Sesuai dengan janji saya sebelumnya, pengumuman giveaway akan dilakukan setelah tanggal 25 Juni 2017, yaitu hari ini. Berhubung yang ikut cuma 3 orang, kalian bertiga masing-masing berhasil memenangkan 1 postcard.

Untuk prosesnya, para pemenang:

1. Eva Wulandari,

2. Halimah Sya Diah

3. Dian Ayu

diharapkan untuk mengirimkan alamat pos untuk pengiriman postcard berkut topik yang diinginkan (misalkan: ulang tahun, kenaikan kelas, skripsi, wisuda dll) ke alamat email: Adhari.indonesia@gmail.com

Ditunggu ya para pemenan. Terimakasih banyak sudah mengikuti giveaway kali ini 😊😊😊😊😊😊


Courtesy of Hurriyet.com.tr
Berbeda dengan pemahaman umum yang ada di Indonesia, dimana orang Indonesia umumnya percaya bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang tidak satu orang pun tahu kapan akan terjadi; satu-satunya petunjuk yang berkaitan dengan malam Lailatul Qatar yang kita ketahui di Indonesia adalah seperti: 1, Kemungkinan besar malam Lailatul Qatar terjadi pada malam-malam ganjil; dan 2, terjadinya malam Lailatul Qadar dimulai setelah malam ke-17 ramadhan - itulah mengapa bacaan surat pendek setelah malam ke-17 berubah ke Al-Qadr, sedangkan malam-malam sebelumnya adalah Al-Ahad.

Disclaimer: saya tidak tahu-menahu bagamana dengan kota lain di Indonesia, yang jelas di kota tempat saya tinggal, bacaan surat pendek pada saat tarawih selalu sama. Dan yang berubah sepanjang ramadhan hanyalah bacaan surat pendek dirakaat kedua, 17 malam pertama Al-Ahad dan seterusnya menjadi Al-Qadr.

Sebaliknya, di Turki malam Lailatul Qadar sudah ditentukan sejak awal ramadhan, yaitu pada malam ke 27. Ini bisa dilihat di Imsakiyah Ramadhan yang dibagikan oleh Diyanet atau Mentri Agama Turki. Juga dilayar promosi yang ada setiap sudut kota (untuk hal ini setiap kota sangat berbeda) dimana pemerintah kota biasanya membuat pamphlet khas Malam Lailatul Qadar seperti Kadir Geceniz MΓΌbarek Olsun dan lain-lain.

Dengan begitu berarti malam hari ini yang juga bertepatan dengan malam 27 ramadhan seharunya adalah malam Lailatul Qatar menurut pehaman orang-orang Turki.

Pada Kadir Gecesi atau Malam Lailatul Qadar mesjid-mesjid kota yang ada di Turki (umumnya masjid terbesar yang ada dikota tersebut) menyelenggaran iktikaf bersama dalam rangka memperingati malam Lailatuh Qatar yang mereka percaya jatuh pada malam ke 27 ramadhan tersebut. Seperti juga malam hari ini, orang-orang berbondong-bondongan menuju masjid untuk beri’tikaf bertaubat memohon ampun atas segala dosa yang dilakukan selama setahun sebelumnya, juga memohon agar doa-doa yang dipanjatkan diijabah oleh Allah SWT. Pada malam hari ini semua kalangan masyarakat hadir, baik yang sangat religius, sampai yang bertato dan bercelana pendek datang ke masjid (shalat mengenakan celana pendek sangatlah lumrah di Turki apalagi pada saat tarawih terutama karena suhu Summer yang sangat panas. Dan tato tidak mengindikasikan hal negatif sedikitpun. Bertato dan beragama adalah hal yang mungkin-mungkin saja terjadi.)

Hari ini ketika saya berada dipusat kota, saya melihat kerumunan masyarakat yang mulai memenuhi pelataran masjid Hatuniye kota Manisa, bahkan sebelum waktu shalat isya tiba. Mungkin mereka ingin mengantisipasi keramaian yang sudah pasti akan terjadi. Namun sayang sekali saya tidak bisa ikut serta dalam perayaan (I’tikaf) ini karena jarak asrama saya yang sangat jauh dari masjid tersebut dan juga karena bus kota beroperasi hingga jam 11 malam. Memaksa saya untuk pulang keasrama sebelum jam 11.

Namun satu pertanyaan fundamental tergelitik dalam benak saya, lalu apa sih Malam Lailatul Qadar sebenarnya?

Lailatul Qadar sendiri adalah konsep yang sangat familiar bagi kita. Kita sering mendengarnya dari tengku-tengku (sapaan kami untuk para untaz) yang sering kali mengulang-ulang topik ini setiap kali ramadhan tiba. Mulai dari memaparkan pemahaman yang telah mereka pelajari dari kitab-kitab dan juga ayat Alquran, sampai cerita yang beredar. Menurut salah satu cerita yang beredar, dimalam Lailatul Qadar ini semua objek bersujud, tumbuhan, hewan bahkan malampun bersujud mengagungi kebesaran Allah SWT. Dan pada malam yang lebih baik dari seribu malam ini segala doa yang kita panjatkan akan dikabulkan Allah SWT. Suatu malam yang sangat spesial, sampai-sampai hanya orang yang sangat spesial lah yang akan mendapatkan kesempatan untuk mengalami malam terbaik ini. Siapakah orang tersebut? Orang yang tidak terjurumus pada dosa-dosa, orang yang melakukan perintah Allah dan menjauhi larangat Allah, orang-orang yang tubuhnya bersih dari makanan haram dan lain-lainnya.

Dari pemahaman inilah mengapa di Indonesia kita memahami malam Lailatul Qadar dengan cara pandang yang berbeda. Sulitnya mendapatkan malam spesial ini membuat kita percaya bahwa malam Lailatul Qadar ini tidak bisa ditebak. Sedangkan orang Turki memahami bahwa malam Lailatul Qadar terjadi pada malam ke-27 dengan pemahaman bahwa Kadir Gecesi ini tidak terpaut hanya kepada satu orang. Melainkan semua orang yang beribadah pada malam ini memiliki kesempatan untuk mendapatkan kemuliaan malam ini.

Terlepas dari ini semua, semoga kita semua mendapat syafaat bulan ramadhan yang sesungguhnya. Semoga ibadah puasa kita selama sebulan penuh ini diterima Allah SWT sehingga pada hari Ied nanti kita benar-benar kembali fitrah. Dan juga semoga ramadhan kali ini mengajarkan banyak hal yang sebelumnya kita belum sadari. Semoga kita tidak menjadi orang yang sia-sia yang hanya menahan lapar dan dahaga tanpa mendapatkan nikmat sesungguhnya. Nauzubillahi min zalik.

Hayirli Kadir Geceler 


Untuk cerita lainnya mengenai ramadhan di Turki klik disini 

coutesy of vanadiumblog.files.wordpress.com
Selama ini sistem pendidikan Indonesia sering di asosiasikan dengan hal-hal negatif seperti standar pendidikan yang tidak merata, infrastruktur yang tidak memadai, dan lain-lainnya. Dan semua statement ini memang terbukti dilapangan. Sebagai seorang anak yang berasal dari kota kecil (Desa Suku Wih Ilang, Bener Meriah, Aceh) dan memiliki kesempatan untuk juga bersekolah dikota besar (Banda Aceh), saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kesenjangan ini. Di kota kecil dimana saya menamatkan Sekolah Dasar saya, saya menyaksikan dimana kami sebagai murid kekurangan buku. Saya ingat waktu itu buku yang digunakan dikelas masih buku-buku dari kurikulum sebelumnya. Sedangkan dalam waktu bersamaan pemerintah sudah menyatakan secara resmi bahwa kurikulum baru resmi diberlakukan. Gambarannya seperti ini: kurikulum yang resmi diberlakukan adalah kurikulum 2004 dan di SD kami masih menggunakan kurikulum 1999.

Secara infrastruktur juga begitu. Walaupun tidak separah bangaun SD Muhammadiyah di novel Laskar Pelangi, bangunan sekolah kami masih seadanya. Tidak ada gedung perpustakaan. Buku-buku ditempatkan dilemari kecil yang disediakan disetiap kelas.

Begitu juga dengan tenaga pengajar. Kalau di kota besar mungkin guru-guru yang mengajar adalah lulusan atau D3, D4 atau S1 dari universitas negeri, di SD kami mayoritas guru-gurunya adalah lulusan SPG, yang menurut saya pahami adalah Sekolah Menengah Atas Kejuruan dalam bidang pendidikan. Namun jujur, ini tidak serta mereta berarti bahwa guru-guru kami tidak kompeten. Malah sebaliknya, saya merasa bahwa mereka sangat kompeten dibidangnya. Buktinya ada banyak sekali alumni SD saya yang sukses dijenjang sekolah berikutnya dan bahkan jadi bintang kelas.

Salah satu hal lain yang juga saya sadari di kemudian hari adalah pilihan mata pelajaran yang diajarkan; yang sangat jauh berbeda dengan dikota besar. Di SD-SD di kota besar ada pelajaran-pelajaran seperti Bahasa Inggris dan Kesenian, yang tidak kami dapatkan. Di SD kami salah satu mata pelajaran yang dekat ke bidang kesenian mungkin cuma pelajaran Muatan Lokal, dan yang diajarkan dikelas ini hanyalah bahasa lokal atau bahasa Arab.  

Saya pribadi baru mulai mendapatkan pelajaran bahasa Inggris di MTs Nurul Islam, Bener Meriah. Kebetulan saya melanjutkan Sekolah Menengah di Pondok Pesantren Terpadu tersebut dimana bahasa Inggris dan bahasa Arab adalah bahasa yang di ajarakan; bahkan wajib digunakan sehari-sehari. Di pondok inilah pertama kalinya saya belajar bahasa Inggris dan langsung jatuh cinta. Setiap hari setelah shalat subuh kami diberikan 3 kosa-kata, yang nantinya sepanjang hari itu harus disetor (istilah yang kami gunakan untuk melafalkan kosa-kata yang sudah diberikan dihadapan pengurus bahasa). Hari ini terkadang teman-teman Turki saya bertanya: nasil Inglizce ogrenebildin? Saya nggak tau mau jawab apa. Ia saya diajarkan kosa-kata, tapi apakah cukup? Tentu tidak. Selama SMP dan SMA bahasa Inggris saya kacau. Grammar gak karuan dan lain-lain. Tapi ada satu hal yang saya punya saat itu, yaitu rasa percaya diri yang tinggi. Saya nggak perduli bahasa Inggris saya mau kacau atau apapun, saya tetap komitmen untuk mempraktikannya. Kalau history twitter saya tahun 2011-2013an dibongkar pasti isinya kacau semua. Tapi saya nggak malu untuk mengakui itu. Itu adalah bagian dari proses belajar bahasa Inggris yang harus saya lalui sebagai anak perkampungan.

Terkadang saya iri dengan teman-teman Indonesia lainnya yang saya temui di Turki. Mereka mengaku sudah dikenalkan ke Bahasa Inggris sejak kecil dan bahkan orangtua mereka memang secara conscious membiasakan mereka untuk melek bahasa Inggris sejak kecil dengan cara membelikan buku-buku bacaan dalam bahasa Inggris dan mengintal TV berbayar yang ada channel bahasa Inggrisnya. Ditambah dengan pendidikan mereka selanjutnya, SMP dan SMA internasional. Lengkaplah sudah!

Tapi ini bukanlah topik yang saya ingin tekankan dalam postingan ini. Berkaca dari pengalaman saya di Turki, dibalik kesenjangan pendidikan di Indonesia, ada satu hal yang membuat saya bersyukur menjadi salah satu produk didikan sekolah Indonesia yaitu KEMANDIRIAN. Saya tidak tahu dengan sekolah-sekolah di kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain-lain, tapi kami di Aceh masih di tugaskan untuk membersihkan kelas sendiri. Setiap hari sudah ditentukan siapa yang akan menjadi piket bersih-bersih kelas. Berbeda dengan di Turki, para murid tidak terjun langsung dalam kegiatan bersih-bersih. Pemerintah sudah menyediakan tenaga pembersih yang bertugas untuk membersihkan dan merapihkan kelas. Para murid hanya datang untuk belajar saja. Kelihatannya sangat bagus bukan? Jadi anak-anak bisa fokus pada pelajarannya saja. Tapi saya pribadi tidak berpikiran demikian. Sekolah bukan hanya tempat untuk mengemban ilmu saja tapi juga tempat untuk membentuk moral anak-anak. Dan hal sesimpel membersihkan kelas mampu memberikan pelajaran besar yang akan dibawa oleh anak-anak tersebut hingga dikehidupan dewasanya.

Kebetulan di Turki saya tinggal di asrama yang dikelola oleh pemerintah. Diasrama ini mahasiswa dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti makanan siap santap tanpa perlu masak, laundry dan pengering yang tidak membutuhkan tenaga dan waktu jika dibandingkan dengan mencuci secara manual, dan tenaga pembersih yang setiap pagi datang kekamar-kamar untuk menyapu dan mengepel lantai dan membersihkan toilet. Sebagai produk didikan asrama pondok saya sangat tidak enakan ketika melihat kamar dibersihkan orang lain. Bayangkan saja, biasanya bersih-bersih kamar dan toilet bersama dengan teman sekamar, disini tiba-tiba ada orang paruh baya yang datang untuk membersihakan kekacauan yang kamu buat. Sampah-sampai diatas meja dipungut sama mereka. Saya malah nggak ngebolehin mereka untuk ngambil sampah saya. Saya bilang gini: nanti saya akan buang sendiri.

Tanpa ada judgment dalam kalimat ini, saya ingin membandingkan approach yang diambil teman sekamar saya (yang adalah orang lokal) terhadap tukang bersih-bersih ini. Kontras, mereka melihat tukang bersih-bersih ini sebagai orang yang memang harus melakukan hal-hal tersebut. Bahkan alih-alih menolong, mereka malah mempersulit kerja tukang bersih-bersih dengan menumpuk sampah disetiap sudut kamar. Beberapa minggu ini tenaga bersih-bersih komplain untuk tidak menumpuk sampah diatas kulkas. Alih-alih mengindahkan komplainan itu, mereka malah berontak dan marah-marah dan menambah jumlah sampah yang ada. “Kenapa, itu kan kerjaan kamu!” jawab mereka.

Dalam penggunaan kamar mandi juga. Orang sini yang umumnya berjenggot mengharuskan mereka untuk merapihkan jenggotnya setiap minggu, bahkan mungkin dalam 3 hari sekali. Nah, sebagai orang yang bertanggungjawab harusnya setelah mencukur jenggot rambut-rambutnya diberihkan jangan sampai berantakan di westafel dan lantai kamar mandi. Tapi nggak! Teman kamar saya nggak perduli untuk membersihkan “kotorannnya” itu. Dia lebih memilih untuk meninggalkannya ke tukang bersih-bersih saja, yang menurut saya pribadi sangat mengejutkan. Kalau saya pasti malu kalau rambut-rambut gitu berceceran dilantai. Lebih ke perspektif sih. Nanti di cap sebagai orang kotor sama tukang bersih-bersih. NB: saya adalah salah satu orang yang sangat peduli pandangan orang lain terhadap saya!

Satu lagi, disini setiap orang mau laki atau perempuan pasti pakai pengering rambut. Nggak ada masalah dengan ini. Tapi salah satu teman sekamar saya, rambutnya gampang rontok. Nah, kalau lagi cuci rambut dan setelahnya rambutnya diblow pakai pengering rambutnya jadi berceceran dilantai WC. Apakah dia akan bersihin lantainya setelah itu? Mustahil. Beberapa kali saya bersihin tapi karena dia gak sadar juga, akhirnya saya biarin begitu. Ujung-ujungnya tukang bersih-bersih juga yang harus membersihkan kotoran yang kami buat.

Tapi kembali lagi, generalisasi adalah sebuah kebodohan. Mungkin saja saya kebetulan jonk dapat teman-teman kamar begitu. Pasti orang lain gak begitu. Tetap positif.

Kembali ke salah satu didikan sekolah di Indonesia yang mungkin terlihat simple (piket kelas) tapi ternyata mengajarkan hal yang sangat besar yaitu bagaimana untuk hidup mandiri, bertanggungjawab, dan meningkatkan sensitifitas dan kesadaran terhadapa lingkungan. Dan saya rasa didikan seperti ini harus dilanjutkan. Jangan sampai sekolah membayar tenaga pemberih untuk membersihkan kelas-kelas. Melainkan ikut sertakan murid-murid utuk membersihkan lingkungannya. Saya juga ingat dulu di SD bahkan sampai SMA sekali dalam seminggu ada bersih-bersih masal untuk membersihkan lingkunan luar sekolah. Waktu itu mungkin menjengkelkan, tapi sekarang saya bisa lihat manfaatnya.

Tapi kita juga harus menekankan pentingnya faktor-faktor utama seperti infrastruktur, tenaga pengajar yang memadai dan komponen lainnya agar fondasi sistem didikan yang sudah baik itu tambah lebih baik laik. Hidup pendidikan Indonesia!
Musim gugur di Galati, Romania
“Seru ya bisa ngalamin musim dingin, ada salju”. Ini adalah salah satu eksperi natural kita sebagai orang tropis ketika mendengar bahwa salah satu teman kita hidup di Negara dengan 4 musim. Tapi tahukah kita bahwa ternyata segalanya ada konsekuensinya lho! Di Negara tropis seperti Indonesia kita tidak perlu pusing memikirkan baju. Setiap hari pasti cuacanya sama. Bahkan kalaupun hujan terkadang masih panas. Kecuali didaerah puncak seperti Bogor dan Takengon, cuacanya lumayan dingin, dibandingin dengan Negara empat musim cuaca di dua kota ini sama seperti musim semi atau akhir musim gugur lah. Itu pun mereka tidak perlu pusing masalah pakain. Masyarat pegunungan sudah tahu cuaca disana. Dan kondisi cuaca pun terbilang stabil sepanjang tahun. Antara hujan dan panas. Sudah begitu saja.

Sebaliknya, dinegara empat musim cuaca tidak pernah bisa ditebak. Coba tanya sama mereka yang pernah tinggal di UK! Pasti yang paling mereka benci adalah cuacanya. Sepanjang tahun cuaca di UK didominasi oleh awan yang hitam dan muram. Paling parah kalau lagi hujan, landscape UK jadi dramatis. Cuaca di UK agak mendingan di musim panas. Setelah masuk musim gugur sampai musim semi pasti nggak stabil. Sebentar-sebentar bisa cerah. Dan dalam hitungan menit, matahari yang cerah itu bisa berubah jadi hujam deras dan awan jadi kelam lagi. 

Winter di Rumania
Begitu juga dengan cuaca Turki; sangat sulit diprediksi. Letak geografis Turki sangat unik. Kalau dilihat dari perta bagian atas Turki bersentuhan langsung dengan laut hitam. Bagian sudut kanan atas Turki adalah Istanbul, dimana separuh kota Istanbul terletak di benua Eropa berbatasan dengan Yunani dan Bulgaria. Dibagian bawah kanan peta adalah bagian Aegean Turki yang bersentuhan langsung dengan laut Mediterranean yang suhunya terkenal lebih hangat. Bagian bawah Turki ada kota seperti Antalya, Mersin dan Adana yang juga bersentuhan langsung dengan laut Mediterranean. Dibagian bawah kanan peta adalah kota-kota Turki yang berbatasan langsung dengan Negara Arab seperti Suriah, Irak, dan Iran dan bagian kanan atas peta berbatasan dengan Armenia dan Georgia.  

Dengan letak geografis seperti ini, cuacar Turki secara keseluruhan tidak pernah sama. Masalah pertanyaan apakah Turki bersalju misalnya? Ia bersalju tapi tidak semua daerah. Kota-kota seperti Izmir, Antalya, Mersin dan Adana sangat jarang dituruni salju. Kalaupun turun hanya bulir-bulir kecil. Ketiga kota ini sangat terkenal dengan suhunya yang sangat panas. Ketika Musim Panas, hawa diketiga kota ini bisa mencapai 40 derajat selsius. Istanbul, Bursa, dan kota-kota yang bersentuhan langsung dengan Laut Hitam adalah langganan salju setiap tahun. Dan suhu dikota-kota ini sangat dingin ketika Musim Dingin berlangsung. Sebaliknya ketiga kota yang sebutkan sebelumnya malah tidak terlalu dingin. Namun tetap harus memakai pakaian ala musim dingin karena angina musim dingin yang sangat tidak menentu. Kadang-kadang bisa menusuk sampai ke tulang.

Paling tricky dari suhu di Turki (setidaknya di daerah Aegean) adalah cuaca yang kadang tidak sesuai dengan suhu yang sebenarnya. Misalkan pas siap-siap mau keluar rumah kelihatannya diluar cerah, dan based on ngeliat matahari cerah itu akhirnya pakai baju yang lebih ringan dan gak terlalu tebal. Tapi pas keluar ternyata suhunya sangat menusuk, akhirnya besok paginya jadi flue dan drama lainnya.

Kalau kata kalian musim dingin seru, gini deh bayangannya! Selama musim dingin, bahkan sebelum musim dingin (akhir musim gugur tepatnya), kalian harus mulai pakai baju yang lebih tebal dan beratnya itu bisa sampe 3 kiloan. Tidak cukup pakai winter coat doang, kalian juga perlu pake long john dan kalau itu nggak cukup kalian malah harus pakai baju berlapis-lapis. Aku pribadi selama musim dingin biasanya pakai long john atas bawah, pakai kaos biar lebih hangat, kemeja, jumper, baru pakai coat. Dan ini itu super berat HAHA.. Karena cuaca yang nggak pernah stabil akhirnya pakai boot anti air selama tiga bulan. Soalnya kalaupun gak ada salju, kalau hujan turun bisa-bisa sepatu basah. Kadang karena malas pakai boot, aku cuma pakai sepatu biasa dan uh… pakai kaos kaki berlapis-lapis biar gak dingin. Karena saya kebetulan tinggal diasrama yang komplit dengan sistem pemanas, jadi kamar tidar dingin. Bagi yang tinggal di apartemen yang kebetulan tidak ada instalasi pemanas ruangan gas alami atau kalorifer, mereka pasti ngutuk sepanjang musim dingin. Biasanya dibantu dengan ufo yang juga sukses untuk membuat orang mengutuk-ngutuk karena tagihan listrik jadi jebol.

Selama musim panas, Turki berubah dramatis jadi super panas. Terutama dibagian Aegean. Pemandangan dijalanan jadi berubah dramatis juga. Cewek-cewek pada pakai pakaian seksi. Dan yang paling mengenaskan puasa biasanya jatuh pada musim panas, jadi bayangin aja waktu puasa jadi lebih lama. Minimal 17 jam. Paling nggak banget himpit-himpitan dalam bis kota selama musim panas. Bau-bau yang tidak mengenakkan jadi gak karuan. Apalagi jadi orang yang pendek. Ditengah himpitan manusia itu, muka bisa nempel ke ketek orang. Dan siap-siap aja pingsan. HAHAHA… Nggak mau ngejelekin dan menggeneralisasi sih, tapi orang disini jarang mandi. Maksimal 3 atau 4 kali seminggu. Kalau musim dingin malah bisa cuma 2 kali seminggu. Dan mereka mandinya malam hari, bukan pas mau keluar rumah, jadi ya, tebak aja kondisi di transportasi umum.

Musim paling enak sih musim Semi dan Gugur. Kalau boleh milih, saya maunya sepanjang tahun hanyak ada dua musim ini. Pas gugur taman-taman kota jadi serba hijau dan banyak bunga-bunga. Sebaliknya pas musim gugur pemandangannya jadi kemuning tapi masih enak dipandang. Pokoknya sempurna deh. Dan cuacanya masih sedang, nggak terlalu dingin dan enak untuk jalan kaki.

So, begitulah realitas kehidupan di Negara empat musim. Apa pengalaman menarik kelian selama tinggal di Negara empat musim? Ayo komen dibawah ini. Bagi kalian yang ingin tinggal dinegara empat musim dan punya pertanyaan sekitar cuaca dan lain-lain silahkan komen dibahwa ini juga. Sampai juga dipostingan selanjutnya! :D

Berbeda dengan di Indonesia, dimana waktu siang dan malam tergolong stabil, di Turki atau di Negara 4 musim lainnya waktu siang dan malam berubah seiring musim. Disaat musim panas seperti sekarang ini, waktu siang lebih lama dibanding waktu malam. Sebaliknya, dimusim dingin waktu malam lebih lama dari pada waktu siang hari. Konsekuensinya, dibuatlah sistem waktu yang dianggap mampu membantu aktivitas-aktivitas walaupun dengan adanya pergantian waktu siang dan malam ini. Ada Daylight Saving Time atau Summer Time – dimana sistem waktu ini dimulai saat memasuki musim panas. Biasanya diakhir Musim Semi, sekitar akhir bulan Maret. Saat daylight saving time dimulai, jam akan otomatis maju 1 jam lebih awal. Smartphone atau PC biasanya otomatis menggantikan ke sistem ini. Untuk jam tangan dinding atau jam tangan, anda harus mensetting secara manual. Daylight Saving Time biasanya berakhir dibulan akhir bulan Oktober. Untuk tanggal pastinya, setiap Negara terkadang memilih tanggal yang berbeda.

Akhir tahun 2016 kemarin, pemerintah Turki membuat keputusan yang tergolong kontroversial. Setelah menggunakan sistem Summer Time dan Winter Time selama bertahun-tahun, pemerintah President Erdogan memutuskan untuk tetap menggunakan Summer Time saja sepanjang tahun - dengan alasan menggunakan satu sistem waktu lebih efektif membantu kegiatan sehari-sehari diperkantoran maupun sekolah. Namun benarkah? Berkaca dari pengalaman pribadi sebenarnya ada banyak perbedaan antara menggunakan Winter Time dengan tidak menggunakannya. Perbedaan yang paling mencolok adalah ketika kebetulan dapat kelas pagi. Misalkan si A ada kelas jam 9, dan jarak dari rumah si A menuju kampus sekitar 1 jam menaiki otobus. Untuk sampai kelas tepat waktu A harus berangkat dari rumah jam 8 kurang. Nah, disaat musim dingin kemarin karena waktunya tidak mundur satu jam, jam 8 masih tergolong gelap. Bahkan saat cuaca lagi mendung-mendungnya, jam 9 pun tekadang masih gelap. Jadi apakah dengan suasana seperti kegiatan lebih efektif? Saya tidak bisa memutuskan. Mungkin ia, mungkin tidak. Yang jelas banyak yang menggerutu karena harus datang kesekolah saat masih gelap.

Jam boleh saja nggak berubah – tapi sebagai penganut agama Islam, waktu shalat pasti berubah! Disinilah timbul permasalahan. Bagi saya pribadi permasalahan timbul karena harus beradaptasi dengan waktu setiap 6 bulan, bahkan kurang dari enam bulan. Saat musim dingin misalnya, matahari terbit sekitar jam 7.30. Jadi waktu shalat subuh masih masih ada sampai jam 7.20, misalkan. (Saya belum mengecek keakurasian jam shalat subuh ini :D) Tiba-tiba musim panas mulai dan waktu shalat subuh berakhir pada jam 6, awal-awalnya. Setiap hari berubah sampai di puncak musim panas jadi 05.40 bahkan 05.00. 
Misalkan ada yang tanya “Apa susahnya beda dikit aja kan?”  
Beda jauh! Soalnya pas masuk musim panas waktu tidur juga otomatis berubah. Kalau dimusim dingin tidur lebih awal, karena hari gelap lebih awal juga – berbeda dengan musim panas, hari baru gelap jam 9 malam. Jadi waktu tidur baru mulai jam 12 atau jam 1. Nah, dengan tidur demikian telat, mungkin rada sulit untuk bangun shalat subuh. Paling lucu itu, setiap musim harus mengatur alarm di hape. Alarm lah yang membantu untuk beradaptasi dengan pergantian waktu ini.

Nah, untuk nggak molor shalat subuh harus berusaha untuk cepat tidur. Nggak mau tau teman sekamar ribut atau nggak.

Sudah sukses beradaptasi dengan waktu musim panas, tiba-tiba ramadhan mulai. Harus beradaptasi dengan waktu lain lagi deh! Gambarannya begini:

-         buka puasa jam 8.40 PM
-         tarawih selesai jam 11 PM
-         tadarusan setengah jam jadi 11.30 PM
-         kalau tidur harus bangun jam 2.30 AM (apalagi diasrama harus antri panjang untuk ambil jatah sahur)
-         imsak jam 3.50

Timbul lah dilemma. Habis tarawih tidur apa nggak, ya? Kan cuma kurang dari tiga jam. Tapi kalau nggak tidur besok bakal tidur separuh hari. Apalagi puasa tahun ini masih dimusim ngampus. Kalau besok ada kelas atau ada ujian, gimana dong? Pusing kan?

Kirain enak tinggal dinegara 4 musim? Enaknya pas lihat salju dan daun-daun cantik khas musim gugur aja di TV. Kalau hidup……………………………………………. Enak juga sih HEHE..

Sebulan ini isi blog-ku membahas tentang kelulusan terus. Mungkin kalian sudah pada bosan. Kalian? Emang blog-nya ada yang baca? Nah, itu dia yang masih menjadi misteri. Siapa tahu ada, saya berencana untuk berbagi postcard!

Dalam rangka meninggalkan Turki for good, yang sudah menghitung hari πŸ˜–, saya akan mengirimkan postcard langsung dari Turki buat kalian para pembaca gelap HEHE.. Abis jarang ada yang komen sih.

Tapi ada sih beberapa yang kontak langsung melalui email dan inbox instagram. Thank you ya buat kalian yang sudah kontak langsung melalui email dan istagram.

Terinsipirasi dari mereka-mereka yang sudah kontak langsung, akhirnya saya berinisiatif untuk mengadakan program berbagi postcard ini. Agar hubungan kita sebagai blogger dan pembaca semakin erat HEHE… Ikutan ya!

Syaratnya apa? Kita nggak udah banyak syarat deh.

Kalian cuma perlu jawab pertanyaan-pertanyaan dibawah ini:
1.        Pendapat kalian tentang blog ini
2.      Sebutkan postingan yang paling kalian suka dan alasannya
3.       Saran kalian buat saya agar blog ini lebih bagus lagi

Langsung tulis jawaban kalian di bagian komen postingan ini ya. Gampang kan? Ada 3 postcard untuk kalian yang beruntung. Kalian bisa request tulisan dalam postcard-nya. Apakah berhubungan dengan apa yang kalian alami saat itu (lagi ujian misalnya) dan lain-lain.

DEADLINE: 25 Juni 2017



Tidak terasa kita sudah memasuki puasa hari ke 8. Apa kabar kita yang berpuasa? Masih beradaptasi? Atau puasa sudah sangat biasa? Puasa sudah seperti hari-hari biasanya?

Jujur, minggu pertama bagi saya pribadi berjalan sangat mulus. Tapi, ada tapinya. Seharian selama seminggu pertama saya hanya tidur-tiduran. Dan itu berlangsung sampai kemarin.

Hari ini, dalam bentuk protes saya terhadap diri sendiri, saya mutusin untuk keluar asrama dan menuju perpustakaan. Entahlah apa yang akan saya kerjakan nanti disini. Yang penting saya tidak malas-malasan di atas kasur.

That being said, mari membahas tentang puasa dan produktivitas. Apakah kedua hal ini berkesinambungan? Mungkinah bagi seseorang untuk terus aktif dalam pekerjaannya sehari-hari meski sedang berpuasa?

Jawaban saya adalah ia dan tidak dan relatif.

Ia, kalau pekerjaan belangsung didalam ruangan. Dan kemungkinan tidak jika pekerjaan berlangsung diluar ruangan. Mengingat Turki khususnya saat ini sedang musim panas. Cuaca sedang panas-panasnya. Barusan pas saya jalan dari asrama ke perpus, jaraknya sekitar 300 meter, itu saja sudah buat saya ngos-ngosan. Tenggorokan saya langsung kering HEHE.. Dan kembali lagi, ini sangat relatif kepada individunya lagi. Beberapa orang memang memiliki fisik yang lebih kuat sehingga walaupun sedang berpuasa masih kuat untuk kerja lapangan. Bahkan kemungkin pekerja bangunan tetap puasa walaupun harus bekerja dibawah terik matahari.

Walaupun pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik agak tidak memungkinkan selama bulan puasa, ada bentuk produktivitas lain yang kita bisa giatkan. Bagi workaholic, jangan berkecil hati kalau produktivitas kalian menurun selama ramadhan. Ada bentuk produktivitas lain yang harusnya bisa membuat kalian bangga. Ibadah, misalnya. Nah, perasaan produktif yang biasanya kita dapatkan dari mengerjakan sesuatu hal duniawi selama bulan-bulan lainnya, di bulan ramadhan bisa disubtitusikan dengan mengerjakan hal-hal yang berkontribusi bagi akhirat nanti. Ibadah-ibadah khas bulan ramadhan seperti mengkhatamkan Al-Qur’an, tarawih, dan ibadah-ibadah lainnya. Termasuk berbagi buka puasa HEHE..

Jadi, walaupun berpuasa masih bisa produktif ko. Walaupun bentuk produktif-nya sedikit berbeda. So, seberapa produktifkah kalian di hari ke-8 puasa kali ini? Ayo, sudah berapa juz?

Ayo tetap produktif walaupun sedang berpuasa!

NB:
-         -Audience tulisan ini sebenarnya diri sendiri yang selama seminggu pertama ini masalas-malasan terus.  :D
- Illustration by productivemuslim.com
-

Ditengah remang-remang lampu jalanan dilingkungan kampus MCBÜ
Ditengah kantuk yang mulai merasuki sanubari ragaku
Digaris tengah antara malam dan pagi
Ku tak hentinya bersyukur atas rahmat dan karunia yang tiada henti
mengalir dari Rab sang maha dermawan


MEI SPESIAL

Bulan Mei tak hentinya berikanku kejutan. Pertama Allah berikan berita bahagia melalui seremoni wisuda. Seolah ingin menkonspirasi alam untuk membuatku bahagia di bulan penting ini, Allah membuat seremoni wisuda di kampusku 2 minggu lebih awal dari jadwal yang seharusnya. Seolah Allah ingin memberikan seremoni wisuda sebagai kado ulang tahunku.

Kedua, hadirnya bulan Ramadhan 2 hari sebelum hari ulang tahunku. Sewaktu kecil aku percaya bahwa bulan ramadhan hanya berlangsung di bulan sembilan, karena kebetulan sempat beberapa tahun puasa ramadhan jatuh pada bulan-bulan tersebut. Logikanya, kalau ramadhan jatuh pada bulan 9, makan Idul Adha akan jatuh padah bulan 11. Sampai-sampai aku nggak percaya bahwa aku lahir di bulan 5. Apalagi ketika orangtuaku bilang, namaku Adhari, karena aku lahir bertepatan dengan Idul Adha. “Mana mungkin Idul Adha jatuh pada bulan 5,” kataku protes. Karena pikiran anak kecilku waktu itu bersikeras mengatakan bahwa Ramadhan harus jatuh pada bulan 9 setiap tahunya, dan Idul Adha jatuh pada bulan 11. Namun kini setelah dewasa saya sadar bahwa kalender Hijaiyah yang mengikuti perputaran bulan, pasti akan berubah sesuai dengan perputaran bulan. Dan buktinya ramdahan kali ini mulai pada akhir bulan 5 dan ini akan terus berputar setiap tahunnya. Saya jadi berpikir, seberapa besarkah kemungkinan seseorang untuk mengalami hari lahirya tepat seperti ketika ia dilahirkan? Misalnya, lahir bertepatan dengan Idul Adha. Lalu seberapa besarkan kemungkinan dia untuk dapat mengalami ulang tahun pada saat bersamaan?

Ketiga, Allah masih memberikan kesampatan bagiku untuk menikmati hidup ini. Sungguh ya Allah, kami adalah manusia yang tidak bersyukur. Terimakasih masih mengizinkan hamba untuk menikmati bulan ramadhan. Terimakasih juga telah memberikan kekuatan bagi hamba untuk melewati segala lika-liku kehidupa selama masa S1 hamba, hingga hamba bisa menyelesaikan studi hamba semester ini.

Tradisi saya setiap kali ulang tahun adalah menyegarkan kembali REPELITA. Dan pada kesempatan kali ini, saya hanya ingin diberikan kekuatan untuk mengarungi setiap jenis lika-liku kehidupan paska S1 ini. Semoga rencana saya untuk lanjut S2 di lancarkan. Dan selama proses pencarian beasiswa semoga diberikan kesempatan untuk bekerja sebentar, untuk mendapatkan pengalaman. Amin…

Terimakasih teman-teman yang sudah mengirimkan doa dan selamatan dilaman facebook saya, juga di whatsapp dan media sosial lainnya. J


NB:
-Tiba-tiba ada doodle ini dilaman google. Mungkin karena emailku logged in, jadi mereka mendeteksi tanggal lahirku. Thank you google 
Marhaban ya ramadhan…

Alhamdulillah kita diberi kesempatan untuk kembali bertemu dengan bulan suci ramadhan. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Dan juga, semoga semangat kita untuk beribadah diawal bulan ramadhan ini konsisten hingga akhir bulan, bahkan hingga sepanjang tahun. Amin…

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ramadhan yang biasanya bertepatan dengan libur musim panas di Turki, kali ini, ramadhan jatuh pada bulan Mei. Hal ini menyebabkan sedikit kesulitan bagi beberapa mahasiswa. Belum lagi karena ramadhan kali ini bertepatan dengan dimulainya Ujian Akhir Semester. Jadi, mereka harus membagi fokus antara jadwal ibadah khas puasa seperti tarawih, sahur, iftar, tadarus dan lain-lain dengan belajar mempersiapkan diri untuk ujian.  

Dalam hal bersamaan, ramadhan kali ini, sama seperti ramadhan sebelumnya, juga bertepatan dengan waktu musim panas.  Hal ini menyebabkan waktu siang akan lebih lama dari waktu malam. Sehingga umat Islam di Turki akan berpuasa lebih dari 17 jam. Imsak pada jam 03.57 dan iftar pada jam 20.33. Rintangan lain adalah cuaca musim panas yang sangat ekstrim. Untuk saat ini tempratur cuara sampai 30 derajat selsius.

Namun semoga saja ini tidak mengurangi keinginan kita untuk beribadah dengan khusuk.

Dan mengingat, kemungkinan besar ramadhan kali ini adalah ramadhan terakhir saya di Turki, saya tidak terlalu protes dengan rintangan-rintangan di atas. Saya ingin menikmati semua keindahan yang tersebar didalamnya. Antrian sahur di asrama dan menu sahur yang tidak akan pernah cukup untuk perut Indonesiaku. Dan lain-lain.

Sedihnya, ramadhan di Turki kali ini sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Biasanya, setiap masuk bulan ramadhan saya akan berkumpul dengan Emen dan teman-teman yang lain, tinggal disatu rumah selama ramadhan. Sepertinya tahun kali ini tidak akan bisa direalisasikan.
Anyway, selamat menunaikan ibadah puasa. Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT. Dan bisa kembali fitrah saat idul fitri nanti J J







Beberapa minggu ini saya sering sekali membahas tentang wisuda dan perbandingan seremoni wisuda antara universitas-universitas di Indonesia dan di Turki. Dan Alhamdulillah, kemarin tanggal 24 Mei 2017, jam 19.30 – 22.30 waktu Turki, kami mahasiswa dari fakultas Fen Edebiyati (the Faculty of Letters) Universitas Celal Bayar Manisa, telah diwisuda.

Ada perasaan campur aduk yang bergulat didalam benak saya kala itu. Pertama adalah ketidakhadiran orangtua. Sebenarnya sejak pertama kali memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke Luar Negeri saya sadar bahwa orangtua saya tidak akan bisa hadir dalam acara wisuda saya. Namun mengingat ibu saya sering sekali ikut rombongan keluarga besar berbondon-bondon ke kota besar seperti Banda Aceh, saat ada anggota keluarga mereka yang diwisuda, saya tidak bisa menahan untuk bercengeng ria. Saya pikir: ibu saya nekad melihat anak saudaranya wisuda. Namun, saat anaknya sendiri diwisuda mereka tidak mampu hadir karena jarak dan kondisi keuangan. Mereka tidak bisa berdandan rapih dan duduk diatas kursi gedung wisuda yang telah direservasi khusus utuk mereka. Mereka tidak bisa menyaksikan dengan bangga bahwa anaknya masuk dalam kategori lulusan terbaik dijurusannya. Semua ini sungguh membuat dada sesak.

Namun, saya sadar bahwa kehadiran fisik bukanlah segalanya. Saya dapat merasakan spirit mereka hadir dalam hari bahagiaku itu. Saya dapat membayangkan kebahagia dan keharuan terlukis diwajah mereka. Dan itu lebih penting dari segalanya. Melalui telepon ku sampaikan semua detail resepsi acara wisuda hari itu dan mendengar nada kebahagian hadir dari suara syahdu mereka, cukup mengobati segala kekurangan dari hari penting ini.

Dan hari itu mengajarkanku satu hal! Keluarga kandung adalah mutlak. Namun, selain keluarga kandung, ada keluarga lain yang mensubtitusi keabsenan keluarga inti. Bagiku pribadi, mereka adalah PPI Adana dan PPI Izmir. Selama kehidupan saya di Turki, kedua keluarga ini yang telah mensubtitusi keabsenan keluarga inti. Mereka memberikan selimut kehangatan, ketika selimut itu mulai dingin saat berpisah jauh dari keluarga inti.

Satu tahun pertamaku di Turki kuhabiskan di kotaAdana, dimana segalanya terasa buram, dan PPI Adana lah, yang merangkulku ditengah ketakutan, masa-masa kelam, dan masa-masa tersulitku selama di Turki kala itu. Terimakasih untuk pak Muhammad Nasir Rofiq, bang Salahuddin Al-Ayubi, mas Adi Surya, Alvi, Gunawan, Regi dan Andria bi, Syauqi, Dirga, Tri, Nurul, dan Latifah yang telah menjadi keluarga pertamaku di Turki.

Namun selanjutnya saya pindah ke kota Manisa, kota kecil yang bahkan hampir tidak ada orang Indonesia sama sekali. Untunglah kota Izmir tidak begitu jauh dari Manisa. Dalam masa-masa yang juga sama sulitnya seperti ketika di Adana, Allah mengenalkanku dengan teman-teman di PPI Izmir. Mereka dengan instan menjadi keluarga bagiku. Ketika berkumpul bersama mereka aku bisa melupakan sejenak kemelaratan hidupku (mungkin ini adalah sebuah hiperbola mengingat ada banyak orang yang lebih nelangsa dariku seperti korban perang dll). Mereka memberikanku kembali rasa yang semakin hari semakin menghilang dari lidahku. Dalam waktu 4 tahun terakhir, kami berkumpul untuk sekedar merasakan kembali kehangatan keluarga. Namun lebih dari itu, terkadang kami juga tinggal bersama selama musim panas – masa-masa yang tidak akan pernah aku lupakan. Terimakasih teman-teman PPI Izmir. Emencim! Gua nggak akan lupa hari itu, saat lu ngasih gaji lu sebagai translator ke gua karena lu prihatin dengan kondisi gua yang datang ke Izmir untuk kerja seharian dengan gaji hanya 50TL. Dan waktu itu gua lagi sakit gigi. Kata dokter gigi harus di operasi kanal dan gua nolak karena gak punya uang atapun asuransi. Dan lu dengan perhatiannya ngasih uang itu. Makasih men. I know you will be always a dear friend to me. Juga mas Maulana dan mas Iqbal, yang sudah sudi nampung saya setiap kali musim panas tiba. Terimakasih banyak untuk teman-teman PPI Izmir lainnya yang sudah menjadi bagian hidup saya. Kalian akan selalu menjadi bagian hidupku. 

(Hatice, Prof. Anthony Patterson, Yagmur, Adhari, Gizem, Rukiye, Lemesa Chitata)
Dan makna keluarga ini terbukti dihari terpenting kehidupan S1 saya kemarin. Dihari dimana kehadiran keluarga sangat krusial secara batin, mereka hadir mengisi kotak kosong itu. Dan ini membuktikan bahwa keluarga ada dimana-mana. Terimakasih kepada Alvi, pak Agustin, mba Lyla, mba Erna, dan Akbar yang telah rela untuk hadir kemarin. Saya sadar lokasi kampus saya memang agak terpencil dan yang membuat segalanya lebih runyam, acara wisudanya mulai jam 19:30. Tapi despite all of that, kalian hadir dan aku sangat mengapresiasi itu.

*******
Detail Acara Wisuda:




Sejak bangun untuk shalat subuh, saya merasakan antusiame yang sangat tinggi. Dan kebiasaan saya, ketika kadar antusiasme terlalu tinggi, saya tidak bisa tidur. Ini kerap terjadi ketika saya akan melakukan perjalanan jauh, ketika akan presentasi dll. Hal serupa terjadi padi hari kemarin, hari wisuda saya. Biasanya, pada saat bangun shalat subuh saya masih mengantuk. Tapi kemarin, saya melek dengan seketika.

Saya mulai gusar dan gak sabaran, seolah saat itu tidak pernah datang. Jam 8 pagi dan saya pikir, ah… masih 11 jam lagi. Ide buruk! Jangan pernah menghitung waktu. Ini hanya akan memperlama segala hal untuk kenyataan. Walaupun sebenarnya tidak selama yang kita pikirkan. Antusiasme dan kegugupan membuat segalanya menjadi tidak terkendari.

Untuk memanipulasi emosi saya, saya pikir mending saya menyibukkan diri dengan menonton film yang ditugaskan oleh dosen untuk topik ujian hari selasa nanti. Tidak berhasil. Saya masih saja terlalu antusias dan tidak sabaran. Namun ternyata waktu belalu juga. Just because you are nervous doesn’t mean time will stop!

Jam 17:20, teman-teman dari Izmir mengabarkan bahwa mereka akan sampai sebentar lagi. Barulah saya bersiap-siap untuk berpakaian rapih, jas warna biru navi dan sepatu cokelat senada dengan warna ikat pinggang. Tidak lupa kemaja putih dan dasi berwarna campuran biru dan unggu bertengger rapih di leher saya. Ternyata mereka sampai, sebelum saya siap. “kenapa saya tidak siap-siap dari jam 17:00 saja. Biar pas mereka sampai, bisa langsung duduk dan ngobrol atau foto-foto.” Tapi saya pikir, acaranya baru mulai jam 19:30 kenapa saya harus siap-siap terlalu awal. Pelajaran! Everything can go wrong!

Rapih dan siap saya pun keluar asrama. Pak Agustin dan teman-teman sudah menunggu dibanggu didepan asrama. Kami salaman dan foto-foto. Saya minta tunggu teman-teman kamar saya (Ali Tolu dan Melih Kaya) yang kebetulan juga lulus hari itu untuk datang sebenar dan berfoto. Setelahnya kami makan dan shalat ashar. Barulah kami menuju lapangan olahraga, tempat acara wisuda berlangsung. Segalanya berjalan begitu cepat! Kami tidak sempat befoto-foto. Satu-satunya foto kami bersama hanya didepan asrama. Satu hal yang saya sesali!

Berbeda dengan perasaan saya dipagi hari dimana waktu rasanya macet, disaat acara jam rasanya berputar terlalu cepat. Tiba-tiba kami disuruh berbaris untuk berjalan didepan hadirin wisuda. Kemudian pidato sambutan dari rektor. Pidato dari juara umum sefakultas. Kemudian pembagian piagam kepada 3 mahasiwa dengan IPK tertinggi sefakultas dan sejurusan. Kemudian setiap nama mahasiswa yang lulus di panggil satu persatu dari setiap jurusan. Kemudian selesai. Sebenarnya acaranya lumayan panjang, apalagi bagi hadirin. Tapi bagi saya, malam terlalu cepat datang hari itu. Coba masih terik kan bisa foto-foto dengan pak Agustin dan teman-teman.

Dan begitulah acara wisuda kami disini. Salam class of 2017! Semoga kita semua berhasil didunia kerja ataupun bagi yang melajutkan pendidikan S2, sukses dengan pendidikan selanjutnya. Bagi teman-teman yang masih berusaha untuk lulus, semoga cepat lulus dan bisa melanjutkan cita-cita lainnya.


NB: foto bareng temen-temen PPI Izmir belum di kirim. Dimasukin nanti deh.
courtesy of Clipart Library

 Selain gelar, orang-orang Indonesia juga terobsesi dengan status kelulusan. Menurut yang saya pahami, di Indonesia ada konsep “cum laude” yang secara general berarti lulus dengan nilai rata-rata yang sangat memuasakan. Dan ternyata ada level-level kelulusan lho dan itu lebih dari sekedar “cum laude” yang kita ketahui. Berikut adalah tingkat kelulusan dan gelar-gelar kehormatan yang disematkan menurut http://www.ican-education.com :

3.80 dan 3.80 keatas: Summa Cum Laude
3.60 s/d 3.79: Magna Cum Laude
3.40 s/d 3.59: Cum Laude
3.20 s/d 3.39: High Merit
3.00 s/d 3.19: Merit

Nah, bagaimana dengan sistem pendidikan di Turki? Apakah ada gelar kehormatan khusus bagi lulusan terbaik?

Sepengetahuan saya, di universitas negeri di Turki tidak ada gelar kehormatan seperti “cum laude” di Indonesia atau “valedictorian” di Amerika. Namun, penghargaan secara simbolik hanya diberikan kepada 3 mahasiswa dengan nilai terbaik di jurusan: Okul Birincisi, Okul ikincisi, Okul uncusu. Dan konsep seperti “cum laude” atau “valedictorian” tidak diasosiasikan dengan keberhasilan mereka secara akademis.

Lalu apakah keberhasilan mereka di muat didalam ijazah?

Untuk hal ini saya masih belum tahu. Yang jelas, ketiga mahasiswa terbaik di jurusan akan mendapatkan piagam simbolik yang menyatakan bahwa mereka sangat berhasil secara akademis. Selain itu, mereka juga akan diberikan bingkisan dari kampus.

 

Sumber:
http://www.ican-education.com/articles/view/pengertian_cum_laude_magna_cum_laude_dan_summa_cum_laude