Kamis, 04 Februari 2016

The United Colors of Europe

Photo: taken randomly from google


Before visiting Europe last December I used to think that Europe was a singular society where only one type of people live side by side. But of course my prejudice was immediately proven to be false when I arrived in Malpensa Airport, Milan, the first European city I visited. That time, I admit, I was not sure if my Airplane was even landing to a right place, (are you sure we are landing in Milan not in one of Asian countries?) - because I saw so many Asians working at the airport. Later I discovered that the airport stuffs are mostly from the Philippine.

When I looked back I was not sure what made think of Europe that way. Perhaps media, or even perhaps it was influenced by my study. In my study we often talk about Europe, not in a modern sense but way back to 18th C and 19th C. I can't help but drawing that kind of reality in my mind. But at least now I have a new perspective about Europe. And it also makes me think of how little we talk about our contemporary reality in our conversation or even in the class, and how much we talk about the past.

I can't help but accusing media for the way I think. Recently there was a shocking news about Paris attacks. And one of the issues being discussed in media was about how unfair French government towards the immigrant - especially those who are originated from the former colonies. So I thought if that really was the case perhaps I would see an example of decisive society, not that I would want too. Quite contrary, in the street, on the bus, on the subway I saw people intermingle with each other despite their differences with skin color and cultures.

That got me thinking, where is the clash between the French people and immigrants located? Perhaps to answer this question I need to at least stay in France for a month to observe the real reality of life that happening there. But from what I saw during my 10 days travelling around 3 countries of Europe, there is no one single discrimination took place. But that doesn't mean it does not exist. I just did not catch a sight of them.

Do Europeans, or French people in particular, really hate immigrants? Or it is just food for the news? Even if it was true that the French wanted to live in a singular society, that would never happen. It's like trying to reduce the sweetness of melted sugar in a hot tea - it is impossible. I have never seen in my life a continent with so many diversities - and it is so beautiful. In Europe we can see all sort of people: Asian, European, African, etc. Who wants that beautiful rainbow to disappear?






Selasa, 02 Februari 2016

Sophie's World: Filosofi Dalam Fiksi


Sophie hidup bersama ibunya. Ayahnya bekerja di perkapalan, yang membuatnya harus berada dilaut. Ibunya, walaupun tinggal bersama Sophie, selalu bekerja dan kalaupun pulang dari kerja mereka jarang berinteraksi. Mereka hanya berinteraksi diwaktu jam sarapan atau makan malam. Kedua situasi ini membentuk pribadi Sophie yang sangat kesepian. Untuk mengatasi kesepian ini ia akhirnya memutuskan untuk memelihara hewan: kucing, ikan dan lain-lain.

Suatu hari tiba-tiba ada surat misterius dan kartu pos salah alamat yang datang ke kotak pos rumah Sophie. Isi dari surat itu sangat singkat seperti: Who are you? Where does the world come from? Namun lama kelamaan isi suratnya menjadi lebih panjang. Terutama untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang hadir sebelumnya. Tentu sebelum jawaban itu hadir, Sophie tidak bisa menghindari dirinya sendiri untuk mencoba berhipotesis. Mungkin maksud dari hadirnya pertanyaan ini adalah untuk mengasah nalar Sophie.

Sebenarnya untuk masalah ini ada jawaban khusus yang telah disediakan didalam buku di bagian surat dengan judul A Strange Creature, dimana dijelaskan perbedaan antara anak kecil dan orang dewasa. Anak kecil gemar sekali bertanya, namun orang dewasa seolah telah terbiasa dengan kehidupan, sehingga mereka enggan untuk bertanya. Atau bahkan menganggap kegiatan bertanya sebagai kegiatan yang sepele.

"….It seems as if in the process of growing up we lose the ability to wonder about the world. And in doing so we lose something central - something philosophers try to restore. For somewhere inside ourselves, something tells us that life is a huge mystery. This is something we once experienced, long before we learned to think the thought." - A strange Creature

Kehadiran surat-surat misterius ini membuat Sophie penasaran, siapakan orang yang menulis surat ini. Namun percuma tidak ada clue yang disematkan didalam amplop surat. Bahkan ternyata surat-surat itu tidak dikirim melalui pos. Kemungkinan terbesar surat-surat itu dimasukan langsung kedalam kotak pos rumah Sophie secara pribadi.

Ternyata bukan hanya surat yang berisi tentang pelajaran Filosofi yang konsiten hadir di kotak pos Sophie, tetapi sejak hari itu kartu pos kesasar itu juga konsisten hadir. Bahkan sekarang didalam kartu posnya ada penjelasan yang seolah-olah mengatakan bahwa kartu pos itu sengaja di kirim kealamat Sophie. Isi dari kartu posnya tidak jauh-jauh dari ucapan dan persiapan ulang tahun Hilde. Dan kartu pos itu berasal dari ayah Hilde yang bekerja untuk PBB di Lebanon.

Sophie belum juga menemukan siapa dalang dibalik pengiriman surat-surat pelajaran Filosofi itu. Padahal setiap hari dia telah berusaha untuk mengintip kotak pos dari kamarnya agar dia bisa melihat ketika si pengirim memasukkan surat kedalam kotak pos itu. 

Tidak ada penjelasan khusus kenapa Alberto (guru filosofi Sophie) berkelakuan sok misterius diawal bermulaya pelajaran filosofi dengan Sophie. Tapi disurat-surat selanjutnya ia berjanji akan bertemu dengan Sophie secara tatap muka. Mereka pertama kali bertemu di sebuah gereja dengan bangungan gaya Gothic dari abad pertengahan. Alasan kenapa ia memilih tempat itu agar lebih mudah menjelaskan tentang abad pertengah.

Sejak mendapatkan pelajar Filosofi, Sophie jadi berkelakuan aneh. Salah satu contoh keanehannya adalah dengan mengatakan bahwa ibunya sudah tidak mempunyai ketertarikan untuk mempertanyakan dunia, sehingga ia menjadi malas bertanya. Kelakuan anehnya itu membuat ibu Sophie khawatir. Ibu Sophie menanyakan apa yang terjadi dengannya, apakah dia sedang jatuh cinta. Sophie berbohong dengan mengatakan bahwa ia sudah punya pacar. Dan surat-surat yang hadir itu berasal dari pacarnya. Namun lambat laut Sophie akhirnya menceritakan yang sebenarnya. Dan berjanji akan membawa Alberto untuk bertemu langsung dengan ibunya Sophie, yaitu pada perayaan ulang tahun Sophie.

Pelajran yang Sophie terima dari Alberto: 1. Perkenalan tentang Filosofi 2. Sejarah Filosfi mulai  dari Democritus hingga filsuf modern seperti Freud, dan para existentialist seperti Sarte dan lain-lain.

Selain dunia Sophie, ada dunia lain juga yang cukup memiliki andil besar dalam novel ini, yaitu Hilde. Hilde adalah anak dari Albert yang bekerja di PBB (tidak usah pusing! Albert dan Alberto adalah orang yang berberda; tetapi bisa juga sama)

Ternyata Albert adalah dalang dibaling semua kartu pos yang hadir di rumah Sophie. Namun kenapa Sophie? Ternyata Sophie adalah objek didalam buku yang Albert sedang tulis. Dalam rangka memperingati ulang tahun anaknya, Hilde, Alberto memutuskan untuk menulis buku dengan tema Filosofi, yang menurut Albert akan berkesan seumur hidupnya. Dalam buku itu yang menjadi karakter adalah Sophie dan dunianya - terutama dunia yang baru ia kenal yaitu dunia filosofi.

Hal itu membuat seluruh cerita bertambah rancau. Ternyata cerita yang kita baca dari awal adalah cerita yang tertulis dibuku yang ditulis oleh Alberto. Sekarang adalah waktunya para pembaca yang bertanya: apakah Sophie ini karakter hidup atau karakter dalam novel yang ada dalam novel (fiksi dalam fiksi?).

Hal ini masih menjadi perdebatan. Karena ternyata Jostein Gaarder membuat seolah-olah Sophie ini adalah karakter yang hidup didunia nyata versi novel, namun karena cerita tentang hidup Sophie dibukukan oleh Albert, sekarang kehidupan Sophie atau lebih tepatnya nasib Sophie berada ditangan Albert. Jadi selama ini seolah-olah ia menjalani hidup yang ditulis oleh Albert. Situasi seperti ini sebenarnya pernah juga dibuat menjadi ide sebuah film yang berjudul "Stranger Than Fiction," dimana karakter utama menjalani hidup yang ditulis oleh seorang karakter yang berperan sebagai penulis.

Nah apakah Sophie dan Alberto akan berhasil keluar dari dunia fiksi yang ditulis oleh Albert?
Dimalam ulang tahunnya, Sophie dan Alberto memutuskan untuk pergi dan meninggalkan pesta. Sejak saat itu mereka berhasil keluar cengkraman Alberto yang selalu mendikte nasib mereka. Namun ada biaya mahal yang harus dibayar oleh Alberto dan Sophie! Mereka berdua hidup didunia yang abadi - hidup tapi fisik mereka tak terlihat olah manusia. Hanya mereka yang bisa meliha dunia.

*********
Novel ini bermula dengan kombinasi tulisan ilmiah dan fiksi yang puitis. Sisi fiksinya ada dibagian penjelasan tentang kehidupan Sophie. Namun saat surat-surat hadir ke Sophie membawa pembaca ke alam yang berbeda - teman saya pernah bilang bahwa membaca buku ini sama seperti membaca buku sekolah. Cukup berat terutama dibagian penjelasan tentang filosofi. Terkadang saya juga tidak mudeng apa yang sedang dijelaskan. Karenanya saya memutuskan untuk tidak terburu-buru untuk menghabiskan novel ini. Alhasil dua bulan lebih adalah total waktu yang saya perlukan untuk melahap semua isi Sophie's world.

Dalam penulisan novel ini, Jostein Gaarder memutuskan untuk menggunakan dua font yang berbeda, sehingga pembaca bisa mengalami seolah-olah mereka sedang melihat dua kehidupan yang berbeda. Awalnya dua font ini digunakan untuk membedakan antara cerita tentang kehidupan Sophie dan surat yang ia terima. Selanjutnya font ini digunakan untuk menceritakan kehidupan Hilde dan kehidupan Sophie yang dibaca oleh Hilde melalui buku yang ditulis oleh ayahnya.

Jadi seolah-olah ada dua lensa yang digunakan dalam sistem narasi novel ini. Tapi uniknya seluruh cerita dinarasikan oleh orang ketiga serbatahu tanpa ada stream of consciousness atau free indirect discourse. Alih-alih menggunakan kedua figure of speech yang saya sebutkan sebelumnya, Gaarder lebih memilih penggunaan dua font yang berbeda.
 
Dalam novel ini ada dua jenis genre yang sangat kontradiktif diaplikasikan. Pertama, penulisan ala imliah -terutama dalam penjelasan tentang para filsuf dari abad antiquity hingga modern. Namun ada juga unsur fiksi yang absurd dibagian akhir cerita dimana Sophie ternyata harus berhadapan dengan kenyataan bahwa nasibnya ada ditangan orang lain. Apalagi dibagian dimana Sophie bertransformasi menjadi ruh yang abadi yang bertemu dengan tokoh-tokoh kartun Disney.

Entah apa pesan yang ingin disampaikan oleh si penulis?
Kemungkinan besar ini bersangkutan dengan tema yang sangat populer didalam penulisan karya sastra seperti Iliad dan lain-lain yaitu keabadian si karakter atau penulis. Didalam Iliad karakter Achilles mengikuti perperangan ke Troy demi meraih gelar keabadian. Nah, tokoh Sophie juga demikian. Meski secara pribadi Sophie tidak memiliki ambisi untuk menjadi eternal, sipenulis lah yang menginisiasi ini. Keabadian ini bisa secara figurative maupun reel. Reelnya adalah dibagian dimana cerita tentang kehidupan Sophie telah dibukan, sehingga namanya tetap dibaca. Dengan dibaca namanya oleh pembaca, artinya dia hidup abadi.

Akhirnya, sebagai pembaca saya haya bisa terduduk dan terpana dengan kejeniusan buku ini. Buku ini adalah buku perkenalan kepada jurusan yang saat ini sedang populer: PPE (Philosophy, Political Science and Economcs). Karena didalam buku ini pembaca dibawa kepada dunia filosofi dengan semua level. Mulai dari tingkat filosofi yang mempertanyakan tentang fungsi keberadaan manusia diatas muka bumi ini dan tuhan. Berlanjut kepada padangan para filsuf tentang dunia politics, bahkan didalam buku ini dijelaskan tentang pandangan Aritotle tentang pria dan wanita. Siapa sangka ternyata seorang filsuf sekaliber Aristotle masih menganggap bahwa wanita adalah pria yang belum jadi.

"Aristotle was more incline to believe that women were incomplete in some way. A woman was 'an unfinished man.'" - Views on Women.

Dan juga tidak ketinggalan tentang ekonomi. Bahkan juga tentang Psychology, terutama ketika si narator menjelaskan tentang Freud dan teori Alam Bawah Sadarnya. Jadi buku adalah kumpulan semua jenis ilmu pengetahuan dalam satu buku. Semuanya kembali kepembaca, tergantung bagaimana ia melihatnya.






Adhari
Mahasiswa S1 Sastra Inggris Tahun ke-3





Minggu, 31 Januari 2016

Romanian Residence Permit Application For A non-EU Citizen (Erasmus Students Edition)


One thing expats can't get away from, that would be dealing with the bureaucracy. And the worse thing about bureaucracy it won't be the same from one place to another. Some place could make everything very simple, some others make the simplest thing difficult. These uncertainties are the biggest contributor to people's trust/distrust toward government's institution. But still, no matter how resistance you are with everything related to bureaucratic world you can't get away from it. As long as you are alive you are gonna have to encounter this thing whether you like it or not.

Enough with the bullshit!

These are the documents required by immigration office in Romania as to obtain the residence permit: 

  1. Copy of the first page of the passport and the page where the visa is attached, including the page where your arrival date is written.

  1. Medical Certificate

1.Blood analysis (VDRL)


  As a student I really understand that we want everything done with a minimum of  outcome. Therefore I will tell you a hospital that could possibly give you a cheap price for blood analysis, which is Vital Med located in Str. Lahovary nr. 5, 6200, Galati.

2.Medical Certificate first step


For this thing, you could also get it from the same hospital. The total cost for the two are about 30-40 lei

3.The conclusion of the test stating that you a free from any decease that can contaminate society


After you get the two documents, if you are a student in "Duneare de Jos" university, you need to go to a student hospital located in Unitatea Sanitara. Or the easiest clue would be student dormitory near Gradina Publica, when you get there ask the people around and they will bring you to the hospital.

Supposedly when you arrive in the hospital, the doctor will immediately understand what you are there for just by showing the two existing documents.

  1. Letter of Acceptance
I suppose you have gotten this document long before you arrive in Galati?

  1. Letter of Financial Support stating how much scholarship you receive from the organization that rewards it.
Normally erasmus+ office will provide this document for you. So, just ask them to be precise!

  1. Photo 3x4 2

  1. 5 Lei Tax paid at the nearest post office
Post office in Galati located so close to the hospital I recommend in blood test section.

  1. The contract of your residence.
If you happen to stay in the dormitory belonging to the university, then you don't need to worry. They dormitory manager will provide it for you. But if you happen to rent an apartment perhaps you need to ask the land lord about this whole thing.

  1.  fill in the form
Make sure you fill the form! As the form is in Romanian, it might be wise to have a help form the local.

Those are the documents you need to prepare in order to get residence permit in Romania. The RP is expected to be ready in 30 days. But you can also try to check in day 25, if you desperately need it. Who knows maybe you need it for another visa application, schengen visa application for example.