diri sendiri. Selanjutnya masalah si surat belum selesai. Tempat saya tidak bisa dihubungi. Padahal saya meminta tanda tangan di dokumen lamanya, tapi sangat tidak mungkin didapatkan karena beliau sedang dalam kelas.

Akhirnya saya bisa me-manage ketiga dokumen, dengan segala cara yang saya punya. Jam menunjukkan jam 12.05, saya telat lima menit. Tapi saya tidak lagi menghiraukan itu. Saya sukses mengirim ketiga dokumen di jam 12.13. Dalam keadaan perut lapar dan badan kedinginan aku pun menghebuskan nafas lega. Setidaknya saya sudah berusaha dengan sekuat tenaga saya. Kalau saya belum bisa mengunjungi Eropa kali ini, inshaaAllah ada waktu lain.
 
  


Indonesia sudah pasti diperlukan oleh negara asing. PASTI! Itu bukan sebuah pertanyaan lagi. Begitu juga sebaliknya, negara asing juga diperlukan oleh Indonesia. Namun kenapa disaat perjanjian internasional berlangsung, Indonesia selalu berda diposisi seolah-olah Indonesia (saja) yang memerlukan pihak asing tersebut?

Pemerintah Indonesia juga sangat pandai menjadi 'korban', dengan hanya berdiam saja. Dan memaklumi perlakuan si negara 'adi-daya' 'adi-kuasa' - entah kenapa Indonesia dengan sangat murah memberikan julukan itu kenegara luar, tapi sulit untuk menamai diri sendiri dengan julukan itu- yang seolah-olah meremehkan kita.

Kenapa Indonesia dengan santainya menandatangani perjanjian bebas visa kepada banyak warga negara asing, dan menerima begitu saja bahwa perjanjian ini berlaku sepihak? Misalkan warga negara Italia bisa masuk ke Indonesia tanpa visa, namun tidak sebaliknya.

Hari kamis kemarin saya mendatangi kantor konsulat Italia di Bukarest guna mendaftarkan visa turis schengen. Namun aplikasi saya ditolak begitu saja saat si petugas melihat kartu Residence Permit (izin tinggal) saya. Dengan menimbang tanggal berakhirnya RP saya yang aktif hingga pertengahan Februari 2016- sipetugas sudah memiliki tebakan akan keputusan yang akan keluar. Padahal hari berkunjung ke daerah schengen yang saya minta hanya 15 hari, mulai 21 Desember sampai 05 Januari, yang berarti saya masih memiliki hak tinggal di Romania. Saya meminta saran kepada si petugas, "what is your suggestion then?." Tapi jawabnya, "I've told you my suggestion."

Saya sudah menjelaskan kepada si petugas bahwa saya adalah mahasiswa erasmus+, sebuah program pertukaran pelajar yang di organisir oleh salah deputi pendidikan EU, namun ternyata status ini tidak memberi jaminana apa-apa. Kebanyakan peserta yang mengikuti program ini, pada umumnya, sangat diuntungkan dari sisi kemungkinan untung mengeksplorasi Eropa. Namun lain halnya jika si peserta mendapatkan kesempatan ber-erasmus di kawasan balkan yang mayoritas belum termasuk dalam lingkup schengen, seperti Romania ini. Romania termasuk dalam EU awal 2000-an, namun belum dimasukkan dalam list Schengen. Janji terakhir dimasukkannya Romania kedalam Schengen adalah 2014, namun negara-negara superior yang ada dalam Schengen mangkir lagi, dengan alasan Romania adalah gerbangnya imigran illegal. Jika Romania di masukkan dalam kawasan schengen mereka menakutkan terjadinya proses imigran ilegal masal.

Tentu alasan ini bisa diperdebatkan oleh banyak pihak. Salah satu warga Romania yang saya temui di Bucharest pada hari terakhir saya disana mengaku bahwa dia tidak terlalu senang dengan semua ide ini. Bahkan masuknya Romania dalam lingkup EU saja tidak berpengaruh banyak. Karena Romania, seperti negara-negara Eropa bekembang lainnya hanya menjadi pelengkap bagi 'negara-negara superior' Eropa. Si negara berkembang yang otomatis menjadi inferior, bahkan tidak memiliki kukuatan banyak dalam memberikam keputusan di meja hijau EU.

Kembali kepada ketidakberdayaan paspor Indonesia.
Didunia ini kemanakah pemilik paspor Indonesia bisa masuk dengan bebas? Kebanyakan hanya kenegara-negara third-world country. Itupun tidak semua bebas. Kebanyakan masih mewajibkan fee, hanya saja prosesnya tidak perlu melalui kedutaan. Fee bisa dibayar ketika sampai dinegara "visa on arrival" atau melalui online "electronic visa." Kedua jenis ini berlaku bagi pemilik paspor Indonesia yang mengunjungi Turki. Awalnya Turki menggunakan sistem visa on arrival, namun tiga tahun terakhir Turki sudah mengganti sistem menajadi electronic visa.

Kalau ditanya banggakah menjadi warga Indonesia? Pasti bangga. Namun itu tidak merubah kenyataan bahwa memiliki paspor Indonesia menyulitkanmu untuk menjelajahi dunia. Apalagi ketika menjadi warga Indonesia yang berstatus sosial menengah ke bawah, akan saat sulit kemana-mana. Tentu ini sebuah penggeneralisasian. Ada banyak orang yang me-manage visanya dikabulkan oleh banyak duta besar walaupun berstatus sosial mengengah kebawah. Umumnya melalui program-program konferenasi internasional, dan program pertukaran pelajar yang telah mengantongi surat undangan dari negara tersebut. Tapi untuk visa turis, siap-siap saja menyedialan banyak dokumen seperti:
1. Asuransi perjalanan,
2. Foto dengan ukuran sesuai pemintaan dubes,
3. Rekening koran yang memenuhi permintaan -untuk mengunjungi Eropa diperlukan bukti keuangan sehari 50€-,
4. Reservasi pesawat dan transportasi lain yang di gunakan selama perjalan
5. Reservasi tempat tinggal selama perjalanan, bukan cuma negara atau kota yang pertama kali sampai.
4. Fee sebanyak 60€
5. Residence Permit jika mendaftar di Luar Negeri
6. Dan lain lain (cek websute dubes masing-masing)

Tak heran jika akhirnya Anggun memutuskan untuk melepaskan kewarganegaraannya. Bagi seorang yang memiliki ambisi hidup yang tinggi keputusan besar seperti ini terkadang memang harus dibuat. Kalau tidak, resikonya adalah menerima kenyataan untuk hanya sampai ditempat tertentu.
Anggun yang ingin melebarkan sayapnya di kancah internasional mengahdapi kesulitan disaat dia akan melakukan konser kenegara lain. Jika hal ini berlangsung lama, kemungkin terbesar adalah pihak label yang telah memberikan kesempatan kepada Anggun bisa-bisa memutuskan kontrak. Hal yang tentunya Anggun sangat hindari. Jadi keputusan Anggun adalah keputusan bijak. Untuk memetik kata-kata Anggun setiap kali ditanya tentang perasaannya berganti kewarganegaraan, "warna pasporku bisa saja berubah, tapi darahku kan tetap Indonesia."

Iya! Begantinya kewarganegaraan tidak membuat seseorang kehilangan rasa cintanya terhadap Indonesia. Bukan berarti saya mempromosikan penanggalan kewarganegaraan. Intinya keputusan ada ditangan masing-masing. Ketika seorang individu, seperti Anggun, merubah kewarganegaraannya maka pihak lain diharapkan untuk tidak menilai sesuka hati. Ada alasan kenapa si individu itu melakukannya. Sebut saja mungkin karena memang Indonesia tidak memberikan opsi kewarganegaraan ganda, yang bisa saja didaptakan jika menikah dengan WNA.

Semoga kedepannya Menteri Luar Negeri (menlu) bisa sedikit mengusahakan peningkatan derajat paspor Indonesia. Sehingga warga Indonesia bisa leluasa melihat dunia. Sehingga tidak perlu lagi seorang warga Indonesia dihadapkan pada dilema mempertahankan kewarganegaraan tapi sulit mengepakkan sayap atau bahkan meninggalkan kewarganegaraan.


Adhari
Warga Negara Indonesia yang menyayangkan ketidakberdayaan paspor Indonesia dihadapan dunia.

The picture credited to http://www.crsd.org

Dewasa ini perbedaan sudah tidak sepatutnya lagi dilihat sebagai momok yang menakutkan. Malah sebaliknya, sudah saatnya kita memeluk perbedaan. Meskipun begitu individu masih tetap diberikan hak untuk menganggap dan mempraktikkan ideologi mana atau cara hidup mana dalam kehidupan sehari-hari mereka, namun satu hal yang perlu diingat sebagai individu kita juga harus berkewajiban untuk menghargai keputusan individu lain untuk mempercayai dan memperaktikkan ideologi yang ia pahami.
Di jurusan  tempat saya bersekolah ada seorang wanita yang sangat ahli dibidangnya. Suatu hari tema diskusi mengarahkan kami kepada pertanyaan umur. Lalu beliau seolah mengelak untuk menjawab pertanyaan tentang umur ini. Sampai akhir diskusi beliau masib belum mau menyebutkan angka. Tapi beliau mengakui "saya sudah berumur."
Dilain kesempatan beliau akhirnya memberi tahu alasan kenapa diumurnya yang sudah matang (saya belum diberi hint teantang umurnya yang sebenarnya) beliau baru sekolah tingkat sarjana. Bahkan beliau mengakui bahwa tingkat Sekolah Menengah Atas saja beliau baru selesaikan beberapa tahun lalu.
Hal ini membuat kami bertanya-tanya, 'kenapa begitu?' Tebakan awal kami mungkin karena beliau punya kendala ekonomi. Namun ternyata bukan itu alasannya. Wanita itu harus rela menghentikan pendidikannya karena beliau lebih memilih untuk menghormati keyakinan yang ia peluk. Karena institusi pemerintah tempat ia berdomisili kala itu tidak memberikan tempat bagi kelompok kepercayaan manapun untuk memperaktikkan hal yang mereka pahami di ranah publik. Jenis pemerintahan yang di kenal dengan sebutan sekularisme.
Perdebatan tentang sekularisme adalah perdebatan panjang. Ada yang mengatakan sekularisme yang diperaktikkan dinegara-negara macam Prancis saat ini adalah sebuah kesalahan. Banyak yang berargumentasi bahwa hakekat sekularisme adalah saling menghargai perbedaan. Sebesar manapun pihak sekuler ingin menjauh dari paham-paham agama, seharusnya mereka juga harus siap menghapi kenyataan bahwa orang lain mungkin tetap pada pendiriannya.
Seandainya makna sekularisme adalah menjauhkan agama dari ranah publik, hal ini sama saja kita telah mengembalikan dunia 2015 ini ke abad pertengahan "medieval"; dimana paham yang di anut masyarakat tergantung pada apa yang ditentukan oleh pemimpin. Bahkan banyak pemimpin yang rela menumpahkan darah demi tertegaknya satu ideologi dinegara itu. Medieval atau abad pertengahan adalah kata yang mengandung makna negatif di dunia barat. Mereka sering menyangkut-pautkan sistem hukum mati dan sejenisnya ke abad pertengahan. Lalu apa kabar dengan sekularisme yang seolah mengatur kepercayaan yang di anut setiap individu? Bukankah itu lebih ke abad pertengahan?
Kehidupan si wanita (teman sejurusan saya) itu tidak berhenti disana. Setelah putus sekolah di Sekolah Menengah Umum, ia memutuskan untuk bekerja. Di mengaku telah bekerja di pabrik, dengan bayaran yang sangat mengenaskan. Belum lagi dengan sistem kerja yang sangat tidak manusiawi, yang memberikan waktu istirahat yang sangat minim. Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan satu-satunya yang beliau pernah kerjakan. Pengalaman beliau yang paling unik adalah saat beliau melamar menjadi asisten disebuah perusahaan komputer. Segala tes dan persyaratan telah terpenuhi, bahkan percakapan tentang upah pun sudah dilewati dan sudah menemui titik temu. Namun, diakhir wawancara, pihak perusahan mengatakan, "cuma satu hal lagi. Kalau kamu menyanggupi yang terakhir ini kamu akan kami terima. Bisakah kamu melepas kerudungmu saat bekerja dan menggunakan sedikit make-up."
Terkadang ketika berpikir ulang tentang tumbuhnya gerakan feminisme, adalah hal yang tak terelakkan, mengingat apa yang terjadi pada kaum wanita. Sebenarnya saya tidak begitu senang dengan penggunaan kata 'feminisme', kalau goalnya adalah penyetarakan gender, kenapa tidak menggunakan nama humanisme saja? Feminisme ditelinga saya terdengar seperti keinginan untuk mengungguli kamu pria. Tentu paham feminisme jenis ini ada, mereka disebut feminisme garis ekstrimis. Goal mengungguli kaum pria, menurut saya, hanya akan mengulangi sejarah kelam yang terntunya tidak kita inginkan. Lalu kemungkinan apa yang bisa terjadi dimasa depan? Terdirinya gerakkan maskulinisme sebagai gerakan revolusionari untuk menyetarakan gender lagi? Kasihan, kata maskulinisme sudah terlanjur digunakan untuk mengungkapkan makna lain yang bernada negatif, yang juga berseberangan dengan kaum wanita. Maskulinisme telah terlanjur dikaitkan erat dengan konotasi misogyny.
Dua poin yang saya coba ilustrasikan diatas baru contoh intoleransi tingkat kecil dalam hubungan antar faham dan hubungan antar gender, yang sayang sekali masih juga menghadapi titik buntu. Lebih dari itu, ketika kita melihat dunia secara luas maka kita akan mendapati banyak intolensi dalam tingkat lebih besar yang terjadi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Atau bahkan, hal apa yang paling minimal bisa kita lakukan? Memulai dari diri sendiri, mungkin adalah hal minimal yang bisa kita lakukan.
Saya sering sekali menggunakan analogi manusia goa-nya Plato, yang menurut saya sangat masuk akal. Ketika ditanya kenapa kamu bersekolah jauh-jauh kesini, saya pasti menjawab 'karena saya tidak mau menjadi manusia goa seperti dalam analogi Plato;' Manusia yang tertutup; Manusia yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa diluaran sana ada banyak hal yang bisa dipelajari. Mengagung-agungkan tempat asal masing-masing, tidak akan membuat kita menjadi manusia yang lebih lebih baik.

Sebaliknya, berani melangkkahkan kaki keluar dari goa dan melihat bahwa diluar goa ada kehidupan nyata, (daripada hanya menyembah-nyembah bayangan yang terpantul kegoa,) akan membuatmu berfikir ulang tentang kehidupan. Kamu akan mengapresiasi kehidupan ini lebih baik lagi. Meninggalkan goa tempat asal mu tidak akan membuatmu melupakannya, bahkan sebaliknya rasa cintamu terhadap tempat asalmu akan tumbuh membesar - begitu besarnya sehingga kamu ingin mengubahnya ke arah lebih baik. Namun kenyataanya, manusia dalam goa masih ada saja sampai saat ini; mereka tidak siap menerima kenyataan yang di sampaikan oleh si tokoh pengungkap kebenaran. Pada akhirnya, hanya satu akhir cerita yang tidak terelakkan yaitu banyaknya Socrates versi modern yang dipaksa meminum hemlock hingga mati tak berkembang!

Bagi yang ingin bertanya tentang apapun silahkan menghubungi saya melalui ketiga akun sosial media yang tertulis di atas. Anda juga boleh berkomentar langsung di setiap tulisan yang saya postingan.

Salam,

Adhari K
I have always been interested in writing since I was a kid. At first it is just a go with a stream kind of process. One of my classmates in primary school had an interesting notebook called diary, which makes me very jealous because back then having diary, for me, represented someone's intelligence. I wanted to have what she had, but in more boyish way. Later, I found a term that less feminine than diary, a Journal - is what it called. I've been keeping journal since then.

Over the course of year, I evolve from someone who kept journal for the sake of attention (wanted to be seen smart) to become someone who found his passion in writing itself. It did not happen until I met a friend in high school who did writing and pursued writing as more than a hobby.

I was not born into a family of intellectual, I mean there are members of our family who succeeded in academic world. But oftentimes they become so distant from us. As if to say that "our hometown" is not a place for intellectuals. Therefore, they (now it includes me) stay in other places. What I realize from this whole thing is that this is what holding us from becoming an intellectual in early age.

I don't blame it on them. Because I do realize that even if they attempted to HELP, it wouldn't be easy. Distance makes everything so difficult. Now, for example, I wanted to teach my nieces to love reading books from early age. But then again, I have never been around for three years and I have never yet encountered a way to do it from far. Technology is around. But technologies' hand don't reach all people. It shakes its hand only with certain people. The rest left untouched.

University life begun. And I ended up studying literature, a major that I know nothing of - at all, literally! Even its definition, I have no idea what it was - let alone the courses. So, it was a kind of putting myself into a dark room without knowing either it's safe or not. What if it had poisonous animal in it? I could have infected and died.

The unexpected happens. Later I realized that literature is actually a perfect place for 'the lost' to stick their body on, until they figure out their ways. Literature teaches us multiple studies at the same time; psychology, philosophy, history, journalism, etc. Even if ones ended up not liking it, they could still use literature as a means of finding their identity. Many stories talk about how to rediscover yourself after so many years flying on the air of unknown. So, you will learn a lot of thing while studying literature.

What I learn, as someone who has a big crush on writing world, is the secret of writers. I know that to be a writer someone has to encounter the three phases of life,  James Joyce describes it as an epiphany . First, someone needs to have a sense of wholeness, meaning he needs to be able to see an object more than just an object. Two, harmony - he needs to see the connection between cause and effect. Three, radiance - the nodding moment when you examine the first two phases.

"After the analysis which discovers the second quality the mind makes the only logically possible synthesis and discovers the third quality. This is the moment which I call epiphany. First we recognise that the object is one integral thing, then we recognise that it is an organised composite structure, a thing in fact: finally, when the relation of the parts is exquisite, when the parts are adjusted to the special point, we recognise that it is that thing which it is. Its soul, its whatness, leaps to us from the vestment of its appearance. The soul of the commonest object, the structure of which is so adjusted, seems to us radiant. The object achieves its epiphany." - James Joyce's Stephen Hero


Knowing these things led me to a moment of realization on why I haven't produced any literary work until now. Perhaps, James Joyce's theory has some quality of truth too. I need to experience life more. I need to read books written by the legends more often, and steal their secrets. Eventually apply them to my process of writing.

Had I met this world sooner, I would have been able to stand a step further than just wondering how I can write. Had I been exposed to literature sooner, I would have known 'how to write'. I have met my demon who tells me 'what to write'; yet, I can't help but to disappoint them for I know nothing how to put them into words.

I am obsessed with the idea of teaching my nieces to love books from the very young age, in a hope that one day they could love to write as well.  So that, if I fail to become a writer, at least they could one day become ones. 




Di dunia yang penuh dengan HARAPAN ini kita sepatutnya melihat kedepan. Tidak ada yang tahu persis apa yang akan terjadi di masa depan.

Mempertahankan budaya adalah suatu hal yang baik. Namun, jika budaya itu sendiri mengandung 'sifat yang menyulitkan' di masa depan, alangkah baiknya jika mengadopsi budaya yang berasal dari kultur luar.

Pengadosian budaya luar selalu menjadi momok yang menakutkan bagi semua bangsa tanpa terkecuali, karena pada dasarnya hal yang semua bangsa inginkan adalah hal yang sebaliknya - menjadi panutan bagi bangsa lain. Ambisi seperti inilah yang menjadi salah satu alasan penjajahan di masa lalu. 

Topik seperti ini bukanlah topik masa lalu. Bahkan hari ini banyak bangsa yang masih berambisi untuk merealisasikan ide ini kekehidupan nyata. Ada bangsa yang secara sadar ingin menghapus pengaruh bangsa luar dinegaranya disegala bidang, termasuk bahasa. Jika dimasa lalu ada kata yang diadopsi dari bahasa lain, maka saat ini usaha yang ia ingin terapkan adalah menghapus 'kata' itu dari kamus bahasa negara itu, jika perlu.

Kondisi dunia yang penuh dengan egoisme dan ambisi seperti inilah yang menjadi penghalang tertegaknya PERDAMAIAN di muka bumi ini. Apa salahnya mengadopsi budaya luar demi mempermudah berlangsungnya hidup. Kenapa harus berambisi mendominasi budaya lain. Jika ada hal yang besar yang datang dari budaya A, pasti akan diadobsi oleh budaya B.

Nasionalisme, tentu tidak selalu berujung pada ketertutupan mental. Penggunaan kadar nasionalisme yang benar akan berujung pada hal yang menguntungkan, seperti tidak mudah dibodohi oleh negara lain. Mengingat hal seperti mungkin saja terjadi.

Namun, alangkah indahnya dunia ini jika kita bisa hidup seperti manusia-manusi pra-BERBOHONG ditemukan, seperti yang terjadi didalam film "The Invention of Lying," sehingga kita tidak perlu mencurigai bangsa luar untuk menikuk dari belakang.

Hari ini hal yang saya secara sadar inginkan adalah bangsa Indonesia, bangsaku sendiri,  untuk mendaposi sistem pemberian nama pada anak. Didunia globalisasi saat ini, alangkah eloknya jika kita mengadopsi sistem nama yang terdiri dari "NAMA DEPAN" dan "NAMA BELAKANG." NAMA BELAKANG adalah tempat dimana nama keluarga dicantumkan. Dalam kata lain, setiap anggota keluarga akan mencantumkan nama belakang tersebut.

Kalau ada yang bilang "bukannya hal itu sudah ada dimasyarakat kita," maka saya akan dengan langsung mengiakan. Tapi, hal yang perlu kita ingat adalah itu terjadi bukan karena peran pemerintah. Itu terjadi karena keluarga yang sudah mengadopsi budaya seperti ini, memang memiliki budaya sedemikian rupa, seperti penggunaan marga pada suku Batak. Kasus lain adalah karena status keluarga tersebut sebagai keluarga ningrat. Tentu jika berasal dari keluarga ningrat, adalah hal yang sangat rugi jika tidak menyantumkan nam besar keluarga, buka?

Selebihnya, mungkin karena mereka telah terekspos ke budaya luar. Atau karena telah sudah pernah mengalami betapa sulitnya hidup diluar dengan hanya memiliki nama yang terdiri dari hanya SATU kata, seperti saya sendiri. Sulit yang dimaksud disini adalah dalam proses administrasi ketika tinggal dinegara tersebut. Ketika tinggal disebuah negara pasti kita akan dihadapkan pada banyak proses birokrasi, seperti pembuatan recidence permit (surat izin bedomisili.) Petugas immigrasi akan sangat dipusingkan oleh permasalahan yang simple ini. Karena sistem didalam komputer yang memang telah menetapkan bahwa NAMA DEPAN dan NAMA BELAKANG itu berada pada kolom berbeda. Tidak halnya dengan negara kita tercinta Indonesia yang menyediakan hanya satu kolom pada setiap formulir, FULL NAME. Sehingga ketika satu umat manusia hidup dan tinggal di Indonesia dengan nama yang terdiri dari hnaya satu kata, tidak akan pernah berhadapan dengan masalah administrasi.

Apakah sudah saatnya pemerintah Indonesia untuk mempertimbangkan untuk mengganti template formulir di Indonesia? Terutama dibagian kependudukan dan dibagian petugas yang berwenag dalam mengeluarkan surat Akta Kelahiran, karena disanalah awal dimana nama seseorang (anak, bayi, manusia) terdaftar.

Atau Indonesia bisa juga melakukan hal yang Turki pernah lakukan diawal awal terbentuknya negara Turki republik, yaitu mengeluarkan UUD penggunaan nama keluarga di tahun 1934 yang berbunyi bahwa setiap penduduk wajib menyantumkan nama keluarga. Sehingga dengan begitu setiap anak Indonesia yang memilik kesempatan untuk hidup di Luar Negeri tidak akan menghadapi kesulitan dalam proses administrasi di kantor imigrasi, sekolah dan lain-lain. Hal yang simpel tapi bersifat sangat penting. 

Adhari

Mahasiswa S1 Jurusan Sastra

refersensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Turkish_name
Ceritanya berasa hidup di bab ketika Sabari rela menumbalkan dirinya demi menutup aib yang akan menimpa Lena, jika melahirkan anak tanpa AYAH. Sejak bab itu, watt ceritanya cukup konstan hingga halaman terakhir. Apalagi ketika mengetahui bahwa hadirnya 'penyu' dalam cerita ini bukan tanpa alasan.

Karena telah membaca buku Hirata yang lain, wajar rasanya jika saya mengatakan bahwa unsur budaya masyarakat melayu dalam novel ini cukup kental, sama halnya dengan novel-novel Hirata yang lain. Sempat saya berfikir bahwa, sudah saatnya Hirata mencoba hal baru. Opini saya berubah berangsur-angsur ketika menyelesaikan bab demi bab, terutama bab ketika Sabari menumbalkan dirinya demi Lena dan seterusnya. Sebagai pembaca ingin rasanya ketika membaca buku seorang penulis, kita diberikan sedikit surprise. Jangan sampai terlalu banyak kesan familiaritas dalam setiap buku yang di tulis.

Tema yang dibahas dalam novel ini:
#budaya sahabat pena yang sempat buming di tahun 90 dan tahun-tahun sebelumnya
#budaya beradio (hal yang sudah pernah Hirata bahas di novel sebelumnya, termasuk di Laskar Pelangi)
#Unrequited Love
#Penyebutan novel 'Love in the Time of Cholera'
#Budaya berpuisi (Terdengar familiar)
#Hubungan Antara Ayah dan Anak
#Pertualanagn Menjelajahi Nusantara (khususnya Sumatra)

Hal yang sedikit membuat sesak dari buku ini adalah halaman-halaman paling awal dan akhir, dimana testimoni dari seluruh media yang ada di planet bumi ini dicantumkan, dan cover-cover novel Andrea Hirata yang yang di publish di negara lain di pasang semua. Siapa yang tidak mengerti bahwa ini semua demi kepentingan advertisement. Tapi cukup berimbangalah dengan gaya tulisan Andrea Hirata yang penuh hiperbola. Apalagi dalam penyebutan nama-nama perempuan yang sahabat Sabari coba dekati. Mungkin hal yang seperti yang membuat awal-awal novel cukup menarik nafas..

Dalam novel ini ada kombinasi film-film yang diperankan Adam Sandler dan film/novel garapan Nicholas Sparks. Pernuh hiperbola dan sentimen. Juga mengandung pesan moral.

Gaya penulisan yang kental dalam novel ini:
  1. Kemunculan penulis yang pada awalnya berfungsi hanya sebagai pemapar cerita tetapi kemudian berubah menjadi komentator.
"Tentu tokoh kita tidak membiarkan begitu saja perbuatan Dinamut yang kurang ajar itu." Hal 368
Hal ini sedikit beralasan ketika membaca sampai akhir. Karena di akhir bab narator kemudian mengambil kuasa untuk meyakinkan pembaca bahwa cerita ini adalah cerita yang narrator dapat dari seorang temannya yang ia kenal ketika mereka sama-sama tinggal di Bandung. Dalam istilah lain, kalau di bab-bab sebelumnya kehadiran narator yang mengikut campuri cerita kadarnya sedikit, didalam bab terkahir akhirnya penulis secara penuh mengambil kuasa.

  1. Foreshadowing
Foreshadowing adalah salah satu figure of speech yang berfungsi sebagai pemberi aba-aba bahwa akan terjadi sesuatu di dalam bab tertentu dalam novel atau cerita tersebut.
Dalam novel ini penggunaan kura-kura adalah contoh dari Foreshadowing. Awalnya kita menganggap kehadiran kura-kura dalam novel ini hanyalah sebuah penghias cerita, tapi ternyata kura-kura menyimpan cerita yang sangat menarik yaitu untuk mengenalkan karakter lain dan kehidupannya di dunia lain, Australia.

  1. Sistem bab yang zigzag
Kalau kita membaca secara teliti, kita akan menemukan bahwa cerita dalam novel ini tidak berlangsung secara berurutan dari A sampai Z. Tapi berawal dari tengah, kemudian kembali ke masa lalu, kemudian kembali ke masa kini. Penggunaan sistem penulisan berbeda ala post-modernist selalu membuatku tertarik untuk membaca. Namun dalam buku ini ada sedikit harapan pribadi, seandainya Andrea menyantumkan tahun di setiap judul bab. Itu akan memudahkan kita sebagai pembaca untuk mensyncronisasi cerita didalam momori kita.

Kalau ada yang berargumentasi bahwa kalau itu dilakukan maka ke-asyikan membaca akan hilang? Tidak juga. Penggunaan gaya tulisan ini bukanlah hal yang baru. Buku-buku karya Elif Shafak hampir semua menggunakan teknik ini. Dan dia juga selalu memberikan kode di awal bab, bab ini lanjutan dari cerita dalam masa mana, dan seterusnya. Begitu rasanya akan lebih terorganisir dan mudah di mengerti.

Sekian…


Adhari
Mahasiswa S1 Jurusan Sastra

WATCHING television and reading history books today make me question my own sanity. On television I watch news upon news about refugee crisis. Most of the refugees are coming from middle-eastern countries such as Syria, Egypt, Iraq, and etc who face so much threat in their own countries that force them to seek for a safer place. It just happens that Europe is the safest place by far that fits their definition of safe. The crisis occurred due to the fact that most of European countries reject their existence. As a result, they are made to run like animals who do not deserve any help. Some overtly do it, others pretend want to help but behind the scene they try their best not to let them in too much. One of the reasons that come to the surface was they are afraid that "this tsunami of refugees will islamise the continent."

History books that I read happen to have tight relationship with the era where 'colonization' has its fame. The history books I read proudly show how great Europeans were; it could be seen through their ability to colonize and exploit all the other four continents: America, Africa, Asia and Australia. The way histories told were very proud, as if colonizing and exploiting those continents were fine and totally normal. Begging for help, however, is seen for something unacceptable. Even though if we could try see deeper those refugees just desperately want some help. And if Europeans were willing to open up their hearts to help, it actually would not be a big favor at all. We could even see it as giving back what they had taken in the past. It is so funny how universe works. No matter how inhuman you took others' possessions away, universe will always try to give it back through unexpected way. That of course was not the reason why refugees flooding Europe. They do that naturally because they have too. Otherwise they will have to compromise other possibility, DEATH.

On other channel, I came across a news about organizations that claims themselves as the ones who maintain peace in the world, or that is what they were built for from the first place. And one of the sentence I needed to quote from the spoke person of that organization is "we have to see the world as a no border place. Especially when it comes to the idea of helping others who need help." Here we are witnessing the reality show where hundreds and thousands people beg for help but we raise our hands up saying "NO! THANK YOU"
 

my current room

















Some people are destined to be homed. Some others spend their entire lives in semi-home, meaning dormitory. I might be one of them. I've been living in dormitory since middle school. Well, I took a break for 3 years, during high school. But then, fate brings me back again to my home. See? Home does not always have to be a home. "Home is wherever you are." I can go on and on talking about this sentence. It could be related with so many ideas, such as living abroad etc.

Actually that is where I am going to go. Yes, studying abroad. Quite true, but something is missing. Studying abroad under the frame of Erasmus+. This time I was brought back to my home by this little thing called Erasmus+. And, my current home is located in Galati, Romania.

I want to show you how it looks like and try to draw some comparison with my previous dormitory.

  1. Location
Both my dormitories located in a quite strategic places. By strategic I mean they both are pretty close to school. Meaning I don't have to pay more money for bus to get to school.

  1. Price
My previous dormitory costs 23o TL (69 euro) per month, while my current dormitory costs 85 euro. 

  1. Facilities
#in the room:
  • Previous dormitory -
bathroom, study tables, book shelf attached to the study table, beds and everything related to it, room heater, refrigerator, and cupboards.
(these great facilities are supposed to be shared with 4 people. But since so many room was empty I ended up living alone for 6 months. The next semester, however, I was forced to get a roommate , otherwise they will pick one for me, which is something very scary.)

  • Current dormitory -
Just like the previous one, but the book shelves are not attached to the study table. Instead of study table, we have a dining table. And, fortunately I share these facilities with only one person.

#Inside the building:
  • Previous dormitory:
Free breakfast and dinner, canteen and laundry.

  • Current dormitory
We have a tiny shared kitchen with 2 hotplates and a big refrigerator. Laundry. Canteen that opens only from 12 pm to 4 pm.

Which one is more favorable for me?
I think both have its good qualities and bad qualities. I like to cook my own food when I am tired of the food they make. But, I have times when I am so lazy to even make my own food. So the combination of the two would make a perfect place to live for me :D :p







My professor once said "It's not like Orhan Pamuk's books that require you to be knowledgeable in order to understand the message," as oppose to a book that we were reading. I was not sure if I understood clearly what he said until now.

I've been reading "My Name is Red" for quite some time. It took me so long to finish this book: 1. Because it's so complicated. Pamuk uses a lot references from Persian classical literatures such as "Leila and Mejnun" and "Husrev and Shirin."; 2. He mentions so many influential names from Ottoman eras, which requires us to do some research so that we can feel the excitement of reading. As readers this is something that we sometime ought to do, so that we (readers) won't feel like an alien.; 3. This book focuses on the world of miniatures or paintings in general. It took me awhile to understand what "Frankish style" and "Venetian style" mean. Orhan Pamuk also mentions some other styles invented in Eastern world; 4. And the part that amazes me the most is its narrative style. Orhan Pamuk uses "multiple narrators" style to tell the story; which means that the whole story from chapter 1 to the end will be told by various narrators. It also means that readers will be able to examine the degree of truth of each story by looking closely at the way one character tells its part.

So, now I think I am entitled to say that I love this so much - it teaches me how to be a responsible reader. I know that we are just 'tabula rasa' but it doesn't mean that we should be fed all the time. Instead, we should find our own food and feed it to our own mouths, not the other way around.


 


When you are coming to a foreign country there are so many questions come to your mind, that sometime it's too hard to handle. Nowadays you could try to answer that questions by googling it. But if internet fails to answer your naughty questions, what happens next is that you get so stressful and the worst part of it is that you can't get a good sleep? Imagine if your departure is within a week but you have no idea how it's going to look like in that new world. Even trying to imagine it gives me headache :D :D

One of the questions that you might come up with is the transportation question. This one won't be hard, right? Nowadays, all transportation agency has their own websites. Yes, it's partly correct. But what if the language used on that website was a language that you not know of?

Enough with your bullshit theory, Hari! :D

Now I will give you a website where you can check what means of transportation that can bring you to your destination in Romania.

Autogari.ro

Don't worry it's available in English. Even though when you are directed to the bus agency's website, it might switch to Romanian language.

We took a mini bus under the name of 'TST Turistik', I don't know if there is any other bigger bus. The street was so small. I couldn't imagine big busses pass that street.

What great about this whole thing is that the driver knows English. And the transportation system here is so, I lost word to describe it. Let me put it this way, there is no central bus station, where passengers are supposed to buy ticket - and where tickets booth are supposed to be located .

Apparently, here the system is like, the driver picks us directly from the airport. The mini bus is parked just outside the airport. How do we know that we, as passengers, will be picked up? Don't worry, the mini-bus driver is so good that he will call you half an hour before bus departs.

***

It was 17.30, which means the world was about to become dark - thus we won't be able to see anything. Literally anything.

Well, maybe that wasn't that bad, right? Since there was no much thing to see either. I suddenly understood why they came up with that Dracula myth. The atmosphere here during night is so supportive to that myth, too.

3 and a half hour on the read, we finally arrived in Galati. I didn't get to sleep on the bus. My mind was flying back and forth to the first existence of the world, and trying to answer 'did I make a good choice.'

Again, there was no bus station, or maybe their version of bus station is so out of my vision. The bus dropped us somewhere, which he called as bus station but I didn't see any bus parked there. Instead, it was a big street. And we were dropped just there.

We took a taxi to bring us to our dormitory in Str. Garii. Our names already on the list, and the receptionist were expecting us. We got our room keys. We went to our room separately. I slept peacefully that night.