Empat hari sebelum keberangkatan saya ke Indonesia, saya memutuskan untuk berkunjung ke kota Bursa. Biarlah ini menjadi momen jalan-jalan saya terakhir di Turki sebelum pulang ke Indonesia secara permanen, kata saya pada diri saya sendiri. Selain itu saya juga ingin menepati janji saya kepada Farabi, teman seangkatan saya, untuk berkunjung ke tempatnya.

Pendapat saya tentang Bursa.

Jujur, Bursa yang saya kunjungi tidak memenuhi ekspektasi yang selama ini saya punya. Selama ini saya berekspektasi bahwa kota Bursa akan lebih besar dan lebih metropolitan dari kota Izmir. Tapi ternyata setelah mengunjungi Bursa, di mata saya kota Bursa masih kurang besar dibanding kota Izmir. Dan alhasil, saya masih menganggap bahwa kota Izmir adalah kota terbaik di Turki. No offense buat para Bursali. 


Bursa: Kota Religi dan Perdagangan
Sejarahnya, kota Bursa adalah salah satu kota yang dilalui oleh jalur Sutra. Saat ini pun Bursa masih terkenal dengan produksi kain sutranya. Paling banyak adalah produk-produk sal dan esraf (jilbab) yang berbahan sutra. Fakta ini membuat turis asal Malaysia dan Indonesia gemar berkunjung ke Bursa. Sampai-sampai, salah satu toko souvenir di puncak kota Bursa, tepatnya didekat Yesil Camii (Mesjid Hijau), dinamai dengan kalimat bahasa Indonesia: Rumah Sutra.

Selain itu, Bursa juga terkenal dengan hubungan karibnya dengan kerjaan Ottoman. Konon, dimasa Ottoman, Bursa adalah salah satu kota pertama yang ditaklukkan oleh kerajaan Ottoman. Karenanya, saat ini Bursa adalah makam bagi raja-raja pertama Ottoman seperti raja Usman sendiri. Letak makam raja Usman berada tepat dibelakang saat Kulesi kota Bursa.

Sisi positif dari hubungan dekat Bursa dan kerajaan Ottoman dapat dilihat dari banyaknya masjid-mesjid megah dan pusat-pusat perbelanjaan modern (dimasanya maupun saat ini) dipusat kota Bursa. Berbeda dengan gaya arsitektur masjid-mesjid yang ada di kota Istanbul, masjid-mesjid di kota Bursa masih dipengaruhi oleh gaya arsitektur kerajaan selcuk. Yang paling mencolok dari gaya arsitektur Selcuk yang adalah banyaknya kubah-kubah kecil nan banyak, seolah kubah-kubah kecil tersebut adalah permata dari bangunan tersebut. Sebaliknya, gaya arsitektur yang dicetuskan oleh Mimar Sinan di masa kerajaan Ottoman berikutnya lebih memperhatikan menara. Walaupun begitu, kubahnya juga sangat khas. Ini dapat dilihat pada gaya arsitektural masjid Biru Istanbul dan lain-lain.

Uniknya, letak masjid-mesjid di kota Bursa sangat berdekatan dengan pasar. Hal ini mengingatkan saya pada surat Al-jumu’ah yang mengatakan bahwa mencari nafkahlah kamu setelah shalat (terjemahan yang paling simple).

Disalah satu iklan video tentang kota Bursa saya menangkat kalimat ini. Bursa: Ticaret’le Ibadet. Ia, Bursa adalah salah satu kota pusat perdagangan dari sejak berdirinya bursa. Tapi hingga saat ini, Bursa juga berhasil untuk menjaga kekhasannya untuk menjadi kota Ibadah.

Didepan Ulu Cami kota Bursa, tepatnya dipapan informasi, dikatakan bahwa dimasa lalu Ulu Cami pernah dianggap menjadi pusat suci ke tiga didunia setelah Haji, Palestina, dan Ulu Cami. Wallahu a’lam.








Disclaimer:
Sulit sekali rasanya untuk politically correct ketika mengangkat issue disabilitas. Oleh karenanya jika ada bahasa saya yang tidak berkenan didalam postingan kali ini, sesungguhnya itu murni karena keterbatasan bahasa yang saya miliki. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyakiti kelompok tertentu.

******


Bercerita tentang hubungan antara dua insan yang berbeda, Onur seorang pria tunarungu dan tunawicara dan Zeynep seorang wanita yang terlahir dengan kondisi fisik yang lengkap*,  Başka Dilde Aşk adalah sebuah film garapan sutradara Turki İlksen Başarır yang dirilis tahun 2009. Selain kisah cinta yang mungkin ketika pertama kali mendengarnya kita akan langsung berkomentar “cliché!,Başka Dilde Aşk juga mengangkat isu-isu sosial yang sangat mendalam. Salah satunya adalah hubungan cinta beda dunia ini. Masyarakat umum mungkin berekspektasi bahwa orang disabilitas akan berakhir dengan orang disabilitas pula. Disinilah diskusi dimulai. Bagaimana jika ada suatu kondisi dimana cinta tumbuh antara seorang pria disabilitas dengan wanita yang menurut masyarat umum adalah normal.

For the record, saya mencoba untuk tidak menggunakan kata normal di postingan. Namun rasanya sangat sulit karena keterbatasan ilmu bahasa kita. Normal adalah sebuah konsep yang sangat overrated dan kosep normal sendiri adalah sebuah konstruksi sosial. Jadi apa yang dianggap masyarakat kita normal belum tentu normal bagi kaum lain. Bayangkan saja begini. Bagi kaum disabilitas kita yang tidak normal karena baginya yang normal adalah mereka. Dalam kata lain menganggap kita tentang normal dan tidak normal adalah sepenuhnya berdasarkan pehaman kita akan normalitas. Namun apakah itu normalitas?

Onur dan Zeynep bertemu disebuah bar dipesta anniversary seorang teman. Pertemuan mereka berjalan begitua kasual namun jika penonton jeli akan mudah sekali melihat adanya api diantara mereka. Onur setelah mengucapkan salam kepada penyelenggara acara langsung menyendiri disudut bar memesan sebotol bir. Zeynep terlihat lebih sosial, langsung berbincang-bincang dengan orang-orang yang dibar. Disini kita bisa melihat bahwa Onur dengan keterbatasannya akhirnya terbiasa untuk menutup diri karena tuntutan sosial. Jika ia terlalu sosial maka dia akan lelah sendiri karena harus menjelaskan kondisinya juga. Juga mungkin karena Onur tidak ingin melihat ekspresi aneh atau iba dari orang-orang yang menganggap diri mereka normal itu.
Lalu Zeynep didekati oleh seorang laki-laki. Tidak tertari, Zeynep meninggalkan lelaki itu dan berjalan ke arah Onur dan langsug memesan bir. Onur yang baru saja meneguk birnya meletakkan botol bir diatas meja bar. Tanpa melihat Zeynep langsung meneguk botol bir Onur. Inilah awal pertama kali keduanya saling melirik.

Satu orang laki-laki lagi muncul yang ternyata adalah bos Zeynep disebuah kantor yang bergerak dibidang customer service, dengan nada sedikit memaksa mengajak Zeynep pulang. Ternyata lelaki itu selama ini mengejar-ngejar Zeynep namun Zeynep tidak tertarik. Gagal, lelaki itu pun pulang dengan wanita lain teman serumah Zeynep. Setelah lelaki itu pergi Zeynep mencium Onur.

Malam berlangsung. Ketika anggota parti sedang berjalan pulang, tali sepatu Zeynep lepas. Zeynep memanggil Onur sekali, dua kali dan tiga kali, sampai akhirnya Zeynep berteriak Onur tidak juga berbalik. Teman-temannya yang lain melihat ke arah Zeynep dengan muka heran. “Namanya Onur kan?” kata Zeynep. “Ia,” kata mereka. “Kenapa dia tidak berbalik?”. “Dia tuli dan bisu.” Bahagia Zeynep lari dan loncat memeluk Onur. “Ah.. bu iste benim erkegim,” kata Zeynep dengan canda tawa. Sebuah ungkapan yang awalnya mungkin bagi Zeynep hanya sebuah bercandaan. Hubungan yang hanyalah main-main semata. Malam itu Zeynep dan Onur berakhir dipartemen Onur. Zeynep meninggalkan rumah Onur sebelum hubungan intim mereka selesai.

Beberapa hari kemudian Zeynep kembali ke rumah Onur mengambil jaketnya yang ketinggalan. Namun mungkin juga ingin meminta maaf atas keanehannya malam sebelumnya, meninggalkan rumah Onur begitu saja. Keduanya berakhir makan siang bersama.

Melalui kisah cinta Onur dan Zeynep kita bisa menyaksikan suka dan duka hubungan antara dua orang yang sangat berbeda. Bagi mereka bedua mungkin tidak ada masalah sama sekali. Sebuah hiperbola, mungkin. Namun ketika melihat film ini, kita bisa melihat bahwa permasalahan bisanya muncul akibat orang yang ada disekitar mereka. Teman-teman Zeynep, misalnya, yang menganggap bahwa keputusan Zeynep untuk tinggal bersama dengan Onur adalah sebuah kegilaan. Karena bagi mereka tidak ada wanita normal yang mau memilih lelaki yang kurang (eksik insan). Tidak terima, Zeynep membalas dengan mengatakan bahwa sebenarnya yang kurang kalian, karena menggap orang disabilitas kurang.

Begitu juga dengan orangtua keduanya. Ibu Onur senang anaknya bisa menemukan wanita dambaannya. Namun, beliau juga menunjukkan kecemasannya. Ibuya cemas Onur akan berakhir dengan kekecewaan karena perbedaan mereka yang pada akhirnya akan berujung pada permasalahn. “Bagaimana dengan orangtua sigadis itu? Apakasih mereka tau tentang hubungan kalian?” kata ibunya. Onur berontak dan yakin mereka akan baik-baik saja. Saat orangtua Zeynep mengetahui bahwa anak mereka berpacaran dengan seorang laki-laki tunarungu dan tunawicara, mereka marah besar. Memaksa Zeynep untuk pulang ke rumah mereka. Zeynep yang pada dasarnya adalah seorang yang keras kepala, juga berontak dan meninggalkan orangtuanya begitu saja didepan kantor polisi. Kebetulan Zeynep baru ditankap polisi karena berdemo.

Selain kisah cinta yang sangat menyentuh ini, didalam film ini kita juga menyaksikan sebuah isu sosial lain seperti kondisi lingkungan kerja yang tidak manusiawi. Zeynep yang bekerja dibagian costumer service sebuah perusahaan mengalami kondisi kerja penuh tekanan. Salah satunya karena banyaknya kostumer yang menelpon dengan nada yang tidak mengenakkan bahkan tidak jarang berakhir dengan pertengkaran. Tekanan ini membuat para pekerja sangat stress secara psikologi. Alih-alih membantu, Aras, lelaki yang mengejar-ngejar Zeynep, malah memaksa pekerja untuk tetap bekerja tanpa perduli tekanan yang ada. Akhirnya Zeynep dan teman-teman kantornya berontak sampai akhirnya memutuskan untuk berdemo. Dalam demo ini semuanya sudah berjalan lancar. Meskipu sempat ada polisi yang menghampiri, setelah menjelaskan kondisi mereka akhirnya membolehkan mereka untuk tetap berdemo. Salah paham mengira bahwa polisi menyuruh mereka berhenti berdemo, Onur malah berontak yang menyebabkan mereka semua ditahan.

Dalam isu yang sama, film ini juga mengeksplorasi dunia kerja bagi penyandang disabilitas. Onur yang sebenarnya adalah seorang sarjana namun berakhir bekerja di perpustakaan. Meskipum Onur ahli dibidangnya, karena kekurangnya akhirnya tidak ada perusahaan yang menerima dirinya. Alhasil ia berakhir menjadi seorang pustawan dan tukang. Bahkan ketika ada kesampatan datang pun Onur jadi ragu. Karena dia tidak mau diremehkan orang lain seperti itu lagi.

Setelah kejadian penangkapan itu, hubungan Onur dan Zeynep jadi menggantung. Zeynep jadi mempetanyakan hubungannya. Apakah keduanya akan bisa hidup dengan keterbatasan yang ada. Meskipun Zeynep telah belajar bahasa isyarat, tetap saja mereka tidak akan sepenuhnya mengerti satu sama lain. Kejadian itu, misalnya, karena kesalah pahaman mereka jadi ditangkap polisi.

Diakhir film, Zeynep berada dirumah salah satu teman kantornya, membolehkan Zeynep untuk tinggal bersamanya untuk sementara. Zeynep memutuskan untuk mengambil sisa barang-barangnya dirumah Onur. Setelah memencet bel dan memastikan tidak ada orang didalam rumah, Zeynep masuk dan mengumpulkan barang-barangnya. Ketika Zeynep hendak keluar, ada suara dari pintu tanda seseorang baru masuk. Zeynep bersembunyi dibalik tembok. Ketika masuk rumah, Onur melihat ada yang berbeda. Leptop dan kamera Zeynep tidak ada ditas meja. Menyadari bahwa Zeynep meninggalkannya Onur menagis sejadi-jadinya. Zeynep pun menangis kencang dibalik tembok. Seandainya Onur bisa mendengar, Onur pasti menyadari bahwa dia masih ada kesempatan. Zeynep keluar menuju pintu tanpa dilihat oleh Onur. Zeynep sempat ragu dan hampir saja berlari menuju Onur, namun ia mantap untuk keluar.

Sebuah taksi berhenti didepan apartemen Onur. Bel pintu rumah Onur berbunyi. Didepan pintu ada Zeynep menatap muka Onur sambil mengatakan, “Apakah jaket saya tertinggal disini?”

Film berakhir. . . .

*****
Confession time! Selama di Turki aku nggak pernah nonton film Turki sama sekali (selain Ay Lav Yu didalam bis) karena kebiasaan burukku yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Aku kira film Turki akan sama seperti sinetronnya yang terlalu dramatis dan mirip telenovela. Akhirnya kemarin karena bosen nggak tau mau ngapain dan juga karena kwalitas film Hollywood lagi hancur-hancurnya, akhirnya mutusin untuk nonton film Turki. Tersentak, saya malah amazed sama film Turki. Ternyata banyak juga film Turki yang bagus.

Tentu ketika berbicara kwalitas akan ada perbedatan hebat. Karena setiap orang memiliki preferensi berbeda-beda. Saya, misalnya, hanya mau nonton film science-fiction dan pop-corn film di bisokop saja. Kalau di leptop yang lebih memiliki film yang mengangkat isu sosial seperti yang satu ini.

Dari membuka hati terhadap film Turki akhirnya aku menemukan film-film bagus seperti Issiz Adam dan Başka Dilde Aşk ini. Sangat berharap menemukan film-film Turki yang bagus lainnya!



Selama lima tahun di Turki, cuma tahun pertama doang saya tinggal di apartemen. Kecuali selama musim panas, terkadang saya menumpang di apartemen teman-teman Indonesia yang ada di Izmir dan Manisa. HEHE 

Memasuki tahun kedua saya pindah kota (awalnya di kota Adana pindah ke kota Manisa.) Kampus juga otomatis berubah. Awalnya Cukurova Universitesi menjadi Celal Bayar Universitesi. Di Cukurova Universitesi saya hanya berhasil meneyelesaikan program TOMER atau persiapan bahasa Turki. Untuk program S1, saya selesaikan di Celal Bayar Universitesi, Jurusan Sastra Inggris yang Alhamdulillah baru lulus akhir Juni kemarin.

Selama 4 tahun di kota Manisa, saya tinggal di KYK atau asrama milik pemerintah Turki dan lanjut tinggal disana sampai lulus. Sempat 1 semester saya tidak tinggal di KYK karena mengikuti program pertukarang pelajar (Erasmus+) di Rumania. Namun sepulang saya dari Rumania, saya kembali ke KYK dan Alhamdulillah di terima lagi. Saya bilang Alhamdulillah karena masuk KYK itu susah banget. Apalagi bagi mahasiswa non-beasiswa YTB.

Untuk info mengenai cara masuk KYK bagi mahasiswa non-beasiswa bisa baca disini: https://adhariabroader.blogspot.com.tr/2016/03/cara-tinggal-di-kyk-bagi-mahasiswa-non.html

KYK sendiri memiliki banyak jenis. Ada KYK yang dimiliki oleh pemerintah secara penuh ada juga KYK yang disebut yari ozel atau separuh swasta. Selain fasilitas yang disediakan berbeda, kedua jenis KYK ini juga menawarkan harga yang berbeda pula. Di KYK yang sepenuhnya dimiliki pemerintah harganya lebih murah, namun bentuk fisik bangunan dan fasilitas sedikit tua. Untuk jumlah orang perkamar-pun terkadang lebih banyak. Biasanya di KYK sepernuhnya dimiliki pemerintah jumlah orang perkamar bisa mencapai 8 orang. Untuk KYK yari ozel, biaya yang ditetapkan lebih mahal (bisa mencapai 2 kali lipat harga di KYK milik pemerintah sepenuhnya). Namun fasilitas yang disediakan sedikit lebih baik, seperti jumlah orang perkamar hanya 3 sampai 4 orang, fasilitas didalam kamar ada kamar mandi, meja belajar, kulkas mini dan lain-lain.

Kebetulan, saya sudah mencoba dua jenis KYK ini. Semester 1 sampai semester 4 di Manisa saya tinggal di KYK yang sepenuhnya milik pemerintah dan harus berbagi kamar dengan 8 orang Turki lainnya. Waktu itu sempat ada orang Uygur juga di kamar saya. Jadi 2 orang asing, selebihnya orang Turki. Memasuki semester 5, KYK membuka cabang baru didekat kampus. Suatu berita yang baik karena artinya bisa jalan kaki ke kampus. Tetapi asrama yang dibuka separuh swasta, otomatis biaya akan lebih mahal. Setelah menghitung biaya transportasi dan biaya asrama yang saya harus keluarkan jika saya memilih tetap tinggal di asrama KYK yang sepenuhnya milik pemerintah; yang hasilnya hanya berbading tipis. Di KYK sepenuhnya milik pemerintah saya harus membayar 160TL dan biaya transportasi menuju kampus sebulan sebanyak 60TL. Total 220. Sebaliknya, biaya yang harus saya keluarkan untuk tinggal di asrama yari ozel sebanyak 245 TL. Hanya beda 15 TL.

Dengan pertimbangan bahwa saya tidak mau menghabiskan waktu sampai 100 menit pulang pergi kampus setiap hari, akhirnya saya memutuskan untuk tinggal di Yunus Emre KYK Erkek Yurdu, Muradiye, Manisa (asrama KYK yang yari ozel). Sampai saya keluar dari KYK hari Senin kemarin, biaya bulanan KYK Yunus Emre adalah 265TL, belum termasuk 350TL uang deposito saat pertama mendaftar. Akan dikembalikan saat keluar dari KYK jika tidak merusak properti asrama.

Mau tau bagaimana bentuk kamar saya di Yunus Emre KYK Erkek Yurdu?

Tampak Depan Asrama
 
Tampak Lobby 

Kamar Saya. Blok B Lantai 6 No. 620. Pintu Kamar dilengkapi sistem kartu. Jadi hanya pemilik kamar dan tukang bersih-bersih saja yang bisa memasuki kamar.










Kasur saya selama 1 setengah tahun terakhir

 
Kamar Mandi en-suite. Dilengkapi shower dan WC duduk



 
koridor asrama lantai Blok B lantai 6
 
Pemandangan pagi dari jendela kamar


video

Ada beberapa fasilitas asrama yang belum sempat terdokumentasi seperti ruang laudry, mushala, mesjid dan ruang makan. Kemungkinan ada di hape saya. Tapi untuk sementara ini belum ketemu. Nanti kalau sudah ketemu saya masukin ke postingan ini lagi.

Sekian :)



















Courtesy of Hurriyet
Seminggu terakhir ini Turki sedang dilanda musim panas yang tidak seperti biasanya. Walaupun setiap tahunnya musim panas mulai sejak akhir Juni, namun musim panas kali ini sangat luar biasa karena baru di bulan Juli suhu sudah mencapai 43 derajat Celsius disiang hari. Musim panas tidak lagi sesistematis sebelumnya. Biasanya suhu naik berangsur-angsur: dibulan juni masih dibawah 23 derajat; lalu dibulan Juli naik sekitar 25 sampai 30 derajat; di bulan Agustus yang juga adalah puncak musim panas suhu bisa mencapai 45 derajat celcius. Bahkan dibeberapa kota di Turki seperti Adana, Mersin, Antalya dan Izmir suhu bisa mencapai 50 derajat Celsius saat puncak musim panas.

Menurut media lokal seperti Sabah, Hurriyet dan lain-lain, perubahan suhu yang tidak biasa ini disebabkan oleh gelombang udara panas (heat wave) yang datang dari Benua Afrika. Akibatnya, suhu di Turki melonjak naik dari suhu biasanya. Sampai-sampai di minggu pertama bulan Juli ini suhu di Manisa dan Izmir, Turki sudah mencapi 43 derajat Celcius disiang hari.

Menghindari panas yang tidak biasa ini, masyarakat Turki berbondong-bondong menuju pantai untuk berenang. Air Mediterranean yang terbilang dingin mampu mengurangi rasa panas yang ada. Selain itu, masyarakat juga berbondong-bondong menuju kolam renang umum yang ada disetiap kota. Di Balcova, Izmir misalnya angka pengunjung naik hingga 6000 orang dalam dua hari.

Gelombang udara panas (heat wave) ini diperkirakan berakhir hinggal Senin hari ini. Namun musim panas akan terus berlanjut. Walaupun cuaca panas yang mengejutkan ini akan usai, musim panas di Turki dan Benua Eropa umumnya akan terus berlanjut hingga bulan September. Dalam kata lain, masyarakat Turki akan terus menikmati cuaca panas untuk tiga bulan kedepan.
Salah satu tradisi dinegara 4 musim adalah: beramai-ramai menuju pantai saat musim panas tiba. Banyak kegiatan yang bisa di lakukan dipantai seperti berjemur, berenang, sampai berpiknik ria.

Izmir, salah satu provinsi di Turki, memiliki tradisi unik selama musim panas. Setiap hari selama musim panas (pertengahan Juni sampai September) pemerintah kota Izmir menyediakan kapal menuju pulau Yassica (dibaca: Yasija dengan i dibaca seperti e di kata enggak), sebuah pulau yang berjarak sekitar satu jam perjalan melalui kapal ferry dari pusat kota Izmir. 

Ada 2 pilihan pelabuhan dimana para penumpang bisa menaiki kapal tujuan Yassica ada ini: Karsiyaka dan Uckuylar. Untuk jam keberangkatan, setiap hari kapal berangkat jam 8.30 dari Karsiyaka. Lalu transit di Uckuylar untuk mengambil penumpang yang memilih untuk naik di pelabuhan ini. Untuk kepulangan, hanya ada jam 17.45. Dalam kata lain, dalam sehari hanya ada satu kapal keberangkatan dan kepulangan. 

Ada sensasi yang berbeda dari pilihan hiburan khas musim panas di kota Izmir ini. Para pengunjung Yassica Ada diberikan kesempatan untuk merealisasikan mimpinya yang sebelumnya hanya ada di imajinasi: mimpi untuk bisa berlayar ke sebuah pulau privat. Bagaimana tidak, dengan biaya sebesar 20TL para pengunjung bisa menikmati pengalaman berlayar menuju sebuah pulau yang terbilang eksklusif. Hanya orang-orang yang berada dalam kapal saja yang bisa menikmati pulau itu. Apalagi karena tidak ada jadwal keberangkatan lain, alhasil pulau ini bebas dari keramain yang tidak terkendali.



Fasilitas didalam pulau ini juga terbilang lengkap. Ada sebuah kafe dan kios dimana pengunjung bisa menikmati sebongkah es krim, sandwich ikan dan pilihan makanan lain. Selain itu, ada juga seluncuran yang terhubung langsung dengan air laut dimana anak-anak dan dewasa bisa bermain ria. Air laut yang tidak terlalu dalam dan gelombang air yang tidak terlalu kuat membuat pulau ini semakin ramah keluarga dan anak-anak.

Pemerintah Kota Izmir juga menyediakan fasilitas primer seperti tenda tempat berteduh gratis, payung pantai dengan biaya sewa terjangkau 15TL untuk sehari penuh, WC, dan tempat berganti pakaian. Dengan semua fasilitas ini, pengunjung dijamin akan mendapatkan pengalaman liburan yang sangat menyenangkan.

Ayo berkunjung ke Yassica Ada!   

Narrated by a first-person, The Reader is a kind of novel that when one first starts reading would think that it is an erotic novel since it deals with an unconventional relationship between younger man and a middle-aged woman. Gradually, however, this novel does not only expose a strange relationship between Michael Berg, the main character who also happens to be the narrator, and Hanna Schmitz, the middle-aged woman – but also explore at deeper level the problem concerning Holocaust and Nazi occupation and how people who were related to the event get involved with such cruelty at the first place and how German people born at the aftermath of the event deal with the shame inherited by their ancestor.

The novel starts with Michael Berg explaining his health condition when he was younger, 15 years old, when he suffers hepatitis. One day when he was on his way home from school he was paralyzed and helped by a middle-aged woman who Berg hadn’t had chance to talk to for his condition at the time. When he gets better, Berg’s family suggests that he goes to the woman’s house and say thank you for the help she has given. Berg visited the woman’s house and finally talked with her for a good hour. When Berg was about to leave the house Frau Schmitz asked him to wait because she said she too is leaving the house for work. Berg waited outside with the door open exposing the view of Frau Schmitz changing her clothes. At this point there is a strange feeling running throughout Berg’s body, a feeling that he himself couldn’t fathom, a feeling that he admitted he have never had even when he is around his girlfriend. He took a peek and more and more, until Frau Schmitz caught him. Frightened or ashamed of what he has done, Berg run out of the house as fast as possible.

Some days later, Berg decided to come back again to Frau Schmitz’s house and apologized for his misdeed. When he got to the house, she wasn’t there so he waited until she turned up. She turned up with her hands occupied with bags of coal and she still have some more downstairs. She asked Berg to fetch them and he did. When he returned to the house all of Berg clothes is black and Frau Schmitz told him to take off his clothes and take a bath so that she can clean his clothes. Berg took a bath and suddenly Frau Schmitz come in with towel that is supposed to dry Berg. What happened instead, the towel fall to the floor and she hugged him. This is the mark of their relationship as lover. After this event the two continue to meet despite the odds. They meet at Schmitz’s house, at Berg’s house when his family is not around, and even they went to a hotel in other city to be together.

Their relationship as lovers wasn’t a happy one, Berg who was a 15-year-old boy and the fact that Frau Schmitz is the first person whom he has done the intimate relationship with makes it even more complex. Throughout the novel Berg explains how he loves her, but Frau Schmitz treats the relationship very casually almost without emotion. Often Berg is the one who has to act like an adult for Frau Schmitz can get very moody sometime to the point that she might scold and get angry at him and for most, asks him to leave her house. And despite all this, Berg shows his loyalty and love towards her. He confessed in the novel that he does love her and their relationship affect his life to another level.

One of the things they do together is reading and listening. Berg would read a book out loud for Frau Schmitz to listen to. She likes this very much to the point that she wouldn’t want to have sex without Berg reading her a part of a book first. At first Berg takes this as her loving books, so he brought more books for her to read. But she didn’t even touch the book, saying that she likse listening to other people reading the book more than reading herself.

Berg continues to be a reader and a lover to Frau Schmitz until one day she was missing without any notice.

It’s not until years later they both meet again, not in face-to-face, person to person, scenario, instead they meet in a court room by accident. At this point Berg was a law student assigned by his university to observe the law practice in its habitat (the court). It turns out that most of the suspects being tried there were people who had relations with the Nazi or the war. Frau Schmitz for one is accused to have let mass killing taking place during the war. She happened to work as a security guard for the occupants and when a bomb hit the place (the church) she was guarding, instead of opening the door so that people in it can flee the fire, she let it locked and as a result majority of people in the church die. The trial is made to find out who is responsible for the killing of those people. After several trials and drama, Frau Schmitz is officially notified guilty for letting those people die.

Before that, however, there is a great discussion going on in the interior of the novel. And it is only known by the narrator and the suspect. It goes back to the question either Frau Schmitz truly guilty or she would rather be made the guilty one than face her secret exposed to the world. And what is that secret? All this time turned out Frau Schmitz was illiterate, it explained why she didn’t want to read books by herself, asked others to read for her, because she couldn’t do it. It also explains why she always leaves her jobs once she is promoted, because higher position require literacy, one that she doesn’t have. Interesting part of it is that her hard work makes it impossible for people around her to notice that she is illiterate. And to avoid them finding out, she moves from one job to another.

Going back to the trial. One last thing brought up to the court is about the letter sent to the official regarding the bombing event. When it is about to be examined, Frau Schmitz confessed that she made the letter and it lead to her being sentenced a life time. She would rather be in the prison than her secret as an illiterate exposed to the world.

Is being illiterate that embarrassing? Is hiding it worth more than freedom itself?

Berg, who at this point, begins to notice that fact faced with dilemma. Should he confess to the judge that he knows her and he knows her secret? At least if he does that her sentence can be lighter. But would it be fair to Frau Schmitz if he does that? Berg consult the issue with his father, who is a philosophy professor, and he also thinks that an individual has the right to what’s good for him or her without outer force interference. In addition to that, if he confessed that he knew her, he would have had to explain their relationship and it will affect the credibility of his confession. So he decided to keep silent.

After the event everybody goes back to their own life. Berg with his life in a free world. Frau Schmitz in her cell. Throughout this time, Berg had the chance to get married with a woman from his school and had a baby together but the marriage didn’t survive. They divorced after 5 years of marriage.

Berg still keep in touch with Frau Schmitz through cassettes he sends to the prison containing his voices reading book. But he never pays a visit.

Several years later, a letter arrived at Berg’s address from the head of the prison notifying that Frau Schmitz will be released a year later. Since Frau Schmitz has no other relative, and Berg is the only person whom she exchange letters with the official sent the notification to him. 

Berg, admits that he doesn’t know how to react to this. Though he cares about her, he is not sure if he wants anything to do with her any longer after the things he has gone through. Plus, all that happens make him feel very confused. At one point he thinks he is guilty: first, for the disappearance – he thought that his behavior makes her disappeared; second, for not exposing her lies; and three, for sleeping with a person who has connection with world’s enemy (the Nazi). But eventually, he did what the head of the prison asks him to do, to look for an apartment, job and social support for ex-convict and etc. One thing that he is indifferent to do, is to meet her. He avoids visiting her. But the head of the prison insists that he should pay a visit and talk with her. And he did.

Finally after several years Berg and Frau Schmitz meet and talk face to face. Berg admits that Frau Schmitz is not as beautiful as she used to be. She seems to have given up taking care of herself. Her hair is gray, her face full with wrinkles and she is fat too. And it’s approved by the head of the prison that she was once very respected in the prison by everybody, she was very neat, organized and self-taught. She even learns to read autodidactly through the cassettes Berg sends by hearing and reading the book at the same time. But several years before her release she gave up her routine and become who she is now.     

The conversation they have during the meeting is quite odd. Frau Schmitz asked Berg if he ever get married. Berg said he had and have a daughter from that marriage. It’s getting weird that the meeting lasted even before the visit time is up.

A month before her release Berg and Frau Schmitz talk on the telephone. And the day after that Frau Schmitz committed suicide for no reason. The head of the prison theorizes that perhaps she no longer has purpose in life that ending life is better than continuing living.

She left a letter, a very practical letter as opposed to an emotional one. On that letter she specifically ask Michael Berg to give the money she has left to the surviving child of the bombing event who now is living in New York. Berg does what he is asked to do. He sends a mail by introducing himself as a war historian and wants to talk with her in person. She approved and they had the meeting. There is a strong resentment from her towards Frau Schmitz. When Berg told her his past with Frau Schmitz it even levels up her resentment towards her. At the end she decided to accept only the tea bag and asked Berg to donate the money to an organization that has connection with Holocaust and she doesn’t care if Hanna Schmitz’s name acknowledged or not. 

Berg donated the money to the Jewish League Against Illiteracy and the organization thanked Hanna Schmitz for her contribution. The novel ends with Berg driving to Hannah’s cemetery carrying a letter from the organization. Berg said that it’s the first and the only time he stood there.

THE END


Analysis of the Novel (sort of)

Narrative Style

The language used in this novel is very simple, yet very pragmatic. Through its simplicity it manages successfully to deliver both the message and the emotion of the story. I am not quite sure to what extent it is a conscious decision to do it as such, but with the beginning of the novel where Berg is still a 15-year-old boy, it’s quite understandable why the writer chooses to use such language. It’s to emphasize the immaturity of the main character (Berg) who also functions as a narrator. Just like Berg, the language used also brings up the vibe of naivety from Berg himself.

On the other hand, in English, a short word, as opposed to the colloquial one, is called Germanic word. It got me thinking, could this mean that the language used in this novel is fairly normal for a German novel? And the fact that I read the translation one makes me question, would I feel differently had I read the original one, had I known the language? Perhaps I would think of it rather poetic than not. And when we talk about translation – to what degree the translation is truthful to the text and etc. etc.

Characters

I haven’t watched the movie version, but I did watch its trailer where I saw Berg consulting with a supposedly psychiatrist. This is quite different from the book. There is no going to the psychiatrist in the book at all. That being said, I do think that a psychological discussion deserves to be taking place in this novel.

However, there seems to be anti-psychology approach in this novel. Berg who supposedly suffers from psychological disorder for what he experienced from such a young age, seems to be just okay with the whole thing. Though from time to time, we see it appears through his confession in his narration. None the less, ironically his narration also makes it as if it was okay for a young boy to have that kind of relationship with a middle-aged woman.  It’s not age that bothers him. It’s Hanna’s treatment of their relationship that makes him rage. He invested in the relationship while Hanna seems to take no importance in the relationship at all. It’s not age that bothers him, it’s Hanna’s disappearance and lies that plant hate in his heart. This in a way contradicts the conventional understanding of psychology – where the trauma that should’ve been the cause of psychological unrest. Here, however, the trauma is not the relationship itself but the sudden ending of that relationship.

Similarly, Hanna too suffers psychological unrest. As an illiterate woman lives in a time of war, she has to provide for herself despite the odds. Though her career choices is pitiable, she too has reason behind it.

That being said, is this novel trying to justify what the Nazi did in the past? Is it saying that there is humanity in its cruelty? That not everybody tied to the event is guilty?  
 

Final Thought

Personally, I think The Reader is great book with a deep level of discussion regarding life and its complexness. A kind of book that plays around with our judgmental mind. For that I give ✰✰✰✰ stars for this novel!