Kamis, 28 Agustus 2014

PEN-DI-DI-KAN ?


Dewasa ini apakah makna pendidikan sebenarnya? Apakah pendidikan hanyalah sebuah institusi dimana para pemuda harapan bangsa berkumpul untuk ditempa agar menjadi pribadi yang unggul yang nantinya akan membawa bangsa ini kepada masa depan yang lebih cerah?

Kalaulah berbicara tentang moto, tujuan awal pendidikan, teori awal tentang keberadaan institusi pendidikan, yang disebut sekolah itu, maka akan dengan mudah sekali ditemukan. Cukup datangi saja sekolah-sekolah maka akan terpampang dengan jelas apa tujuan itu, apa moto itu.

Sekilas ketika membaca moto itu maka akan terdengar sangat suci, namun kembali lagi, ini hanyalah sebuah teori. Teori awal tentang adanya pendidikan. Bagaimanapun indahnya kata-kata yang terpampang ditembok setiap sekolah itu, dicat dengan warna yang menarik, tetaplah itu masih hanya sebatas teori. Selama itu belum diimplementasikan dikehidupan nyata maka teori itu tidak ada bedanya dengan tokoh fiksi. Bahkan mungkin tokoh fiksi lebih nyata. Lebih mampu memotifasi pembacanya. Karena sang penulis telah membumbui tulisannya dengan kata-kata yang menarik, jauh dari kata membosankan, yang mungkin adalah semua kebalikan dari moto pendidikan yang terpampang itu.

Ada apa dengan pendidikan? Mengapa saya repot-repot menulis tentang pendidikan?

Akhir-akhir ini saya merasa terintimidasi dengan ranking-ranking kampus. Terintimidasi oleh fakta bahwa mereka-mereka yang lulus dari universitas top (tingkat dunia maupun tingkat nasional) dapat dengan mudah menemukan pekerjaan. Dapat dengan mudah melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi tanpa perlu berjuang terlalu berat. Sedangkan mereka yang lulus dari universitas dengan nama yang redup bagai bola lampu yang akan kehabisan nyawa, hanya bisa menarik nafas. Atau mungkin tidak bisa menarik nafas sama sekali, karena mereka harus mengejar ketertinggalan mereka. Menunjukan kepada si-pemberi pekerjaan, universitas tujuan, bahwa ia juga mampu bersaing. Bahwa ia berapa diuniversitas itu hanya karena permasalahan ekonomi.

Apakah penting dimana bersekolah ketika keadaan ekonomi tidak dapat berkompromi?
Sebagai seorang yang berasal dari keluarga yang berekonomi menengah saya tahu betul bagaimana rasanya 'ketinggalan' dibidang pendidikan. Saya selalu berpikir bahwa (1) Pertama, mereka yang berekonomi 'cukup' adalah orang-orang yang selangkah lebih maju. Karena mereka punya fasilitas. Dengan keadaaan ekonomi mereka yang baik, mereka bisa mencuri start dari manusia-manusi lainnya. Hal yang orang miskin baru dapatkan disekolah, mereka telah terlebih dahulu mendapatkannya dirumah. Lebih-lebih mereka juga punya kesempatan untuk mengasah kemampuan dibidang lain melalui kursus-kursus, yang keluarga miskin akan menempatankan semua itu dalam prioritas nomer kesepuluh, atau bahkan tidak memasukkannya dalam list sama sekali.

(2) Kedua, mereka yang tinggal dikota besar memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang berekonomi cukup. Lingkungan selalu menjadi kambing hitam dari setiap sebab-akibat. Maka lingkungan juga adalah patokan yang paling tepat dalam permasalahan pendidikan. Lingkungan kota setidaknya lebih memiliki fasilitas (fasilitas publik)dan informasi, yang membuat orangtua lebih sadar akan pentingnya pendidikan, termasuk pendidikan informal tambahan. Sehingga kesempatan untuk mengembangkan diri masih dapat terpenuhi, yang berarti   kemampuan untuk bersaingnya juga lebih mumpuni.

Sedangkan ditempat tepencil (kampung), pendidikan bagi mereka adalah pintu ajaib. Mereka berharap dengan status sekolah anaknya, tidak putus sekolah, mampu merubah masa depan mereka. Namun disisi lain, mereka tidak mengetahui bahwa untuk mendapatakan pendidikan yang baik, diperlukan fasilitas yang memadai. Yang mereka tahu hanyalah mereka telah mendaftarkan anaknya kesekolah. Tidak peduli apakah sekolah itu baik atau tidak.

Maka wajarlah, ketika ujian nasional, yang mendapat angka kelulusan paling rendah adalah mereka yang berada dipolosok negeri. Apakah adil, dengan kesenjangan yang terjadi begitu luas, membuat soal ujian nasional yang sama rata untuk pelajar seluruh Indonesia? Faktanya adalah kemampuan mereka yang berada di ibu kota dengan daerah sangat berbanding terbalik. Lebih-lebih lagi bahwa fasilitas yang disediakan oleh pemerintah juga tidak memenuhi standar. Saran saya adalah sebelum melakukan pemerataan soal ujian nasional, alangkan baiknya pemerintah menyelesaikan PR-nya tentang kesenjangan fasilitas pendidikan antara kota dan desa.

Desa yang tidak ada toko buku sama sekali tidak akan mungkin melahirkan manusia yang dapat bersaing dengan dunia. Kecuali, ada keajaiban!


Wassalam,


Adhari
Mahasiswa S1 Sastra Inggris, Turki

Sabtu, 16 Agustus 2014

INDEPENDENCE DAY OF INDONESIA




Today we've just finished discussing things that we will do in independence day. We have been discussing it all along, though. Just to make sure that all stuffs go as what we have planned. Monday happens to be the day for celebrating our country's Independence Day. And, we are so ready to enliven that day. Perhaps, that's just celebration for some people. Playing games that he/she has no idea about it at all. Above all, there are many lessons that we can take from all those games. As someone who used to be a boy scout troop I believe all that games teach us or transfer us the energy of fighting, fighting your rights, fighting our country from the tyranny of colonizers, like what our heroes had done during the colonizing era.

I still remember the day when we have to stand, for quite a long time, underneath the burning light of the sun for the 17th August, ceremonial day. I used to be piqued by that ceremonial too. But now I did understand why we have to do that. Why we have to stand, burning our skins that already burnt, to feel the feeling of difficulties that people before us had experienced. "Today's generations are all spoiled," said the commander of ceremony when I was junior. Conscious or not, we are. We are in fact spoiled. All what we do now is playing with our gadgets. As if we cannot live without gadget, without internet. I admit, I'm one of those internet freaks. But I willing to change, I do. At least use that habit for something beneficial.

So how we should commemorate this sacred day? My civics teacher once said "today we don't have to fight in the war like our heroes used to do. We can fight according to our professions. Now you are student, keep fighting to get what you are dreaming and be a modern hero for your country. When you grown up you must help your country, your government, solving the problems. If you are interested in science, invent something that has benefit for masses, for Indonesians. Follow whatever you are interested in and be useful for others."

I guess all that words are clear enough, despite the fact that, to achieve our goals to bring our country to a bright future, we still have many home works to fix. I shouldn’t name one by one. We all know it. What matters now is that we really have to work harder. As an abroad student I have that feeling, the feeling of inferior among other country's student. But then, I soon have the intention to be an agent of Indonesian reformer. I don’t know how to do it. I just have that intention. But I'll find it out. What I really keep in mind is Indonesia has to have a more human infrastructures like the country I'm now living in. If I later had the chance to work in Government then that would be the first thing I do.

For the politics condition of Indonesia now, I just wish all the best. Whoever wins I hope he (they) can represent Indonesia. He can bring Indonesia to a more better conditions, economically, educationally, and capable of competing with other developed countries. This is really boring but I had to say it. We have a really rich natural resources and we have to take the benefit if it. Don’t let other countries colonize us again. Rumor has it, look what happens there in Papua? Okay, you can judge me. I am just saying. But at least I'm willing to do it too. So0n when my education finished, I will start what I have always been thinking of. Be a modern hero for Indonesia!

Dirgahayu Indonesia, Merdeka!


*Tomorrow we will be having a really big celebration. Playing games like we always do during 17th of August: Balap Goni, Tarik Tambang, Balap Kelereng, Makan kerupuk adapted to become Makan Simit, Joget Balon etc. And tonight organizing committees are preparing meals for tomorrow. Anyway, we're going to have BBQ party tomorrow. Wish us luck. Hope nobody's get fainted. 

Buca [Izmir],
Saturday 09:37
Summer August 16, 2014
From the house of Mas Bisma,
I've been living here for about 3 weeks since Eid, or maybe a month.

Senin, 11 Agustus 2014

TAK (LAGI) MEMBENCI HUJAN


Selama ini hujan adalah musuh besar ku. Aku benci hujan. Aku benci, karena ia membuat rindu kepada ibu, rindu yang tak terlukiskan. Hujan mengajakku untuk menguraikan air mata, kerena rindu. Itu yang aku benci.

Memoriku tentang hujan adalah ketika aku dipangku ibu. Aku tak ingan pasti kapan momen itu terjadi. Tapi ketika mata ku tutup, merenungkan kembali apa yang pernah terjadi saat hujan turun, hanya ada wajah ibu. Wajah ibu ku tercinta yang kutinggalkan, demi meraih cita-cita.

Dulu, waktu kecil, aku masih anak manja. Anak yang setiap kali meminta harus dituruti. Kalau tidak, maka aku akan mengeluarkan jurus andalanku, 'menangis sejadi-jadinya.' Begitu juga ketika ibu, pada suatu waktu kebetulan harus pergi ke satu pesta pernikahan, yang tidak mungkin atau terlalu ribet kalau harus membawaku. Demi untuk dibawa aku menangis sejadi-jadinya. Mengingat masa kecil itu, sungguh tidak mungkin aku bisa merantau tanpa pulang bertahun-tahun seperti sekarang ini.

Dulu ibu sering mengakaliku dengan uang jajang atau oleh-oleh, demi tidak ikut dengannya menghadiri undangan. Mungkin aku adalah anak yang bandel sehingga terlalu ribet untuk dibawa-bawa. Atau juga, mungkin aku tipe anak yang tidak bisa melihat sesuatu. Ketika melihat satu hal yang aku suka, maka benda itu harus dibeli. Kalau tidak, mungkin aku akan menangis ditempat umum, yang akan membuat orangtua malu.

Sekarang giliran aku yang meninggalkan ibu. Bukan dengan senagaja. Aku pergi, kenegeri yang sangat jauh ini, demi satu hal. Demi menggapai cita-cita. Demi melukiskan segaris senyum bahagia dipipi kedua orantuaku. Itu saja!

Tapi hujan, hujan sering kali membuatku ragu. Ragu akan keputusan yang telah aku buat. Ragu kalau aku sudah berubah. Bukan Adhari kecil lagi, yang suka menangis histeris ketika ditinggal pergi oleh ibu. Itu karena hujan. Karena hujan, aku menjadi ragu untuk bisa hidup berjauhan dengan ibu.  

Hari ini hujan berbeda. Setelah beberapa bulan bumi Ottoman dihantam oleh panas matahari tanpa awan, hujan akhirnya turun. Bukan main-main. Hujan kali ini adalah hujan es. Hampir setengah jam hujan es itu berlangsung. Tapi anehnya aku tak lagi si cengeng yang pernuh keragu-raguan itu. Kali ini aku malah senang dengan kehadiran hujan, yang berarti kami tak perlu berpanas-panasan didalam apartemen.

Saat ini Turki memang sedang dalam musim panas. Normalnya Agustus adalah puncak musim panas namun hari ini hujan malah turun. Alhamdulillah… ini adalah hadiah yang tak terkira. Terimakadih ya Allah, engkau sangat maha tahu bahwa hambamu tebakar matahari musim panas disini. Untuk itu kau hadirkan hujan sebagai penghibur. Semoga hujan hari ini bukanlah pertanda buruk "Hujan Es," malah sebaliknya.

Bukan hanya karena menghilangkan rasa panas, hujan kali ini juga menyadarkanku bahwa rindu tak berarti harus melahirkan rasa ragu. Aku masih tetap merindukan orangtuaku, ibuku. Bukan berati aku harus ragu akan keputusan yang aku pilih. Rasa rinduku pada ibu malah sangat ampuh untuk melecutkan niat, bahwa aku harus belajar dengan rajin. Bahwa aku harus pulang dengan sukses. Bahwa aku harus membahagiakan mereka.

Biasanya penawar racun yang baik adalah pemberi racun itu sendiri. Sebagai anak yang lahir dan menghabiskan masa kecil diperkebunan, aku sering menemukan ulat. Bermacam-macam ulat, yang jelas mereka semua membuat kulit gatal-gatal. Nah, ada satu ulat yang aku juga tidak tahu bahasa Indonesianya, tapi kami menyebutnya sesongot, dalam bahasa Gayo. Kalau tersengat ulat itu maka penawar yang baiknya adalah ulat itu sendiri. Pencetkan saja sampai isi perutnya keluar dan oleskan kedaerah yang tersengat makan rasa gatalnya akan hilang.

Begitu juga dengan 'keraguanku' yang disebabkan oleh hujan. Kini hujanlah juga yang menjadi penawarnya. Aku tak lagi benci hujan. Dulu aku berkilah, aku bukan benci huja. Hanya saja hujan menghentikan jalanku, untuk kuliah misalkan. Ku tegaskan, aku tidak benci hujan. Tetapi, alangkah indahnya kalau hujan turun dimalam hari. Sehingga aktifitas disiang hari tidak terganggu.

Buca [Izmir],
Thursday 04:32
Summer August 07, 2014
From the house of Mas Bisma,
I've been living here for about 3 weeks since Eid, or maybe a month.