Kamis, 12 Februari 2015

Hanya Sebuah Pertanyaan

Pikiran logisku gagal memahami bagaimana seseorang pada akhirnya sampai pada satu pemikiran yang memutuskannya untuk berhenti disatu titik tertentu, padahal jalan masih terbuka baginya untuk menyusuri dunia impiannya. Mungkin aku butuh waktu untuk memperbaiki pemikiran yang tak sempurna ini. Mungkin nanti aku akan paham sejalan beriringnya waktu.

Berawal di masa kanak-kanak dimana kita terus dihantami oleh pertanyaan "besar nanti kamu mau jadi apa?" Dengan innocent-nya sang anak akan menjawab sekenanya. Apapun yang mampir kekepalanya saat itu. "Aku ingin jadi pilot." "Aku ingin jadi dokter." "Aku ingin jadi astronot." 

Mungkin hanya itulah hari-hari bahagia kita hidup sebagai manusia. Hari dimana kita bebas bermimpi nenjadi apapun yang kita inginkan, tanpa merasa terbebani, apakah semua akan bisa terwujud atau kita hanya akan menjadi pecundang yang pekerjaannya hanya berkhayal saban hari?

Lalu kita tumbuh ditengah dunia pendidikan. Mimpi pun berubah-ubah tergantung dengan kondisi saat itu. Lingkungan memberikan peran besar dalam hal ini. Dan, mimpi masa kecil pun mulai terlupakan seolah itu hanya angin lewat. Seolah mimpi masa kecil itu bukanlah hal yang kita harus jadian acuan "goal" selama hidup kita. Atau memang begitu. Kita kan hanya lah anak kecil yang awam, kala itu, yang tak mengerti kenyataan hidup. Biar kah sosok dirimu yang dewasa ini yang memutuskan apa yang kamu harus lakukan? Huh? 

Kenyataan hidup? Oh.. betapa aku rindu menjadi anak kecil. Betapa aku rindu untuk bermimpi tanpa ada pressure yang menjajal pundak keberanianku. Oh, betapa aku ingin melakukan hal, bukan karena tuntutan hidup, tapi karena aku memang ingin melakukannya sepenuh hati. Karena aku bahagia ketika aku melakukannya. Dan itu bukanlah realistis, katamu?

Berapa banyak manusia yang hidup bukan sesuai impiannya? Dan kenapa itu bisa terjadi? How come they could abandon their dreams. That's what I am trying to figure out right now. Or perhaps me too, could be like them one day. Just waiting my turn. ��������


Pikiran lama yang kembali hadir ketika menonton "Wish I was Here"








Senin, 09 Februari 2015

Belajar Menulis dari Shafak Hanım



Syarat wajib menjadi seorang penulis adalah banyak membaca. Ketika pikiran kita di "input" banyak bacaan-bacaan, maka proses menulis tidak lagi menjadi hal yang sulit. Kata-kata akan mengalir dengan sendirinya.

Pada dasarnya kata-kata yang kita keluarkan dalam bentuk tulisan itu adalah bagian dari tabungan kita. Kita telah menabungnya terlebih dahu, dengan demikian mereka bisa tertransformasi dalam bentuk tulisan. Kita menabung kata-kata itu dengan cara banyak membaca.
Selama winter break ini, saya telah membaca tiga buku. Dua diantara adalah karangan Elif Shafak, penulis asal Turki. Saya mengakui bahwa Shafak adalah penulis yang hebat. Sebenarnya pengakuan saya sangat tidak dibutuhkan, karena saya bukanlah siapa-siapa. Tapi, yang bisa anda jadikan acuan adalah semua testimoni dari press-press terkenal yang dimuat dimuka buku-bukunya; Sunday Telegraph, Irish Time, Independent dan lain-lain.

Saya sangat yakin bahwa kwalitas menulis Shafak layak berdiri berderetan dengan para novelis wanita Inggris abad Victorian seperti George Eliot. Dari dua buku Shafak yang saya baca, yang membat saya terperangah adalah :

1. Betapa complex-nya cerita yang dinarasikan oleh Shafak, sama halnya seperti buku karangan George Eliot.
Marian Evan (nama asli George Eliot) pernah menulis sebuah essay yang berjudul "Silly Novels by Lady Novelists." Inti dari essay itu adalah dia sangat bersikeras bahwa wanita sebenarnya bisa menulis hal-hal yang lebih kompleks dari apa yang telah mereka lakukan. Namun kenyataannya pada saat itu penulis wanita lebih terkenal dengan karya-karyanya yang sentimentalist. Tentang cinta-cintaan dan hal-hal yang berbau emosi.

Akhirnya Marian Evan bukan hanya omong doang, dia juga telah membuktikan omongannya itu melalui novel-novelnya yang telah dipublikasikan. Walaupun pada buku-buku itu dia tidak mencantumkan nama aslinya, melaikan ia lebih memilih nama "George Eliot" untuk mewakilinya. Alasannya adalah kalau dia menggunakan nama perempuan maka karyanya akan di anggap remeh oleh kritikus masa itu, yang dikuasai oleh para lelaki. Saat ini nama George Eliot masuk dalam tokoh wanita yang membawa revolusi untuk kemajuan wanita. Dan, menurut saya hadirnya generasi lanjutan seperti Elif Shafak adalah bukti suksesnya virus yang ditularkan oleh George Eliot.

2. Daripada menggunakan satu narator, Shafak malah mengotak-atik sistem narasi dalam novelnya. Yang pada akhirnya menjadikan novelnya unik dan krearif. Salah satu bukti konkritnya adalah buku Honour.

3. Penggunaan waktu yang dikotak-katik.
Daripada menceritakan seluruh isi cerita secara beraturan dari A ke Z, Shafak malah memainkannya secara tidak beraturan. Dari bab satu hingga bab akhir, imajinasi pembaca akan dibawa berjalan ke masa kini, masa lalu dan masa yang akan datang.

4. Tidak ada tokoh yang dispesialkan. Semua tokoh memiliki hak yang sama untuk diceritakan. Yakni, kita pembaca tidak akan dikecewakan karena penasaran apa yang terjadi dengan tokoh itu. Mungkin Shafak percaya bahwa tidak ada cerita yang lebih rendah. Semua cerita kodratnya sama. Yang menjadi permasalahan adalah penulis. Apakah dia mampu menjadikan cerita simpel itu menjadi menarik.

5. Tema yang diangkat oleh Shafak sangat kaya. Tidak hanya terpatok pada cinta yang cliche, tapi juga ia membaurkannya dengan kultur masyarakat setempat, politik, ideologi, mistis dan lain-lain. Inilah salah stu alasan saya membandingkannya dengan George Eliot.

Walaupun ketika saya memposting foto bukunya di Facebook, salah satu teman Turki saya langsung berontak dan melebelkan kata pembohong padanya. Katanya isu sejarah yang dia paparkan dibuku itu sangat tidak benar. "Sebagai seorang mahasiswa sastra saya bisa kok, membedakan antara fiksi dan non-fiksi," kilahku pada teman itu. Terlepas dari semua kontrofersi tentang si Shafak dinegara asalnya, menurut saya tulisan dia sangat layak dibaca. Setidaknya bagi para calon penulis yang ingin belajar sistem menulis yang unik ala Elif Shafak.

Jumat, 06 Februari 2015

Bunga Sempurna




Cahaya matanya mengkilap bagai kaca usai di bersihkan.Terang benderang. Setiap insan yang melancarkan penglihatannya padanya akan dimabuk asmara. Tak pernah ia berusaha untuk berkedip, karena itu kan menghalangi pengagumnya untuk menatap mata indahnya. Dalam sinar mata itu terdapat racun. Siapun terkena racun itu akan berubah menjadi pengagum sejatinya.

Siang itu ia melewati sebuah padang rumput yang hijau. Dilengan kanannya ia membawa keranjang yang berisikan makanan. Saat itu adalah musim semi. Ia berfikir untuk duduk santai dipadang rumput itu sembari mengunyah makan ringan.

Namun mata indahnya melihat sebuah bunga. Bunga yang indah sekali. Tak pernah ia melihat bunga seindah itu seumur hidupnya. Warnanya merah maroon. Bunga ini masuk dalam klasifikadi bunga sempurna. Ia memiliki kelopak, mahkota, benang sari dan putik. Dengan teliti ia mengamati bunga itu. Ia pelajari segala hal berhubungan dengan bunga itu.

Ingin rasanya ia memetik bunga itu namun ia berfikir ulang lagi "andai saja bunga ini hidup bertebaran sepanjang lahan ini, akan aku petik satu darinya dengan penuh kehati-hatian, dengan begitu ia tidak akan menangis kesakitan," ia berbicara pada dirinya sendiri.


Puas mengamati bunga itu iapun terus berjalan. Berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumahnya hingga ia sampai pada satu pemikiran bahwa ia ingin memelihara bunga itu. Ia ingin mengembangbiakkan bunga itu dipekarangan rumahnya, dengan begitu bunga yang ia idamankan itu bisa tumbuh dan berkembang biak.

Sekembalinya ketempat dimana ia menemukam bunga itu, ia kebingungan. Dia bingung bagaimana mungkin bunga yang belum sampai satu jam lalu ia cium, sekarang hilang begitu saja. "Apakah aku salah tempat," ujarnya pada dirinya sendiri. Ia pun mulai mencari-cari keberadaan tempat itu.

Ia mencari keberadaan bunga itu dalam bingung. Bingung yang ia sendiri tidak mengerti usulnya. Sampai ketika matahari akhirnya hinggap diperistirahatannya, ia berpaling pulang kerumahnya dalam kesedihan. Sedih, karena bunga yang ia impikan sejak menghadiri kelas pelajaran biologi saat smp itu, sirna begitu saja. Bahkan ketika kesempatan itu sudah berada didepan mata.

Tak kuasa ia menitiskan air mata. Bahkan mata indahnya tak mampu menahan perih yang berasal dari hati. Perih itu pun ia tumpahkan dalam bentuk hujan air mata. Berderai sampai menyentuh ranah kering yang tidak berdasar. "Musim dingin baru saja belalu, namun mengapa bagian tanah ini bisa setandus daratan Afrika."

                                          *******
Tangisannya terdengar sampai seisi rumah. Ibu Dinda yang saat itu tidur dengan pulasanya, memutuskan untuk bangun dan melihat anak kesayangannya.

"Kenapa kamu sayang," Ibu dinda menghelus kepala dinda. "Kamu mimpi buruk ya!"



Friday 06.02.2015
19:57

Adhari