Selasa, 07 April 2015

Oxford Cleric Diary From "The Canterbury Tales"

Writing has been a passion for me. When my prof. from Chaucer class gives us an assignment to write a dairy of one of the characters in that Tale, I was having a very wild imagination. And here is my wild imagination looks like.






Adhari ADHARI
130216097
Assist. Prof. Dr. Papatya ALKAN GENCA
ING 2110 Chaucer
April 07, 2015

Oxford Cleric Diary 

Dear Diary,

Last night I could not sleep. One possible thing that caused this to happen is the fact that I was under the influence of a book that I have just read. The topic of that book kept bothering my head. Even when I decided to read many other sources, in a hope that it could help me to understand this particular book better. No, it did not. Quite the opposite, it brought me to a more confusing situation. My head was full of thoughts that I couldn’t handle anymore. Oh no! I am a student. I should’ve never said that. Yes! No matter what, I should keep reading book.

The truth is I have no more book left to read. Two days ago I decided to join these fellow gentlemen and gentlewomen to Canterbury Cathedral, which means I will not be able to find book any time soon. We met at an inn in Tabard. Upon knowing that we are in the same destination we decided to go together. And, if I am not mistaken the owner of that inn initiated a very great idea to make a game or should I say a competition of telling stories. I forgot the rest when he talked about the reward. As I said, I was too preoccupied with my own studies. To tell the truth I have no idea what I am going to tell. My mind is too preoccupied with many thoughts. I can’t even think of one story now.

I decided to take a walk among the body of my other fellows who were peacefully sleeping. It was the third day of our journey when we agreed to take a stop for the night. We lodged in a beautiful lodging house but as I have no money whatsoever, we, I and some other fellows, just slept over on the ground in front of that lodging house. The weather was so cold, I must say, I didn’t enjoy my walk. I decided to go back to the group. As I was sitting I found a book near a fine fellow gentleman. I held that book with great astonishment. I still didn't have any intention to open it but my head kept telling me to open it. At last, I have to admit that I did open that book. I was so ashamed of doing it.

What I was about to say here is I object what that gentleman wrote about me. I wouldn’t be a quiet person if it wasn’t because of my head is too preoccupied with hundred of thoughts. I wouldn’t mind spreading my knowledge if I was sure enough about the knowledge I have. The thing is, as I have mentioned earlier, I am still questioning on many things. There are many things that I am not sure of, which if I did arrogantly talk about it, it would be so much wrong. I am quiet because; one, I am preoccupied with my own thoughts; two, I don’t think I am competence enough to talk about certain topic yet. Hopefully, one day I can come up with a conclusion and so I will devote myself to sharing the knowledge I have for the better of our society.

About my clothes, however, I find his description has some truth. I should thank him for this matter, because honestly if it wasn’t because of him, I wouldn’t be aware that I have such situation in my life. Yes, I did prefer buying a bunch of books rather than buying clothes. Not because I don’t need them, but my head needs clothes more than my body. Like the book that I mentioned earlier, for example, in order to solve the case like that I need books more desperately.

My body and my horse, again, are two things that I should thank him for. He has paid a great attention on me, which shows how good-natured he is. I should say I haven’t eaten for days, or better yet for months maybe. I just don’t feel hungry anymore. Or maybe hunger doesn’t feel me anymore. One that this gentleman has to know, I do have a full time job. Solving the questions in my head is my full time job which nothing can be compared with. One goal that I have for the future, which I am still working on; how to turn the stone into gold. Once that comes true, I will show it right to face of this gentleman. My conscience says “how happy a man would be when that day came.”

My teacher once said, "don't take criticism as humiliation, take it as lantern that will accompany you in the dark." Therefore, I don't hate him for all the description he wrote about me. I thank him for giving me latern. Now I can be more brave to pace my way in this dark world.

Under the moonlight

Minggu, 22 Maret 2015

Tantangan Setelah Lulus Kuliah


Hari ini kebetulan lagi youtube-an. Dan, entah kenapa topik yang ada dalam video itu bisa sama: Dunia Kerja. Aduh... udah malas duluan. Video pertama yang ku tonton adalah presentasi dari Ridwan Kamil di acara TEDx Jakarta. Dalam video itu dia sedikit menyinggung tentang kenapa banyak orang pintar Indonesia yang memilih tinggal diluar negeri. Salah satu alasannya adalah karena kecilnya gaji yang didapat ketika kerja di Indonesia. Terutama di instansi pemerintah. Sebenarnya perusahan swasta pun sama saja.

Sepintas itu terdengar maruk tapi coba diteliti lebih detil lagi. Coba telaah sikap para lulusan LN itu dari sisi psikologisnya. Pertama, mereka harus berdebat dengan dirinya sendiri "masa sih, gue lulusan luar negeri gaji bulanannya 700rb." Selanjutnya yang timbul adalah perasaan tidak dihargai. Bukan hanya kerja kerasnya untuk menuntut ilmu yang tidak dihargai, tapi juga pengorbanan orangtuanya (kalau kebetulan biaya kuliahnya dari orangtua).

Bagi mahasiswa yang pada saat kuliah kebetulan menerima beasiswa dari instansi tertentu (dari pemerintah negara yang bersangkutan maupun organisasi) tentunya jumlah uang yang ia dapat akan lebih besar dari pada gaji yang ia dapat ketika kerja di Indonesia. Lalu ekspektasi apakah yang kita harapkan dari mereka ketika lulus kuliah? Pulang ketanah air dan menerima segala kenyàtaan? Atau mending menetap disana dan kerja serabutan? Karena kerja sebagai pelayan restoran dibayar lebih mahal disana ketimbang kerja di Indonesia.

Kalau alasannya biaya hidup di Indonesia murah, ngga juga. Murah itu relatif ya. Kalau bisa beradaptasi dengan gaya hidup Indonesia mungkin bisa. Tapi bagaimana kalau misalkan si individu itu ingin menerapkan gaya hidupnya pada saat di LN di tanah air. Misalkan untuk hal yang primer saja: tinggal dirumah yang layak huni, layaknya ketika dia berada di LN. Standar saja, kamar mandi, dapur dan kamar tidur yang layak. Bukan malah dapur seadanya, kamar mandi apalagi. Bisakah gaji satu juta setengah menyediakan fasilitas itu?

Video yang kedua kutonton adalah videonya Sacha, salah satu bule yang terkenal di youtube. Dia sudah lama tinggal di Indonesia dan kalau tidak salah dia menikah dengan orang Indonesia. Dalam video-video yang dia buat, dia banyak mengkritisi gaya hidup orang Indonesia maupun perpolitikan Indonesia. Dalam video yang berjudul "Expat Life in Indonesia," dia menjelaskan nasib bule yang memutuskan untuk kerja di Indonesia. Terutama pekerjaan-pekerjaan yang bersifat sosial seperti mengajar dan lain-lain. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana nasib para guru di Indonesia. Apalagi untuk guru honorer, bisa dibayangkan bagaimana nasib bule itu hidup di Indonesia.

Didalam video itu Sacha memparodikan kehidupan seorang bule yang datang ke Indonesia menjadi guru bahasa Inggris. Bagaimana dia mencari akomodasi tempat tinggal yang nyaman. Kata nyaman disini sangat tricky. Nyaman bagi kita belum tentu nyaman bagi mereka. Eh, kalau tinggal dirumah kotak gitu nyaman gak sih buat kita? Atau kita aja yang yang berbohong pada diri sendiri? Anak kos ngaku! Masalahnya mungkin kita juga gak punya pilihan. Kalau dikasih pilihan tinggal di studio apartement 1 tempat tidur lengkap dengan dapur kecil dan kamar mandi, pilih mana coba? Tapi kalau di Indonesia pilihan kayak gini bisa kena biaya berapa?

Intinya, buat orang Indonesia sendiri aja sulit untuk menerima kenyataan dunia kerja di Indonesia apalagi bule. Kalau bule kaya yang datang ke Indonesia buat bisnis sih, gak usah dibahas.

Cerita lain lagi, tentang kerja part time atau kerja full time selama libur musim panas dinegara-negara empat musim. Teman-teman sekolah ku bisa mengumpulkan uang sebesar 1000TL perbulan alias lima juta selama liburan musim panas. Di Indonesia pembantu rumah tangga saja dibayar sangat murah. Didalam video si Sacha dia mengherankan bahwa harga wine di Indonesia lebih mahal daripada harga keringat para buruh cuci pakaian.

Alasannya pasti karena populasi Indonesia yang membludak? Sulitnya mencari pekerjaan plus sedikitnya lowongan pekerjaan? Belum lagi karena si tenaga kerja yang minim skill. Dan ujung-ujungnya pendidikan yang menjadi dalang utama.
Semoga generasi-generasi Indonesia kedepannya bisa lebih banyak yang bergerak di bidang wirausaha. Dan semoga pemerintah bisa membantu mereka-mereka yang memiliki ide kreatif. Kalau punya ide tapi ngga punya modal, sama saja! Semoga orang Indonesia seperti Ridwan Kamil muncul lebih banyak lagi.

Hal-hal yang dibutuhkan karwayan adalah: 1, gaji yang manusiawai 2, asuransi. Berapa banyak orang Indonesia yang punya asuransi? Kalau pegawai negeri sih dapat asuransi dari pemerintah. Nah yang kerja sebagai wirausahawan bagaimana? Di Indonesia ada bagian asuransi milik pemerintah nggak sih? Kalau di Turki, ada namanya SGK, jasa asuransi milik pemerintah. Kalau untuk mahasiswa bayarnya 45TL perbulan kalau tidak salah. Ini buat mahasiswa asing.

Pengalaman jadi siswa dari SD sampai SMA di Indonesia, sebagai anak seorang yang kerja sebagai wirausaha, nggak pernah punya asuransi. Resikonya, ya sebagai bukti ketika abangku sakit typhus, entah berapa uang yang keluar. Permasalahannya lagi, jasa asuransi mana sih di Indonesia yang terpercaya. Adakah? Ingat! Dibalik kata asuransi ada kat JASA lo... bukannya malah memperalat perusaan jasa asuransi untuk menipu pelanggan.

Di Turki juga ada istilah gaji pensiun. Di Indonesia juga ada sih, tapi ini beda. Bedanya gaji pensiun ini berlaku untuk semua orang, terserah kerja di swasta maupun negeri. Sistemnya, buat mereka yang kerja serabutan tapi pingin masa tua lebih terjamin bisa mendaftar 'asuransi masa tua' mungkin istilah yang paling mendekati. Mereka akan membayar bulanan. (Ambil saja 'asuransi pendidikan' sebagai bayangan). Program yang sangat bermanfaat bukan?

Rumor yang ada di Indonesia tentang nasib karyawan swasta ya itu tadi, kalau pensiun ngga bakal dapat gaji pensiun. Cuma dapat uang terimakasih di akhir, itupun tidak terlalu banyak. Contoh lagi, saudara jauh ayahku yang tinggal di Jakarta memutusksn untuk keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri, karena pertimbangan gaji. Itu sekitar 20 tahun lalu. Nah, tiba-tiba suatu pagi ketika sampai kantor supirnya membuka pintu mobil, dan tenyata sì bapak sudah almarhum. Untung anaknya sudah besar semua. Dan tinggalah sang istri dengan rumah besar tapi apa gunanya kalau tidak ada penghasilan untuk membayar tagihan air, listrik dan lain-lain. Moral of the story, gaji pensiun itu perlu ya!

PR ku ketika kerja nanti:
1. Mencari jasa asuransi yang terpercaya (semoga nggak semustahil teori alchemy: merubah batu jadi emas)
- asuransi buat masa depan pendidikan anak
- asuransi masa tua (gaji pensiun) sejauh ini sih belum niat jadi PNS, jadi REPLITAnya ngikutin keadaan hati sekarang dulu. Tapi ini memmungkinkan untuk berubah kok..
- asuransi kesehatan
Nah lo? Gaji satu juta setengah bisa menuhin ini semua ngga? Belum lagi belanja dapur, tagihan listrik, telepon, internet, air, langganan tv luar negeri.... yaudah deh, telepon cukup hp aja. Coret! tv berbayar coret! kalau ngga bisa beli tv bebayar mending ngga usah beli tv sekalian. Dari pada nonton siaran tv Indonesia yang minim pesan moral alias tak mendidik.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa............
Belum apa-apa udah stress duluan..

Rabu, 18 Maret 2015

BUNTU

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang pemula dalam dunia tulis-menulis? Beberapa mengatakan "carilah pengalaman, dengan begitu kamu akan tahu apa yang harus kamu tulis." Sebuah statement yang tidak mungkin untuk dibantah.

Hal itu bukanlah satu-satunya cara untuk bisa menulis. Membaca, misalkan, adalah cara lain yang sangat membantu dalam proses menulis. Hampir semua penulis besar masa kini bisa sehebat itu karena mereka berada dibawah pengaruh idolanya. Namun, tidak sepenuhnya meniru. Dia mengambil beberapa titik dari sebuah karya yang menginspirasinya, dan titik itu iya olah menjadi lingkaran yang lebih besar.

Shakespeare, seorang playwright yang tak tertandingi hingga saat ini. Ketika melihat karya-karyanya, penonton atau pembaca yang memiliki pengetahuan tentang konteks drama itu, akan mengerti bahwa dalam drama itu banyak sekali referensi yang merujuk pada karya-karya klasik. Sebut saja mitologi Yunani, dan juga referensi-refensi lainnya. Dalam hal sejarah, Shakespeare dipercaya mengambil referensi dari buku salah satu sejarawan yang bernama Raphael Holinshed. Hal ini menunjukkan betapa membaca mampu membuka imajinasi seseorang yang pada akhirnya akan mengarahkannya menjadi seorang penulis juga.

Lalu jalan manakah yang akan aku pilih? Banyak membaca? Mengeksplorasi dunia? Aku suka membaca. Aku suka jalan-jalan, walaupun uang selalu menjadi kendala. Ntah berapa sering aku mengulang kata "aku akan menjadi seorang penulis." Dan tidak kalah sering juga inspirasi hadir. Menggodaku untuk menulis. Tapi,.....

Aku belum mulai menulis, bukan karena tidak tahu apa yang harus  ditulis. Ada banyak cerita yang tidak sabar untuk diabadikan, dan aku belum juga bergerak. Terkadang aku membuat janji palsu, dengan mengatakan "nanti ya!." Dan setelah beberapa minggu akhirnya mereka menyerah. Entahlah kemana mereka berlalu. Mungkin ada seorang penulis malang yang akhirnya menerima mereka.

Tidak kalah sering aku berkomitmen akan menyelesaikan cerpen dan mengirimnya ke media. Tidak. Itu juga tidak berhasil. Ketika aku mulai duduk didepan PC, aku ingin semuanya cepat selesai. Seolah dunia akan terbelah dua kalau aku duduk terlalu lama disana. Atau mungkin kepalaku yang akan bernasib seperti kelapa parut. Ntahlah... kadang aku berfikir aku harus menscan otakku. Mencari tahu jika ada yang aneh disana. Terkadang aku menganggap, "okay, mungkin nanti aku bisa perpanjang." Dan mood menulis pada detik itu tidak lagi sama keesokan harinya.

Terakhir aku ingin menulis tentang seorang introvert yang bukan hanya terasingkan dari lingkungan sosialnya, tapi juga memilih untuk terasing. Dia memilih villa disebuah bukit yang terasing menjadi tempat tinggalnya. Suatu hari dia menikah. Konflik hadir setelah pernikahan, karena sang istri menyadari bahwa jenis hidup sang suami bukan hal yang ia ekspektasikan. Sebelumnya dia adalah gadis kota. Bukan sebuah keheranan kalau konflik akhirmya muncul.

Parahnya konflik tidak muncul dalam bentuk verbal tapi diam. Permasalahan yang tidak diungkapkan lebih ribet dari pada yang blak-blakkan. Setidaknya kalau diungkapkan permasalahan bisa menemui titik jelas apakah selesai disana atau lanjut. Namun, begitulah jenis konflik yang akan terjadi didalam karakter cerpen saya yang seorang introvert kelas kakap.

Akhirnya sang suami menyarankan sang istri untuk melakukan hal yang ia suka. "Kamu bisa main ke kota. Bertemu dengan teman-temanmu," sarannya. Sang istri mengikuti saran itu. Dan, sejak saat dia menginjak pedal gas mobil, sang istri tidak kembali lagi.

Sang suami berada dalam kondisi yang sangat melakolis. Dia tidak tahu harus melakaukan apa. Haruskah dia menyusul kekota? Namun dia juga mengingatkan dirinya sendiri "oh.. mungkin dia butuh waktu."

Setelah sebualan akhirnya dia berinisiatif untuk menyusul dan mencari kepastian akan hubungan mereka. Sang suami tidak berharap banyak karena dia menyadari bahwa dia juga berperan besar dalam pecahnya permasalahan ini.
Minggu berlalu. Bulan berlalu. Sang istri belum juga ditemukan. Suatu waktu si suami ini secara tidak sengaja melewati lorong, tempat penjualan buku bekas. Dan disana dia akan bertemu dengan narator cerpen ini.

Nah, ini cerita dinarasikan oleh orang ketiga. Seorang yang mengaku bahwa dia memiliki banyak sekali keanehan dalam dirinya. Salah satunya adalah dia selalu dihantui oleh cerita-cerita. Cerita itu akan hilang jika dia menuliskanhya. Ketika dia akhirnya melihat karakternya hidup, dia sangat kaget bukan kepalang. Efek pertemuan ini bekerja pada si narator karena akhirnya dia sadar kenapa keanehan itu datang. Pertama, karena si arwah ingin dia untuk menjadi mediator antara si arwah dengan suaminya. Karena hanya dia yang bisa menyadari keberadaan arwah itu. Walaupun dia taunya hanya dalam bentuk cerita, yang awalnya dia anggap fiksi, tapi kini ia berubah pikiran.

Singkat cerita sang suami bertemu wanita baru yang nantinya akan merubah dia menjadi seorang yang bisa bersosialisasi. Nanti akan ada scene bookclub. Si suami ini sangat intusiastik dengan kegiatan itu. Karena dia adalah booknerd.
Sebagai ending, si arwah menghilang dalam damai. Si suami menjadi pribadi yang lebih bersosialisasi dan sipenulis menemukan kehidupan baru sebagai penulis sekaligus hero. Dia akan mendapatkan banyak sekali kasus yang dia akan selesaikan.

Plot yang tidak terlalu membosankan, bukan? Dan aku belum juga menyelesaikannya. Dan excuse ku adalah, ah.. aku belum menemukan warnaku. Aku terlalu terbebani oleh bagusnya karya-karya mereka. Lihat tuh style menulisnya Hemingway yang santai tapi penuh dengan understatement atau Faulkner yang sangat elaborate. Ah... atau kadang aku menyalahkan hidupku yang belum bebas secara finansial. Hubungannya? Ya, karena kalau lagi sibuk dengan urusan, "wah.. uang asrama bulan inunbelum bayar", fokusnya terbagi dong?

Hari ini aku baru selesai nonton Julie dan Julia untuk kesekian kalinya. Cerita tentang dua wanita yang hidup penuh dengan goal. Lebih penting lagi mereka sangat berdedikasi dengan komitmennya. Bukan cuma membuat komitmen tapi tidak bertindak (nunjuk diri sendiri). Dan, aku hidup dalam rutinitas. Jarang ada event besar terjadi. Mungkin aku lah the  real ADD 6(Attention Deficit Disorder) disini.