Selasa, 08 April 2014

Mentari Menyapa




Rembulan menyapa, penuh tanda tanya.
Teguran kah sindiran?
Deburan air mengamini kelam,
Memperkeruh lautan asa.
Tak adakah melodi di udara?
Gemuruh angin tak henti berisik.
Memenuhi pendegaran si penjuru alam.
Burung gagak malam bersiul pekik,
Meneriakkan ke seluruh malam.
Akankah mahluk air kecil,
Sedia, meberi diri ?
Demi si pesakitan ?
Mentari menyapa.


Adhari
April 4, 2014 22:00

*Ditengah persiapan untuk UTS, tetiba kekuatan ini hadir memeluk atap badan. Tak kuasa menahan, ku tumpahkan pada secarik kertas dan kuputaskan untuk berbagi denganmu, teman. Maya! Kaulah temanku, untuk saat ini!





Sabtu, 29 Maret 2014

SHUT UP, You Appetite!

Foto's taken randomly from Google.com
Sebenarnya malas nulis keluhan tapi katanya kalau kita punya masalahan (keluhan) terus diceritakan ke orang lain, bebannya akan sedikit berkurang. Berhubung karena aku sekarang ini punya gak teman pas yang di ajak curhat (yang se kota) jadi mungkin menulis juga bisa jadi pelarian dan siapa tau juga bisa mengurangi beban.
                                                                      *****

Istilah saya untuk minggu ini adalah "akhir bulan" walaupun pada kenyataannya setiap minggu adalah akhir bulan bagi perantau kere sepertiku ini. Kalau masalahnya cupa gak punya duit mungkin gak terlalu membuat pusing, tapi kalau udah masalah utang, itu yang buat kepala pusing sepuluh keliling. Menyedihkannya jadi orang yang udah dewasa (walaupun uang masih dari orang tua) adalah ngga bisa merengek pas minta duit (Padahal masih merengek).

“Salah sendiri sih, sok ngerantau! Kalau udah komitmen ngerantau harusnya bisa dapat beaisiswa dong!” Merepet ke diri sendiri.

Tapi kuakui sekarang udah lebih mature sih. Dulu pas SMP/SMA kalau telat dikirim duit langsung make up the story biar cepat dikirimin duit. Bilang kalau mau beli buku lah. Atau yang paling gak masuk akal ngga bisa makan udah seharian lah. Hahaha *nut* Tapi kalau sekarang udah lebih sadar. Lebih sadar kalau nyari uang itu ngga mudah. Alhasil pas gak ada duit cuma bisa ngasih tau aja, lagi gak punya. Masalah kapan dikirim, cuma bisa nunggu. Kadang kalau udah emang kepepet sampe nelpon beberapa kali. Kadang-kadang juga sampe nyeramahin diri sendiri, "lu bodoh ato gimana si Ri. Kalau ortu lo punya duit, dia gak nahan kali." Tapi disisi lain juga kebutuhan mau gimana lagi.

Coba aja Turkey bisa kaya dicerita-cerita orang yang udah pengalaman study abroad, yang katanya bisa kerja part-time lah. Sebenarnya yang punya niat tinggi buat kerja ada sih yang dapat kerjaan, walalupun illegal. Andai aja peraturan pemerintahnya ngebolehin pelajar kerja part-time misalkan 24 jam seminggu gitu, kan lebih gampang.

Kalau ceritanya udah gini jadinya pas akhir bulan (duit tinggal sisa), -sebenarnya akhir bulan gak melulu harus tanggal 30 atau 27 ke atas! asal gak punya uang aja!- cuma bisa gigit jari. Harus pintar-pintar punya mulut. Kadang-kadang sampe marah gak karuan sama perut sendiri "shut up, your f*cking appetite."

Ngakalin rasa lapar, mungkin itu yang harus diteliti secara khusus sama ilmuan (Jangan-jangan udah ada lagi). Soalnya sekarang juga kan banyak yang ngga suka sama rasa lapar. Contohnya itu tuh orang-orang yang mati-matian diet. Sebenarnya kasian sih sama itu orang, punya
uang untuk makan malah makan aja dipermasalahin. Kalau menurut aku sih kalau mau nggak gemuk ya jangan makan lemak semua. Seimbangi makan sayur, buah, sama makan yang berlemak. Sayur kan fungsinya buat merangsang perut biar BAB (ngasal, tapi kayanya benar deh). Intinya kalau BAB lancar nggak bakal gemuk deh!!!

Oke balik lagi, kalau udah kelaparan yang tahap lapar-selaparnya tapi belum jadwalnya untuk makan harus ngapain dong? Atau udah jadwalnya makan tapi takut kalau makan kecepatan ntar pas malam kelaparan lagi? Di asramku jam makan malam di mulai jam 4. Bayangin aja kalau makan jam itu pasti jam 9 malam udah lapar lagi. Terpaksa harus nunggu setelah magrib baru makan. Selama penungguan (pulang kuliah jam 3, berati nunggunya dari jam 3 sampe jam 6, alias 3 atau 4 jam-an) itu harus ngapain? Biar nggak kaya orang GILA yang mukanya kusut kaya gak disetrika (mana ada oarng gila mukanya kaya gitu ya. Orang gila mah senyum-senyum terus).

Kalau aku sih ngakalinnya dengan nonton. Lumayan sih kalau pas nonton, apalagi yang comedy pasti jadi lupa lapar. Ngga cuma komedi sih, tapi semua. Aku bisa dibilang movie addicted lah. Dalam seminggu bisa nonton beberapa film. Apalagi kalau musim liburan..  Setiap kali nonton aku merasa aku berada di dimensi yang lain, kaya di awang-awang. Kadang suka emosi sendiri kadang suka marah-marah gak jelas. #Exaggerated   
Ya begitulah nasib perantau. Kalau masalah gak punya duit itu masalah biasa, harus diakalin gimana caranya gak badmood pas lagi kelaparan.

*Welcome to my world*

Selasa, 25 Maret 2014

Tangisan Sipenghuni Goa


Taken From Google.com
Apakah ku dalam Goa?
Sendiri, tiada makhluk berjalan,
Tapi, berisik itu darimana asalnya?
Seperti ku tahu mahluk apa itu,

Bukan, bukan jangkrik yang mengaung
Bukan juga ular yang mengais
Suara apa ini?
Aku yakin, aku tahu mereka..

Ia semakin mendekat,
Suaranya berada dimukaku.
Ia tidak mengoceh padaku,
Walau ia berada didapan mukaku

Sesuatu yang aneh di genggamannya,
Ia bersuara padanya.
Apa yang tidak ku punya?
Aku mampu berkata-kata


Kanapa Goa ku, asing bagiku
Aku pernah tenang berada disni
Mahluk itu berwajah sepertiku
Tapi ia alien untukku

Datang tak berucap
Berbicara dia tiada padaku
Lalu kenapa kau singgahi sangkarku?
Akankah kau jajah Goa ku?
Jangan renggut damai ku!


March 25, 2015
Turki