Selasa, 29 Juli 2014

RAMADHAN IN TURKEY


#10. "Mohon Maaf Lahir Batin"

Tadinya bayangan lebaran hari ini masih abu-abu. Tapi akhirnya ada juga perhalatan besar yang akan dilaksanakan. Untuk persiapan perhalatan besar itu aku, Emen, mba Pipienk, Dewi, dan mas Maulana harus begadang sampe pagi, dimalam takbiran. Hehehe…

Perhalatan besarnya adalah makan-makan ala Indonesia! (horee)

Rencananya besok pagi setelah shalat ied kami akan berkumpul dirumah Ibu Ayu, salah satu keluarga Indo-Turk di Izmir. Saya dan kelima orang yang bergandang (yang sudah disebutkan diatas) datang sehari lebih awal. Kami harus menginap disana untuk menyiapkan makanan untuk besok pagi. Menu yang akan dibuat adalah lontong, soto ayam, bakwan, capcay dan lain-lain. Kalau nggak bisa membayangkan betapa special-nya makanan ini, sudahlah! Ini adalah syurga bagi kami.

Selama ramadhan ini bu Ayu dan keluarga sangat berjasa bagi kam, mahasiswa Indonesia di Izmir. Tempat tinggal beliau sering kami gunakan untuk tempat singgah, tempat berkumpul, tempat buka bersama. Bahkan acara buka bersama yang pertama kali saja dilakukan disana. Acara itu juga sekaligus adalah acara doa bersama untuk kelahiran anak pertama bu Ayu; yang Alhmdulillah sudah lahir dengan selamat beberapa hari sebelum lebaran. Selamat bu Ayu. Semoga anaknya mejadi anak yang solehah, sayang (berbakti kepada) orangtua. Dan juga terimakasih atas semuanya. Terimakasih karena puasa kali ini tak seburuk tahun lalu. Setidaknya masih bisa sedikit merasakan puasa ala Indonesia.

******

Setelah sebulan lamanya melaksanan rukun islam yang ketiga, berpuasa dibulan ramdhan, akhirnya inilah hari kemenangan. Hari yang fitri. Betapa aku bersyukur telah terlahir sebagai orang Indonesia dengan budaya yang sangat kaya. Budaya yang sangat kaya, bahkan untuk urusan agama. Budaya lebaran yang sangat melekat dihati, yang selalu dirindukan. Meriahnya lebaran di Indonesia itu tiada tandingannya. Betapa aku ingin pulang hanya untuk merayakannya. Inshaa Allah ada waktunya.

Kini, ketika berada jauh dari Indonesia, rasa kangen itu tumbuh lebih rindang. Bahkan untuk menumbuhkan kerindangan itu, terkadang, air dadakan pun turun dipipi.

Alhamdulillah hari ini rasa itu bisa tercipta lagi, walaupun di negeri asing. Bersama keluarga besar PPI Izmir kami menciptakan kebahagian itu lagi dengan acara makan-makan makanan Indonesia di rumah bu Ayu. Terimakasih untuk hari ini. Terimakasih untuk menghentikan air mata ini.

Mohon maaf lahir batin. Maafkan segala kesalahan yang disengaja ataupun tak disengaja.

******
Untuk shalat ied kami (saya, Emen, mas Maulana, dan suami bu Ayu) shalat di mesjid dekat rumahnya. Jaraknya sekitar 15 menit berjalan kaki. Masalahnya adalah untuk kamu hawa. Di Turki, kau hawa tidak pernah ikut shalat ied. Ini adalah permasalahan budaya. Karena mba Pipienk dan Dewi ingin sekali ikut shalat Ied, katanya mereka juga sudah tidak shalat ied tahun lalu, mas Maulana mencoba untuk menghubungi pak Imam mesjid. Mungkin  ada tempat khusus kaum hawa yang bisa digunakan untuk shalat.  

Setelah mendatangi tempat tinggalnya ternyata pak Imam sedang tidak ditempat. Untung saja ada yang memberi no teleponnya. Setelah menelpon si pak Imam akhirnya memastikan bahwa ada tempat yang bisa mereka gunakan untuk shalat. Katanya besok pagi mereka harus datang cepat. Lebih awal dari jemaah laki-laki dan pulang lebih akhir, ketika para lelaki sudah pulang semua.

Gambaran: isi dalam mesjid di Turki tidak sama dengan di Indonesia. Di Indonesia tempat shalat kaum lelaki dan perempuan hanya dipisahkan oleh hijab dan batasnya itu cukup luas. Kalau di Turki, tempat shalat kaum hawa sangat terbatas. Hanya sepetak dibagian pintu dan itupun sangat tertutup. Bentunya itu seperti kamar.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahil hamd….

Alhamdulillah shalat ied kali ini berjalan lancar. Walapun perasaan sangat berbeda. Ini seperti bukan shalat ied. Ditambah lagi rasa kantuk yang luar biasa. Semalam belum tidur atau kalaupun tidur hanya tak sampai satu jam. Tapi Alhmdulillah acara berkumpul setelah shalat ied ini sangat membantu mengurangi rasa lelah dan kantuk. Worth it lah…

Setelah shalat ied aku juga mencoba menelpon keluarga di Indonesia. Rencana awal mau skype-an tapi ternyata jaringan internet disana tidak mendukukung. Akhirnya nelpon lewat voip adalah satu-satunya pilihan.

Selamat hari raya idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin.


Senin, 28 Juli 2014

RAMADHAN IN TURKEY


 
#9. H-2 Lebaran

Bitter. Bitter. Bitter. Tasteless.
Kalau diibaratkan makanan inilah gambaran ramadhan -dan sebentar lagi lebaran- tahun kali ini. Walaupun secara teknis tetap berpuasa tapi tetap saja euphoria dan kenikmatan yang dulu pernah ada tidak terasa.

 "Kemana rasa itu?!," hysterically shouted.

Beralasan sih. Aku memang sedang tidak berada di tanah air. Tidak sedang dengan keluarga. Bahkan menurut teman yang sempat pulang tahun sebelumnya, katanya semua memang telah berubah. Lebran di tanah airpun sudah tak seperti dulu lagi.  "Kamu tidak akan pernah merasakan euphoria lebaran seperti masa kecil," he insisted.

Lalu yang merubah semua ini umur, kah? Dewasa telah merenggut kebahagian semua anak. They used to be happy but adultness took it over. 

Untuk saat ini aku nggak bisa yakin dengan alasan itu. Sampai sekarang -yang kusalahkan- masihlah tempat tinggalku saat ini. "Ini pasti masalah tempat aja! Kalau sekarang aku di Indonesia, aku yakin bisa merasakan "rasa" itu lagi.

Nah, di hari H-2 lebaran ini aku mencoba mengingat dan mengulang kembali kebiasaan saat di Indonesia. H-2 biasanya adalah hari belanja. Hari untuk membeli baju lebaran. Untuk itu, aku dan Emen berencana untuk main ke Optimum, salah satu pusat perbelanjaan di Izmir. Tujuan awalnya sih mau lihat-lihat saja. Ada terbesit keinginan untuk beli baju baru juga sih, untuk dikenakan pada shalat Ied.

Setelah sampai di Optimum, terang sudah! Ini benar-benar lebaran ala Indonesia sekali. Tebakku, jumlah manusia yang ada disana, ku tebak, lebih dari seribu orang. Bahkan disetiap toko baju dengan bermacam merek itu, semua penuh. Untuk lebih yakinnya lagi lihat saja di fitting room-nya. Penuh,macet, dan merayap. Antrian panjang…….. pun tak terelakkan. Jadi malas masuk ke tokonya. Padahal ada beberapa yang mengena dihati tapi untuk nyobanya harus ngantri panjang. Huff..

Kalau cuma budaya belanja seperti ini aja sih aka nggak kangen. Ada satu perasaan 'kehilangan' akan satu hal penting yang tak tergambarkan. Sulit untuk dijelaskan. Mungkin semua kita tahu apa itu, hanya saja sulit untuk digambarkan dalam kata-kata.
Should I say I hate being adult!

Minggu, 27 Juli 2014

RAMADHAN IN TURKEY


#8. Jalan-jalan ke Ephesus

Tak pernah ada bayangan untuk jalan-jalan, disiang bolong, lagi puasa pula, dan ituke Ephesus. Dan tidak mungkin juga untuk jalan-jalan dimalam hari.

Tiba-tiba di sore hari, setelah selesai berbuka puasa, ada telepon masuk dan itu dari mas Bayu, salah satu mahasiswa Indonesia di Izmir. Tiba-tiba dia menawarkan untuk jalan-jalan ke Ephesus. Katanya, dia sudah beli tiket kereta tapi karena ada suatu halangan dia tidak jadi pergi. Sedangkan alasan awalnya ke Ephesus adalah untuk menemani temannya yang baru datang dari Prancis yang khusus datang ke Turki untuk jalan-jalan.

Setelah pikir panjang akhirnya akupun mengiyakan. Sejak dulu aku memang sudah punya rencana untuk main kesana. Hanya saja belum mendapatkan kesempatan dan waktu yang tepat. "mungkin sekarang adalah waktu yang tepat," pikirku.

Waktu sudah bilang iya aku jadi ingat kalau muze kart (kartu musiumku) sudah expired. Sebenarnya tidak terlalu mahal untuk memperpanjang. Hanya 20TL tapi saat ini aku benar-benar lagi tidak punya uang. Setelah menceritakan nasib muze kart- ku akhirnya dia menyanggupi biaya perpanjangannya. Katanya, biar uangnya dia yang beri. Ya sudah, kataku. Rasanya tak ada lagi alasan untu menolak pergi. Hanya saja cuaca musim panas kali ini, ditambah fakta bahwa saat ini saya sedang puasa, meragukan. Apakah akan sanggup berjalan. Apapun alasannya puasa tidak boleh batal!

Untuk menuju Ephesus bisa menaiki kereta dari Izmir. Butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai ke tempat tujuan. Nah, karena jadwal untuk pergi ke Ephesus adalah besok pagi sedangkan tiket kereta masih di mas Bayu. Mas Bayu tinggal di asrama, sementara saya tinggal dirumah teman yang jaraknya lumayan jauh. Setelah berpikir panjang akhirnya si-tiket dititipkan ketemannya mas Bayu yang kebetulan besok pagi akan kekampus melewati stasiun kereta itu. Kami janjian untuk ketemu disana maksimal jam 9.00 sudah disana. Karena kereta berangkat jam 9.00.

Ternyata teman mas Bayu telat datang 5 menit setelah kereta pergi. Mba Mutiya, temannya mas Bayu, juga sudah naik dalam kereta yang berarti kami nggak pergi bersama. Lebih-lebih dia, mba Mutia, nggak punya nomor HP Turki yang membuat urusan makin rumit. Sebenarnya tidak ada yang parah, hanya saja dia tidak bisa berbahasa Turki, yang mungkin akan sulit untuk jalan-jalan.

Mau tidak mau akhirnya saya harus menaiki kereta jam selanjutnya. Setelah bertanya ke petugas stasiun katanya jam selanjutnya itu jam 11.20, yang berarti mba Mutia akan menunggu selama dua jam di stasium Selcuk, Ephesus. Untungnya dia usaha untuk beli kartu telepon umum untuk menghubungi saya . Kalau tidak mungkin kami akan jalan sendiri-sendiri.

Oh iya teman mas Bayu itu mahasiswa S2 di Prancis yang dengan ikut student exchange untuk program double degree. Dia cerita kalau dia sudah setahun di Prancis dan study-nya sudah selesai. Sebelumnya dia juga sudah kuliah setahun di ITB selama setahun yang berarti nanti dia akan dapat dua ijazah. Dari kampus asal (ITB) dan juga kampus tamu (yang di Prancis.)

Di Turki dia lagi jalan-jalan "sebelum pulang kampung," katanya. Sebelumnya dia juga sudah ke Maroko, Spanyol dan negara-negara lainnya.

*******

Ephesus adalah salah satu reruntuhan kota tua Yunani yang berjarak sekitar satu setengah jam, jalur kereta, dari Izmir. Untuk menuju kesana anda perlu mengeluarkan budget cukup murah, sekitar 6 TL sekali jalan. Kalau dirupiahkan sekitar 30 ribu. Untuk mempermudah perjalanan, disarankan untuk membeli tiket PP sekalian. Tidak perlu pusing, jam di tiket bukan patokan. Walaupun ada waktu yang tertera tapi tiket bisa berlaku untuk seharian.

Di Izmir ada dua stasiun kereta yaitu Stasiun Basmane dan Stasiun Alsancak. Untuk menujuk Ephesus anda akan naik kereta dari Basma untuk tujuan selcuk. Jadwal kereta ada setiap 3 jam sekali. Untuk perjalanan yang nyaman dan untuk menikmati perjalanan disarankan untuk mengambir jadwal keberangkatan jam 9 pagi. Ada banyak hal yang anda harus lihat di Ephesus. Lima jam saja tidak cukup untuk mengelilinginya.

Ketika membeli tiket kereta sebut saja Ephesus nanti dia akan memberikan tiket sesuai ke tempat itu. Untuk memastikan, nanti anda akan turun di staisum Selcuk. Kalau masih belum jelas, di stasiun Basmane ada Information Center tersedia dalam bahasa Inggris. Anda bisa menanyakan semua hal yang anda butuhkan tentang perjalanan ini disana.

Ketika sampai di stasiun Selcuk anda masih harus berjalan sekitar 100 km menuju otogar atau terminal. Darisana anda akan menaiki dolmus (super mini bus) menuju reruntuntuhan Ephesus. Tak akan lama. Hanya sekitar 20 menit anda langsung sampai ketujuan.

Untuk memasuki Ephesus anda akan membayar sekitar 40 TL alias 200 ribu rupiah. Untuk mahasiswa asing yang kuliah di Turki ada keistimewaan, bisa membuat kartu museum dengan harga yang lumayan murah, hanya 20TL alias 100 ribu. Dan ini bisa digunakan selama setahun. Gratis selama setahun untuk mengunjungin museum-museum yang ada di Turki termasuk Top Kapi, istana peninggalan kerajaan Utsmani yang di Istanbul, bersebelahan dengan Hagia Sophia.
Dan muze kart juga berlaku untuk masuk ke Hagia Sophia.

Selamat menikmati kemegahan banguan Yunani walaupun hanya tinggal reruntuhanny saja..