Jumat, 21 November 2014

MAHKAMAH PENGADILAN


Semester ganjil baru saja dimulai. "Hari ini adalah hari yang membesankan," keluh hampir semua siswa. Tentu saja UPACARA adalah penyebab utamanya. Tapi tidak untuk pemuda yang satu ini. Dia sangat terlihat bahagia hari ini. Sesekali dadanya terangkat seolah ia berisyarat "ini hari pertama ku." Mungkin ia adalah satu-satunya yang khidmat dari semua hadirin upacara.

Badannya cukup kecil. Berdiri dibarisan ketiga membuatnya hampir tak terlihat sama sekali. Ia tak terlalu suka berada dibarisan terdepan, meskipun ia bersikeras bahwa upacara adalah hal yang terpenting. "Sebab dengan upacara kita bisa mengisi ulang batrai nasionalism yang setiap hari dikuras habis oleh ulah para petinggi negeri," ia yang menjadi jawaban andalannya. Dilain kesempatan ia juga pernah berdalih dengan kata-kata yang lebih santai "kalau bukan pas lagi upacara ngitamin kulit kapan lagi," ucapnya sambil gelagapan.

Hari ini ia sangat berharap banyak. Hari ini adalah hari yang akan menentukan nasipnya tiga tahun kedepan. Apakah keputusannya pindah ke kota yang baru ini adalah keputusan yang tepat atau hanya akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. "Hari ini semua pertanyaan itu akan terjawab." Ia mengepal tangannya seolah ia akan berteria "MERDEKA." Dadanya masih naik turun. Ia menarik nafas penuh ekspresi. Seolah udara hari ini berasal dari syurga. Ia tak mau menyia-nyiakannya barang sedetik saja.

Sudah hampir setengah jam upacara selesai. Para guru seharusnya sudah melakoni perananya, mememenuhi tugasnya. Memberikan hal yang bisa mengurangi rasa haus yang dirasakan generasi muda ini. Mereka haus akan ilmu. Mereka sudah tak sabar ingin melihat siapa gerangan malaikat pertama yang akan meniupkan wahyu kedalam sanubari mereka. Namun sepertinya mereka harus membuang nafas kekecewaan. Buku yang mereka persiapkan sejak dua minggu lalu khusus untuk hari ini, tampaknya harus masih akan kosong hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.

Hendri, nama pemuda itu. Belum masuk sesi perkenalan. Tapi ia baru saja mencoretkannya didalam buku barunya sambil sesekali menatap kesisi luar kelas. Ia melihat anak-anak dengan santai duduk diberanda kelas, walaupun lonceng sudah dibunyikan dari setengah jam yang lalau. Kemungkinan mereka adalah siswa lama. Mengkin mereka sudah paham bahwa hari ini tidak akan ada kelas. Hari ini adalah hari untuk menceritakan kehebatan liburan yang mereka alami. Si kaya akan penuh dengan bangga berkelakar bahwa ia telah menghabisakan liburan di Disney Singapore. Dan yang lain hanya berbinar berharap suatu hari ia bisa sampai ketempat yang mereka juga masih abu-abu tentangnya.

Oh ternyata masih ada harapan. Wanita yang berbadan cukup berisi sedang berjalan menuju kelas 105, dimana Hendri berada. "Pasti dia berbeda. Dia tak seperti guru lainnya yang senang bergosip ketimbang mengaja. Dia pasti tak banyak berdalih, bahwa hari pertama siswa tidak banyak yang datanglah, demi tidak mengajar."

Dia membawa kertas kosong yang langsung digilir kepada para siswa. "Tolong isi nama kalian disini. Absen belum ada, nanti akan saya tandai sendiri siapa yang datang." "Oh.. Sungguh rude," kata Hendri dalam hati. Ia tak mampu menemukan padanan bahawa yang cocok menggantikan rude. "Tak bisakah anda memberikan kata selamat datang kepada kami yang baru ini?"

"Anak-anak, berhubung hari masih belum banyak yang datang kita tidak usah belajar dulu ya! Sebagai gantinya bagaimana kalau kalain berkenalan saja satu sama lain. Ibu permisi dulu ya."

Semua orang bereaksi biasa saja selain Hendri. Ia belum juga selesai dengan ketidakpercayaannya. Ia masih melongo. Ia tidak habis pikir bagaimana mungkin guru berprilaku seperti itu. Ia meninggalkan kelas bahkan tanpa memperkenalkan namanya. "Mungkin dia datang hanya ia mencari muka. Ia ingin terlihat seperti guru yang rajin dimata kepala sekolah."

Belum juga jam 11 tapi para siswa dari kelas 2 dan 3 sudah behamburan kegerbang sekolah. Hari pertama itu artinya pulang sekolah lebih awal. Hendri telah mencatat itu dibuku jurnalnya. Dan berarti ia sudah akan lebih familiar tentang apa yang akan terjadi tiga tahun kedepan. Hendri puang ke rumah dengan satu hal. Ia telah punya satu teman. Hanya satu. Itu pun karena ia duduk semeja. "Satu lebih baik, dan aku sepertinya senang dengannya." Tentu saja ia senang. Karena teman barunya itu lebih suka berkomunikasi dengan buku ia pegang dan kaca mata tebalnya. Tidak jauh berbeda dengan Hendri. "Hmm.. Untung aku rutin makan wortel," gumamnya sambil naik bus.

**
Minggu pertama sudah berlalu. Hari-hari dimana kelas akan lebih sepi, suara bising akan lebih berkurang, akhirnya dimulai. Hal yang paling ditunggu oleh Hendri adalah momen penetapan hati. Kali ini siapa yang akan mengisi halaman jurnal yang telah ia tandai dengan kertas berwarna biru. Halaman dimana ia telah menulis judul dengan huruf besar -THE TEACHER I AM IN LOVE WITH-. Kriterianya sudah bisa ditebak. Yang mengisi halama ini sebelum-sebelumnya adalah guru galak. Ia suka kegalakan. Ia suka ketertiban. Mungkin alasannya.

Jumat. Ia telah menyaksikan tingkah laku semua guru dan kini saatnya penentuan. Ia mengambil buku kecil berwarna biru dari tasnya. Dan alih-alih menulis ia malah mengetuk-ngetuk pencil kekepalanya. Ini bukanlah hal yang biasa. Ini rekor tertinggi baginya. Biasanya ia sudah siap dengan jawaban, tapi kali ini ia malah harus masih berpikir. 

Pikirannya malah berhenti dihari rabu. Bukan karena ia suka guru SNU itu. Ia hanya tidak habis pikir dengan apa yang terjadi dikelas. Kelas disetting menjadi dua kubu. Meja dideret didepan kelas. Kini suasana kelas persis seperti mahkamah pengadilan. Dan satu lagi, meja guru berfungsi sebagai tuan hakim. Lalu apa fungsi deretan meja itu? Itu akan menjadi tempat eksekusi. Satu kelompok yang berisi tiga orang akan berada disana setiap minggu. Mereka akan menerangkan bahan presentasinya dan nanti para pendengar akan terlibat langsung mengeksekusi mereka.

Seperti biasa pendengar yang tidak lain adalah temannya sendiri akan membuat mereka menjadi pengecut. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Antara dapat menjawab semua pertanyaan atau akan tampil sebagai pengecut dengan merakting diam. Ketika diam maka tuan hakin akan membuka mulutnya dan dia akan memberikan jawaban dari pertanyaan pendengar. Inilah suasana kelas itu.

"Tahu kah kalian? Di Barat, siswa yang terlibat langsung dikelas. Ini bukan lagi zamannya guru mendikte. Kalian harus lebih bayak beraksi dikelas. Guru hanya berfungsi sebagai pendengar sekar." Itu yang menjadi alasan terbentuknya suasana kelas seperti ini.

Minggu bermingu berlalu dan kasus pengeksekusian belum juga tuntas. Beruntung para pengecut tidak dilempar ketahanan. Tapi wajah pucat siswa tak bisa dihindari dari hari ini. Hendi cukup menikmati hari-hari ketika kelas ini berlangsung. Tapi ia belum juga menentukan nama pemilik halam dengan penanda biru itu. Terakhir  ia berpikir "ini bukan karena dia." Hal yang muncul kemudian adalah kata BARAT. Kata barat lah yang membuatnya suka kelas ini. Ia suka sumua yang berbau barat. "Aku suka sistem pendidikan barat."

BARAT SNU, akhirnya berhasil memenangkan hati halaman jurnal dengan penanda biru itu.

*****

5 Tahun Kemudian……

Hendri sedang munuju kampus. Ia sedang duduk disatu sudut didalam metro. Ia lupa membawa novel yang ia telah baca hampir seminggu ini. Ketika ia mengotak-atik isi tasnya yang ia temukan adalah jurnal lamanya. Cukup lama ia tak besentuhan dengan barang kesayangannya itu. Hal yang pertanya ia lakukan akan menulis. Kebiasan yang dulu ia rutin lakukan.

Sekarang aku kuliah di Liberal Art Education.
Aku tahu aku tidak masuk kampus negeridan terkenal tapi aku suka hidup baruku ini.
Aku juru jurusan Literature with minor history.

Ia mengakhiri lembar itu dengan emoticon smile. :)

Masih ada 5 stasiun lagi, berarti perjalanan masih akan berlangsung selama 20 menit. Ia sangat menyesal tidak membawa novel itu. Ia seharusnya bisa menenendang jauh rasa bosan ini. Akhirnya ia membuka-buka halama yang ada dijurnal itu. Dan yang menarik perhatiannya adalah penanda biru. Ia mencoba cukup lama terdiam dan tersenyum. Ia berpikir cukup keras untuk mengingat kembali. Untuk memeberikan jawaban lantang antara ia atau tidak. Apakah benar SNU yang telah membawanya kesini. "Oh… Aku di Barat sekarang."

Ia tertawa seperti orang kesurupan. Kalau tidak karena semua orang melirik dia mungkin ia tidak akan sadar bahwa ia sedang beraksi sangat aneh. "Dasar guru SNU," ucapnya dengan nada mengutuk. "Pendidikan barat itu tidak seperti yang kamu katakan!" "Siswa memang berperan aktif dikelas, tapi guru bukan duduk saja." "Guru aktif dan siswa juga aktif, itu yang aku saksikan disini" "Ngomong-ngomong terimakasih karena kebohonganmu sudah mengahantarkanku kesini."

Kamis, 30 Oktober 2014

WHY DO YOU WRITE?

eBay.com



For a couple weeks I've been reading Paulo Coelho's book. This is the third time I read his books, of course with different titles. It was last summer, when I reached the highest level of boredom, I unconsciously burst out an intention to borrow book from a friend of mine.
'Do you have any book you could possible lend to me?'
'I have some.'
Since the idea was to escape from unbearable boredom situation, I did not take it very seriously.
'What is that book about?'
She told me it was about some shepherd, I could not remember the detail, but I remember that I was being suspicious about the book she told me, back then.
'It must have been like a fairy-tale story, like a kid story. The story must have been started with 'once upon a time' or alike, is that true?'
She denied it and I ended up saying I would try reading it. And I did read it, apparently. I was surprised with the fact that I haven't read such a magical book like that before. And that how the story begins. Now, I have to say that I am such a huge fan of his works, Paulo Coelho. I would not come this far, read three of his books, if I don't like it.

In Bahasa we have this phrase 'menjilat ludah sendiri,' wich literally means 'lick up your own spittle.' We normally use this phrase for people who happen to say not going to do something, related to a promise or commitment, but end up doing it anyway. 'Breaking his own word,' perhaps is the right word to explain it.

Having been reading three of his books made me realize how I idolize him very much. When I finished reading his book, it wouldn't make me enough of it. I want to read his book more. Since I have no money to buy books, I read them upon the kindness of my friends - who with big heatedly allow me to borrow them. Thanks to you friends. Some of them even allow me to read it first, even though she herself have not finished reading it yet.

The book I'm reading now, The Zahir, also has the same power -as the two other books of Coelho- to catch my interest. I try not to read it too fast. The other two books I could manage reading it in less than four days. Because what I worry most about reading a book is when I am about to reach its ending. I hate to encounter the ending that I'm not satisfied with. I hate it because the moment I finish it I don't know what new book I'm going to read. I hate it because I'm not ready to find the fact that the new book I'm going to read is not as enjoyable as the book I read before.

In The Zahir I found many good lessons. What's good about Paulo Coelho's book is that he always has something that we can get things from, besides that enjoyable stories. Well, we did enjoy it as an entertainment but also we get extra pluses here, we are motivated through words he created. He's such an inspiring writer. 

What makes me love his works even more is some messages within this book. I don't know if that just part of the story or it is his own explanation, excuse. He says the reason why none of his works have been adapted to movie, because he doesn't want it too. Many producers have been approaching him but he insists that his book is not intended for movie. 'There are many works out there that intended to be made for movie, and they deserve more'. Besides, he also emphasizes that he doesn't want it to be adapted to movie because he wants his readers to have their own movie in their mind, while they were reading. To have their own visualization in their mind. Now I'm closing my eyes and let my brain works on this word. I think I'm agree with him. I find it very amusing, I can capture my own movie version of his books in my mind.

The best part in this book for me is when he was interviewed by some journalist. In this book we are told that the narrator is a writer. I don't understand why he -Paulo Coelho- does this so often. In his other book, Aleph, the narrator is also a writer. I'm not sure if it means that the narrator is a writer himself. But in the last page of the book, Aleph, he tells the readers what is now Hilal doing in her life. What is her life looks like after that event. Oh, am I spoiling the story. My bad. I'm sorry. I will not do it again.

About that journalist again. He was asking a question 'why does he write?'. For the narrator this question is categorized as a automatic pilot question, which means he can answer it without even thinking. Yet, this time he decided to put a little effort on his answer, which I find very motivated. He decided to tell the story of his childhood. He begins telling his backgrounds. He says he was not a popular student. He is not good at anything, sport etc. He never worn branded-clothes. No girls want to be with him. One day he wrote a poem for a girl he has crush with. His friend stole that poem and read it out loud to the entire class. Everybody laughed, except the girl to whom the poem is written for. After that incident they went to the theater and the girl managed to sit next to him and held his hand. Then he realized that writing can realize what he wants. Before explaining this story he gave a short answer why he writes. 'Because I want to be loved,' he answered. Writing has realized his desire, to be loved.

I love writing. But I have not found yet what kind of color I belong to. I'm doing what I can do. I'm writing whatever I have in mind, regardless if it is good or not. I hope one day I can state my opinion to the public 'why do I write.' What I found very difficult now is writing something what other people want. I can't do it. I have no capability to be a delegated writer. I write only things that matter to me. In some way this is also what narrator has said in the novel when Mikhail wants him to write something, about Mikhail mission. The narrator said 'I cannot write things that I'm not in to.' That's how I idolize this book! :D :D

Update!
I wrote this article when I was about to finish the book. But I still have some chapters to go. When I finished it I found out that Paulo Coelho has already provided a page where he tells the reader about this book, about where he got inspiration of this book from. I highly recommend this book, especially for those who live away from home. There are many inspiring messages that we can get from this book. In fact, the story of Paulo Coelho's books that I've read -The Alchemist, Aleph, The Zahir- are all about journey. When we say journey there must be many struggles that we might face along the way. True, Paulo depicts it very clear in his books and also he gives us keys to deal with it. Am I being exaggerated? At least that's what I got when I read it. 

'I would love too,' that's my answer if anyone would ask me whether or not I want to read his other books. No matter if he/she is just lending it. :p :D

Kamis, 16 Oktober 2014

Asrama bukan Asmara


Sudah hukum alam, mungkin ya, setiap yang gemerlap selalu menyimpan sisi kelam. Cahaya indah yang terpancar dari kota menghibur setiap mata yang melihatnya. Siapa yang tidak ingin tinggal disisi tertinggi bumi ini. adalah sebuah keistimewaan bisa menyaksikan keindahan alam. Tapi indah yang terpancar dari sisi itu belum tentu benar adanya. Cahaya itu bisa saja menipu. Bisa saja sulap dengan sengaja dimuat didalamnya, sehingga kau terpedaya. Terlena dan memutuskan untuk berkunjung ketempat itu. Barulah kau menyadari ketika sampai, bahwa tempat itu tidak lebih indah dari ilusimu. Bahwa yang indah hanya indah untuk dipandangi, bukan untuk dijamah.

*********
Aku telah menghabiskan setengah dari hidupku tinggal diasrama. Kau boleh tanya, baik buruknya asrama. Sejauh ini setiap asrama yang telah aku huni masih memberikan pelayanan yang sama; sama buruknya.

Secara bangunan mereka semua sangat menipu. Kokoh, tebuat dari beton. Bahkan lebih indah dari rumah milik orantuaku. Tapi jangan ditanya tentang kenyamanan, kebersihan. Mereka suma sana buruknya.

Sejak SMP aku telah menyicipi pahit (manis)nya asrama. Berbicara tentang makanan, mungkin ini yang telah mempengaruhi pandanganku tentang asrama. Makanan yang mereka sajikan selama itu lah yang telah menggoreskan tinta negatif didalam pikiranku.

"Maklumlah, asrama kan banyak orang. Mereka harus masak banyak, jadi kalau rasanya tidak enak ya biasa." Sering kali nada seperti ini terlontang dari orang yang tidak merasakan tinggal diasrama. Apakah itu tulus murni sebuah pernyata iba atau hanya ingin menghibur (anak atau bagian dari keluarganya) yang tinggal disana. Daripada minta keluar, mungkin, akan menjadi masalah besar.

Tapi tahukah kita, masalah makanan adalah masalah yang paling sensitif. Apabila setiap mereka yang berkutit dibidang jasa menyediakan makanan, bisa menanamkan dalam diri mereka bahwa "aku hanya akan menyajikan makanan, yang aku sendiri ingin memakannya," maka masalah akan selesai disana. Tapi tidak! Mereka masak karena harus melakukannya. Karena bisa tau tidaknya mereka makan, tergantung sepenuhnya disana.

Sebenarnya yang menjadikan suatu negara itu maju adalah rakyatnya yang penuntut. Selama penikmat tidak menuntuk apa-apa maka penyedia jasa akan menganggap semuanya sedang baik-baik saja. Jadi, sebagai penikmat kita juga seharusnya ikut berpartisipasi dalam perbaikan pelayanan. Berikan komentar secara lisan, atau bila perlu protes dalam bentuk tindakan. Jangan kunjungi tempat masakan itu, kalau dia tidak menyediakan pelayanan yang layak.
*******

Awalnya sempat berpikir bahwa bungkusan yang rapih dan tertata, pasti menjanjikan kwalitas. Ternyata tidak sepenuhnya begitu. Bisa saja bungkusan yang rapih, memang dibuat sedemikian rupa untuk menutupi setiap kebobrokan yang ada.

Hari ini genap seminggu tinggal diasrama baru yang kuakui cukup megah dan fancy. Untuk menuju kamar saja harus menaiki lift. Masuk kamar menggunakan kartu, bukan lagi kunci tradisional. Isi kamarnya juga lebih baik dari asrama sebelumnya walaupun harus diakui bahwa jumlah orang perkamar masih layak dikritisi. 4 orang perkamar bukanlah hal yang efisien. Sekarang ini semua orang butuh privasi. Dan tidak semua orang bisa tenang hidup berdampingan dengan banyak orang yang berbeda rutinitas dan kebiasaan. Kapan mereka tidur. Kalau penganut tidur cepat digabung dengan penganut tidur larut, bisa-bisa akan terjadi perang dahsyat disana.
Tiga atau dua orang cukuplah.. Atau empat tapi dengan ukuran kamar yang lebih luas.

Didalam kamar juga tersedia meja belajar. Ini yang mebuatku lebih senang disini. Aku bisa melihat dan menikmati buku-bukuku 24 jam sekarang. Sebelumnya aku harus meletakkannya didalam lemari yang dibuka hanya ketika akan mengganti baju atau ketika mengambil sesuatu. Kemungkinan untuk membaca jadi lebih minim.

Letak kamar yang kupilih cukup strategis, padahal tidak ada sistem observasi lapangan sebelumnya. Dari jendela kamar, setiap malam aku bisa menikmati bintang hayalan. Ketika kukatakan bintang hayalan maksudanya adalah cahaya lampu. Berhubung letak asrama ini sedikit ditempat yang tinggi, menjadikan kota sebagai panorama yang sangat indah dimalam hari, seperti bintang. Cahaya yang dipantulkan oleh rumah-rumah membuat semuanya sangat indah.

Ironis, semua keindahan ini dirusak oleh hanya setitik kesalahan. Lagi, bagian makanan. Asrama ini bisa menampung 1600 orang. Dengan orang sebanyak itu tentu tidak cukup kalau hanya menyediakan satu ruang makan. Atau lebih tepatnya tempat mengantri makanan. Apa jadinya kalau 1600 orang ini makan dalam satu waktu? Bisa dipastika bagaimana bentuk antrian yang akan mengular. Dan ini sudah pasti akan terjadi, karena mereka semua adalah mahasiswa. Dipagi hari hampir semua akan kesekolah. Sebelum kesekolah pasti mereka sarapan.

Berhubung ini masih tahap pembenahan, karena asrama ini benar-benar baru. Semoga saja akan ada perubahan disistem ini. bahkan wifi saja belum dipasang. Ini yang paling krusial bagiku. Tanpa internet, sulit buntuk belajar. Apalagi dengan kondisi perpustakaan yang tidak memadai.

Terkadang, ketika mengingat kembali sejarah masa lalu, dan melihat kondisi saat ini aku malah merasa bahwa asrama berperan aktif dalam menjadikanku pendek. Makanan yang mereka sediakan tidak memenuhi gizi yang aku butuhkan. Ah, aku hanya mencari orang yang bisa disalahkan saja. Ini sudah faktor genetik.

Wassalam…