Senin, 15 Desember 2014

Pohon dan Hawa

Taken from imgkid.com


Gugur 2012 adalah tahun yang penuh tanda tanya. Apakah daun yang jatuh masih akan kembali tumbuh dimusim semi yang akan datang. Atau bahkan ini adalah hari terakhir pohon-pohon ini untuk melihat dunia. Daun itu jatuh perlahan. ia lebih senang disebut gugur. Gugur adalah sebuah
kata sakral baginya, yang akan membuatnya merasa ia tidak jatuh dengan sia-sia. Gugur adalah predikat paling beharga. Manusia tidak akan mengatakan para pejuangnya telah mati dimedan perang, tapi gugur. Gugur membuat segalanya menjadi lebih terdengar tidak sia-sia. Membuat
pohon rela melepas daunnya, membuat manusia merelakan kepergian orang yang dikasihinya. Aku meninggalkan mereka dimusim gugur. Apakah aku telah gugur dari dalam hati mereka? Apakah mereka telah rela melepaskanku?

Hujan deras memutuskan untuk hadir minggu itu. 'Sudah lama tidak menyapa tanah,' serunya dengan penuh gairah. Tapi ia lupa. Ia lupa bahwa ia telah membantu menyapu bersih daun, dari tangkainya. Hujan mematahkan daun yang tulangnya sudah rapuh. Padahan daun telah berjanji untuk tak akan meninggalkan tangkai sampai maut menyapanya. Ia berjanji bahwa tak akan ada yang bisa memisahkannya. Tak juga badai, katanya. Tapi kini ia telah membuktikan itu hanyalah ucapan kosong. Pohon seolah ingin mati saja. Ia memohon guntur untuk mengambil raganya. 'Apalah arti memiliki raga, kalau jiwa telah lama pergi,' tangisnya.

Tak hanya hujan, kini angin musim dingin juga ikut menyapu bersih daun. Tak perlu ditanya bagaimana keadaan hati si pohon malang itu. Ia bahkan bersumpah tidak akan pernah mau berbicara lagi dengan hujan maupun angin, mereka telah memisahkan si pohon malang dengan kekasih hatinya.

Keinginannya untuk mati ternyata dijawab oleh salju. Kalaulah bukan mati, setidaknya salju telah membekukan hati pohon. Dengan begitu pohon tidak akan merasakan sakit lagi. Kini pohon benar-benar diam. Bukan karena ia telah berdamai dengan hatinya, tapi karena ia telah mati
untuk sementara. Kendati begitu ia bersumpah ia ingin mati untuk selamanya saja. 'Lebih baik mati dari pada menanggung perih hati ini'

Salju yang terkenal dingin dan angkuh itu tak mau bersuara. Ia bahkantak punya niat secuil pun untuk menenangkan si pohon malang. Berkali-kali pohon menunjukkan wajah yang muram, alih-alih mendekat, salju membuang muka. Dalam diamnya salju menjastifikasi 'aku hanya hadir 3 bulan dalam setahun. Kita tidak saling kenal, lalu mengapa aku harus peduli?' Sejak ditelanjangi oleh angin dan hujan, pohon tidak lagi berselera bukan hanya untuk berbicara, bahkan untuk hidup. Itulah mengapa ia tidak menemukan satulah alasanpun yang mengharuskannya peduli kepada omongan si Salju. Lebih-lebih ia juga sadar bahwa salju memang benar. Pohon dapat berkumpul dengan keluarganya hampir sepanjang tahun, tidak seperti salju yang tak punya kehidupan pasti. Ia datang tidak diminta, dan pergi tanpa permisi. Entah mengapa pikiran yang awalnya sebuah hinaan malah membuat pohon menarik nafas dalam. Ia seperti baru
terkena pukulan, pukulan yang keras.

'Sepertinya aku telah banyak mengeluh selama ini. Aku terlalu terbiasa
dengan hidup senang. Hidup dengan kehadiran orang lain.'

'Angin! Hujan' teriak pohon. 'Terimakasih sahabatku! Kalian telah
menyadarkanku. Aku tidak membenci kalian.'

'Tenang salju.' lanjutnya 'Kau tidak perlu bersikap dingin. Kita memang tidak
saling kenal, tapi aku mau jadi sahabatmu. Itupun kalau kau setuju'

Salju hanya terdiam. Lalu tiba-tiba ada suara yang patah-patah terdengar. 'Kamu tahu, selama ini aku juga merasa aku telah hidup sia-sia. Aku menjajah bumi tanpa tujuan. Menjadi penjajah bukanlah hal yang menyenangkan karena kau akan dibenci. Aku bukan datang untuk menjajah, aku ingin mencoba hal yang baru. Aku ingin jadi temanmu. Aku ingin engkau menjadi tujuanku hadir kebumi'

Salju dan pohon berpelukan, hingga semi mengusir salju pergi.
'Sampai jumpa sahabatku!' lambai pohon dengan raut wajah bahagia.

Adhari
Mahasiswa S1 Sastra Inggris
Semester ketiga