Rabu, 21 Januari 2015

Emotional Crisis / Gejolak Batin


Suatu hari saya pernah bertanya kepada seorang yang saya anggap memiliki cara berpikir yang lebih dewasa daripada saya. Pertanyaan saya adalah tentang momentum yang ada dalam kehidupan manusia. Apakah manusia berputar dalam sirkel yang sama layaknya planet-planet. Apakah gejolak batin termasuk dalam pos pemberhentian di siklus kehidupan manusia itu, yang tak ada seorangpun yang mampu menghidar darinya?

Lalu dia menjawab, dia tidak tahu pasti. Yang jelas, katanya, dia juga telah melewat pos pemberhentian itu. Dan sekarang adalah jatahku untuk berada di posisi itu. Terkadang ketika aku sedang melamun, aku sempat berpikir bahwa setiap anak manusia itu memiliki planetnya tersendiri, meskipun pada kenyataannya mereka hinggap di planet yang sama, planet Bumi.

Alasanku mengatakan hal itu adalah karena aku berpatokan dengan ide planet. Planet itu mengitari garis yang telah ditentukan; yang menjadi jalan hidupnya. Begitu juga manusia, mereka menjalani hidup yang telah digariskan untuk mereka. Mungkin inilah yang disebut fate atau takdir, hal yang selalu menjadi perdebatan didunia sastra. Apakah kehidupan manusia itu bergantung pada takdir (Tuhan,) ataukah mereka juga memiliki hak untuk menentukan kehidupan ini free will.

Pertanyaanku tidak menemui titik terang, (apakah semua manusia mengalami hal itu atau tidak.) Jelasnya, aku tidak sendiri. Ada sekumpulan manusia, bahkan banyak, yang pernah menginjakkan kaki diposisi itu. Mengetahui hal itu, akupun sedikit lega. Adalah kebiasaan maunisa untuk mencari posisi aman. Mereka merasa aman ketika mereka berada didalam kelompok. Meskipun dalam hal ini tidak ada kelompok yang terstuktur, kelompok emosional cukup mewakili. Dengan demikian si penderita bisa merasa lebih baik tentang dirinya sendiri.

Efek dari gejolak batin (emotional crisis) adalah goncangan iman, dalam konteks beragama. Apakah wajar ketika iman seseorang tergoncang? Setidaknya untuk seseorang yang terlahir didalam satu keluarga dengan agama tertentu; yang menjadi bagian dari agama itu bukanlah pilihannya. Ia terperangkan didalam situasi untuk menerima agama itu tanpa mempertanyakannya, dimasa kecil. Namun ketika dewasa, ketika ia telah mengenal dunia dengan segala kompleksinya, dia tidak punya banyak pilihan, namun terperangkap kepada situasi yang disebut gejolak batin atau emotional crisis.

Ada dua tahap jalan pemikiran manusia, berpikir secara innocent ketika mereka masih kecil, yang sering disanding-sandingkan dengan kurangnya pengetahuan dan pengalaman yang ia alami. Dan yang kedua adalah experience, pemikiran hasil dari perjalanan(nya) ketika mengarungi kehidupan. Pemikiran innocent lebih menggunakan emosi sedangkan experience lebih kepada rasional.

Saya memiliki momen tertentu ketika saya berlagak seperti seorang pemikir. Untuk permasalah emotional crisis ini, saya pernah membuat kesimpuan sendiri secara sepihak. Saya menyimpulan bahwa mereka yang mengalami emotional crisis adalah akibat dari berbenturnya fungsi kedua jalan pemikiran yang ada experience dan innocent. Sebenarnya kombinasi kedua jalan pemikiran ini bisa menghasilkan seorang pemikir yang handal. Namun, akibat ketidakmatangan, ketidakdewasaan, di dua sisi, si anak manusia harus berada didalam posisi emotional crisis.

Atau dilain kesempatan saya pernah berkesimpulan bahwa ini adalah test mental. Ketika seorang anak manusia telah mendapatkan kedua hal terpenting yang ia perlukan didalam hidup, agama dan ilmu, mereka akan merasakan gejolak batin. Mereka sedang diuji, apakah mereka akan mampu melewati balance test atau tidak. Apakah ada dari dua sisi ini yang ingin mendominasi keadaan; atau mereka lebih memilih untuk berkombinasi untuk menjadikan anak manusia yang tidak hanya pintar, berilmu, tapi juga beriman. Kepintaran sering membuat ego manusia naik keubun-ubun yang pada akhirnya membuatnya menjadi pembangkang; yang membuatnya berkesimpuan bahwa ilmu lebih dari segalanya.

Pentingnya agama dalam berkehidupan adalah fakta bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan oleh human reason. Ini membuktikan bahwa ada kekuatan yang lebih kuat, yang kepintarannya tidak sebanding dengan manusia yaitu Tuhan maha esa. Posisi agama dalam kehidupan tidak bisa disingkirkan oleh apapun. 

Emotional crisis adalah posisi tidak aman. Ia bisa mengarahkan manusia ke keadaan krisis-krisis lainnya seperti moral crisis dan lain-lain. Ilmu tanpa didampingi oleh aspek agama bisa menghasilkan kehancuran, ini mungkin terdengar cliché tapi ini benar adanya, contonya adalah penggunaan boom dan nuclear.

Beruntunglah mereka yang bisa keluar dari ruang emotional crisis dalam keadaan baik-baik saja. Tak perlu nilai sempurna yang penting merata. Jangan terlalu berat kesatu sisi. 

*pemikiran yang bersifat elastis. Mungkin saja berubah tergantung sikon yang dialami penulis :D

Rabu, 14 Januari 2015

Peran Sastra dalam Dunia Pendidikan


Sastra adalah moda transportasi di negara maju. Hanya dengan satu kartu ajaib, anda bisa menaiki semua jenis transportasi; bus umum, kapal penyebrangan, metro, kereta dalam kota.

Meski terlebel fiksi, sastra tidak sepenuhnya hayalan. Iya, nama para tokoh dibuat sefiksi mungkin, agar tidak ada orang yang merasa dijelekkan, kalau kebetulan tokoh tersebut mendapat peran antagonis. Apalagi sekarang ini kita punya undang-undang nama baik.

Kalau dilihat lebih dalam maka sastra tak kalah dari kartu ajaib itu.
Dengan membuka halaman pertama, moda transportasi yang akan kita naiki dapat terungkap. Apakah itu sebuah bus dengan label politik. Ataukah itu sebuah kereta api dengan label kehidupan sosial.

Kalau ingin memperdebatkan tentang novel sentimental, itu bahkan tidak masuk dalam kategori sastra. Kalau ingin menghakimi sastra lihatlah apa yang dibahas oleh para mahasiswa-mahasiswa didalam kelas, diuniversitas-universitas. Mereka tidak akan pernah membahas novel tentang jatuh cinta dan hidup bahagia selama-lamanya. Yang mereka baca adalah "A Tale of Two Cities" yang didalamnya membahas tentang revolusi Prancis. Yang mereka bahas adalah "Animal Farm," terlihat seperti buku anak-anak tapi ternyata banyak hal yang terselubung, masih berbau politik. Yang mereka bahas adalah "Middlemarch," berbicara tentang seorang wanita luar biasa yang sangat jauh dari kriteria wanita yang biasanya digambarkan.

Itulah mengapa saya sangat terkesan ketika ada suatu negara sangat menjunjung tinggi sastra dibanding ilmu-ilmu lainnya. Bukan berarti ilmu "lain" itu tidak penting. Sangat penting malah. Tapi untuk menuju kesana alangkah baiknya setiap orang harus tersentuh dunia sastra.

Di abad pertengahan "Middle Ages," tepatnya di "High Middle Ages," ketika universitas-universitas mulai dibuka di Eropa barat, hal yang paling awal diajarkan adalah sastra. Sastra-sastra peninggalan Yunani. Saya yakin bahwa ilmuan islam yang dulu tinggal di Andalusia juga mempelajari sastra peniggalan Yunani. Buktinya mereka juga terinspirasi dengan ilmu filsafah. Seperti Ibnu Sina, seorang tokoh filsuf islam yang sangat megah itu, ia belajar filosofi dari Aristotle. Bahkan mereka juga menerjemahkan karya-karya ilmuan Yunani itu kedalam bahasa Arab, yang dikemudian hari sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan di Eropa barat.

*ini mungkin tidak nyambung ke isi tulisan. Tapi saya sangat penasaran, ingin tau jawaban dari pertanyaan yang sudah nongkrong dikepala cukup lama. Kebetulan semester ini saya dapat mata kuliah Medieval Thought and Literature, disana kami membahas karyanya Dante "Divine Comedy." Mungkin kalian sudah sangat akrab dengan karya ini. Yang dibahas disana adalah tentang surga, neraka dan purgatory. Setidaknya itu adalah makna yang kita dapat secara literal. Masih banyak makna-makna terselubung kalau dianalisis lebih dalam, karena "Divine Comedy" ini adalah sebuah "Allegorical Poem," kata dosen ku. Yang menjadi pertanyaan besar bagiku adalah, dalam islam, orang-orang yang hidup masa sebelum islam hadir, dimanakah mereka ditempatkan dialam akhirat? Atau didunia yang sangat luas ini, kalau ada satu tempat yang terisolasi, yang menyebabkan penduduknya tidak tersentuh informasi, terutama tentang islam dan mereka meninggal dalam keadaan tidak mengenal islam tapi bukan karena sengaja, dimanakah ia ditempatkan? Kalau menurut agama Nasrani mereka ditempatkan didalam Purgatory, atau ditengah-tengah. Salah satu karakter yang ditempatkan disana adalah Virgil, seorang penyair yang hidup dimasa dinasti Agustian; dimasa ketika kristen belum ada.

Kembali lagi ke Sasta.
Nah, kalau kita akrab dengan kata Liberal Arts, itu juga peninggalan dari abad pertengahan. Bukan ilmunya tapi namanya, ilmunya juga sih. Ilmu yang dibahas didalam pendidikan Liberal Arts, adalah, kembali lagi, sastra dan seni.

Liberal Arts ini sangat umum di Amerika. Hampir semua community college menyediakan department ini. Banyak mahasiswa yang ketika S1 mengambil jurusan ini. Liberal Arts ini sangat luas. Didalamnya ada sastra, ada seni, sejarah. Atau bisa juga lebih fokus kesalah satu abad, misalkan cuma mau mempelajari masa Renaissance. Atau boleh juga campur-campur, misalkan English Literature and Minor History atau Drama and Minor History dan lain-lain. Banyak kasus yang ketika S1 mereka mengambil jurusan yang masuk dalam lingkup Liberal Arts dan ketika S2 mereka telah menemukan jalannya masing-masing. Istilahnya Liberal Arts ini adalah pintu awal untuk menuju pintu-pintu berikutnya. Karena disini adalah tempat dimana semua ilmu diperkenalkan. Karena mustahil untuk mempelajari sejarah tanpa menyebutkan ilmuan-ilmuan yang jaya dimasa itu. Mustahil menyebutkan kejayaan ilmuan itu tanpa menyebutkan karya-karyanya. Dan kalau kedua hal ini sudah dipresentasikan, tinggal kita yang memilih mana yang menjadi milik kita.

Dalam kasus saya ketika bertemu dengan sastra. Saya lebih tercengang ketika menemukan bahwa ternyata didalam setiap setiap novel hebat ada jaring laba-laba. Plotnya sangat terbelit-belit, karena yang mereka coba untuk tampilkan didalam novel itu adalah refleksi kehidupan. Karena ini adalah sebuah refleksi kehidupan maka tak ada hal-hal yang simpel yang dapat kita temukan disana. Belum lagi ketika sang penulis menyelipkan teori-teori dari para teorist terkenal didalam novelnya. Itu bahkan membuat saya lebih tercengang lagi. Saya tidak habis pikir bahwa manusia ini sangat pintar. Kita wajib bersyukur kepada tuhan atas anugerahnya yang maha besar ini.

Kalau ada yang mengatakan bahwa, "ah kalian kuliahnya sangat mudah. cuma baca novel saja." yang mungkin mudah, tapi sangat bermanfaat. Karena yang didapat dari kuliah jurusan sastra sangat banyat. Dalam memperlajari sastra kita akan mendapat ilmu dibidang sejarah, komunikasi, jurnalisme, filsafat, politik dan yang sudah pasti adalah sejarah itu sendiri.

Tapi kalau mungkin anda sudah menememukan jalan anda sendiri, saya sarankan untuk tetap membaca buku dan membahas sastra. Ketika kita sudah terhubung dengan sastra maka pikiran kita akan bermanuver lebih luas. Kita tidak akan dengan gampang mengambil suatu sumber mentah-mentah. Kita akan lebih kritis dalam berpendapat.

Berharap disekolah-sekolah di Indonesia, dalam mata pelajaran bahasa Indonesia, sebaiknya kita mebahas novel-novel karya sastrawan Indonesia. Tidak melulu mebahasa tentang teori dalam bahasa itu sendiri. Majas itu apa? Mereka akan mengerti hal itu ketika dihadapkan langsung dengan contohnya. Bukan hanya agar anak-anak Indonesia lebih mengenal budayanya, juga untuk meningkatakan minat baca anak Indonesia.

Selasa, 06 Januari 2015

Nice Start, Dude!


Alright. We are in 2015 now. I just want to update what seem to have happened in these couple days. I have to say I didn't do anything in that night; in the night where the year was changing. I prefer to exile myself from the world. I imprison myself in my room. I was about to go to bed earlier in that night, but I somehow cannot manage myself sleeping. I turned on my laptop, instead and wrote an email. Who am I going to send that email for? That's a secret! :D :D

The next day I was expecting some friend. He said he would come to my place. He did come, even though I must say it was too late. This is winter, dude. But I have to admit that your coming is really something for me. He supposed to stay in my dorm but the security (I hate him) would not allow him. Even just to enter the door. He was just asking a place to pray. But the security man said, "even that one, you can't!"

It was 5.30 in the evening. But this is winter, dude. Not just winter, winter. It's snowy here. I finally decided to call Alvi and asked him whether or not we could stay in his apartment. Good for us, he said yes. Some of his friends happened to be not there, so that we could use their beds. But he still have some people with him. This is actually the major thing that I want to talk here. I met one of Alvi's friends that I consider very distinct from all people I've ever met in this country.

Instead of having small talk in the first meeting, he astonishes me with his manner. He did ask why are we here, why not another place. But he did not judge like other people I used to know. People would just jump and ask, "are you here because you don't have university in your country?" That's so silly but at the same time it shows his own shortcoming. I would not say stupid, because it's a very strong word. But it is what it is.

We talked about many things in that night but this one is what I have in mind right now. I didn’t remember the reason why we came up with this talking but this thing really nailed me. I was giving a statement that everyone needs to get out of their comfort zone, in order to be an open minded person. And he argued "no! a donkey is just a donkey regardless how often he travels the world," he would say.

"Wow…." That's how I react upon hearing his words. I didn't wait him to enlighten that sentence. I, somehow, unexplainably can understand it, all by my heart. So, I said to myself, it is not the place that changes our mind. It is us, who have to change our own view. That is the first important thing we need before doing anything. Wherever we go we have to set our mind, otherwise travelling is going to be just a bunch of nothing.

"Many people go abroad because he wanted to be seen brilliant. He takes photographs as much as he could and post it on his social media. Then what? Does it change anything? Is he an open-minded person now?"

"Don’t get me wrong! You are correct. Meeting people from different cultures and lifestyles open our mind. But to have such eyes we have to set our mind. It's eyes that matter. Either our eyes is open or even it is shut in the darkness."

********

Having met a guy with such a wise word like him in the first day of 2015 gives me more hope in life. It, somehow, has proven my thought was wrong. I have to change it. I have always been a talkative person. I used to think that I would not be able to live without talking. But I'm still alive, even though I have been living alone for about three months. And, I was having a thought, a consideration, that I might become an introvert in the future. Maybe! But I still need human beings around me to make me to become a better person. God doesn't want us to be an individualist. Even though, I must say I am pretty happy living alone, in my room. Without any distractions from people.

I came to a conclusion that people are bounded together. Still, there are times where, I think, they need to be alone. So that that individuals' relation with others could go forever. What's the correlation? Hear me up! Taking some day alone to relax is a good thing, especially when you're not in a good time. Forcing yourself to be around people might even cause a fatal result. You might behave in strange way, that might irritate other people.

What a good thing if we could still stand it living around other people even when we are happing a bad day. What a good person we are, if we could comfort our friends who have a problem. Who doesn’t want to be a good person. God creates human beings with different origins so that we could recognize each other.