Kamis, 24 April 2014

I Luv You "Dataran Tinggi Gayo"


https://mail.google.com/mail/u/0/images/cleardot.gif
Photo Aceh Tengah Taken from lintasgayo.com
Dulu pas mondok kami (saya dan teman-teman) sering berdebat tentang mana yang lebih maju antara Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kebetulan pondok tempat kami nyantri berlokasi di Bener Meriah dan para santri yang belajar disana umumnya berasal dari kedua kabupaten itu. Kabupaten Bener Meriah merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Aceh Tengah. Pemekaran ini sangat beralasan, salah satu alasannya adalah terlalu luasnya daerah Aceh Tengah waktu itu yang mengakibatkant tidak adanya sekesataran disemua sisi, seperti pembangunan dan lain-lain. Walaupun pada kenyataan, sekarang setelah dimekarkan Bener Meriah masih begitu-begitu saja.

Salah satu kakak saya pernah bilang “lihat aja pas Porda (Pekan Olahraga Daerah) pasti yang dikirim dari sekolah-sekolah yang ada di Takengon. Sekang lihat saya jadi bisa ikut kan” katanya yang saat itu baru pulang Porda untuk main bola voli.
 
Sebagai putra daerah Bener Meriah saya merasa punya tugas moral untuk mendukung Bener Meriah dalam berdebat, walaupun saya sedar betul tak ada yang bisa ditandingkan dengan Aceh Tengah pada saat itu. Sebut saja disisi pariwisata, Aceh Tengah punya andalan danau Lut Tawar sedangkan Bener Meriah punya apa? Kami (saya dan teman saya yg berasal dari Bener Meriah) suka memaksakan diri, bahwa kami punya Lut Kucak, salah satu danau yang berada di Bener Meriah; letaknya di atas bukit tak terlalu jauh dari Burni Telong (Gunung Berapi di Bener Meriah.) 

Kedua danau itu sungguh tak bisa di rivalkan, pasalnya Lut Kucak bahkan tak punya reputasi sebagai objek wisata sejak dulu. Sedang Lut Tawar sudah sejak dulu dijadikan objek wisata oleh para muda-mudi Gayo. Satu-satunya reputasi yang dimiliki oleh Lut Kucak adalah 'tempat jin buang anak' yang membuat tak banyak orang yang berani mengunjunginya, bahkan saya sendiri belum pernah berkunjung kesana.

Satu-satunya yang bisa kami banggakan dari Bener Meriah waktu itu adalah landasan terbang Rembele. Karena ini merupakan satu-satunya landasan terbang yang ada di kedua kabupaten itu. Walalupun jadwal penerbangannya hanya dua kali seminggu (kalau tidak salah) dan jenis pesawatnya adalah pesawat kecil yang maksimal muatan penumpangnya 40 penumpang. Saya ingat betul, waktu saudara saya (yang tinggal di Bandung) sedang mudik dan mencoba menaiki pesawat itu agar lebih hemat waktu. Jurusan pesawatnya hanya ada Medan-BM atau B. Aceh-BM, artinya dia harus naik pesawat sampai dari Bandung ke Medan dan lanjut jadi dari Medan ke BM. Sekali dia mecoba menaiki pesawat itu akhirnya dia tidak mau lagi karena katanya “turun dari pesawat rasanya kaya tuli. Peswatnya rebut.” Namanya juga pesawat kecil. :D :D

Tapi di akhir debat akhirnya kami sepakat kalau Danau Laut itu milik bersama Bener Meriah dan Aceh Tengah dan Landasan terbang itu juga milik bersama. (Namanya juga perdebatan anak kecil.)

Bener Meriah photo by paranomio.com
 Sebenarnya saya bukan sepenuhnya putra Bener Meriah. Ibu saya berasal dari Rawe, salah satu perkampungan yang terletak dipinggir danau Lut Tawar dan keluarga ayah saya juga berasal dari kenawat lut yang kebetulan membuka hutan di daerah Bener Meriah yang dijadikan perkebunan kopi. Saya juga sering bahkan setiap tahun berkunjung kesana, karena sanak saudara saya masih banyak yang bertempat tinggal disana. Bahkan ibu saya juga masih punya sawah di Rawe.

Semakin kesini saya semakin menyadari bahwa pemekaran Bener Meriah dan Aceh Tengah hanyalah secara administrasi tapi hati kami masih satu (Emotionally Connencted) . Kami masih sesuku, yang secara emotional sangat terhubung. Terlebih saat ini ketika saya berada jauh dari kedua tempat itu dan saya merasa kalau saya adalah duta tempat itu. Tiap kali orang bertanya tentang asalku, aku dengan sigap mengatakan aku berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Walaupun akhir-akhirnya aku harus menjelaskan panjang lebar dimana tetak tempat itu. Sekarang saya lebih fokus ingin mengenalkan kopi arabica Gayo ke dunia, yang merupakan hasil alam Gayo.

Rasa ini awalnya muncul ketika bersekolah di Banda Aceh. Bukan karena sukuisme tapi lebih karena jauh dari kampung halaman. Jauh dari kampung halaman menjadikan kita lebih nasionalis. Rasa nasionalisnya beda-beda. Kalau dulu di Banda Aceh nasionalisnya semakin cinta daerah sendiri kalau sekarang, setelah tinggal di Turki jadi cinta Indonesia (harga mati.) Gak rela kalau ada yang bilang Indonesia terbelakang, ekonominya jelek walaupun kenyataannya begitu. Tapi dengan nunjukkin kalau kita bisa bersaing mereka jadi beranggapan lebih baik tentang Indonesia. Maju Indonesia! Maju Gayo!  

*NB:
Photonya agak menipu. Keadaan Bener Meriah tak seperti itu. Itu adalah bangunan terbaik disana. Tata kotanya masih jelek dibanding A. Tengah. Alasan saya memilih photo itu biar sedikit imbang saja dengan A. Tengah. Hehe #tetap